
Stelani dan Fabil menuruni tangga itu. Hari memang masih siang namun dengan ruangan gelap dan mencurigakan seperti ini, mereka tidak yakin apa yang akan terjadi nanti.
Sebenarnya, anak tangga itu akan mudah dituruni jika kondisi tubuh mereka baik-baik saja. Tetapi sekarang, kondisi kaki Stelani tidak memungkinkan untuk berlari atau berjalan cepat.
Fabil yang menuruni tangga di belakang gadis itu tidak bisa berhenti melihatnya dengan wajah cemas.
“Kau tidak apa-apa, Stelani? Kau yakin bisa berjalan dengan kaki seperti itu?” Fabil bertanya dengan suara pelan
“Aku tidak apa-apa. Jangan pikirkan aku dan kita keluar dari tempat ini!”
Fabil terlihat begitu mencemaskan gadis di depannya, tapi dia juga berusaha untuk terlihat tenang karena prioritas mereka sekarang ada keluar dari tempat itu.
Sesampainya di bawah, mereka berjalan perlahan.
“Kurasa setelah melewati belokan di depan kita akan sampai. Jika sudah sampai di luar aku akan menggendongmu agar kita bisa berlari” kata Fabil
“Tapi kau sendiri kan terluka. Tanganmu juga pasti masih sakit!”
“Kalau tanganku sakit, aku tidak akan bisa menarik tubuh Kino-niichan. Yang jelas dengan kaki seperti itu kau tidak akan bisa berlari, Stelani. Kita memegang senjata jadi tidak masalah. Prioritas kita adalah keluar dari sini! Kalau kita terus berada di sini, Kino-niichan akan mati!”
Stelani terdiam.
Dia hanya bisa mengangguk karena hal itu benar. Kakinya hanya akan menghalangi rencana mereka untuk melarikan diri.
Ketika berjalan dan berbelok, Stelani hampir berteriak melihat apa yang ada di hadapannya.
“Aahh…hmmph!”
Dengan cepat Fabil menutup mulutnya dan menariknya ke bawah untuk berjongkok. Wajah Stelani pucat dan gemetar. Fabil melihat telunjuk kanan Stelani seperti menunjuk sesuatu. Fabil melihat ke arah yang ditunjuk dan sekarang giliran Fabil yang nyaris berteriak.
“Aahh…hmmph…hmmph!!”
Reflek dari Stelani tidak kalah cepat. Dengan tangan kanannya, dia langsung menutup mulut Fabil yang nyaris berteriak.
Keduanya saling menutup mulut satu sama lain dengan wajah pucat dan tangan gemetar. Dengan saling mengangguk satu sama lain sebagai aba-aba, mereka melepaskan tangan masing-masing dan menarik napas.
“Haaah….haaa….haaa….”
Fabil melihat kembali apa yang ada di ruangan itu.
“Kaki…kaki manusia?!” ucapnya dengan nada pelan
“Aku tidak suka di tempat ini! Kita harus keluar dari sini secepatnya atau kita akan bernasib seperti itu!!” kata Stelani sambil menarik tangan Fabil
Fabil akhirnya membantu Stelani berdiri. Dia memperingatkan sesuatu sebelum mereka berjalan kembali.
“Dengar, tutup mulutmu jika kau ingin teriak lagi! Kita harus kabur dari sini tanpa ketauan atau kita akan seperti itu juga! Setelah sampai di pintu keluar, aku akan langsung menggendongmu”
“Kau tidak akan kuat, Fabil!”
“Kau mengakui kalau kau gendut?” tanya Fabil dengan nada acuh
Seketika keadaan hening dan tiba-tiba terdengar suara tamparan yang dilakukan oleh seorang gadis.
-Plaak
“Ouch! Apa yang kau lakukan, Stelani?!” Fabil bertanya sambil mengusap-usap pipinya
“Itu balasan karena kau sudah bersikap tidak sopan pada wanita!” Stelani melihat Fabil sambil memasang wajah cemberut
“Apanya yang tidak sopan?! Kau sendiri yang bilang kalau aku tidak kuat menggendongmu! Itu artinya kau secara tidak langsung mengatakan kalau kau itu gendut, dasar bodoh!”
“Aku tidak gendut dan kau harusnya memiliki sopan santun! Wanita itu sensitif jika berhubungan dengan berat badan!”
“Terserah! Berani menamparku lagi, akan kutinggalkan kau!” ancam Fabil
“Kau serius mau meninggalkanku di sini dan melihatku berakhir jadi salah satu kaki manusia yang menggantung di atas itu, hah?”
Stelani terlihat kesal sambil menunjuk ke arah kaki manusia yang digantung di dekat jendela di samping pintu masuk.
“……” Fabil hanya diam dan menggelengkan kepalanya
“Kalau begitu jangan sekali-kali mengancamku seperti itu! Itu tidak lucu! Ayo jalan”
Stelani kembali berjongkok dan merunduk. Fabil yang melihat gadis itu kembali berjongkok hanya bisa mengikutinya hal yang dilakukan gadis itu dan menghela napas panjang.
