Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 58. Terhubung oleh Takdir bag. 3



Sorot mata Theo yang tajam sudah menunjukkan tekadnya yang kuat. Dia menceritakan semuanya kepada kedua kakak di depannya.


“Tempat ini adalah wilayah asing yang dikuasai oleh pria botak bernama Justin. Dia adalah orang yang mengaku menguasai wilayah paling depan di tempat kumuh dan kotor ini”


“Wilayah kumuh dan kotor ya. Aku bisa melihat itu”


Kaito melihat sekeliling tempatnya berdiri dengan tatapan jijik.


Sebenarnya Kaito ingin sekali pergi dari sana karena aroma tidak ramah pada hidungnya semakin kuat. Terlalu lama berada di ‘dunia malam’ membuat indera pengelihatan dan penciumannya lebih sensitif.


Gang sempit tidak buruk untuknya, tapi akan beda cerita jika dia membayangkan gang sempit dengan bangunan yang nyaris hancur dan kantong sampah dimana-mana. Itu menjadi masalah serius untuknya, mungkin sama seriusnya dengan menghadapi mulut pedas Ryou.


Setidaknya tempat mereka berada sekarang tidak terdapat semua benda mengkhawatirkan tersebut.


Kaito berkomentar dalam hati.


‘Tempat kumuh yang kotor, kurang cahaya dan jauh dari peradaban manusia ini adalah ‘dunia malam’ junior. Jangan harap kau bisa menemukan hal menyenangkan di sini, Kaito!. Apalagi kalau sudah berurusan dengan sampah dan aroma tidak sedap, itu akan jauh lebih buruk dari melawan sekawanan goblin. Menjijikkan!!’


Kaito benar-benar penuh dengan ekspresi, terutama jika menyangkut wilayah tempatnya berada. Sepertinya, dia lebih senang menggunakan kalimat ‘menjijikkan’ dibanding yang lain. Sungguh anak baik yang mencintai kebersihan lebih dari apapun.


Lupakan soal itu, Theo masih mencoba menjelaskan semuanya.


“Aku dan teman-temanku harus mendapatkan uang agar kami bisa makan. Kami harus selalu memberikan uang yang kami dapat padanya setiap pagi dan malam, apapun dan bagaimanapun caranya”


“Bagaimana kalau kalian tidak melakukannya?” Kaito bertanya kepada Theo


“Jika tidak, Justin akan memukul dan menghukum kami. Dia juga tidak akan memberi kami makan”


“……” keduanya terdiam mendengarkan penjelasan Theo


Theo terus menceritakan situasi menyedihkannya kepada mereka berdua.


“Kami semua biasanya meminta sumbangan di pusat kota dan di pinggir jalan dengan alasan sebagai sumbangan bagi rumah yatim piatu. Sebenarnya, kami semua memang tidak punya orang tua lagi dan diambil oleh Justin sebagai peliharaan, setidaknya itulah yang dikatakan oleh gorilla itu”


“Sekarang, jelaskan pada kami apa alasan kau mencuri di altar” Kaito meminta penjelasan sambil menatap mata Theo


“Seminggu lalu, aku dan temanku Stelani memutuskan untuk mencoba mencari tempat lain yang memiliki peluang untuk mendapatkan uang lebih dan akhirnya kami memilih altar sebagai tempatnya. Awalnya aku tidak berpikir untuk mencuri. Tapi karena banyaknya orang kaya yang datang, aku hanya berpikir untuk melakukannya sekali. Siapa yang menyangka bahwa aku bisa mendapatkan banyak uang dengan mencuri dari altar”


Sampai di sini, tiga dari empat pertanyaan Kaito sebelumnya telah terjawab.


“Kenapa kalian tidak menggunakan uangnya saja untuk membeli roti?” Ryou bertanya kepada Theo


Pertanyaan Ryou itu masuk logika. Hanya saja keadaan Theo dan teman-temannya tidaklah semudah yang dia pikirkan.


“Aku sangat benci pada gorilla itu, tentu saja aku pernah melakukannya sekali. Aku pernah sengaja tidak memberikan uang yang kami dapatkan dan dia memukul kami semua seperti sebuah bantalan tinju”


“Memukul kami semua kau bilang?! Termasuk anak-anak kecil yang bersamamu di altar itu?!” Ryou kaget mendengar hal itu


“Benar, kami semua dipukuli semalaman. Selain itu, dia tidak memberi kami makan selama dua hari. Dia adalah iblis!!” ekspresi amarah Theo benar-benar mewakili rasa bencinya


Mendengar situasi anak itu, Ryou dan Kaito tidak mungkin menganggap itu ringan. Paling tidak meski sedikit, ada rasa kesal dalam diri keduanya terhadap Justin yang belum pernah mereka temui sekalipun.


