Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 91. Kebahagiaan Kecil yang Manis



Di bar [Barre des Noirs], Theo selesai membersihkan puing-puing dinding dan pintu yang rusak. Kursi dan meja juga telah dibersihkan.


“Theo-niichan, kursi yang ini sudah dirapikan juga” kata seorang anak kecil


Theo yang sedang sibuk mengepel lantai dari depan pintu masuk bar menengok sambil tersenyum.


“Bagus, kau pintar sekali. Kalau begitu, tolong bantu aku sebentar ya”’


Anak kecil itu menghampiri Theo dan bertanya.


“Membantu apa?”


“Tolong kau buang air di ember itu dan isi lagi airnya sampai penuh ya”


“Baik”


Anak kecil itu membawa embernya ke belakang untuk diisi kembali. Theo dengan wajah penuh keringat terlihat lelah sekali.


“Mau dibersihkan sampai seperti apa, darah ini benar-benar sulit hilang! Membuatku kesal saja!”


Bandul kalung miliknya terlihat. Theo menyadari dan melihatnya dengan tatapan sendu.


“Permata berhargaku…”


Theo melihat bandul permata ungu miliknya sambil mengingat banyak hal dalam pikirannya.


‘Sejak aku hidup, aku selalu mengutuk tempat ini dan Justin yang sudah membuat hidup kami menderita. Siang dan malam aku selalu berdoa agar bisa membalasnya, agar bisa terlepas dari penderitaan ini, agar bisa hidup tanpa bayang-bayang ketakutan dan kebencian gorilla itu’


Tanpa disadari, Theo mulai bergumam pelan melanjutkan apa yang isi hatinya katakan.


“Dan sekarang dia telah mati. Dia mati dengan cara hina seperti yang dia lakukan kepada semua orang yang berhubungan dengannya”


Theo tersenyum melihat bandul permata itu. Senyum terindah yang mungkin pernah dibuat dalam hidupnya. Ada perasaan lega dengan mata berkaca-kaca yang terpancar dan itu semua berkat beberapa hal baik.


“Aku…aku merasa seperti doaku selama ini akhirnya terjawab”


Meskipun begitu, nasib buruk mereka masih belum berubah dan mereka masih harus berdoa agar semua yang pergi ke tempat berbahaya untuk menyelamatkan orang-orang yang diculik bisa kembali dengan selamat.


Dia mengapit tongkat pel di ketiaknya dan mulai memejamkan matanya.


Dengan kedua tangannya yang menggenggam erat bandul kalung berwarna ungu itu, Theo menundukkan kepalanya seraya berdoa dalam hati.


‘Semoga Kino-nii selamat. Semoga Stelani dan Fabil selamat. Semoga Ryou-nii dan Kaito-nii selamat. Semoga Arkan-nii dan temannya itu selamat. Semoga semua bisa pulang ke tempat ini dalam keadaan hidup. Aku mohon’


Cahaya kecil kembali terlihat dan ketika Theo membuka matanya, dia melihatnya.


“Apa?!” Theo terkejut


Matanya terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Dia melihat bandul permata ungu itu bersinar. Namun tidak lama setelah itu, cahayanya redup dan kembali seperti sebuah bandul kalung biasa.


“Ber…sinar? Kenapa?!”


Tanpa sadar, tongkat pel yang diapitnya di ketiak terjatuh dan Theo melihat bandul kalung itu dengan teliti.


“Aku tidak pernah menyadari bahwa benda ini bisa bersinar, tapi kenapa? Selama ini aku tidak merasakan hal aneh. Seumur hidup aku memakainya sejak benda ini terus bersamaku, baru pertama kali ini dia bersinar seperti ini. Kenapa bisa…”


“Theo-niichan, ini airnya!”


Suara anak kecil yang datang dari arah belakang dengan membawa seember air telah menghentikan kalimat terakhir yang ingin diucapkan oleh Theo. Theo akhirnya melupakan hal itu sejenak dan mengambil kembali tongkat pel yang jatuh.


Ketika anak itu meletakkan embernya, dia melihat wajah Theo yang sedikit pucat.


“Theo-niichan, ada apa? Apa kau lelah? Apa kau ingin istirahat? Aku bisa mengepel lantai ini kalau kau lelah, Theo-nii”


“Aku…aku hanya sedikit menarik napas. Tidak perlu khawatir. Kau bisa kembali bersama yang lain untuk istirahat ya. Sudah setengah jam lebih kalian membantuku. Pergi ke belakang bersama yang lain dan tidur di ruangan tadi sambil menunggu makanan datang ya”


“Baiklah. Oi semua, kita boleh tidur katanya. Ayo cuci tangan dan pergi ke ruangan tadi”


Anak kecil itu berteriak memanggil kedua temannya dan berlari ke belakang mengikuti instruksi Theo. Sekarang, hanya tinggal Theo sendiri bersama dengan rasa bingung yang menghantuinya.