‘Mau di situasi apapun, yang namanya perempuan itu memang menakutkan! Kalau bisa keluar hidup-hidup dari sini, aku akan peringatkan Theo agar tidak pernah bertanya tentang berat badan Stelani padanya’
Mereka berjalan dengan posisi berjongkok. Itu memang tidak cukup sulit dilakukan bahkan oleh kaki Stelani yang sedang terluka seperti itu. Sedikit lagi mereka akan sampai di pintu masuk lalu mendengar suara.
“Sstt! Ada orang di luar”
Suara samar di luar terdengar ketika mereka telah sampai di pintu. Mereka tidak berani mengintip, namun mereka tau ada orang di luar. Dari jarak suaranya, kedua anak-anak itu berpikir kalau orang-orang itu ada di sisi kanan atau kiri bangunan tempat mereka berada sekarang.
“Ada orang di luar. Apa kau pikir itu adalah mereka?” tanya Stelani sambil berbisik
“Kurasa mereka ada di salah satu sisi bangunan ini. Semoga mereka tidak kemari”
Fabil terlihat pucat dan ketakutan, tetapi ini tidak akan merubah keputusan mereka untuk keluar.
“Kita tunggu sebentar lagi. Setelah itu aku akan mengintip sedikit. Jika terjadi sesuatu, jangan sungkan untuk menyerang orang yang datang” kata Stelani memberikan instruksi
“Baiklah”
Stelani mulai menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan merangkak ke arah jendela di dekat pintu masuk. Dengan jendela yang besar dan dapat terlihat dari luar, sudah pasti siapapun akan menyadari kehadiran anak-anak itu sekalipun mereka merangkak di tanah. Akan tetapi, tempat tersebut bukanlah bangunan toko di kota. Stelani menyadari itu ketika merasa tempat itu sangat sepi seperti kota mati.
‘Kurasa ini bukan lagi di kawasan pertokoan di kota. Apakah ini masih bagian dari wilayah asing? Tapi sejak kapan mereka memiliki toko dengan tubuh manusia sebagai dagangannya? Yang jelas ruangan tempat kami menemukan Kino-niisan tadi bukanlah sekedar ruangan bohong. Kepala di meja itu benar-benar kepala manusia’
“Burgh!!”
“Oi! Stelani!!”
Fabil nyaris mengeluarkan suara keras. Dia melihat gerakan Stelani terhenti saat dirinya sudah sampai di jendela. Gadis itu muntah. Dia muntah setelah mengingat ruangan penuh anggota tubuh dan darah dimana-mana. Dia mengingat dua kepala manusia di meja dan seketika perutnya langsung terasa mual.
Semua makanan yang dimakannya pagi ini keluar menjadi cairan menjijikan. Tapi itu tidak lagi dipedulikan. Dia menghapus sisa liur dan muntahannya dengan merobek dress bagian bawahnya.
“Kau baik-baik saja?” Fabil dengan cepat langsung bergerak tanpa suara menghampiri Stelani
Dia melihat gadis itu dan apa yang dikeluarkannya.
“Aku merasa jijik ketika menyadari tempat ini bisa menjual manusia seperti itu. Aku tidak mau Kino-niisan menjadi salah satunya” Stelani mulai terlihat putus asa dan sedih lagi
“Kino-niichan tidak akan berakhir begitu! Jangan memikirkan hal macam-macam sampai mengeluarkan semua sisa makanan enak yang belum sempat kau cerna itu!”
Akhirnya Fabil yang mengintip ke luar jendela. Dia sempat melihat seorang gadis dari bangunan di sampingnya keluar, tetapi hanya selang beberapa menit, orang tersebut masuk kembali. Fabil menunggu sebentar sampai akhirnya dia tidak merasakan kehadiran siapapun lagi.
“Tampaknya mereka sudah tidak ada lagi. Kita pergi dari sini sekarang!”
Fabil menggenggam tangan Stelani dan menariknya. Sedikit demi sedikit dia membuka pintunya pelan-pelan. Akhirnya setelah perjuangan panjang, mereka berhasil keluar dari tempat itu.
“Kita….berhasil?” tanya Fabil yang masih tidak percaya dengan apa yang sekarang terjadi padanya
“Fabil, lihat itu!”
Stelani menunjuk gerobak berisi barang di depan bangunan di samping tempat mereka berada. Fabil berniat untuk menghampiri gerobak itu namun dicegah oleh Stelani.
“Jangan! Kalau ada gerobak itu di sana artinya di dalam bangunan lantai 6 itu ada wanita yang menculik kita! Kita tidak punya waktu dan harus pergi dari sini sekarang!”
“Kau benar! Pegang ini untukku” Fabil memberikan pisaunya pada Stelani
“Kau benar-benar mau menggendongku?”
“Bukan saatnya memikirkan berat badanmu! Jika tangan kirimu bisa menggenggam erat pundakku, lakukan dan jangan dilepaskan! Mengerti?”
“Aku mengerti”
Fabil menggendong Stelani di punggungnya dan mulai berlari ke sisi berlawanan dari gerobak itu.
