Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 103. Penyelamatan bag. 5



Di [La porte du Paradis], tepatnya di dalam ruang kerja Jack.


Riz masih meragukan rencananya untuk pulang kembali hanya demi mengambil uang untuk membebaskan remaja itu. Tapi, dia tidak memiliki rencana lain.


“Ja–Jack-sama…jadi…”


“Seperti yang kukatakan padamu, Riz. Kalau memang kau yakin keberuntunganmu dengan remaja itu sama besarnya dibandingkan milikku, ya…silahkan saja”


“Kalau begitu aku akan–“


“Tapi habiskan dulu teh dan red velvet di meja. Oh, wow! Aku tidak salah menyebut nama kue itu sekarang! Aku jenius. Ahahaha” Jack tertawa dengan leluconnya sendiri


Riz tidak begitu mengerti dengan tingkat lawakan dari panutannya itu tapi dia ikut tertawa demi keselamatan dirinya.


“A–aku akan menghabiskannya…”


Dengan ragu-ragu Riz mulai mengambil kembali piring kecil di meja lalu memakan kue yang ada di atas piring tersebut.


‘Semoga suapan pertama tidak akan langsung mencabut nyawaku!’ Riz berdoa seakan itu adalah makanan terakhirnya


Karena dia datang bukan untuk mengomentari hasil eksperimen dapur istri dari panutannya, dia hanya berkata bahwa kuenya ‘normal’ dan bisa dimakan.


“Apa kubilang, kuenya enak kan? Seren cintaku itu benar-benar berbakat”


“Be–begitulah” puji Riz dengan terpaksa


“Tadi pagi, aku sempat berpikir kalau kau mungkin tidak beruntung karena tidak mencicipi kue buatan malaikatku itu, sejak Justin tiba-tiba datang. Ternyata kau cukup beruntung, Riz” kata Jack sambil tersenyum


“Jack-sama benar. A–aku terkejut karena kue buatan Seren-sama bisa seenak ini”


“Benar. Dan aku turut berduka karena Justin tidak bisa mencicipi kue itu. Kurasa sebagai bentuk penghormatanku kepada mendiang temanku itu, aku akan membuka harga penjualan yang cukup tinggi. Kau tidak sedih karena dia mati, kan?”


“Aku akan menangis setelah semua urusan jual-beli ini selesai”


“Hmm, begitu rupanya. Tapi kusarankan jangan terlalu lama menangis atau tidak baik untuk kesehatanmu. Meskipun Justin sudah menjadi daftar dagangan di tempat ini, selama mayatnya belum terjual, kau masih bisa bertemu dan menyapanya. Jadi tenang saja, ya”


Riz langsung terdiam mendengar ucapan Jack.


‘Maafkan aku, tapi aku bukan orang gila yang punya hobi menyapa dan bicara dengan mayat. Walaupun aku menyukainya karena pekerjaanku tapi aku tidak mau benar-benar dipandang seperti orang dengan kelainan jiwa’ gumamnya dalam hati


Riz mencoba mencari topik pembicaraan lain selagi dirinya berjuang untuk menghabiskan kue buatan Seren di tangannya.


“Be–benar juga. Aku ingin bertanya pada Jack-sama…”


“Tanya apa?”


“Kenapa tadi pagi ketika aku datang, kue ini tidak disuguhkan padaku?”


“Hmm…kau lihat sendiri dia tadi tidur saat kau datang, kan? Dia habis mencongkel mata dan memotong anak kecil itu jadi sepertinya dia lelah”


“Begitu” Riz memakan kuenya lagi


Sebenarnya, topik pembicaraan itu hanyalah basa-basi. Sejak Riz mengetahui semuanya saat dia datang ke tempat itu pagi ini, tentu saja dia juga tau apa yang dilakukan oleh mereka berdua.


“Kau tau, Riz….karena aku belum menemukan koki yang kupenggal tiga hari lalu, malaikatku itu jadi senang sekali membuka resep buatannnya”


“Hmph…!!!”


Riz yang baru saja memasukkan kembali garpunya ke dalam mulutnya terkejut dan diam sambil melihat Jack.


“Oh, kalau kau penasaran mengenai mantan karyawanku itu, dia baru terjual kemarin malam”


“Brugh!! Uhuk…uhuk…uhuk…” Riz langsung menyemburkan kue yang baru dia makan dan batuk setelah mendengarnya


“Kau baik-baik saja? Ini Riz, aku tuangkan lagi tehnya” Jack menuangkan teh ke gelas Riz


“Te–terima kasih banyak. Maafkan aku karena tiba-tiba…”


“Tidak masalah. Kuenya pasti terlalu enak sampai membuatmu kaget dan hampir keracunan, kan? Ahahaha” kata Jack seperti sedang mengeluarkan lelucon


Riz hanya bisa meletakkan piring itu kembali dan meminum tehnya. Di dalam hatinya, Riz seperti mengungkapkan perasaannya.


‘Wahai panutanku yang terhormat, aku hampir terkena serangan jantung karena ceritamu! Aku tau kalau dirimu senang sekali menjual manusia dalam berbagai macam bentuk dan ukuran….tapi jangan karyawanmu juga yang dijual!! Pantas tidak ada siapapun kecuali paman Will dan Lucy di sini. Ya Tuhan!’


Setelah selesai meminum tehnya, Riz mencoba untuk kembali tenang dan memakan kuenya dengan cepat agar bisa pulang dan mengambil uang yang dia katakan.


Jack yang berpakaian dan bergaya sangat santai tersebut melihat jam tangannya.


