Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 261. Satu Hari Sebelum Ujian bag. 9



Ryou berlari dengan semua apinya.


“Jangan berpikir untuk kabur!” teriaknya


Ini bukan lagi latihan, tapi sudah berubah menjadi pertarungan serius.


“Kau kira kau bisa mengalahkanku dengan sihir yang membabi-buta seperti itu, Ryou?!”


[Earth Art: Bottomless Shifting Sand]


Tanah yang berada di sekitar Ryou bergerak dan berubah menjadi butiran pasir.


“Kh! Apa yang terjadi?”


Ryou melihat ke bawah. Tanah yang dipijaknya semakin berubah menjadi pasir dan bukan hanya itu. Bagaikan hidup, mereka mulai menenggelamkan tubuh Ryou perlahan.


“Aku rasa itu akan menahanmu sebentar, anak muda”


[Earth Art: The Ruler of Pebbles]


Dari tanah yang ada di sekitar Xenon, tiba-tiba semua itu naik dan melayang membentuk kepadatan kecil berbentuk kerikil. Xenon menyerang Ryou dengan kerikil tersebut, tapi bukan sembarang kerikil pada umumnya.


Tingkat kecepatan yang tinggi membuat Ryou harus merasakan rasanya dihujani puluhan sampai ratusan kerikil kecil dengan rasa sakit seperti tertembak peluru.


“Akh!” teriaknya


“Ryou!!” Kino dan Kaito berteriak mendengar suara Ryou yang kesakitan


Kerikil yang menghujani tubuh Ryou memberikan luka yang cukup berdampak pada tubuhnya, yang di saat bersamaan semakin tenggelam dalam pasir.


“Ada apa? Kemana emosi yang kau keluarkan barusan? Bukankah kau ingin membuatku menyesal karena melukai kakakmu?! Kau yakin mau tenggelam di pasir seperti itu, hah?!”


“Jangan bermimpi mau membuatku minta maaf pada Kino kalau hanya segitu saja kemampuanmu, dasar bocah bermulut besar!”


Semua teriakan itu membuat Ryou semakin panas.


“Penguji gadungan…”


-BLAAAAST


Dari tubuh Ryou keluar api sihir yang tidak membakarnya sama sekali namun membuat kerikil yang menghujaninya terbakar.


Pasir yang menelannya sampai setinggi pahanya itu mulai berhenti. Tampaknya Ryou mulai mengeluarkan sihir lain.


[Fire Art: Prominence Flame]


Dari dalam pasir yang menelan tubuh Ryou keluar sebuah semburan api yang besar dan menghancurkan tanah tersebut. Tubuh Ryou berhasil keluar dari sana dan sihir Xenon berhasil dihentikan.


“Kau benar-benar menyebalkan. Tapi, aku senang latihan ini berubah menjadi sebuah pertempuran. Asal kau tau saja, bukan hanya kau yang sudah melalui banyak hal!”


Ryou berteriak dan berlari menyerang Xenon tanpa memedulikan luka yang dideritanya akibat hujanan peluru kerikil tadi.


“Akan kubuat kau menyesal karena sudah mencoba memancing emosiku! [Fire Art: Flame Sword]”


Pedang bambu milik Ryou berubah menjadi sebuah pedang dengan api besar yang menyala.


Begitu serangan ditujukan untuk melawan Xenon, satu tebasan dari Ryou langsung berubah menjadi tebasan dengan api yang menyembur.


“Aku tidak tau kalau dia seseorang yang berpotensi menggunakan jenis [Spiritual Art Element] juga. Kalau begini, ini seperti aku sedang membangunkan singa tidur” gumam Xenon


“Berhenti mengatakan omong kosong dan jangan kabur dariku!!”


Tebasan demi tebasan yang mengeluarkan api terus dikeluarkan Ryou. Xenon menghindar dan mengeluarkan sihir sebelumnya.


[Earth Art: The Ruler of Pebbles]


Lagi-lagi kerikil yang menghujani Ryou. Akan tetapi kali ini tidak berguna. Ryou melayangkan tebasan untuk menghalau hujan kerikil bak peluru itu dengan api dari pedangnya.


“Jangan kau kira serangan yang sama berpengaruh melawanku!!”


Di sisi lain, Kaito yang masih sibuk dengan tebasan pisau angin cukup syok dengan perubahan Ryou.


‘Apa yang terjadi? Ryou berhasil menguasai sihirnya sampai sejauh itu?’


Kino masih menahan rasa sakit dan mencoba untuk berdiri. Tapi setiap dia bergerak, darah dari pahanya mengalir keluar. Kalau jumlahnya sedikit mungkin tidak masalah, tapi sayangnya yang keluar ini jumlahnya lumayan banyak.


“Kh…”


“Kino!” Kaito yang berada di dekat Kino panik mendengar suara itu


Kino menahan rasa sakitnya. Dia masih belum menyerah. Kain yang mengikat lukanya mulai berwarna merah dan basah karena darah.


“Aku…tidak apa-apa, Kaito-san”


“Maafkan aku, aku belum bisa melakukan sesuatu dengan pisau angin itu! Jika aku membantumu sekarang, kita mungkin akan terkena serangan fatal”


“Tidak apa-apa, aku…mengerti. Akh!”


“Kino!”


Semakin serius, Kaito tidak memiliki pilihan lain selain berpikir untuk menghentikan sumber serangan itu.


‘Panas dari api Ryou sudah menyebar sampai ke sini. Air sungai itu juga masih mengeluarkan uap dan angin yang tidak terkendali itu semakin memperburuk keadaan’


Pikiran berat Kaito semakin menjadi-jadi, hingga kepanikkan itu berubah menjadi rasa jengkel pada dirinya sendiri.


