Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 264. Pendaftaran bag. 1



Di tempat ketiga remaja asing itu sekarang, mereka mulai mencapai titik lelah maksimal.


“Dengan begini latihan selesai. Tampaknya kita sudah menghabiskan banyak waktu di sini”


Xenon sedang sibuk merapikan pakaiannya, sedangkan ketiga remaja dunia asing itu tampak berbaring di tanah.


“Aku…tidak akan…mau melakukan ini lagi…haah…haah…” Ryou bicara sambil mengatur napasnya


Kaito menggunakan pedangnya untuk menopang tubuhnya sampai akhirnya dia berhasil berdiri dan memasukkan pedangnya kembali. Tampaknya dia sudah mulai terbiasa dengan latihan tersebut.


“Sihir itu menguras banyak energi rupanya”


Xenon berjalan mendekati Kaito dan memberikan senyuman sebagai apresiasi.


“Tampaknya hanya kau yang bisa beradaptasi dengan baik, Kaito. Aku memujimu”


“Aku sudah terbiasa bertarung dan mendapat latihan gila. Orang yang menolongku pernah nyaris membunuhku beberapa kali agar aku bisa menggunakan teknik berpedang untuk bertarung”


“Begitu. Tapi…” Xenon melihat Kino dan Ryou yang masih sedikit kelelahan


Dia berpikir dalam hati.


‘Meskipun masih kasar, mereka cukup hebat. Tampaknya Kino dan Ryou memiliki dasar beladiri sebelumnya. Jika benar-benar orang amatir, mustahil bisa mendapatkan sihir [Art] dan memiliki teknik bertarung seperti itu’


Xenon berjalan mendekati Kino dan berlutut.


“Kino, lukamu benar-benar tidak meninggalkan bekas sama sekali”


“Aku juga terkejut, tapi sepertinya memang tidak lagi terasa sakit”


“Kemungkinan memang bisa menyembuhkan luka, tapi aku ragu darah yang keluar akan tergantikan juga. Kau bisa berdiri?”


“Sudah tidak apa-apa, Xenon-san”


“Kalau begitu, ikut aku sebentar”


Kino mengikuti Xenon. Mereka pergi ke sungai. Ryou dan Kaito mengikuti keduanya.


“Kaito, keluarkan pedangmu” ucap Xenon


Kaito dengan santai mengeluarkan pedangnya tanpa tau apa tujuan Xenon. Dia begitu terkejut melihat Xenon melukai tangannya sendiri dengan menyayatnya hingga membentuk luka yang dalam dan panjang.


“Xenon!”


“Xenon-san, apa yang kamu lakukan?!”


“Aish…sakitnya” rintih Xenon


“Jelas sakit, bodoh! Kenapa kau melukai dirimu sendiri?!” Ryou langsung berteriak ke arahnya


“Aku ingin membuktikan teoriku. Dengan begitu, aku akan tau seperti apa sihir penyembuhan Kino bekerja. Sekarang waktunya kau menyembuhkan luka ini, Kino”


Kino mencoba untuk tidak panik dan mulai mengingat caranya. Awalnya memang sebuah kebetulan, tapi dia ingat apa sihir yang muncul itu. Dengan perlahan, Kino mulai menarik napasnya dan mulai mengeluarkan sihirnya.


[Water Art: Numinous Healer]


Air sungai mulai keluar dan membentuk sebuah bola air bercahaya. Kino mengarahkannya ke luka Xenon dan dalam sekejap, luka tersebut mulai menutup sedikit demi sedikit.


“Lukanya…”


“Mulai menutup”


“Bahkan bekasnya juga tidak ada” Xenon terkejut melihatnya


Tidak memakan waktu lama untuk Kino menyembuhkan luka tersebut. Xenon mulai merasa luka itu seakan tidak pernah terjadi. Dia terlihat serius,


“Luka ini benar-benar sembuh. Baik bekas maupun rasa sakitnya telah hilang. Aku tidak pernah menyangka sihir air bisa digunakan sebagai sihir penyembuhan. Normalnya teknik penyembuhan dengan sihir memiliki caranya sendiri”


“Apakah ini karena [Spiritual Art Element] yang Xenon-san jelaskan? Sihir penyembuhanku masuk ke dalam Water Art jadi…”


“Kurasa begitu. Tidak ada orang yang akan memiliki sihir ini selain dirimu. Aku tidak tau jika luka lain. Kemungkinan sihir ini masih belum sempurna”


“Maksudnya, hanya luka tertentu saja yang bisa disembuhkan oleh Kino?” tanya Ryou dengan wajah penuh rasa ingin tau


“Benar. Bagaimanapun, dia masih baru dalam penggunaan sihir. Jika kalian berhasil lulus dan masuk akademi, aku yakin Kino akan bisa mengendalikan dan mengembangkan kemampuan tersebut”


Ketiganya terdiam dan memandang satu sama lain.


