Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 71. Awal Pertarungan di Tempat Asing bag. 5



Arkan mulai meragukan status Kaito dan memandangnya dengan tatapan curiga.


“Kau…benar-benar bukan kriminal, kan?. Kau yakin kau benar-benar bukan kriminal, Kaito?"


“……” Kaito terdiam


Bukan tanpa alasan dia terdiam. Kaito terdiam sambil bergumam banyak hal.


‘Apa aku benar-benar terlihat seperti kriminal? Mungkinkah justru aku yang sudah kehilangan nilai kemanusiaanku dan bukan Ryou? Aku tidak merasa bersalah sedikitpun saat mencoba membunuhnya tadi. Rasanya…aku mulai mengerti apa yang dikatakan oleh Ryou sebelumnya’


Kaito mengingat kalimat Ryou yang pernah dikatakannya.


[Aku sedang bicara bagaimana caranya menyelamatkan kita dari iblis berkedok manusia, ingat itu!! Omong kosong dengan kemanusiaan. Sejak kapan ‘dunia’ aneh ini memiliki aturan dan hukum?!]


[Aku ingin membunuh gorilla berwujud manusia bernama Justin demi keselamatan kita dan bocah menyebalkan yang berdiri di sana!!]


“Iblis berkedok manusia ya…” gumam Kaito dengan suara pelan sambil menengok ke arah Justin yang tidak lagi bergerak


“Kau mendengarku tidak? Kaito?” Arkan mencoba memanggil Kaito


“Aku dengar. Tadi kau bertanya apa, tuan bartender?”


“Aku tanya kau ini benar-benar bukan kriminal, kan?”


“Aku ini sangat rapuh dan murah hati, jadi mana mungkin orang seperti ini adalah kriminal” kata Kaito


“Oh…begitu” jawaban singkat Arkan dengan wajah aneh yang seakan mengatakan hal sebaliknya dalam hati


‘Kau kira aku akan percaya padamu!’


Sambil menyimpan kembali pistolnya ke dalam saku jubahnya, Kaito berbalik dan berjalan ke arah Justin kembali.


Dia memegang kaki kanannya dan mulai mencoba menariknya.


“Akh!! Apa yang kau pikirkan itu?!” Arkan langsung berteriak sambil menunjuk wajah Kaito


“Tentu saja membawanya ke dalam bar lagi untuk disimpan” Kaito menjawabnya dengan sangat santai tanpa beban apapun


“Dasar gila!! Kau tidak lihat darahnya itu sudah seperti kubangan, hah!. Noda darahnya saja sudah bisa mengotori sepatumu! Kalau dibawa ke bar, aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa bentuk lantainya nanti!!”


“Memangnya jika kotor terkena noda darah, lantainya akan berubah selembut kasur yang ada di penginapan?”


“Um…tidak…tidak akan seperti itu juga…” Arkan mulai bingung dengan jawabannya


“Kalau begitu lantainya akan tetap keras, kan? Dimana masalahnya? Hanya kotor sedikit. Kau bisa menutupinya dengan mengepelnya seharian dan menutupinya dengan karpet besar seperti yang ada di dalam bar. Jangan mempersulit dirimu sendiri”


Mudah sekali Kaito mengatakan hal tersebut. Ini seperti ajaran Ryou benar-benar telah diserap dengan baik oleh otaknya.


Arkan benar-benar sudah kehilangan wibawanya sebagai bartender yang tenang dan profesional. Lebih menakjubkannya lagi, dia kehilangan ketenangan dan wibawanya itu karena pemuda yang baru ditemui olehnya setengah jam yang lalu.


“Tuan bartender, aku tidak mau mendengar mulut cerewetmu itu. Kau bantu aku menarik tubuh gorilla ini sekarang atau akan aku ikat kau di tiang depan bar itu. Pilih salah satu”


“Kau berani mengancamku sekarang?” tanya Arkan sambil cemberut


“Dan kau berani menolakku sekarang?” Kaito juga membalasnya dengan bertanya padanya


“Ukh….”


