
Di dalam gedung Fakultas Teknologi dan Ilmu Komputer, ketujuh remaja dan mahasiswa itu mencoba beristirahat sambil menyusun beberapa rencana.
Seo Garam mulai membagikan makanan dan roti serta jus dalam botol untuk semua.
“Umm….Ga–Garam-ssi…” Ha Jinan memanggilnya pelan
“Ada apa Jinan?”
Dengan malu-malu, Ha Jinan membisikkan niatnya pada Seo Garam.
“Boleh aku yang memberikan jus itu pada Kino-ssi?”
“O–Oh! Tentu. Ini, berikanlah pada Kino-ssi”
Dengan senang dan wajah merona, Ha Jinan menerima jus tersebut dan berjalan menuju ke tempat Kino berada.
Seo Garam hanya bisa tersenyum sambil berpikir dalam hatinya.
‘Siapa yang menyangka bahwa ada cinta yang bersemi di dalam keadaan hidup dan mati seperti ini’
Kino yang saat itu sedang bersama Kaito tengah membicarakan hal yang cukup serius.
“Apa ada rencana yang mungkin kamu pikirkan, Kaito-san?”
“Aku hanya penasaran apakah mungkin ada lebih dari dua keping permata di tempat ini juga?”
“Mengingat semuanya tampak sangat berbeda dari sebelumnya, ini mungkin akan sulit seandainya benar-benar ada lebih dari satu permata di tempat ini”
“Kau benar”
Kaito sempat menunduk sambil berpikir serius. Dia kembali melanjutkan kalimatnya.
“Selain itu, sumber kenapa bisa ada zombie hanya dari event ini juga sama sekali tidak bisa aku pahami. Ini seperti…seluruh wilayah kampus ini adalah area permainan” lanjut Kaito
“Area permainan ya” Kino berkata dengan nada pelan
“Tapi jika dikatakan sebagai area permainan, rasanya sedikit lebih kejam. Mungkin ada sebutan yang lebih baik dari itu. Karena tujuan dari permainan ini adalah selamat sampai akhir dari kejaran zombie dan keluar dari zona kampus”
“Survival game. Aku rasa event ini adalah salah satu jenis event dengan tujuan agar peserta bertahan hidup. Bukankah itu sangat cocok dengan kondisi kita, Kaito-san?”
Kaito menengok dan mengangguk setuju. Tidak lama setelah itu, dia melihat gadis bernama Ha Jinan berjalan mendekati mereka. Kaito langsung berdiri.
“Kino, aku akan pergi ke tempat Ryou dan coba mendengar apa yang dia bicarakan dengan dua orang di belakang itu”
“Aku mengerti”
Tidak lama setelah Kaito pergi, Ha Jinan memanggilnya.
“Kino-ssi…”
Kino melihat siapa yang memanggilnya.
“Jinan-san, ada yang bisa dibantu?”
Dengan malu-malu, Ha Jinan memberikan jus di tangannya pada Kino
“Ini! Um…um…j–jus…Kino-ssi pasti haus karena telah…bertarung melawan mereka”
Kino melihat jus yang ada di tangan Ha Jinan lalu menerimanya dengan senyuman.
“Terima kasih banyak. Akan aku minum nanti”
Mendengar itu, Ha Jinan semakin memerah. Kino melihat tulisan yang ada pada jus.
‘Aku sudah menduga sebelumnya bahwa ini huruf Hangul. Bahasa di ‘dunia’ ini adalah bahasa Korea. Dan jika dilihat dari gaya berpakaian serta kemajuan teknologinya, aku mungkin bisa menganggap bahwa tempat ini mirip dengan universitas yang ada kota Seoul atau Daegu di Korea Selatan’ pikirnya dalam hati
Melihat Kino begitu serius menatap jus yang dia berikan, Ha Jinan semakin merah dan berpikir yang tidak-tidak.
‘Kino-ssi…melihat jus yang aku berikan padanya dengan serius. Mungkinkah, Kino-ssi begitu senang sampai begitu berat untuk meminumnya? Apa mungkin Kino-ssi juga memiliki perasaan dengan…eiy!…ada apa denganku?! Jangan berpikiran hal yang tidak-tidak! Kino-ssi bukanlah orang yang seperti itu!’