Dia memegang dan melihat bandul kalungnya kembali sambil memperlihatkan ekspresi penasaran.


“Sejak kapan benda ini bisa bersinar dan kenapa selama ini aku tidak pernah mengetahuinya? Apa ini baru pertama kalinya terjadi atau…”


Theo tidak bisa berhenti penasaran. Akhirnya hal yang dilakukannya selama kurang lebih lima menit adalah berdiri di tempat dengan memegang kain pel sambil memperhatikan bandul kalung yang ada di tangannya.


Dari arah belakang, dia dikagetkan dengan sesuatu.


“Kami pulang!”


“Waaah!!!”


Dengan reflek cepat, Theo langsung menengok ke belakang sambil mengarahkan tongkat pel yang dipegangnya ke arah belakang. Terlambat teriak satu detik, tongkat pel itu akan mengenai seseorang.


“Waah!! Jangan mengarahkan benda itu ke arahku lagi, bocah kecil!!” Joel teriak dengan wajah panik


“Kalian…kalian sudah pulang? Kenapa cepat sekali?” tanya Theo dengan wajah panik dan bingung


“Theo-niichan kami membawa ini semua, lihat lihat!!” Michaela menunjukkan semua hal yang dibawa di kedua tangannya


“Lihat ini, lihat ini!” kedua anak itu juga memperlihatkan kantong-kantong yang dibawa mereka


“A…Kalian…”


Theo yang masih belum bisa berpikir jernih dan hanya mengeluarkan satu sampai dua kata saja dari mulutnya.


“Kau kenapa? Apa kamu terlalu lama….hmm?” Joel melihat sekeliling ruangan bar dengan wajah bingung


Dia mengamati semua kursi dan meja yang tersusun rapi serta beberapa noda darah yang mulai memuda. Seketika dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam bar lalu tersenyum senang dengan berderai air mata haru.


“Oh…bocah kecil, apa kau yang membersihkan tempat yang semula seperti kandang hewan ini? Hiks…aku merasa terharu!! Huwaa…setidaknya bar tua, reot dan menyedihkan ini bisa terlihat lebih bagus dari setengah jam lalu” seru Joel terharu


Semua kantong belanjaan yang dibawanya diletakkan di atas meja dan kursi yang telah tersusun rapi. Joel kembali menarik kursi dan meja bar itu ke tengah ruangan dan sekarang ruang itu terlihat tidak jauh berbeda dari setengah jam lalu.


Tentu saja hal itu mengundang emosi Theo naik.


“Oi, paman mesum!! Itu baru saja dibereskan! Kenapa kau menarik kursi dan mejanya lagi seperti itu, dasar bodoh!!”


“Eh~ kita mau makan siang, kan? Aku sudah membeli banyak makanan enak dan pakaian bagus untuk kalian jadi ayo makan bersama” pria besar itu tersenyum sambil mengajak Theo menghampirinya


“Jangan bercanda! Lalu untuk apa aku meminta yang lain untuk membereskan semua itu, hah?!”


“Yang lain ya…tiga anak lainnya kemana?” Joel bertanya sambil menengok ke sekeliling ruangan


“Ada di belakang sedang istirahat. Itu karena mereka yang membereskan semua itu tapi kau justru membuatnya berantakan lagi, dasar mesum!!” kata Theo sambil mara-marah


Seakan tidak memedulikan ocehan Theo, Joel dengan senyum merona meminta Michaela memanggil tiga anak lainnya.


“Oh iya, Michaela tolong panggilkan yang lain ya. Katakan kalau makan siang sudah datang”


“Baik, Joel-ojichan~”


Michaela dengan senang berlari diikuti oleh dua temannya yang lain. Sekarang hanya tinggal Theo dan Joel berdua di ruangan bar tersebut.


Theo mengamati semua barang dan kantong belanja yang ada di atas meja dan kursi itu.