“Xenon, kami mengerti itu. Tapi, tujuan utama kami bekerjasama denganmu bukan untuk belajar sihir melainkan mencari permata ingatanku. Kami juga membantumu menyelesaikan kasus ini” ujar Kaito


“Meskipun kita ada dalam hubungan kerjasama, tapi jika terlalu dalam mempelajari sihir…aku khawatir kami akan semakin jauh terseret ke dalam masalah dunia ini” Ryou menambahkan


“Aku tau itu. Aku juga tidak bermaksud melibatkan kalian sejauh itu. Aku mengerti bahwa kalian memiliki prioritas tertinggi dan alasan kenapa kalian datang ke ‘dunia’ ini”


“Tapi jika memang keadaan memaksa, kami akan berusaha untuk tetap membantumu” Kaito menambahkan


“Terima kasih”


Kino melihat jam saku miliknya. Waktu sama sekali tidak berubah.


“Waktu di sini…apakah waktu di sini benar-benar terhenti, Xenon-san?”


“Benar. Jam berapa sekarang?”


“08.12 pagi”


“Kalau begitu ketika sihir ini kuhilangkan, kita baru akan memasuki jam 08.12 pagi. Bagaimana? Bukankah latihan seperti ini membuat kalian memiliki cukup persiapan menghadapi ujian masuk besok?”


Xenon bertanya dengan santai, tapi ketiga orang itu hanya membalas dengan senyum terpaksa. Ryou bahkan masih mengungkit semua yang terjadi pada Kino beberapa waktu lalu.


Selesai berdrama sedikit, Xenon melepas penghalangnya.


[Nox]


Semua penghalangnya lenyap. Kerusakan akibat pertarungan sebelumnya bagaikan tidak pernah terjadi. Yang tersisa hanyalah pakaian basah, penuh sobekan dan bolong yang dikenakan mereka.


“Pakaian kita sama sekali tidak berubah. Aku seperti gelandangan sekarang” gerutu Ryou


“Kau harusnya lihat seragam yang kupakai? Padahal ini seragam resmi sekolah”


“Salahmu sendiri kenapa memakainya”


“Aku rasa kita harus mandi dan mengganti pakaian kita. Xenon-san, apakah kami bisa mandi di tempatmu?” tanya Kino


“Boleh. Kita kembali sekarang”


Mereka berjalan kembali ke rumah sementara Xenon. Membutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan berjalan kaki.


Sepanjang jalan, tentu saja keempat remaja tampan itu menjadi pusat perhatian. Benar, pusat perhatian karena mereka terlihat seperti baru mengalami kecelakaan.


“Kita jadi bahan tontonan gratis. Terima kasih kepada penguji gadungan di depanku ini” celetuk Ryou sambil menatap sinis Xenon


“Berisik! Berkacalah, siapa yang membuat kita seperti ini?” sindir Xenon


Niatnya ingin menyindir Ryou, tapi tampaknya maksud kalimat itu menusuk seseorang.


“Aku. Maaf sudah membuat kalian basah” Kino menjadi merasa bersalah mendengar kalimat Xenon


“Bukan! Tentu bukan kau, Kino! Aku tidak bermaksud menyindirmu, maafkan aku”


Kaito hanya diam dan tenggalam dalam pikirannya sendiri.


‘Antara sihir dan permataku, apakah saling berkaitan? ‘Orang itu’ juga memiliki kekuatan magis seperti ini. Aku rasa dia juga pengguna sihir. Apakah aku akan semakin dekat dengan ingatan tentang Adler Klaue?’


Sesampainya di tempat Xenon, mereka secara bergantian mandi dan meminjam pakaian yang dimiliki Xenon.


“Karena aku hanya menyimpan sedikit, kalian hanya bisa memakai ini. Sebaiknya kalian membeli pakaian setelah melakukan pendaftaran” katanya sambil memberikan pakaiannya


“Pendaftaran?”


“Karena pendaftarannya dilakukan di Akademi Sekolah Sihir, kalian bisa pergi bersamaku setelah kita sarapan”


Kino dan yang lainnya saling memandang satu sama lain. Mereka pergi ke pojok ruangan begitu Xenon pergi mandi.