“Dia memberimu makan tapi makanan seperti apa yang dia berikan pada kalian semua sampai kalian harus memberinya uang?” Kaito bertanya dengan nada datar untuk menyembunyikan emosinya


“Dia hanya memberi kami roti yang kotor. Terkadang roti yang keras atau yang sudah sedikit berjamur”


Sekarang, dalam hati kedua remaja itu muncul satu kalimat.


‘Gorilla itu pantas untuk mati!!!’


Ryou mencoba untuk tenang karena ingat ancaman Kaito sebelumnya, tapi bohong kalau dia tidak ingin mengeluarkan makiannya untuk Justin. Setelah menarik napas panjang dan menghembuskannya, Ryou mulai mendekati Theo dan menatapnya.


“Kau, apa kau menceritakan ini semua kepada kakakku?”


“Ti–tidak mungkin! Aku tidak mau Kino-nii mengetahuinya. Aku…aku ingin mendapatkan jam saku yang kuambil itu karena aku juga tidak ingin dibenci oleh Kino-nii” Theo mengatakan semua itu dengan suara gemetar


Mendengar hal itu, Ryou tersenyum pada Theo dan menghiburnya.


“Jangan khawatir, kakakku yang terbaik jadi dia tidak akan membencimu. Percayalah!”


“Mmm” Theo mengangguk senang


Wajah Kaito menjadi serius. Banyak pertanyaan muncul dalam dirinya sekarang.


‘Apa maksudnya ini? Jam saku kedua kakak beradik itu ada di tempat asing ini. Lalu, perasaan aneh yang kurasakan ketika menghajar kelima pria itu juga seperti berhubungan dengan tempat ini. Kepingan ingatanku…apakah semua itu mengarah pada tempat ini?’


Kaito melihat Theo sekali lagi dan menatapnya dengan tatapan tajam. Dia yakin ada sesuatu dengan anak itu juga. Semua masih belum meyakinkan dirinya.


Pertanyaan lain muncul dalam pikiran Kaito.


‘Daerah asing yang tidak terjamah oleh penduduk kota itu seakan ada garis pembatas antara keduanya. Apakah ini misteri dari ‘dunia’ ini sekarang? Setelah ‘kedua dunia’ itu, apakah sekarang tempat ini masalah sesungguhnya?’


Penjelasan Theo hanya menjawab tiga dari empat pertanyaan Kaito sebelumnya. Sekarang, Kaito perlu mengetahui jawaban dari pertanyaan keempat.


“Theo, aku ingin bertanya padamu dan kau harus jujur padaku”


“Te–tentu…” dengan wajah panik dia menjawab Kaito


“Saat kau melihatku beberapa waktu lalu, sepertinya kau begitu takut padaku. Pagi ini ketika aku dan Ryou berada di kolam air mancur di samping altar, aku lihat dua anak yang sepertinya seusia denganmu juga membuat wajah takut yang persis sepertimu. Apa aku pernah bertemu denganmu atau aku pernah melakukan hal buruk padamu?”


“……” Theo terdiam


Ryou tidak mengerti arti dari pertanyaan Kaito namun dia tidak bermaksud untuk bertanya. Dia lebih tertarik dengan jawaban dari mulut anak itu.


Theo melihat pedang milik Kaito dan menunjuknya dengan jari telunjuk.


“Kaito-nii, pedang itu…pedang tanpa sarung pedang kan?”


“Ini? Pedang ini memang tidak memiliki sarung pedang sejak aku kehilangan milikku di tempat lain. Apa benda ini yang membuatmu takut?”


“Benda itu–”


Belum selesai Theo bicara, Ryou langsung menyela.


“Sudah kubilang, kan? Kau itu perlu memesan sarung pedang lain!. Lagipula, berbahaya sekali berjalan dengan pedang bermata dua tanpa sarung seperti itu. Kau benar-benar akan dilihat sebagai penjahat nanti”


“Ryou, kumohon jangan memanggilku penjahat. Tolong tahan mulutmu itu untuk sekarang, aku mohon. Telingaku akan menangis mendengar itu seharian penuh” Kaito dengan wajah anehnya menatap Ryou


Bukan Ryou namanya kalau mulut pedasnya itu memiliki hari libur.


