
Joel membungkus kedua tangannya dengan sarung tangan dan memasukkan semua pakaian kotor milik anak-anak itu ke dalam kantong besar.
“Haah, akhirnya selesai. Hanya tinggal membawanya ke tukang cuci langgananku dan pakaian ini akan kembali wangi seperti bayi baru lahir. Ehehehe”
Pria besar itu tampaknya sangat menyukai perannya sebagai orang tua dadakan dari ketujuh anak-anak itu. Jika lengkap dengan Stelani dan Fabil, maka jumlah anak Joel yang harus diasuh olehnya berjumlah sembilan.
Sungguh perubahan hidup yang tidak terduga dari seorang manager bar pecinta wanita yang beralih menjadi orang tua angkat untuk sembilan anak jalanan.
‘Aku merasa aku harus melakukan sesuatu kepada mereka semua. Sejak Justin telah mati, itu artinya tidak ada lagi yang harus ditakutkan oleh semua anak-anak itu. Mereka tidak mungkin hidup tanpa arah seperti itu. Bisakah aku melakukan sesuatu untuk menebus semua sikap acuhku selama ini pada mereka semua?’
Semua hal dalam pikirannya itu adalah benar dan murni dari hati.
Sejak pertama dia bertemu dengan anak-anak itu, Joel merasa dia harus bertanggung jawab atas keselamatan mereka sekarang.
“Aku harap anak-anak itu benar-benar tidak kehilangan senyum mereka. Kira-kira, apakah mereka semua sudah berhasil membawa tiga orang yang diculik itu keluar hidup-hidup?”
Joel meletakkan plastik berisi pakaian kotor itu di dalam ruang karyawan dan melepas sarung tangan yang dia pakai di wastafel dapur. Setelah itu, dia berjalan kembali ke sisi depan bar untuk duduk.
“Haaah~” Joel menghela napasnya dengan berat
Tidak diragukan lagi kalau pada akhirnya dia sangat malas berjalan untuk memanggil petugas renovasi.
“Baiklah, ini keputusannya. Aku akan menunggu semua anak-anak itu kembali, baru aku akan memanggil petugas untuk merenovasi tempat bobrok ini”
Tiba-tiba, dia terdiam.
“……”
Dia mulai mengingat hal yang dikatakannya kepada anak-anak itu dan akhirnya menggarukkan kepalanya sambil terlihat malas.
“Ugh, tapi kalau aku tidak pergi…nanti aku dianggap orang dewasa tukang bohong. Sebaliknya, kalau aku pergi, tempat ini tidak ada yang menjaga. Ditambah lagi sudah jelas uang dan lainnya tidak luput dari kemungkinan pencurian. Meskipun begitu, kalau dibiarkan bobrok sampai besok, artinya aku juga tidak bisa menghasilkan uang. Dan…”
Joel mulai duduk tegap dan melihat seluruh ruangan bar sekali lagi.
“Aku akan mengatakan ini sekali lagi…selera Arkan benar-benar buruk. Kita lihat ketika dia kembali ke sini nanti. Kira-kira apa saja pembelaannya itu” gerutu Joel melihat dekorasi bar bobroknya yang aneh
Dia juga mulai berdiri dan berjalan ke tempat pembuangan sampah.
“Karena kemarin katanya ada banyak sekali mayat jadi kupikir ada aroma tidak menyenangkan di…ow…wow…”
Joel melihat ada darah di bawah tumpukan sampah.
“Ternyata Arkan tidak berbohong ketika dia bercerita bahwa mendiang Justin meminta anak buahnya melempar mayat ke tempat pembuangan di belakang bar. Gila sekali. Itulah kenapa aku tidak mau berurusan dengan orang itu. Haaah, tampaknya gosip semalam dan bercak darah ini yang bisa membuat bar ini bangkrut”
Joel masuk kembali ke dalam dan mulai berpikir keras. Pesta kecilnya dengan anak-anak tadi benar-benar membuatnya cukup senang, namun sekarang dia harus kembali ke urusan orang dewasa yaitu menghasilkan uang.
Dengan gayanya yang berdiri dan terlihat begitu serius, Joel bergumam sendiri.
“Kurasa…aku sudah memutuskan untuk…”
“Paman Joel? Rupanya kau ada di sini!”
Riz yang mulai mempercepat langkahnya mulai terlihat berlari lagi. Dia mulai menelusuri jalan lurus itu. Sampai akhirya dia berhenti dan melihat apa yang di depannya dari jarak yang cukup jauh.
