
Kino dan Ryou yang masih berdiam di anak tangga itu hanya melihat sosok anak itu semakin menghilang.
“Apa aku sudah mengatakan hal yang salah? Kenapa dia lari seperti itu? Dasar bocah tidak tau terima kasih!” Ryou marah-marah dengan wajah cemberut
“Mungkin dia terkejut karena ditanya seperti itu olehmu, Ryou. Tapi, apa kamu yakin dia anak yang tadi pagi tidak sengaja menabrak kita berdua di altar?”
“Mana mungkin aku lupa! Dia dan teman-temannya itu berdiri di depan altar tadi pagi”
Ryou terdiam. Matanya langsung berubah tajam sesaat. Sorot matanya itu bukan tanpa makna. Itu karena dia memikirkan sesuatu yang cukup mengganggu pikirannya. Namun saat mendengar sang kakak memanggilnya, dia langsung bersikap seolah semua tidak apa-apa. Dia juga menunjukkan jam yang baru dibelinya. Sebuah jam saku lain berwarna silver vintage. Memang berbeda dengan jam saku milik mereka yang tentu saja memiliki kekuatan aneh, tapi pada dasarnya Ryou membeli ini untuk mengetahui waktu.
“Aku membeli jam ini untuk menjadi acuan bagi kita. Setidaknya, kita bisa mengetahui sisa waktu yang kita miliki sampai perulangan tiba”
“Begitu. Kalau begitu jam itu biar kamu saja yang menyimpannya, Ryou. Kurasa sekarang kita bisa fokus mencari jam saku kita kembali. Dan…” Kino melihat kantong berisi roti-roti yang dibawanya dan berkata “…temani aku untuk membeli roti-roti ini lagi. Aku memberikan tiga potong pada anak tadi” . Ryou hanya bisa tersenyum tipis dan mereka pergi dari tempat itu.
Sedikitpun Ryou tidak merasa baik-baik saja sejak bertemu anak itu.
‘Kenapa dia langsung lari saat aku bertanya padanya?. Bukankah itu aneh?’
******
Kaito mulai masuk ke dalam bangunan altar. Dia mulai melihat setiap sudut dan sisi dari tempat itu. Berbeda dengan tadi pagi, tempat itu tidak begitu ramai pada siang hari. Hanya orang-orang yang ingin berwisata dan menikmati arsitektur tempat itu saja yang datang. Kaito bergumam dalam hatinya saat melihat tempat itu.
‘Tidak ada yang aneh. Ini seperti saat pertama aku datang ke sini’
Tujuan Kaito datang ke sana adalah untuk mencari tau tentang jalan asing itu dan hubungannya dengan anak-anak yang dia temui.
“Berdasarkan keterangan wanita tadi, anak-anak itu selalu ada di depan pintu masuk setiap pagi. Anak yang menabrakku juga ada diantara mereka. Kurasa tidak ada salahnya untuk bertanya pada petugas mengenai hal ini”
Ketika tidak sengaja berpapasan dengan petugas penjaga, Kaito mengetahui bahwa mereka baru seminggu ada di sana. Dia juga mendengar bahwa beberapa anak bisa meminta sumbangan dengan masuk ke dalam altar. Tetapi, dia juga mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan. Rumor tentang banyaknya kasus kehilangan barang di altar sejak seminggu terakhir.
“Kasus kehilangan?” Kaito bertanya pada petugas
“Benar sekali. Rata-rata benda yang hilang adalah benda berharga. Banyak sekali yang mengajukan protes dan tuduhan yang tidak-tidak pada kami tentang hal itu”
“Begitu”
Kaito jadi menyadari sesuatu. Dia mulai memikirkan sesuatu yang bahkan dia sendiri juga tidak memikirkannya.
‘Kasus kehilangan? Aku tidak tau apakah ini ada hubungannya atau tidak, tapi pagi ini bukankah Kino dan Ryou berada di sini? Apakah mungkin jika jam saku mereka juga salah satu benda yang hilang di tempat ini?’
Kaito bertanya dengan nada serius pada petugas penjaga.
“Maaf, apakah ada satu atau dua remaja yang datang kemari dan mencari barang mereka yang hilang?. Misalnya saja, jam saku atau semacamnya?”
Kaito sebenarnya bertaruh dengan pikirannya itu. Hanya saja jika dia benar, seharusnya jawabannya sesuai dengan apa yang dia pikirkan.