“Sejak kapan telingamu bisa menangis? Aku ingin lihat seperti apa bentuk air matanya itu”


“Ryou, tolong diam sebentar”


“……” dan lagi-lagi Kaito kalah dalam adu mulut dengan remaja itu


Padahal Kaito sudah belajar untuk tidak mengatakan apapun jika Ryou berkomentar, namun sepertinya Kaito lebih lugu dari yang dia pikirkan. Pendiriannya begitu labil seperti remaja berusia 21 tahun lainnya sehingga mudah sekali melupakan apa yang terpenting untuk menyelamatkan mentalnya dari Ryou.


Siapapun mungkin akan kasihan melihat Kaito sekarang.


Semua drama itu tidak berpengaruh apapun pada Theo. Theo yang masih menunjuk pedang Kaito melihat wajahnya dan bertanya.


“Ka–Kaito-nii, apa kau pernah datang ke tempat asing ini sebelumnya?”


“Apa?” Kaito cukup kaget mendengar pertanyaan itu


“Aku tanya, apa Kaito-nii pernah datang ke tempat ini sebelumnya? Tolong jawab aku!”


Sekarang, Theo kembali terlihat pucat dan takut. Kaito melirik ke arah Ryou yang mengangguk padanya sebagai tanda dia harus mengatakan hal yang terjadi kemarin pada Theo.


“Aku pergi ke tempat ini kemarin, lebih tepatnya pada pagi hari menjelang siang. Aku masuk ke tempat ini melalui anak tangga di sekitar kawasan perumahan penduduk itu. Kalau boleh jujur sejauh yang kuingat, aku belum pernah melihat anak tangga itu. Karena itulah aku sedikit penasaran dan coba untuk menuruninya sekali”


“Apa…apa kemarin kau bertemu dengan dua pria besar berotot juga saat ke tempat ini?”


“Aku tidak bertemu dengan mereka. Lebih tepatnya mereka yang menemukanku”


“Apa?!”


“Tempat ini begitu asing untukku jadi aku sempat tersesat. Banyak sekali belokan dan gang yang tidak aku tau membuatku nyaris tersesat. Sampai akhirnya aku melihat beberapa kios dan tempat seperti pasar dengan orang-orang yang tidak ramah sama sekali di sana”


“La–lalu, bagaimana kedua pria itu bisa menemukan Kaito-nii?” Theo mulai menatap serius Kaito


“Aku berjalan melewati pasar aneh itu untuk mencari jalan keluar dari tempat ini. Di saat itulah ada dua pria berotot yang mengikutiku dari belakang. Entah kenapa mereka tidak begitu senang denganku sampai-sampai mengejarku”


“Begitu rupanya. Ternyata seperti itu–”


“Ada apa dengan itu?”


“……” Theo terdiam sebentar


Ketika Ryou dan Kaito saling melihat satu sama lain karena bingung, Theo mengatakan hal yang mengejutkan.


“Kaito-nii, kau dalam masalah besar sekarang”


“Apa maksudnya itu?”


******


Kino yang baru saja selesai menerima permintaan maaf dari orang yang menabraknya segera melihat ke kanan dan kirinya. Satu-satunya hal bagus di pikirannya adalah dia yakin Theo sudah menaiki tangga menuju altar dan sekarang mungkin sudah di dalam.


“Haruskah aku menyusulnya sekarang?”


Kino melihat jam sakunya dan waktu sudah menunjukkan pukul 09.04 artinya baru empat menit berlalu.


Dengan kecepatan berlari anak-anak, hanya untuk menaiki tangga dan masuk ke dalam altar tidak akan membutuhkan waktu lama. Tapi, firasat Kino bukanlah isapan jempol. Bisa dibilang dia seperti memiliki tingkat kewaspadaan dan memikirkan semua kemungkinan dengan sangat matang.


Terutama soal firasat buruk dan firasat aneh.


Sekarang dia sedang berada dalam pemikiran dimana dia curiga Theo tidak ada di dalam altar. Kino mulai berpikir sebentar.


‘Entah kenapa aku merasa Theo-kun kemungkinan tidak pergi ke dalam. Sekalipun dia pergi ke dalam sekarang, apa yang akan dia temukan dan lakukan? Bahkan ketika aku mengetahui semuanya, apa yang ingin dilakukan Theo-kun?’


Pemikiran Kino itu akhirnya membawa dirinya untuk pergi kembali ke altar. Setelah memasukkan jam sakunya kembali, dia bergegas menuju tangga altar. Kino berlari untuk menaiki tangga tersebut.


Di pintu masuk altar, dia tidak melihat Stelani dan yang lain. Ada sedikit senyuman menghiasai bibirnya.