Poin 1-0 untuk Kaito. Kemenangan mutlak, protes ditolak.


Arkan tidak bisa menolaknya karena sudah jelas perbedaan kemampuan bertarung mereka bagaikan langit dan jurang yang dalam.


Dengan helaan napas panjang dia mulai berjalan ke arah Kaito dan sebelum membantunya, Arkan mengajukan sedikit permintaan.


“Cukup, aku akan membantumu tapi aku tidak mau menarik kaki kirinya yang penuh dengan darah dimana-mana. Kau pegang yang ini dan aku yang kanan!!”


“Baiklah” Kaito mengangguk tanda dia setuju


Arkan menggulung lengan pakaiannya agar tidak kotor.


Sebelum Kaito menjatuhkan kaki kanan Justin, Arkan sudah lebih dulu memegangnya. Dia berusaha sebaik mungkin agar darah di sekitarnya tidak mengotori seragam kerjanya yang mahal.


Berbeda dengan Kaito yang sudah tidak peduli dengan noda darah apapun di pakaiannya termasuk pada jubahnya, Arkan sangat jijik melihat banyak sekali darah yang mengalir dari kedua bekas lengan Justin.


Yang lebih sadisnya lagi, dia menendang lengan pria besar berotot itu karena menghalangi jalannya.


Dengan tenaga yang dimiliki, kedua orang tersebut menariknya perlahan-lahan. Karena dilakukan oleh dua orang jadi menarik tubuh Justin tidak membutuhkan banyak tenaga sampai ke dalam bar.


Selama mereka menyeretnya, jejak kaki yang terbuat dari darah yang mereka injak terbentuk bersamaan dengan noda darah tebal dan panjang tanpa putus dari lengannya yang sudah terpotong.


Setelah masuk ke dalam bar dan membawanya ke dalam ruangannya, Kaito hanya meletakkannya di lantai. Arkan yang sudah tidak mau lagi melakukan apapun untuk membantu Kaito akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut.


Di sinilah Arkan mulai menarik napasnya dalam-dalam dan mencoba merapikan meja yang terjatuh akibat menghindari tembakan dari Justin sebelumnya.


******


Di waktu saat ini…


Setelah selesai meratapi nasibnya yang sangat tidak beruntung, Arkan kembali bertanya kepada Kaito yang berjalan menuju keluar.


“Kaito, kau yakin dengan rencanamu menjual Justin? Maksudku…itu…”


“Aku sedang tidak ingin berkompromi, tuan bartender. Teman baik-ku dan aku sempat bertengkar karena aku terlalu cemas pada nilai dan rasa kemanusiaannya. Hal itu terjadi karena dia bisa dengan mudah mengatakan ‘aku akan membunuh iblis berkedok manusia’ tanpa beban sama sekali”


“……” Arkan terdiam mendengarnya baik-baik dengan wajah serius


“Tapi sekarang aku mengerti perasaannya. Justin sejak awal memang bukan manusia melainkan iblis. Sebelumnya aku dan teman baikku sudah sepakat akan hal itu”


“……”


“Jika saat itu aku ragu, aku mungkin akan mengalami luka serius. Jika kebencian yang tiba-tiba menyelimutiku tanpa alasan berhasil mengendalikanku, mungkin aku sudah menjadi pembunuh dan membunuhnya”


“……”


Kaito berbalik menatap wajah Arkan


Mata Kaito mulai sinis dan auranya benar-benar tidak seperti sedang dapat diajak bercanda. Nada dingin keluar dari mulutnya dengan sorot dan ekspresi dingin tanpa belas kasihan.


“Akan tetapi, ada sedikit pengecualian. Jika aku berhasil mengalahkannya dalam pertarungan dan membiarkan dia mati karena kehabisan darah, itu tidak akan terlihat seperti aku yang telah membunuhnya”


-Deg


Arkan yang melihat sorot mata dingin dan tanpa rasa kasihan itu tiba-tiba merasa seperti terkena serangan mental. Dia menjadi gemetar dan pucat.