“Ah, ada. Dua orang remaja laki-laki yang datang siang ini. Mereka sepertinya memang mencari jam saku yang sama. Tapi, kami masih belum mendapatkan laporan tentang benda tersebut juga benda-benda yang lain”
“Begitu. Terima kasih banyak atas bantuannya”
Tanpa bertanya lagi, Kaito langsung berbalik dan pergi dari tempat itu. Kesimpulan yang diambil Kaito dari penjelasan penjaga itu adalah ada kemungkinan jam saku itu hilang saat di altar. Dan mengenai hubungan sekumpulan anak-anak itu dengan jalan itu masih harus digali lebih dalam, tapi itu bisa menunggu.
“Sekarang aku sudah memiliki gambaran tentang jam saku milik mereka. Kurasa aku harus mencari kedua kakak beradik itu untuk memastikan sesuatu”
Kaito berlari menuruni anak tangga menuju ke jalanan di kota.
******
Di belakang bar di kawasan sepi dan lembab itu, anak buah Justin membawa sebuah kantong besar berisi sampah-sampah botol dan lainnya. Dia membawanya ke tempat pembuangan sampah yang berada di belakang. Tidak banyak kantong sampah di sana, jadi dia langsung meletakan kantong itu di sisi belakang bar dan meninggalkannya. Setelah itu, entah kenapa dari dalam kantong terlihat sebuah cahaya kecil. Satu-satunya cahaya yang terlihat di tempat gelap itu seakan memanggil sesuatu.
**
Sementara itu, Justin masih menunggu kabar tentang orang asing yang datang ke tempat itu.
“Apa masih belum ada kabar mengenai pria pengguna pedang tanpa sarung itu?” Justin dengan wajah sangarnya bertanya pada salah seorang anak buahnya yang ada di dekatnya
“Sepertinya masih belum, Justin-sama. Kedua orang yang mencari juga belum kembali”
“Dasar orang-orang tidak berguna!!. Aku tidak akan segan-segan membunuh mereka jika mereka masih tidak menemukan pria itu. Tidak seperti orang-orang yang sok beradap di kota, kita semua adalah kebebasan. Dan kebebasan itu adalah aku. Hanya aku yang bisa melakukan apapun yang ku suka di tempat ini dan tidak akan kubiarkan satupun tikus asing memasukki tempat ini”
******
Theo hanya berjalan tanpa tujuan sekarang sambil memegang roti yang tidak dimakannya sejak lari dari kedua remaja itu.
“Aku bahkan belum mengucapkan terima kasih untuk roti yang satu ini” Theo terlihat sangat murung
Dia mulai memakannya sedikit demi sedikit. Sekarang, dia bahkan sedikit melupakan bahwa dia harus mencari uang untuk makan mereka nanti malam. Tidak seperti dirinya yang sudah mendapatkan tiga potong roti lezat secara gratis, Stelani dan yang lainnya masih menahan lapar di tempat mereka. Theo segera menghabiskan roti di tangannya dan mulai berjalan untuk mencari cara agar bisa mendapatkan uang.
Siang itu, dia mencoba segala cara mulai dari menawarkan jasa membawakan barang, meminta-minta, menjadi tukang cuci sepatu dan hal lain yang biasa dilakukan oleh Stelani dan teman-temannya saat di kota.
‘Ini tidak akan secepat mencuri uang dan permata di altar, tapi setidaknya aku bisa mendapatkan uang dari sini’
******
Kaito berlari untuk menemukan kedua kakak beradik itu. Merepotkan memang, mencari dua orang yang terpencar dengan dirinya. Terlebih lagi masih ada waktu sekitar kurang lebih lima jam sampai matahari terbenam. Semua yang mereka lakukan hanyalah berputar-putar dan mencari sesuatu yang bahkan tidak memiliki petunjuk sama sekali.
“Kemana mereka berdua pergi? Kalau tau begini, mungkin aku tidak akan menyarankan untuk berpencar mencari jam saku itu. Keadaan ini diluar dugaanku. Aku harus coba menemukan mereka berdua”
Tentu saja Kaito mencari mereka hampir di seluruh jalanan yang dikenalnya. Kedai makan [Ciel’s Café] juga menjadi salah satu tempat yang didatanginya. Dan tentu saja dia tidak menemukannya. Kaito sempat mencari ke pusat kota dan melihat-lihat semua tempat yang ada di sana dengan hasil yang sama. Sudah berapa lama dia mencari, dia juga masih belum mengetahuinya. Yang jelas, semakin dia berlari semakin siang dan waktu terasa semakin sempit.