“Kenapa cepat sekali?” tanya Theo dengan nada ketus


“Aku pergi ke toko pakaian dulu untuk membeli beberapa pakaian. Karena kupikir harus memprioritaskan pakaian yang bisa kalian pakai dahulu, jadi aku minta pelayan toko membungkus semua pakaian anak-anak terbaik yang mereka punya. Oh, tentu saja aku bahkan membeli pakaian dalam untuk anak laki-laki dan perempuan juga. Ehehehe~” jelas Joel sambil tertawa


Ketika menjelaskan itu, Joel terlihat senang seperti seorang ayah yang membelikan banyak hal baru untuk anak-anaknya. Bahkan terlihat imajinasi bunga-bunga bermekaran dengan senyum malaikat di belakangnya. Jiwa orang tua yang kental sekali.


“Lalu bagaimana bisa dalam waktu setengah jam kalian bisa membeli semua itu?”


“Tentu saja bisa! Setelah membeli semua pakaian yang bahkan aku tidak melihatnya sendiri, kami langsung ke kedai makan dekat sana dan membeli semua menu daging ayam dan makanan penutup di tempat itu”


“Begitu saja? Memang makanannya tidak dimasak dulu bisa secepat itu kalian membelinya?” Theo terlihat curiga dengan cerita Joel


“Ayolah bocah kecil, aku menggunakan sebuah cara bagus dan sangat ampuh untuk mengatasi waktu lama dalam menyiapkan pesanan”


“Apa?”


“Uang!” Joel tersenyum sambil membuat pose jari melingkar


“……” Theo terdiam dengan wajah aneh


“Aku hanya mengatakan bungkus semua makanan yang ada dan mereka langsung melakukannya” kata Joel dengan bangga


“Maksudmu…kau membeli apa yang sudah jadi saja, begitu?”


“Yap. Untuk apa menunggu terlalu lama. Lagipula kedai makanan yang ada di sekitar toko baju itu hanya menyediakan makanan jadi seperti roti isi, daging tusuk juga sup dengan krim dan ayam. Oh, jangan khawatir. Ada minuman segar dan kue juga”


“Kenapa kau membelinya di tempat seperti itu? Orang yang memiliki uang seharusnya tidak pernah makan makanan jalanan”


Mata Theo terlihat begitu kesal mengingat dirinya bahkan tidak pernah makan di restoran atau kedai makanan manapun.


“Aku ingin melakukannya tapi jika aku memilih banyak hal, kalian yang menunggu hanya akan menahan lapar lebih lama lagi. Jadi, aku membeli pakaian yang bisa kalian pakai setelah ini dan makanan dari kedai dekat sana untuk mempersingkat waktu”


“Begitu”


“Tapi tenang! Setelah perut kalian kenyang dan bersih, aku akan mengajak anak-anak itu untuk belanja skala besar. Ahahaha! Aku memang baik hati dan berhati lembut, kan?”


“Mmm” Theo hanya membuat satu nada seakan tidak mau memberikan respon lain


‘Kurasa dia benar-benar orang mesum. Akan kupukul dia dengan tongkat pel ini kalau sampai melakukan hal aneh pada Michaela dan yang lain! Lihat saja nanti!’


“Kenapa?” tanya Joel


“Aku hanya sedang berpikir untuk memukulmu lagi dengan tongkat pel ini kalau berani melakukan sesuatu pada teman-temanku” jawab Theo dengan wajah dan nada datar


Senyum manis dan latar bunga-bunga di belakangnya hilang seketika. Dengan wajah tertekan, Joel menjawab kata-kata Theo.


“Kau itu sepertinya sejak kecil tidak ada manis-manisnya ya. Dasar bocah tidak sopan”


Theo menghampirinya dengan membawa tongkat pel di tangannya.


“Kau bilang apa barusan?!”


“Tidak…tidak ada, tidak ada. Turunkan benda itu sekarang!”


Michaela dan anak-anak lain datang dari arah belakang dengan wajah senang. Mereka yang baru saja bangun tidur terkejut dan berlari menuju meja. Tanpa disadari salah satu dari anak-anak itu tidak sengaja menendang ember berisi air dan semua airnya tumpah membasahi lantai tersebut.


“Ah!” teriak anak itu kaget


“Waa!! Airnya!!” Theo ikut berteriak


“Aiya…sepertinya kerja kerasmu jadi sia-sia dalam sekejap, bocah kecil” Joel berkata sambil menggelengkan kepalanya


Beruntung anak kecil itu baik-baik saja namun tidak dengan airnya. Theo harus mengikhlaskan kerja keras dan tenaganya terbuang sekarang.


“Ini menyebalkan!” gumamnya pelan


“Maafkan aku, Theo-nii”


“Sudahlah. Aku sudah lelah untuk membahasnya. Tidak apa-apa, kau ke tempat paman mesum itu dan makanlah” seru Theo


Setelah itu, semua anak-anak mengikuti kata-kata Theo dan pergi ke meja yang penuh dengan makanan.