“Jika Justin mati di ruangan itu karena kehabisan darah, itu artinya aku akan terbebas dari tuduhan sebagai pembunuh. Bukankah itu akan jauh lebih efisien?. Selain itu, di tempat asing ini hukum tidak berlaku sama sekali” kata Kaito melanjutkan perkataannya


“Kau…” Arkan seperti melihat sosok yang lebih mengerikan dibanding dengan Justin


“Hal yang lebih menguntungkan lagi, kalau aku…bukan, kalau kau menjualnya ke pasar gelap, kau akan mendapatkan cukup banyak uang untuk menutupi semua hutangnya dan sisanya bisa kau pakai untuk kebutuhanmu. Tidak buruk, kan? Kau bisa menghasilkan uang meski caranya sangat kejam”


“Menghasilkan uang dengan cara yang sangat kejam, katamu? Itu mirip dengan iblis, Kaito”


“Apa salahnya membunuh iblis? Dia pantas mati. Aku mengutuknya”


“Apa…kau sadar apa yang kau katakan dari mulutmu itu sekarang, Kaito?”


“Kurasa begitu”


Justin pantas mati. Itulah isi dari tatapan dingin miliknya. Emosi aneh itu kembali mengendalikannya.


Sorot mata biru terang milik Kaito mulai terlihat gelap kembali. Sama seperti sebelumnya, ini bukan seperti Kaito yang biasa. Yang berdiri di hadapan Arkan saat ini adalah orang yang tidak memiliki rasa kemanusiaan yang sesungguhnya.


‘Apa dia sadar dengan apa yang dia bicarakan?! Bukankah itu artinya kau sudah kehilangan rasa kemanusiaan dengan cara sadis seperti itu? Kalau begini, apa bedanya remaja di hadapanku ini dengan Justin? Apa bedanya remaja ini dengan Seren-sama?!” Arkan tidak bisa menyembunyikan ekspresi takutnya sekarang


Ketika Kaito hendak berbalik dan berjalan kembali, tiba-tiba ada seseorang yang berlari dan masuk ke dalam bar itu dengan napas terengah-engah. Wajahnya memerah dan air matanya tidak berhenti mengalir. Tidak butuh waktu lama bagi dirinya untuk masuk dan memegang pundak Kaito dengan erat.


“Kaito!! Kino…Kino…”


“……”


“Kino telah diculik dan terluka!! Dia dalam bahaya, Kaito!! Kino…kakakku dalam bahaya sekarang!!!”


Sorot mata Kaito mulai kembali seperti semula setelah mendengar kabar mengejutkan itu. Dia awalnya terlihat bingung dengan apa yang dia katakan beberapa waktu lalu.


Kaito tidak mengingatnya sama sekali.


Namun, wajah Ryou yang menangis tanpa henti sambil berteriak membangunkannya.


“Apa yang terjadi, Ryou?! Kenapa kau menangis seperti ini?! Apa maksudmu dengan–” Kaito menjadi panik dan memegang kedua tangan Ryou


“Kakakku diculik oleh wanita yang keluar dari bar ini beberapa waktu lalu dan anak-anak itu berkata bahwa dia terluka dan akan mati!!!”


“Apa?!!!” Kaito syok mendengarnya


“……!!!” Arkan juga tidak kalah syok dan pucat


‘Seren-sama…benar-benar sudah…’ gumam Arkan dalam hatinya


Keadaan yang tidak baik-baik saja untuk mereka bertiga saat ini.


******


Theo dan anak-anak itu masih berusaha berlari untuk mengejar Ryou yang bahkan sudah tidak terlihat lagi.


“Hiks…Theo-niichan…Kino-niichan….”