“Sudah cukup dengan main-mainnya. Jika ‘orang itu’ mengetahui aku menjadi lemah seperti ini, dia pasti akan mentertawakanku sambil berguling-guling karena senang” ucapnya dengan wajah kesal


Kaito mulai memusatkan pikirannya.


‘Aku harus melenyapkan sumber masalahnya yaitu angin itu. [Wind Art: Storm Blade], itulah nama sihir itu. Akulah yang membuatnya dan akulah yang harus mengendalikannya’


“Aku tidak mau mati oleh senjataku sendiri!” Kaito berteriak dan mengeluarkan sihir yang tidak lain dan tidak bukan adalah sihir yang sama.


[Wind Art: Storm Blade]


Pusaran angin lain tercipta dengan ukuran sama besarnya. Akan tetapi, ada sedikit kemajuan di sini.


Berbeda dengan angin yang secara acak mengeluarkan tebasan pedang angin yang acak ke seluruh tempat, pedang angin yang tercipta kali ini fokus menghalangi tebasan lain yang datang.


Sudah begitu, pusaran angin baru yang tercipta oleh sihir kedua Kaito bisa bergerak dan menghantam pusaran pertama yang menyebabkan adanya daya magnet sihir akibat gesekan.


Kaito tidak mau membuang waktunya dan mengeluarkan sihir yang ada di pikirannya.


[Wind Art: Black Feather Blade]


Pedang Kaito dikelilingi oleh angin aneh yang tiba-tiba tercipta karena sihirnya dan tiba-tiba muncul banyak sekali bulu berwarna hitam.


Saat tebasan dari Kaito dilakukan, bulu-bulu burung berwarna hitam yang berjumlah sangat banyak itu mulai mengarah ke tempat dua pusaran angin buatnya sendiri.


Bagaikan pisau tajam, semua bulu burung hitam itu tampaknya menghentikan secara paksa pusaran anginnya sehingga kedua sumber masalah itu lenyap.


Xenon yang melihatnya tidak bisa berhenti terkejut.


“Dia berhasil juga rupanya. Aku rasa tugasku hampir selesai”


“Kaito…-san?” Kino seperti bermimpi melihat hal itu


Kaito memilih untuk menghampiri Kino dan menggendongnya ke tempat yang lebih aman.


“Kaito-san, kenapa tidak pergi untuk membantu Ryou?”


“Dia bisa mengatasi Xenon sendirian. Lukamu itu harus dicuci dan diobati. Setelah itu, kita akan pikirkan cara terbaik melawannya”


“Tapi itu tidak akan berpengaruh apapun”


“Xenon serius menjadikan latihan ini sebagai pembantaian sepihak, Kino”


“Eh? Xenon-san benar-benar–”


“Dia benar-benar memaksa kita untuk sampai di titik paling bawah dalam mempertahankan hidup. Dengan kata lain, ini akan menjadi pertarungan sungguhan”


Kaito membawa Kino ke belakang pohon yang dekat dengan tepi sungai. Ada bebatuan di sekitar tempat itu dan mereka cukup terlindungi.


Dengan melihat jam saku miliknya, Kaito melihat sesuatu yang aneh.


“Jamnya…tidak bergerak?”


“Apa?”


Kino melihat jam saku miliknya juga dan kelihatannya sihir berpengaruh juga terhadap jam saku tersebut.


“Pukul 08.12, waktunya berhenti di pukul delapan lewat. Kaito-san, mungkinkah ini pengaruh sihir yang tadi dijelaskan Xenon-san di awal?”


“Tampaknya begitu. Sihir yang disebut [Time Seal] itu menyegel pergerakan waktu di dalam tempat ini, termasuk jam saku kita”


Kaito memasukkan jam sakunya ke saku celananya. Dia melepas jubah kesayangannya dan merobeknya sedikit.


“Kaito-san, kenapa kamu merobeknya!!” Kino terlihat panik melihat Kaito merusak jubah kesayangannya


“Jangan pikirkan itu. Jubah ini memiliki magis yang ditanamkan oleh ‘orang itu’. Begitu kita keluar dari sini, dia akan kembali seperti semula. Lukamu itu harus ditutup agar kau bisa bergerak kembali”


Kino tetap saja syok.


Selesai mengikat luka Kino, Kaito memberikan jubahnya kepada Kino.


“Kino, aku akan pergi untuk menyelamatkan…bukan, untuk melawan Xenon. Aku rasa akan menjadi sebuah kesalahan besar mencoba menyelamatkan Ryou. Dia sudah menjadi gila karena emosi dan tampaknya hal itu cukup berpengaruh pada tingkat pengendalian sihirnya”


“Kaito-san…”


“Tunggu di sini. Aku akan segera mengakhirinya”


Kaito berlari meninggalkan Kino sendiri.


Sekarang, Ryou dan Xenon sudah mencapai puncak pertarungan.


“Masih memiliki kekuatan untuk melawan? Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku belum mengeluarkan sihir terbaik yang kumiliki untuk melawanmu. Mengingat kau mungkin akan mati jika aku melakukannya”


Ucapan Xenon itu membuat Ryou semakin kesal.


“Kalau kau masih mencoba merendahkanku, sebaiknya berkaca sebelum bicara!”


Ryou mengarahkan tebasan api lainnya ke arah Xenon dan bunyi ledakan tercipta. Ketika Kaito datang, tampaknya mereka harus siap menerima sambutan hangat lainnya.


******