Di saat pikiran Ha Jinan tampak begitu kacau dan nyaris pergi berkelana terlalu jauh, Kino memanggilnya.
“Ha Jinan-san? Ada apa? Apa kepalamu sakit?”
“Aku…aku baik-baik saja!” Ha Jinan memerah dan menjadi panik
“Begitu. Jika tidak keberatan, silahkan duduk. Tempat ini kosong. Mungkin ada hal yang ingin dibicarakan lagi denganku”
-Bluuush
Wajah Ha Jinan terlihat berasap. Seperti seekor kepiting rebus matang dengan saus dan siap santap, Ha Jinan benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya saat Kino memintanya untuk duduk dengan suara lembutnya itu.
Dari jauh, Seo Garam yang melihat itu tampak tertawa kecil.
Sementara itu, Kaito menghampiri Ryou yang sedang bicara dengan Kim Yuram dan Kang Ji Song. Tampaknya, mereka sedang mencoba mengetahui ruang praktek komputer.
Kaito melihat Kang Ji Song duduk dengan kertas dan alat tulis di tangannya. Tampaknya dia sedang membuat garis-garis dan kotak di sana. Kaito mendekati Ryou lalu bertanya
“Apa yang dia lakukan?” tanya Kaito
“Membuat peta sederhana. Aku meminta Kang Ji Song untuk memberitauku kemana arah ruang praktikum”
“Darimana kertas dan pulpen itu kalian dapatkan?”
“Kebetulan aku menemukan kertas dan pulpen di bawah meja ini. Tampaknya ketika penyerangan terjadi di tempat ini, mereka sedang bersiap-siap untuk belajar” jelasnya
Ryou sempat bingung kenapa Kaito bisa datang padanya. Dia berbisik.
“Oi! Apa yang kau lakukan di sini? Bukannya tadi kau bersama Kino?”
“Kino sedang kedatangan tamu”
“Tamu?”
“Itu” Kaito menujuk Kino yang sedang duduk berdua dengan Ha Jinan
Kim Yuram yang berada di depan Ryou dan Kaito sempat melirik mereka berdua dan melihat apa yang dilihat oleh keduanya. Dia melihat temannya yang sedang duduk bersama orang yang dia sukai.
‘Jinan, berjuanglah!’ ucapnya dalam hati
Setelah itu, dia melirik sedikit ke arah Ryou dan Kaito yang tampak sedang berbisik-bisik sambil tersenyum melihat itu.
“Aku tau kalau kakakku itu jenius. Tapi, dia terlalu tidak peka. Sudah begitu nekad dan tidak pernah memikirkan dirinya sendiri” kata Ryou pelan
“Kalau begitu, mungkin saja orang yang berkata begitu juga sama-sama tidak pekanya”
“Hmm? Apa tadi kau bilang?” Ryou menengok dan melihat siapa yang bicara
Itu adalah Kim Yuram, yang tanpa diajak bicara langsung menjawab perkataan Ryou tanpa diminta.
“Aku benar, kan?” kata gadis itu
“Aku tidak minta pendapatmu dan aku tidak sedang mengajakmu bicara” Ryou menjawab dengan nada tidak peduli
“Kau itu sangat berbeda dari kakakmu yang sopan”
“Terima kasih kritikannya. Aku anggap itu pujian” jawabnya santai
“Untung saja kau keren dan jago berkelahi” gumam Kim Yuram pelan
Kaito menengok ke arah Kim Yuram dengan cepat dan benar-benar mendengar kalimat itu dengan jelas. Tapi tampaknya, Ryou tidak begitu memedulikan hal itu dan tidak begitu mendengarnya.
Dia bahkan salah paham dengan perkataan pelan Kim Yuram.
“Kau bicara apa tadi? Mau menantangku berkelahi? Kau kan perempuan, jangan sok kuat! Aku tidak memukul anak perempuan yang masih hidup” Ryou mulai bicara dengan sangat percaya diri
“Maksudmu kalau aku mati, kau akan memukulku?!”