Michaela menangis sambil menggenggam pisau milik Kino. Dia bergandengan tangan dengan Theo yang tidak kalah panik dan masih mengeluarkan air matanya.


“Huwaa…Stelani-neechan….Fabil-niichan….”


“Hiks….semoga mereka baik-baik saja…hiks”


“Kenapa bisa terjadi hal seperti ini….Huwaaaa”


Anak-anak lain yang berlari di belakang Theo juga saling berpegangan satu sama lain sambil terus menangis.


Theo yang terlihat sedih dan kecewa terus mengatakan hal yang sama dalam hatinya.


‘Aku mengutuknya! Aku mengutuknya!! Aku berharap Justin mati!! Aku tidak akan pernah memaafkannya!! Aku mengutuknya!!’


Cahaya dari balik kerah baju Theo bersinar sejak dia berlari dari jalan tempat kejadian perkara tersebut tanpa disadarinya sama sekali. Cahaya dari bandul kalungnya yang berwarna ungu cantik yang terus bersinar semakin terang setiap kali dia berharap dan berdoa dalam hatinya saat berlari.


Sejak mendengar cerita dari Michaela dan anak-anak lain, hanya kalimat harapan yang sama yang diucapkannya baik dalam hatinya maupun melalui mulutnya.


Dia mengutuk Justin dan mengharapkan kematiannya.


******


Beberapa menit sebelum dia ditinggalkan sangat jauh oleh Ryou, mereka masih berada di lokasi tempat kejadian perkara.


Ryou yang berteriak nama Kino berkali-kali dengan nada putus asa mulai terlihat mengeluarkan air matanya.


“Kenapa kakakku bisa terluka dan hampir mati!! Katakan!!!”


Ryou yang sedang memegang pundak Michaela, mencengkeramnya semakin kuat hingga anak itu sempat merintih kesakitan.


“Sakit…hiks….lepaskan aku…”


“Jawab aku sekarang!! Kenapa kakakku bisa ada di tempat ini dan bagaimana kalian tau dia terluka?! Jangan menangis dan jawab aku!!”


Ryou benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya. Matanya begitu mengerikan dan tidak ada rasa kasihan terhadap anak gadis kecil itu. Ini seperti dia tidak akan melepaskan anak itu sampai dia menjawab pertanyaannya.


Theo berusaha untuk menenangkannya namun hal itu tidak berhasil. Ryou tidak bergerak sama sekali dari pundak Michaela dan Theo hanya bisa terlihat semakin sedih setiap kali dia menyadari betapa putus asanya kakak yang ada di hadapannya.


“Ryou…-nii” Theo melihat wajah Ryou yang menangis dan marah dengan ekspresi yang sangat menyakitkan


Salah satu anak kecil di sana memberanikan diri menjawab pertanyaan Ryou.


“K–Kami melihatnya sendiri…Hiks…”


“Apa!!!” Ryou mulai menatap anak kecil yang menjawabnya itu


Anak itu tampak ketakutan dan menangis, tapi dia memberanikan diri untuk menjawabnya dengan jelas.


“Kami…kami bertemu dengan Kino-niichan saat ada di altar pagi ini dan dia mengajak kami makan bersama. Kami mulai mengikuti Stelani-neechan dan Fabil-niichan karena awalnya kami mendengar mereka berbicara di rumah”


“Kalian…bertemu Kino di altar…” Ryou terlihat syok


Cengkeramannya pada Michaela akhirnya terlepas. Dia masih syok namun terus mendengarkan keterangan anak kecil itu.


“Mereka bilang ingin mencari Theo-nii di kota. Meskipun awalnya mereka berdua bilang ingin meminta bantuan Kino-niichan untuk melawan Justin-sama, hal itu tidak jadi…Hiks…”


“Itu…” Theo mencoba membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu dengan bibir yang bergetar karena syok


“……” Ryou masih terdiam dengan air mata yang tidak berhenti mengalir dan wajah pucat


“Ketika Stelani-neechan dan Fabil-niichan keluar, kami berlari mengejar mereka diam-diam. Michaela…hiks…Michaela berniat untuk mencari Kino-niichan di kota untuk meminta tolong agar mau membantu Stelani-neechan dan Fabil-niichan. Karena itu…karena itu kami mengikuti mereka diam-diam”


Anak kecil yang memberi keterangan itu kembali menangis sambil menghapus air matanya dengan pakaiannya sendiri.