“Entah kenapa kalau mengingat sampah di depan, aku jadi merasa sedih karena harus menerima kenyataan Justin mati. Hiks, kurasa setelah bertemu anak-anak itu…aku akan langsung pulang dulu untuk mandi dan menangis. Lalu, aku akan kembali untuk membantu Jack-sama sekaligus menyiapkan pembukaan”
Benar, pada jarak yang cukup jauh itu Riz melihat botol plastik dan sampah berserakan di tanah serta warna merah yang mulai terlihat coklat.
Itu adalah bekas pertarungan antara Kaito dengan Justin. Tentu saja dia tidak asing karena dia sendiri memungut dua lengan milik Justin sebelumnya.
Dia berjalan untuk meletakkan gerobaknya tepat di sisi lain dari sebuah bangunan yang ada di samping bar, sebelum melewati bercak darah dan botol plastik di hadapannya.
“Baiklah, aku siap untuk memberi kejutan dan berita buruk di saat bersamaan pada semua anak-anak itu. Setidaknya, semua orang kembali dengan selamat meskipun ada satu orang yang nyawanya sedang meletakkan taruhannya pada keberuntungan”
Riz berjalan dan ketika sampai di depan pintu bar, dia melihat ada seseorang di dalam. Wajahnya cukup terkejut melihat sosok itu.
Tanpa memberikan aba-aba serta dengan langkah yang minim suara, Riz bicara dengan nada yang cukup kencang. Membuat kejutan menyenangkan untuk pria besar yang berdiri dengan pose serius.
“Paman Joel? Rupanya kau ada di sini!”
“Gyaaa!!!”
“Waaa!! Kenapa kau teriak, paman?!!”
“Eh? Kau…Riz Mortem?!!”
Riz mulai mendapatkan kembali akal sehatnya setelah mengeluarkan teriakan di jalan sempit dan sepi itu.
“Kenapa kau teriak seperti baru melihat setan lewat, paman?!” Riz berjalan ke dalam sambil bertanya pada Joel
“Itu…itu karena sejak tadi tidak ada tanda-tanda manusia datang! Tentu saja siapapun akan berteriak! Apalagi tempat ini sepi seperti kota hantu dan tempat pembuangan mayat!” seru Joel sedikit kesal
“Ma–maafkan aku. Aku mengagetkanmu ya?”
“Y–ya, tidak masalah. Aku pria kuat. Tenang saja. A–ahahaha” Joel mulai memerah karena malu
“Tapi teriakanmu barusan itu imut sekali, paman Joel. Mirip anak kecil yang tidak sengaja melihat kecoa dan berubah histeris. Teriakanmu persis seperti itu”
Selamat kepada Joel yang berteriak mendapat predikat teriakan imut dari Riz. Sungguh diluar akal sehatnya. Yang pasti, Joel tidak begitu menyukai pujian dari Riz itu.
“Kau barusan mengatakan apa? Jangan menghinaku ya!”
“Mereka? Maksudmu bocah kecil dan teman-temannya? Mereka sedang pergi berbelanja ke kota dan belum kemba–”
“Ini mengenai ketiga orang itu!” seru Riz
“……!!” Joel terkejut
Dia akhirnya mempersilahkan Riz untuk duduk. Setelah memberinya minum, Joel bertanya semua hal yang terjadi.
“Apa yang membawamu ke sini, Riz? Ketiga orang yang kau maksud itu tadi…apakah berhubungan dengan kekacauan ini?” tanya Joel dengan wajah serius
“Aku baru saja kembali dari pasar gelap dan–”
“Pasar gelap?! Artinya kau ikut dengan Arkan untuk menukar mayat Justin?!” Joel berdiri dengan wajah terkejut
“Benar. Tadinya aku datang karena ingin memberitau anak-anak itu mengenai dua teman mereka dan–”
“Dimana kedua anak itu sekarang? Apa Arkan juga kembali bersamamu?”
Joel terus memotong kalimat Riz. Karena Riz mencoba menyelesaikan ini dengan cepat dan pulang untuk menangisi kematian ladang uangnya, dia mengatakan pada Joel untuk mendengarkan semua penjelasannya sampai selesai.
“Maafkan aku. Aku hanya…ikut senang dengan semua itu” Joel duduk dan mencoba untuk tenang kali ini
“Aku tau, tapi aku datang ke sini membawa dua berita. Mana yang mau didengar terlebih dahulu?”
“Berita baik!”