“Huwaaa~ini semua makan siang kita, paman?”


“Ehehehe~” Joel hanya tertawa ceria dan tersenyum lebar


“Boleh kami makan ini sekarang? Kami sudah sangat lapar karena membersihkan tempat ini dan menunggu kalian datang” tanya anak kecil yang bersama Theo sebelumnya


“Joel-ojichan, boleh ya?” Michaela memohon kepada Joel


“Tentu saja! Habiskan ayam dan dagingnya semua! Setelah itu baru kalian mandi dan mencoba pakaian baru yang kubeli. Nanti kalau kalian sudah wangi, kita pergi belanja lagi” ujar Joel dengan semangat


Mendengar hal itu, semua anak-anak itu merasa bahagia dan langsung membuka bungkus makanan yang ada di meja. Banyak sekali roti isi daging, ayam goreng, daging tusuk dan sup serta minuman segar yang dibeli.


“Semuanya daging~” seru anak-anak lain dengan wajah senang


“Sudah kubilang kalau kita akan membeli banyak daging, kan? Makanlah yang banyak!” kata Joel sambil mengusap-usap kepala anak-anak itu dengan lembut


“Selamat makan~”


Anak-anak itu memakan ayam goreng dan daging tusuknya terlebih dahulu. Wajah merah merona karena senang terlihat dari wajah mereka. Mereka mulai mengobrol hal yang biasa dilakukan oleh anak-anak seusianya.


“Enak~masih hangat dan lezat. Bagaimana bisa?”


“Joel-ojichan yang membelinya semua nee~” kata seorang anak yang ikut dengan Joel pergi


“Tapi ini masih hangat dan empuk”


“Joel-ojichan bilang kepada penjual untuk membungkus semuanya. Begitu katanya! Lalu penjualnya langsung membungkusnya semua yang baru matang, hebat kan!!” kata Michaela menjelaskan semuanya


“Huwaaa…Joel-ojichan keren sekali~”


“Bukan bukan bukan, yang keren itu bukan aku tapi uangku! Uangku yang membuatku kerena seperti ini. Ahahaha” kata Joel sambil tertawa dengan bangga


Wajah anak-anak itu dengan lugu dan polos mengangguk dan tersenyum lebar.


“Hooo. Keren sekali~”


Sebenarnya pada kenyataan yang ada, wajah Joel yang tidak cocok dengan karakternya saat menghadapi anak kecil itu bisa menimbulkan pertanyaan besar. Akan tetapi, semua itu benar-benar bisa teratasi dengan sempurna berkat pendekatan dan strategi jitu yang dia pikirkan selama di jalan beberapa waktu lalu.


Dan semua sumber keberhasilannya itu berkat uang yang dia ambil dalam jumlah banyak dari dalam brankas bar di belakang sebelum pergi tadi.


Terlepas dari semua uang yang telah dia habiskan untuk semua hal untuk anak-anak itu, dia merasa senang melihat anak-anak itu bahagia.


‘Seharusnya aku melakukan ini sejak dulu dan berani melawan Justin demi kebahagiaan mereka. Aku harap aku tidak terlambat untuk membuat mereka bahagia setelah kematian Justin’ pikirnya dalam hati


“Hmm?” Joel menengok ke arah Theo


Dia melihat anak laki-laki itu mengepel lantai yang basah sendirian dengan serius lalu menghampirinya.


“Kau tidak ikut makan bersama yang lain?”


“Tidak. Biarkan mereka makan. Aku akan membereskan ini sendiri lalu membersihkan tubuhku. Paman mesum juga sebaiknya menemani mereka makan”


Theo terlihat mengabaikan orang yang mengajaknya bicara dan masih mengepel lantai basah itu. Joel menghela napas sambil menggaruk kepalanya lalu menepuk pundak anak itu.


-Puk


“Apa?” Theo menengok sambil terlihat rishi


“Dengar bocah, kau bisa lakukan itu nanti. Sebaiknya kau makan yang ada dulu lalu bekerja kembali. Tempat ini sudah bobrok jadi tidak perlu dipikirkan”


“Aku tau. Aku hanya ingin mereka menikmati makanan enak itu dan melupakan semua rasa sedih yang terjadi selama ini”


“……” Joel terdiam


“Bagaimanapun tidak mungkin aku bisa menghilangkan kejadian buruk ini begitu cepat dari ingatan mereka. Semua orang yang pergi juga tidak diketahui apakah sekarang mereka sudah berhasil atau tidak. Aku ingin anak-anak itu makan yang enak dan tidur sehingga mereka bisa merasa lebih baik”


Theo terlihat sedih sambil melihat wajah anak-anak yang sedang makan itu. Dia benar-benar berharap semua kebahagian kecil di meja itu bisa membuat mereka melupakan semua kesedihan atas kejadian yang menimpa Kino dan kedua temannya.