“Kita…sarapan? Memang kalian lapar?” bisik Ryou


“Aku tidak. Kino, bagaimana denganmu?”


“Aku juga. Sepertinya aroma tubuh dan rasa kantuk tidak ada. Kita mengalami hal yang sama dengan dunia sebelumnya”


“Tapi semalam kita begitu penasaran dengan makanan di tempat ini, kan? Apa kita bilang saja kalau kita tidak punya nafsu makan?” bisik Ryou


“Tidak perlu. Kurasa yang seperti ini sebaiknya tidak diberitaukan dulu. Hanya untuk berjaga-jaga”


“Kaito-san benar. Lebih baik tidak semua hal kita katakan”


Xenon keluar dan melihat ketiganya sedang berbisik-bisik sendiri di pojok.


“Kalian sedang bicara apa?”


“Ah! Tidak ada. Ahahaha. Jadi, kita pergi makan dulu? Atau beli pakaian dulu? Atau ke akademi dulu?”


Xenon melihat jam tangan miliknya.


“09.15 pagi. Masih bisa membeli sarapan dan makan di jalan. Kalau mau, aku akan menunjukkan tempat bagus di dekat akademi. Dengan begitu kita tidak akan terlambat untuk mendaftar dan aku tidak akan telat masuk kelas”


Mereka keluar dan berjalan menuju gedung akademi. Sepanjang jalan, mereka membicarakan hal lumrah seperti hobi dan yang lainnya tanpa membahas latihan sihir barusan.


“Aku ingatkan pada kalian kalau hubungan kita ini rahasia” Xenon berbisik


“Kami mengerti. Sampai kami berhasil masuk ke akademi, kita semua adalah orang asing untukmu” ucap Kaito memperjelas


“Benar”


Kino melihat bros yang dipakai Xenon.


“Xenon-san, kamu mulai mengenakan brosnya?”


“Ah, iya. Karena permatanya tidak ada jadi tidak mencolok untukku”


“Kalau tidak salah, Xenon-san mengatakan bahwa kakakmu juga memilikinya, bukan?”


“Benar, tapi aku yakin dia pasti sudah membuangnya”


“……” Kino melihat ekspresi Xenon saat mengatakannya


Ekspresi yang benar-benar sendu seakan menyembunyikan kesedihan. Entah apa masalah pribadi yang dimiliknya, namun untuk sekarang Kino merasa dia tidak memiliki hak untuk bertanya.


Mereka sampai di sebuah truk yang menjual roti isi dan burger lezat.


“Aku yang membayar” kata Xenon


“Yeah! Sudah seharusnya begitu! Kau kan mengaku guru kami jadi tidak boleh pelit” Ryou terlihat senang seperti anak sekolah yang ditraktir gurunya setelah ujian


Mereka membeli paket burger dengan kentang dan latte sebagai sarapan. Keempatnya makan di kursi taman di dalam gedung akademi.


Selesai sarapan, Xenon mengantar mereka ke pos pendaftaran.


Ketiga remaja dunia lain itu nyaris tidak percaya apa yang dilihatnya.


“Kino…lihat itu. Sejak kapan panjang antrian ini menjadi sepanjang antrian konser Yoasobi dan Baby Metal di Tokyo Dome?”


“Ryou, kamu melakukan perbandingannya tidak seimbang. Tapi, aku harus mengakui bahwa ini memang ramai”


“Sudah begitu, mereka terlihat seperti akan memakan petugas pendaftaran. Lihat itu, giginya sampai keluar. Uwaaa! Cakarnya sampai ada lima buah. Ini akan jadi arena pertarungan kalau begini”


Xenon hanya tersenyum.


“Jangan cemas, sebentar lagi mereka akan ditertibkan”


“Ditertibkan?”


“Bagaimanapun juga hari ini adalah hari pendaftaran terakhir jadi sudah pasti ramai” ucap Xenon santai


Tidak lama kemudian keluar sosok gadis berekor panjang dengan tanduk dan sayap seperti naga.


Gadis cantik itu berteriak untuk menertibkan para calon peserta yang ingin mendaftar. Tapi bukan dengan pengeras suara, melainkan suaranya sendiri itulah yang hampir bisa membuat telinga semua orang di sana berubah tuli.


“Kalian semua! Pendaftaran seperti ini tidak dibutuhkan. Bagi siapapun yang tidak tertib, akan kuterbangkan kalian semua dan tidak akan kubiarkan kalian mendaftar”


******