
Bayaran setimpal untuk semua hal yang harus didapatkan.
Membutuhkan waktu lama sampai akhirnya semua orang sedikit demi sedikit bisa menerima van Houdsen kembali.
Diawali dari lahirnya Xenon ke dunia. Tidak ada yang menyangka bahwa mantan pelayan itu melahirkan seorang anak laki-laki juga.
Ibu Revon yang saat itu sangat menyayangi cucunya, Rexa awalnya tidak begitu saja menerima kehadiran Xenon karena melekatnya gambaran anak yang hasil dari ‘hubungan gelap’ sang putra dengan pelayan.
Tetapi, menginjak satu tahun Xenon, nyonya besar itu akhirnya mau menerima kehadiran sang cucu kedua.
Itu juga bersamaan dengan memudarnya isu buruk dalam internal dan eksternal van Houdsen.
Revon dalam waktu singkat bisa mengembalikan nama baik keluarganya.
Bisnis melesat cepat, wilayahnya menjadi lebih luas dari sebelumnya dan raja negeri itu memberikan otoritas lain karena prestasinya.
Harga yang setimpal dengan semua itu.
Itulah sedikit gambaran masa lalu Revon.
Kenyataan yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Revon dan Axelia sampai saat ini adalah bahwa Xenon bukanlah darah kotor seperti yang diketahui selama ini.
Xenon adalah anak sah yang lahir setelah Axelia resmi menikah dan satu hal lagi yaitu cinta pertama Revon adalah seorang pelayan yang merupakan istri keduanya.
Setelah ibunda Revon meninggal dunia, semua itu masih tertutup rapat.
Rexa dan Xenon memiliki hubungan baik sampai ulang tahun Xenon yang ke-6 mengubah semuanya. Penyebabnya adalah istri pertama Revon, Vexia.
***
Di waktu saat ini, di saat Revon memeluk Axelia dalam dekapannya, semua rasa sakit di masa lalu kembali terbuka.
‘Aku harap aku bisa mempertahankan semua ini dan tidak membuat Axelia lebih menderita’ pikirnya
Dia melepaskan pelukannya dari sang istri dan berkata dengan lembut.
“Aku berjanji pada Rexa untuk melindungimu dan Xenon. Beri aku kesempatan seperti dulu untuk melakukan yang terbaik demi dirimu dan putra kita”
“Revon-sama…”
Mata wanita itu berkaca-kaca, namun dia bisa merasakan ketulusan dalam ucapan itu.
Revon sendiri telah menelan banyak pil pahit dalam rumah tangganya. Menjadi pria yang tidak bisa menentang istri pertama dan keegoisannya demi cinta pertamanya merupakan pengorbanan yang mahal.
Rasa bersalah pada sang putra, Rexa masih melekat dan kini dosa yang harus ditanggung olehnya atas gambaran buruk kelahiran Xenon juga menjadi duri lain.
Apapun itu, Revon sudah siap dengan semua dosa dan luka tersebut.
Itulah kisah cinta dari pria dingin yang melewati semua batasan dalam garis darah dan kebangsawanan.
**
“Axelia-sama!” Marie langsung menghampiri sang majikan dengan penuh kekhawatiran
“Aku tidak apa-apa, Marie”
Wave memberi hormat pada keduanya, “Revon-sama, Axelia-sama”
“Selamat pagi, Wave-sama”
“Selamat pagi. Tolong jangan meninggikan posisiku seperti itu, Axelia-sama. Aku hanya seorang pelayan” seru Wave
Panggilan -sama dalam konteks bahasa di dunia tersebut sangat mengacu pada nilai kesopanan dan peringkat tertinggi dalam tingkatan nama seseorang.
Sejak Axelia selalu menganggap dirinya rendah, dia tidak pernah menghilangkan kebiasaan tersebut. Hanya Marie yang dianggap sebagai teman baik olehnya.
“Maafkan aku, umm…Wave…”
Walaupun ragu-ragu, tapi Axelia berhasil mengatakannya. Wave tersenyum dan menatap sang tuan rumah, Revon dengan tatapan serius.
Tampaknya ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan. Revon meminta Marie membawa istrinya ke kamar dan kedua pria dewasa itu mulai membicarakan hal penting selagi menuju ruang kerja Revon.
“Revon-sama, ini mengenai masalah yang sebelumnya. Soal Earl dan hubungan perjodohan dengan Lady Misha-sama tampaknya akan cukup berdampak”
“Baru-baru ini, ada berita tidak menyenangkan juga. Ini berhubungan dengan bisnis dan anak keluarga di bawah naungan van Houdsen dan Caracasa”
Revon tidak mengubah ekspresi wajahnya, “Kenapa?”
“Caracasa memutuskan untuk mengambil semua aset dalam perjanjian. Mereka tampak…sudah bekerjasama untuk antisipasi jika perjodohan gagal”
“Tidak masalah. Jika memang mereka ingin mengambilnya, ambilah semua. Aset dan tanah tidak penting. Rexa tidak boleh merasakan penderitaan yang sama sepertiku” kata Revon
Wave hanya tersenyum mendengar ucapan sang majikan. Ada perasaan bangga tersendiri saat ini dalam hatinya.
Kini, Vexia menikmati rasa malu seorang diri di kamarnya sambil menulis sebuah surat.
“Aku akan membuat wanita itu menderita. Keluargaku sudah pasti mengetahui semua ini. Aku tidak akan tinggal diam!”
Rencana lain disusun oleh Vexia. Tampaknya ini akan semakin menyusahkan.
Menjelang siang, tidak ada hal istimewa yang harus menjadi sorotan dalam perjalanan ini.
******
Sebuah pagi yang panjang dari kediaman van Houdsen.
Kini kita beralih ke akademi kembali, tepatnya untuk melihat akhir dari adu mulut antara guru dan murid sekarang.
******