Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 336. Hari Bebas bag. 1



Di dekat sungai, ketiga remaja dari dunia lain selesai dengan semua cerita dan pembagian informasi mereka.


Ryou menyandarkan kepalanya di pundak sang kakak sambil bergumam sendiri.


“Kita sudah ada di dalam perlindungan Divisi Khusus Dewan Sihir dan nama Marquis Vermillion bersama dengan guru kita yang labil itu, lalu kita sudah dapat semua kepingan informasi dan sekarang yang harus dilakukan adalah mencari tau keberadaan permata ingatan Kaito”


“Menurut kalian berdua, dimana kira-kira permata Kaito yang masih ada di sini dan berapa banyak lagi permatanya?”


Kino sempat berpikir sejenak, “Dua…kurasa. Sejauh ini, saat di ‘dunia siang’ dan ‘dunia malam’ waktu itu, permata Kaito-san ada dua. Namun, meskipun lokasinya seperti sama, ada perbedaan yang mencolok di sana”


“Seandainya permata milik Kaito-san ada di sini lebih dari dua buah sekalipun, aku yakin akan ada sedikit perbedaan nantinya”


“Misalnya, masalah telah selesai dan ada misteri baru. Atau bisa saja ‘dunia’ ini akan berubah menjadi tempat dengan hukum berbeda”


Ryou bertanya, “Contohnya?”


“Entah sihir akan lenyap atau terjadi peperangan. Semua kemungkinan baik dan buruk bisa terjadi. Bagaimana menurutmu, Kaito-san?”


Kaito hanya diam sambil berpikir sejenak sebelum menjawab.


“Kino benar. Aku rasa itu memang kemungkinan yang bisa saja terjadi. Selain itu, permataku itu memiliki hal yang cukup unik. Jika dilihat dari setiap tempat dimana mereka ditemukan sejak pertama kali aku pergi, permataku selalu muncul di tempat yang tidak jauh dari akar masalah”


“Bisa saja kali ini permata ingatanku ada di antara ras beastman, ras half-elf, di dalam Akademi Sekolah Sihir, dimiliki oleh salah seorang anggota Divisi Dewan Sihir, di salah satu Artifact atau di tempat yang tidak disangka oleh kita semua”


Kino dan Ryou saling melihat satu sama lain.


“Kaito benar. Itu bisa saja. Banyak kemungkinan sekarang. Jelas permatamu yang pertama itu ada pada bros milik Xenon yang sama sekali tidak pernah kau ketahui keberadaannya. Tapi, Xenon memang orang pertama yang kita temui di sini”


“Berawal dari Xenon, sekarang kita terlibat masalah serius. Aku rasa memang benar kalau kunci di ‘dunia’ ini sekarang adalah Xenon. Dan dengan berada di dekat Xenon, permatamu akan mudah kita temukan”


Kino dan Kaito terkejut dengan penuturan Ryou.


“Ryou benar. Ini seperti kasus Theo waktu itu”


“Begitu. Kalau begitu, memang sebaiknya tidak ada yang kita sembunyikan dari Xenon untuk saat ini”


“Tidak, itu tidak benar juga Kaito-san. Tidak perlu memberitau pada Xenon-san bahwa kita memiliki ‘kelainan’ adaptasi sifat manusia normal di sini”


Ryou yang masih menyandarkan kepalanya di pundak sang kakak langsung bangun dan menatap aneh sang kakak.


“Kino…aku memang bilang I love you padamu di lorong koridor beberapa waktu lalu, tapi aku ini laki-laki normal yang cinta wanita dan waifu 2D. Aku tidak mau menikah dengan laki-laki apalagi dia kakak kandungku sendiri. Bunuh saja aku kalau begitu”


“Ryou, tolong jangan salah paham. Aku mohon” Kino sekarang menatap wajah sang adik yang tidak kalah anehnya


Ryou hanya tertawa melihat wajah kakaknya itu.


“Ahahaha, iya paham paham. Maafkan aku. Aku tau maksudmu. Soal kita tidak merasakan kantuk, lapar, tidak berbau dan tidak defekasi, iya kan?”


“Itu maksudku. Aku mohon jangan bicara dengan kalimat yang menjurus ke arah makna ambigu”


“Iya iya, maafkan aku”


“……” Kino masih sedikit syok dengan kalimat adiknya


Tapi Kaito tampaknya sedang dalam mode serius.