“Tergantung cara kau mati. Kalau kau jadi zombie seperti di luar mungkin aku akan memotongmu. Tapi kalau tidak aku akan–”
“Dasar tidak sopan!” Kim Yuram mulai emosi
“Aku jujur! Apanya yang tidak sopan?!” Ryou tidak terima dan ikut emosi
Kang Ji Song yang mendengarkan itu sepertinya sudah kesal dan dia ikut berteriak.
“Ei! Jangan mengganggu konsentrasiku! Kalau kalian punya waktu untuk adu mulut, sebaiknya lakukan nanti! Ryou, kau ingin aku menggambar peta yang kau butuhkan kan?”
“Be–benar…”
“Kalau begitu enyahlah kalian dari sini dan tunggu sampai aku selesai!”
“……” ketiga orang itu akhirnya mundur perlahan
Kino dan Ha Jinan serta Seo Garam yang mendengar teriakan Kang Ji Song mulai bertanya-tanya.
“Apa mereka bertengkar?” tanya Kino heran
“Aku rasa bukan” Ha Jinan menjawab
Ketika Seo Garam tertawa karena Kang Ji Song yang memarahi ketiganya, ponsel miliknya berbunyi. Dia membukanya.
“Eh? Apa?! Ada yang mengirimkan pesan ke grup komunitas?! Siapa?” gumamnya
Terdapat tulisan dengan nama [Grup Komunitas Programmer Muda]. Itu adalah nama chat grup yang berisi 45 orang sebagai anggotanya.
Saat dibuka, Seo Garam nyaris tidak mengedipkan apapun. Dia membaca semua chat yang dikirimkan oleh salah satu anggotanya dengan nama kontak [Go Yu Bin 2].
"Baek Hyeseon telah membunuh temannya, Han Wonjae-sunbae dan tiga orang lainnya"
"Jangan percaya pada isi pesan yang dia kirimkan ke chat grup [Event Horror Apps] karena itu semua hanya sebuah akal agak seluruh persediaan makanan kita direbut olehnya!"
"Sebarkan ini agar tidak ada yang tertipu oleh kelicikannya! Ada hal yang harus diwaspadai selain zombie-zombie itu yaitu orang yang berusaha memanfaatkan kita dan merebut persediaan makanan kita. Salah satunya adalah kelompok Baek Hyeseon!"
Seo Garam membaca banyak sekali balasan di sana.
“Kau ada dimana sekarang, Go Yu Bin?”
“Yu Bin?! Kau masih hidup? Kau ada dimana sekarang?”
“Aku sedang berada di dalam gedung arsip. Dia tidak mengijinkan kami menghubungi orang-orang di grup. ponsel kami sudah dihancurkan olehnya dan aku mengirimkan pesan dari akun lain yang tidak terdaftar dalam [Event Horror Apps]”
“Kerja bagus! Bertahanlah! Kami akan coba menyelamatkan yang lain”
“Jadi informasi itu bohong! Sunbae mencoba membohongi kita?!”
“Jangan pernah berpikir untuk menyelamatkan kami dari sini dulu! Di luar gedung ada banyak sekali zombie berkeliaran. Cari tempat aman lain dan jangan pernah ke sini tanpa rencana! Aku dan semua yang ada di tempat ini akan mencoba untuk mencari cara agar bisa kabur”
“Kita harus menyebarkan informasi ini pada yang lain di komunitas”
“Kau ingin membunuh Go Yu Bin? Dia mempertaruhkan nyawanya untuk memberitaukan informasi ini!”
“Tapi kita harus menyelamatkannya?!”
“Yu Bin, kau masih di sana? Yu Bin?!”
“Tidak dijawab”
“Jangan mengatakan ini pada anggota grup di [Event Horror Apps] atau mereka yang ada di dalam gedung arsip akan mati!”
Seo Garam yang panik mencoba tenang dan berjalan menghampiri Kino yang sedang duduk berdua dengan Ha Jinan.
“Kino-ssi…”
“Garam-san…ada apa?”
“Aku ingin minta bantuan kalian”
******