Michaela yang masih tidak berhenti menangis akhirnya mau melanjutkan keterangan dari temannya itu kepada kakak di depannya.


“Saat kami…hendak berbelok…Stelani-neechan dan Fabil-niichan seperti berteriak nama Kino-niichan dan ternyata…ternyata mereka bertemu dengannya di jalan ini…”


“Apa?!” Theo terkejut


“Kino-niichan mengatakan bahwa dia mencari Theo-niichan. Kami tidak begitu mendengarnya karena dari jauh tapi mereka bertiga mengobrol lama sekali. Hiks…hiks…”


“……” Theo seperti terkena serangan jantung


Dadanya terasa sesak sekali dan wajah pucatnya semakin terlihat mengerikan dengan mata melebar dan telapak tangan yang mulai dingin.


“Kino-nii…mencariku…” gumam Theo dari mulutnya dengan pelan


“Setelah mengobrol entah berapa lama...hiks…tiba-tiba…ada suara teriakan dari Stelani-neechan dan Fabil-niichan!!”


“……!!!”


“Kami sangat takut jadi kami tidak keluar dari gang kecil itu. Kami semua bersembunyi dibalik kotak kayu yang menumpuk di sana sambil ketakutan. Lalu…ketika aku mencoba mengintip, Kino-niichan…hiks…Kino-niichan tertusuk di bagian perut dan mengeluarkan banyak darah!!. Huwaaaa....”


“Aa….Kino….Kino…”


Ryou semakin tidak bisa menahan air matanya dan memanggil nama sang kakak dengan mulut yang gemetar.


“Mereka juga mencekik leher Kino-niichan dan menendang Stelani-neechan. Fabil-niichan juga dipukul olehnya laki-laki menakutkan itu. Setelah itu…mereka membawa plastik besar…”


“Plas…tik…” kata Theo terbata-bata


“Stelani-neechan dan Fabil-niichan dimasukkan ke dalamnya dan…Kino-niichan…kami tidak begitu melihatnya tapi…dia seperti diseret oleh pria besar itu….hiks…hiks…”


“Aaa…..” sambil menutup mulutnya, Ryou sudah tidak bisa berkata apapun


“Kami juga dengar katanya mereka akan menjemput yang lain lagi dan akan menjual tubuhnya yang terpotong. Ada kata Justin-sama yang menjual kami di dalamnya dan….huwaaa”


Keterangan yang sangat jelas dari sekelompok anak kecil yang polos.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Ryou bangkit dan berlari meninggalkan anak-anak itu. Dia berlari menuju bar kembali. Tentu saja dia menyadari bahwa Kaito tidak mengikutinya dari belakang yang artinya dia masih ada di sekitar bar.


Dengan cepat Ryou berlari.


Theo dan anak-anak itu mulai menghapus air mata mereka. Mereka memutuskan untuk kembali ke bar mengikuti Ryou.


Dari situ, Theo mulai terlihat begitu marah.


“Justin…aku mengutukmu! Aku mengutukmu!! Aku mengutukmu!! Aku berharap kau mati!! Aku ingin kau mati!! Aku mengutukmu!!!”


Memutuskan untuk menggandeng tangan Michaela, Theo akhirnya berlari bersama yang lain menuju bar.


Bagaikan sedang berdoa, kalimat kutukan yang terdengar seperti doa yang sangat khusyuk terus dilantunkan. Bersamaan dengan itu, cahaya bandul kalung Theo yang berwarna ungu cerah mulai bersinar sampai saat ini.


******