‘Akhirnya kami bisa keluar dari sana! Sekalipun ini jebakan, itu bisa dipikirkan nanti! Kino-niisan harus selamat apapun yang terjadi. Tunggu aku dan Fabil, Kino-niisan!”
**
Will berjalan di depan Ryou dan Kaito sambil bersenandung. Ryou melihat semua tempat itu dan mulai merasa jijik dengan benda yang tergantung di sana.
“Itu semua mayat manusia?” tanya Ryou dengan nada ketus
“Benar sekali. Baru pertama kali melihat hal seperti ini?” Will menengok ke belakang dan bertanya sambil tersenyum ke arah dua remaja itu
“Aku melihatnya di beberapa anime dan komik online tapi ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung” jawab Ryou tanpa merubah nada bicaranya
“Anime dan komik online? Apa itu?” tanya Will
“Bukan apa-apa”
“Ahahaha, kau unik. Aku suka anak unik seperti kalian berdua!”
“Terima kasih, tapi aku tidak suka pria bertato dan bertubuh besar yang selalu membawa pisau daging menyebalkan sepertimu, paman” jawab Ryou ketus
“……” Will diam dan membalikkan tubuhnya
“Apa?”
Melihat Will berhenti dan berbalik, Ryou dengan cepat memasang kuda-kuda seperti ingin menarik pedangnya. Tetapi, Kaito dengan cepat menghentikan gerakan tangan Ryou dan menggelengkan kepalanya agar dia tidak bertindak gegabah.
Will bertanya pada kedua remaja tersebut.
“Kalian berdua mengatakan kalau kalian membunuh Justin. Untuk apa kalian membunuhnya?”
Ryou bermaksud menjawabnya tapi dihentikan. Kaito sudah bisa menebak bahwa apa yang akan keluar dari mulut anak itu adalah hal yang bisa membuat situasi mereka kembali dalam bahaya. Karena itu, dia memutuskan untuk menjawabnya.
“Seperti yang dikatakan oleh tuan bartender itu sebelum masuk, kami ingin mengadakan pertukaran dengan pengelola” jelas Kaito kepada Will dengan wajah serius
“Pertukaran ya. Apa kalian bermaksud untuk menukar mayat Justin dengan dua anak yang kami bawa barusan?”
“Tepat sekali” jawab Kaito
“Tidak!”
Kaito menengok ke arah Ryou, begitu pula dengan Will. Ryou dengan wajah serius dan penuh amarah mengoreksi jawaban Kaito.
“Tidak! Kami tidak ingin menukarnya dengan dua anak yang kalian bawa tapi tiga! Kami ingin menukar mayat iblis itu dengan tiga orang yang kalian bawa”
“Tiga?”
Will melihat remaja itu dengan penuh tanda tanya. Dia terlihat berpikir dengan wajah serius.
Ryou yang melihat respon pria besar itu semakin emosi.
“Aku dengar kalau kau dan wanita yang bernama Seren menyerang kakakku dan mencekiknya. Dia tertusuk dan terluka serta ditendang oleh wanita itu. Jangan bilang kalau kau melupakannya”
Ryou sudah lama sekali menahan emosinya sejak masuk ke tempat itu dan ingin mencari tau tentang keberadaan Kino. Bukan saatnya bersikap baik dan dekat dengan orang yang berpotensi sebagai musuh.
“Jawab aku, apa semua yang aku katakan itu benar? Antara kau atau wanita bernama Seren itu telah menyerang kakakku, benar begitu kan? Jawab aku sekarang!!”
Ryou terlihat marah dan mengeluarkan pedangnya. Kini tidak ada yang bisa dilakukan oleh Kaito kecuali mengamati pria besar di depannya.
‘Ini bahaya! Niatku ingin mencoba menyelinap di saat orang ini lengah justru harus kubatalkan. Bahkan sebelum terjadi aku harus memikirkan rencana lain untuk menemukan orang-orang yang dibawa. Aku harusnya menyadari emosi Ryou jika sudah menyangkut Kino!’ gumamnya dalam hati
Tergantung apa yang akan dikatakan oleh pria besar itu, mungkin ini bisa berakhir dengan pertarungan atau berakhir damai seperti sebelumnya.
Tapi tampaknya jawaban Will sudah menunjukkan semuanya.
“Oh iya aku ingat! Remaja laki-laki itu ya! Madame tadinya ingin membunuhnya. Akan tetapi niat itu batal karena
katanya wajah anak itu manis dan ingin memberikannya sebagai hadiah bagi Monsieur, jadi dia hanya dipukul pada bagian perutnya hingga pingsan sambil dicekik. Hanya sebuah sayatan dan tusukan tidak akan membuatnya mati dengan cepat. Kalau dilihat dari waktunya seharusnya dia mungkin masih hidup atau paling tidak sekarat”
Mendengar kata-kata pria besar itu, Kaito jadi ikut tersulut emosi. Ryou juga sudah tidak bisa mengendalikan dirinya mendengar ucapan santai dari pria itu.
“Akan kubunuh…”
“Hmm? Apa jangan-jangan orang itu adalah kakakmu?” Will melihat mereka dan
bertanya dengan nada santai
“Akan kubunuh kau!!!”
******