Begitu pula dengan kakak beradik itu. Setelah mereka keluar dari toko roti untuk membeli roti lain, mereka langsung bertanya pada orang sekitar mengenai jam saku mereka. Tentu saja hal itu sangat tidak berguna mengingat hampir mustahil ada orang yang pernah melihat benda itu. Namun, mereka mencoba yang terbaik untuk melakukannya jadi tidak begitu banyak pilihan yang bisa mereka lakukan.
Tanpa disadari semua hal yang terjadi pada orang-orang di kota berlalu. Pada akhirnya, hari berubah menjadi sore begitu saja. Kino dan Ryou berjalan dengan wajah yang tidak begitu baik.
“Pada akhirnya tidak ada yang bisa kita lakukan” Kino berkata dengan wajah kecewa
“Aku sudah menduga bahwa menemukan benda itu dalam waktu 12 jam itu sulit”
Ryou melihat jam saku baru miliknya yang dia simpan di saku celananya. Jam itu menunjukkan pukul setengah lima sore waktu setempat. Setidaknya kondisi tempat itu dengan waktu yang ditunjukkan jam itu sama.
Kino menjadi tidak yakin apa yang akan terjadi pada mereka saat perulangan tiba nanti.
“Menurutmu apakah kita akan kembali menjadi pagi seperti hari ini saat matahari terbenam nanti, Ryou?”
“Aku tidak tau. Kalau mengingat kejadian ini…sepertinya kita akan kembali ke pagi hari lagi. Ugh, merepotkan!” Ryou mulai terlihat kesal
“Kita juga tidak melihat Kaito-san di sepanjang jalan yang kita lalui hari ini. Sepertinya Kaito-san juga sudah mencari hampir di seluruh wilayah di kota ini”
“Mustahil! Kota ini luas. Seandainya dia bisa mencarinya sekalipun, itu akan memakan waktu sangat lama. 12 jam itu tidak akan cukup. Yah, tapi kalau kemungkinan dia mencari di tempat penting aku masih bisa percaya” Ryou bicara sesuai dengan pikiran realistisnya
Tidak lama kemudian, di depan mereka Kaito berdiri dan memanggil mereka.
“Akhirnya ketemu”
Kedua kakak beradik itu kaget melihat Kaito berdiri di hadapannya dan segera menghampirinya.
“Kaito-san”
“Oi, dari mana saja kau?”
Kaito hanya menghela napas dan meminta mereka ikut dengannya ke tempat yang cukup tenang untuk bicara. Kaito membawa mereka ke kawasan perumahan lagi dan berhenti di sebuah taman di tempat tersebut. Mereka duduk di kursi taman dan Kino memberikan roti yang ada di kantong belanjanya.
“Kaito-san, makanlah. Kami membeli ini untukmu”
“Terima kasih” Kaito menerimanya lalu memakannya
Sambil memegang roti di tangannya, Kaito mulai membuka pembicaraan dengan bertanya pada mereka berdua.
“Bagaimana perkembangannya? Menemukan sesuatu tentang jam kalian?”
“……” keduanya terdiam dan tidak mengatakan apapun
“Maafkan aku, sebenarnya aku juga tidak jauh berbeda dengan kalian”
“Itu bukan salah Kaito-san. Akulah yang–”
Sebelum Kino melanjutkan kalimatnya, Ryou melihat ke arahnya dan berpura-pura batuk.
“Eheeem!” Ryou sengaja mengeraskan suaranya
Tentu saja hal itu membuat Kino terkejut dan langsung menutup mulutnya. Ryou kembali diam dan mengambil roti di kantong yang Kino pegang. Kaito melanjutkan kembali pembicaraannya.
“Beberapa saat yang lalu, pikiranku bercabang akan suatu hal. Hari ini aku menemukan banyak hal yang tidak biasa”
“Apa maksudnya itu?” Ryou bertanya pada Kaito dengan roti di mulutnya
“Hal yang menurutku merupakan kemungkinan dari ‘dunia siang’ ini. Terlalu banyak hal baru dan aku masih belum sepenuhnya memahami itu”
“Aku tidak paham maksud ucapanmu itu, Kaito” Ryou sekarang terlihat semakin bingung dengan pembicaraan Kaito yang berputar-putar
“Tempat ini…’dunia siang’ ini bukan lagi ‘dunia’ yang aku tau. Aku hanya ingin mengatakan kalian harus siap dengan semua kemungkinan terburuk dari tempat ini sekarang. Termasuk soal hilangnya jam saku kalian”
******