“Berita baiknya kedua anak-anak itu selamat. Gadis kecil yang menjadi korban mengalami luka meskipun aku tidak tau apakah dia mengalami patah tulang atau tidak” jelas Riz
“Beritau aku detailnya” kata Joel dengan ekspresi serius
Riz menceritakan semuanya tentang hasil pertukaran, termasuk ketika dirinya bertemu dengan Will dan bagaimana transaksi itu berjalan.
Wajah Joel yang mendengarkan semua penjelasan itu berubah-ubah dari mulai serius, panik sampai akhirnya tersenyum.
Namun setelahnya, ekspresi Joel berubah kembali menjadi panik dan cemas.
“Sebentar! Jadi maksudmu mayat Justin itu hanya bisa ditukar dengan Stelani dan Fabil?! Tapi kudengar dari bocah…maksudku Theo, ada anak remaja bernama Kino juga yang dibawa ketika melindungi kedua anak itu?! Bagaimana dengan nasibnya sekarang?!” Joel menjadi panik dan memperlihatkan ekspresi tegang
“Itu ada dalam berita baik dan buruk yang mau kusampaikan…”
“……” Joel masih belum merubah ekspresi tegangnya
“Jack-sama menyukai remaja bernama Kino itu. Ada alasan khusus kenapa dia begitu tertarik padanya. Namun yang pasti, itu sempat membuatku putus asa karena tawaran Jack-sama yang di luar akal sehatku”
“Tawaran?! Artinya dia benar-benar tidak mau melepaskannya?!”
“Benar. Selain itu, ketika aku melihat kondisinya…dia sudah terluka dan kehilangan banyak darah” lanjut Riz
Joel mencoba menenangkan dirinya. Dia tidak melupakan apa yang sering dia dengar dari Theo dan anak-anak lain.
‘Remaja bernama Kino itu terluka parah?! Jika sampai anak-anak itu mengetahuinya, mereka benar-benar akan kehilangan senyuman mereka!’ pikirnya dalam hati dengan menunjukkan wajah cemas
“Mengenai tawaran dari pengelola pasar gelap, apa yang dia ajukan agar remaja itu bisa bebas?” Joel kembali ke topik
“Remaja itu masih bisa dilepas dengan uang dan jumlahnya 100.000 Franc untuk pembukaannya”
“Se–se–seratus ribu?!!” Joel berdiri karena kaget
“Itu harga awal yang berlaku sebelum persiapan pembukaan. Niat awalnya aku ingin kembali ke rumah dan bermaksud memakai uangku dulu untuk membelinya. Tapi, sebelum itu terjadi justru ada kejadian yang tidak terduga”
“Apa itu?!”
Joel duduk kembali lalu minum untuk menenangkan tangannya yang gemetar karena syok mendengar penjelasan Riz.
“Adanya pembunuhan yang dilakukan Ryou dan Kaito. Mereka adalah adik dan teman dari remaja bernama Kino serta dua orang yang membunuh penjaga gerbang pasar gelap”
“Hah?!”
“Paman Will dibunuh oleh mereka berdua. Dan mayat paman Will kujual dengan harga yang setara dengan harga pembukaan remaja itu”
Joel terperanga dan tidak bisa mengatakan apapun. Riz menceritakan semuanya secara detail. Tentu saja bagian bagaimana Will mati tidak diceritakan karena dia juga tidak mengetahuinya.
Meski begitu, tidak ada satupun bagian yang terlewatkan mengenai penemuan mayat Will di jalan utama pasar gelap sampai semua ketertarikan Jack pada Ryou yang merupakan adik dari Kino.
Riz juga menceritakan bagaimana pertukaran mayat Will dengan kebebasan Kino berhasil.
“Setelah berhasil dan kesepakatan tercipta, kami semua langsung membawa keluar tubuh Kino yang awalnya berada dalam gerobakku melewati gerbang. Aku mengusulkan mereka untuk pergi ke rumah sakit di pusat kota agar remaja itu mendapatkan pertolongan pertama. Tentu saja kedua anak itu juga ikut bersama mereka” Riz akhirnya selesai dengan semua penjelasan panjangnya
“Jadi, Arkan bersama mereka di rumah sakit di pusat kota itu?”
“Benar. Aku kembali ke bar ini karena ingin memberitau anak-anak itu mengenai teman mereka yang selamat. Kurasa setelah ini kau bisa mengajak mereka bertemu dengan kedua anak itu ke rumah sakit di pusat kota, Paman Joel”
Joel terdiam dan menghela napas lega.
‘Syukurlah…anak-anak itu tidak kehilangan senyumannya’
******