“Kurasa mereka semua benar-benar sudah pulang sekarang, syukurlah. Aku berharap mereka tidak disakiti oleh pria bernama Justin seperti yang dikatakan oleh Michaela-chan”


Kalimat yang dikatakan anak kecil itu tentu masih menyisakan rasa sedih dan khawatir di hati Kino. Meski begitu sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan hal tersebut.


“Aku tidak bermaksud jahat pada Stelani-chan dan yang lain, tapi ini bukanlah waktu yang tepat untukku memikirkan hal itu. Aku harus melihat sendiri apakah Theo-kun benar-benar di sini atau tidak”


Kino masuk ke dalam untuk kedua kalinya pagi ini.


Di dalam bangunan altar masih terdapat banyak sekali penduduk dan jamaah. Ada pemandangan yang kembali menyita perhatian Kino dari kejauhan.


Melihat dari situasi di sana, Kino menyadari bahwa semua orang-orang itu tidak datang untuk berdoa melainkan menemui petugas penjaga.


“Para petugas penjaga itu masih harus menghadapi semua orang yang marah-marah, ya. Bahkan setelah waktu sudah sesiang ini, mereka tetap harus berurusan dengan semua orang yang emosi. Aku berharap mereka baik-baik saja”


Benar sekali, para korban kehilangan di altar masih belum puas dengan semua penjelasan dan usaha yang dilakukan para petugas penjaga untuk menemukan barang milik mereka. Kino terlihat begitu sedih melihat hal tersebut.


‘Seandainya aku memiliki keberanian untuk menerima kenyataan dari semua benang yang terhubung sekarang, aku mungkin tidak akan merasa begitu kecewa pada diriku’ gumam Kino seakan kecewa pada dirinya sendiri


Sampai saat ini, beberapa hal yang dikatakan Kino dalam hati dan pikirannya masih memiliki maksud yang ambigu, tetapi hanya satu hal yang pasti. Kino sudah mengetahui hampir semua hal di depannya dan dia menemukan semua kenyataan pahit itu sendirian.


Dengan perlahan, Kino mulai memasuki altar dan melihat semua sisi. Kanan dan kiri, depan dan belakang, bahkan sesekali berjalan maju ke bagian kerumunan penduduk hanya untuk mencari Theo. Mulai jenuh karena tidak menemukan anak itu, Kino melihat jam sakunya kembali dan melihat waktu telah menunjukkan pukul 09.25 pada pagi hari.


“Sudah lebih dari sepuluh menit aku mencari anak itu. Ternyata Theo-kun benar-benar tidak ada di sini”


Sekarang, hanya kepanikan yang terlihat di wajahnya.


“Theo-kun tidak ada di sini!”


Kino langsung berlari keluar altar dan menuruni tangga kembali dengan terburu-buru.


Setelah sampai di bawah, ekspresi panik miliknya bercampur dengan wajah merah karena lelah berlari menjadikan hal tersebut sebagai kombinasi yang tidak begitu buruk untuk Kino. Wajahnya jadi semakin manis, tapi itu tetap saja tidak membantu apapun.


Lupakan tentang wajah manis Kino, sekarang bahkan dia terlalu panik untuk mengatur napasnya.


‘Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa Theo-kun berusaha untuk lari dariku? Kemana aku harus mencarinya? Sekarang sudah hampir jam setengah sepuluh pagi dan aku bahkan tidak tau tempat mana lagi yang harus aku datangi untuk….tunggu, kenapa aku melupakannya?!’


Saat pikiran Kino mengatakan banyak hal, dia teringat sesuatu yang hampir dilupakannya karena panik. Dia melihat Theo memang menuju ke altar, tapi bukankah ada arah lain yang bisa dituju dari jalan itu juga?.


“Theo-kun berjalan ke sisi berlawanan dengan kolam air mancur menuju altar. Tapi di belakang altar itu juga ada jalan lurus yang terhubung dengan jalan tempatku berada sekarang, benar kan?”


Sedikit ragu, Kino mulai menenangkan dirinya dulu sesaat untuk menarik napas panjang dan menghembuskannya. Selesai dengan itu dalam dua menit, Kino memasukkan jam saku yang masih dipegang erat olehnya ke dalam saku celananya kembali dan mulai berjalan menuju jalan di belakang altar.


Di belakang bangunan altar, ada jalan lain yang dilihatnya. Orang-orang memang ada yang berjalan ke sana namun tidak begitu banyak. Dengan pikiran tenang, Kino mulai berjalan sambil melihat ke sekeliling. Banyak bangunan yang masih ditinggali tetapi hal tersebut tidak bertahan lama.


Betapa terkejutnya Kino menemukan sesuatu yang tidak biasa untuknya.


“Apa ini? Apakah benar tempat seperti ini ada di kota ini?”


******