Namun Joel tidak membiarkan anak itu menanggung rasa sedih itu seorang diri.


“Bocah, kau pikir siapa aku ini?”


“Hmm? Paman adalah paman mesum. Memang ada yang lain lagi?”


“Jangan sembarangan! Aku ini orang dewasa. Kau tau, kan? Orang dewasa! Aku di sini untuk melindungi kalian”


“Kau ke sini untuk melihat hasil kerja Arkan-nii dan membuat perhitungan dengannya setelah dia pulang nanti. Kau sendiri yang bilang, paman mesum”


Seperti terkena pisau yang menusuk jantung, Joel mencoba mengembalikan mentalnya.


“Itu…itu benar tapi lupakan dulu soal itu. Aku membeli semua itu bukan untuk membuat anak-anak itu bahagia, tapi aku ingin membuat ‘kalian’ bahagia”


“Apa maksud dari kata ‘kalian’ itu?” Theo bertanya dengan sikap acuh


“Kalian yang kumaksud itu termasuk kau di dalamnya!” Joel menunjuk wajah Theo dengan telunjuknya sambil menatapnya serius


“Eh?”


“Sudah kubilang sebelum pergi, kan? Kau melakukan hal menakjubkan. Baru aku tinggal setengah jam dan  kau kembali murung lagi. Aku katakan padamu untuk tidak memikirkan hal itu, karena kau juga telah melakukan hal yang baik. Selain itu mereka yang pergi pasti akan menyelamatkan teman-temanmu”


“Aku tau itu. Aku percaya mereka pasti kembali. Aku sedang membicarakan anak-anak itu”


“Hmm? Kekhawatiran yang sia-sia” Joel berkata dengan nada datar


Seakan tidak terima, Theo jadi membentak Joel.


“Apanya yang sia-sia?!”


Joel menoleh dan mengangkat sedikit kepalanya ke atas. Dia melirik ke meja tempat anak-anak itu makan. Theo yang melihat gerak kepala dan matanya itu mendengar ada yang memanggilnya.


“Theo-nii, ayo makan! Ini ada kue dengan krim strawberry”


Michaela menghampiri Theo sambil membawa sepotong kue krim dengan strawberry di atasnya. Bukan hanya Michaela, namun semua anak-anak itu datang menghampiri Theo.


“……” Theo hanya diam melihat gadis itu menghampirinya


“Um…sebenarnya nee, saat kami makan bersama Kino-niichan pagi ini…Kino-niichan membeli bagian untuk Theo-niichan. Dia membeli daging lezat dan kue juga untukmu. Tapi karena Stelani-neechan dan Fabil-niichan saat itu keluar dan meninggalkan kami di rumah sendirian, kami memakan bagian Theo-niichan. Maafkan kami” kata Michaela dengan wajah sedih dan tertunduk


“Kami tidak menceritakannya padamu tadi saat ada Ryou-niichan dan Kaito-niichan karena takut Theo-niichan akan marah” kata anak kecil lain


Michaela memberikan piring dengan kue strawberry di atasnya lalu berkata dengan wajah merona.


“Kami memberikan kue dengan krim ini untukmu, karena itu…ayo makan bersama kami”


Michaela terlihat mengumpulkan keberaniannya untuk memberikan kue itu. Theo yang melihatnya begitu terharu dan seperti akan meneteskan air mata.


Joel melepas topi di kepala Theo dan mengusap-usap rambutnya dengan lembut sambil tersenyum.


“Lihat, itu yang disebut kebahagiaan kecil yang manis. Bisa makan bersama orang yang sangat kau sayangi adalah hal paling ini. Anak-anak itu tidak perlu lagi kau khawatirkan. Karena itu berhenti memaksakan dirimu dan jadilah sedikit manja seperti anak seusiamu”


Sesaat, Theo merasa semua beban di pundaknya selama ini hilang seutuhnya. Dia menerima kue yang diberikan Michaela dengan senyum dan mulai berjalan ke meja penuh makanan dengan yang lain.


‘Kebahagiaan kecil yang selalu aku impikan sejak lama…akhirnya bisa terwujud’


******