“Tidak perlu memberitau semuanya mengenai ‘kelainan’ kita memang sudah disepakati di awal jadi sebaiknya memang tidak perlu. Tapi untuk masalah informasi sebaiknya kita bicara jujur”


“Xenon memiliki akses lebih banyak dari kita. Semua hal yang tidak diketahui bahkan soal sihir juga dia yang lebih tau. Sejak dia adalah guru sihir kita, akan semakin mudah bagi kita mendapatkan informasi sebelum resmi masuk sebagai murid akademi besok”


Di waktu setengah hari itu, mereka menghabiskan waktu dengan berbicara mengenai beberapa hal baru lain yang mereka pelajari.


“Mau tau sesuatu juga tidak?” Ryou menatap sang kakak


“Apa?”


“Saat ujian, aku sempat berkenalan dengan dua peserta lain”


“Benarkah? Teman baru?” Kino cukup antusias mendengar sang adik mendapatkan teman baru


“Tidak bisa dibilang teman juga karena kita belum tentu akan bertemu lagi. Tapi kalau dibilang mereka cukup berpengalaman, aku tidak bisa bohong. Mereka adalah seorang gadis ras kucing pemburu bernama Luna Light dan seorang pemburu bernama Piero”


“Luna Light-san dan Piero-san ya. Syukurlah Ryou bisa menemukan orang yang baik”


“Mereka cukup kuat karena saat Xenon dan Vares bertarung, mereka bisa mengikuti gerakannya sedangkan aku sama sekali tidak bisa melihatnya”


Kaito bertanya, “Gerakannya terlalu cepat untuk mata normal, begitu maksudmu?”


“Benar. Hanya saja, mereka mengatakan bahwa kemampuan melihat pertarungan dengan kecepatan tinggi seperti itu bisa dilakukan jika terbiasa dengan pertarungan atau karena skill dan pengalaman saat bekerja” jawab Ryou dengan antusias


“Aku cukup belajar banyak dari mereka dan meskipun masih ada yang tidak sepenuhnya ku mengerti, namun aku paham kalau di ‘dunia’ ini, kemampuanmu akan meningkat seiring dengan pengalaman”


Tampaknya Kaito juga ingin bercerita mengenai penjelasan yang pernah dikatakan oleh Virgo selama dirinya menjadi rekan tim saat ujian.


“Aku juga mendapat banyak pelajaran dari musuh kita”


“Virgo itu?” tanya Ryou


“Benar…” Kaito kemudian mengatakan banyak hal mengenai penjelasan panjang lebar tinggi bervolume seperti rumus matematika yang pernah dijelaskan oleh Virgo. Tentu saja Kino cukup cepat menanggapinya dan Ryou juga tidak begitu sulit karena otaknya yang lekat dengan dunia per-anime-an.


“Jadi begitulah. Membingungkan benar, kan?” tanya Kaito memastikan


“Aku cukup paham”


“Aku juga tidak berpikir itu sulit. Kaito, tampaknya belajar itu adalah kelemahanmu ya”


“Apa maksudmu?”


“Kalau di ujian tadi ada soal-soal materi, kau pasti akan gagal, percayalah”


“Ryou…” Kino berusaha menenangkan sang adik


“Kau beruntung kau lulus, Kaito. Nanti saat sudah masuk sekolah, jangan lupa belajar dengan giat ya. Kau kan sudah berusia 21 tahun, pasti masih ingat penjumlahan 1+1\=2, benar kan? Jangan sampai semua orang tau kau itu murid berusia 21 tahun yang lambat dalam belajar ya”


“Ryou, hentikan itu. Kaito-san, tolong maafkan Ryou ya. Ryou, minta maaf pada Kaito-san!”


“……”


Tampaknya bicara mengenai kesulitan Kaito mengenai penjelasan rumit dari Virgo membuat mental Kaito semakin jatuh.


“Kino, aku akan bertanya pada Xenon sihir untuk membuat mulut seseorang diam dan tidak bisa bicara. Tolong ingatkan aku jika Xenon sudah berkumpul bersama kita”


“Kaito-san…” tampaknya Kino melihat Kaito ingin membalas sang adik juga


Selama sekitar satu jam, ketiga remaja dari dunia lain itu bicara mengenai banyak hal sampai akhirnya Xenon menemukan mereka di tempat awal mereka latihan tersebut.


******