“Sudah jam 13.48 siang. Sebaiknya kau pulang sekarang. Aku akan meminta Will untuk membuka pintu gerbangnya jam empat sore nanti. Seperti biasa, pembukaan akan dimulai jam tujuh malam. Jika kau memang ingin membeli anak itu maka kembalilah sebelum waktu itu ya” ucap Jack sambil merubah posisi duduknya


Sekarang, Jack duduk dengan santai sambil menuangkan tehnya. Tiba-tiba, dia berhenti menuangkan tehnya dan menengok ke arah pintu.


“Wah wah… sepertinya banyak sekali yang datang”


“Apa?” Riz melihat wajah Jack dengan ekspresi bingung


“Nee, Riz…”


“Ya, Jack-sama–“


“Sepertinya kita sudahi dulu sampai di sini ya. Sebaiknya kau pulang sekarang. Masih ada sedikit urusan yang harus aku urus”


“A–aku mengerti. Aku akan pulang dan mengambil uang itu. Tolong tunggu aku sampai aku kembali, Jack-sama”


Riz yang akhirnya berhasil menghabiskan suguhan buatan Seren berdiri dan membungkukan badannya seraya memberi salam pada Jack. Pria tampan itu hanya tersenyum.


Jack yang sudah berdiri mengambil cangkir tehnya dan menyempatkan diri untuk meminumnya sampai habis.


Setelah itu, dia langsung berjalan dan membuka pintunya. Riz berjalan mengikutinya dari belakang.


**


Beberapa menit sebelum Jack dan Riz turun, di lobi bawah tampak Lucy yang masih sibuk mencatat sesuatu yang dia inginkan.


“Yang jelas, aku harus membeli yang ini dan ini dan–“


-SREEK…BUUK


“Eh?! Suara apa itu?”


Suara dari luar itu terdengar cukup jelas ke dalam lobi. Lucy yang awalnya ingin melihatnya sendiri tiba-tiba mengurungkan niatnya ketika melihat Jack menuruni tangga dan memanggilnya.


“Kenapa kau meninggalkan mejamu, Lucy?”


“Monsieur!” Lucy terkejut dan membungkuk memberi hormat padanya


“Jadi–“


Jack bermaksud bertanya kembali namun Lucy sudah memotong pembicaraannya terlebih dahulu.


“Di luar tadi seperti ada suara, Monsieur. Aku bermaksud untuk melihatnya”


‘Suara dia bilang!’


Dengan cepat, dia berlari dan membuka pintu lobi meninggalkan Jack dan Lucy di belakang. Riz yang membuka pintu terkejut dengan apa yang dilihatnya.


“A–apa yang terjadi di sini?!” Riz berteriak karena terkejut


Mendengar teriakan tersebut, Lucy tidak bisa berhenti penasaran dan berlari keluar. Jack yang berjalan santai hanya tersenyum senang sambil memainkan poni rambutnya.


“Wah wah, tidak bisakah aku mendapatkan kejutan yang tidak merepotkan? Tampaknya banyak sekali tamu yang datang ke tempat ini sebelum pembukaan”


Jack melihat keluar pintu dan betapa santainya dia melihat kepanikkan Riz di sana.


“Ge–ge–gerobakku?!! Satu dari tiga benda yang ada di rumahku sekaligus merupakan hal yang terpenting selain dompet dan uangku!! Siapa orang bodoh yang mencurinya!!”


Riz terlihat begitu panik menyadari gerobaknya hilang. Tapi untuk beberapa saat, dia menyadari bahwa mayat Justin ada di sisi jalan.


“O–oh, ta–tapi mayatnya ada di sini. A–ahaha…silahkan mayatnya, Jack-sama”


Riz yang melihat Jack berdiri di dekatnya langsung mempersilahkan Jack untuk mengambil mayatnya.


“Hmm, terima kasih. Lucy, pindahkan ini ke tempat penyimpanan ya. Tidak perlu ke lantai atas. Di bawah saja tidak masalah–“


“Baik, Monsieur”


“Eh…tapi kau jangan meletakkannya di dekat jendela juga ya. Ada bekas muntahan di sana”


“Mu–mu–muntahan?!” Lucy seketika merasa jijik mendengarnya


“Itu milik anak-anak yang kabur beberapa waktu lalu. Aromanya tidak begitu menyengat, tapi kalau bisa setelah ini tolong kau langsung bersihkan ya” perintah Jack sambil tersenyum


“Ba–baiklah, Monsieur” Lucy menjawab meskipun wajahnya terlihat ingin sekali menolaknya


Jack sepertinya menyadari ekspresi jijik di wajah Lucy dan berpikir sebentar. Setelah selesai berpikir, dia mendekati Lucy dan bertanya pada karyawannya itu.


“Apa malaikatku yang paling cantik di dunia itu mengatakan sesuatu mengenai gaji atau bonus padamu saat dia turun tadi?” Jack bertanya dengan nada santai


“Ma–Madame bertanya apakah saya bisa mengambil lembur malam ini untuk pembukaan atau tidak…”


“Dan?”


“Saya jawab saya bisa”


“Lalu?”


“Ma–Madame mengatakan akan bertanya pada Monsieur untuk menaikkan bonus saya setelah ini” Lucy menjawab dengan ragu-ragu karena dia takut pada Jack


Pada dasarnya, bukan hanya Lucy namun Will juga tidak pernah berani menanyakan tentang kenaikkan pada Jack. Itu karena pria muda tampan itu lebih senang menawar harga kepala karyawannya ketimbang menaikkan gaji dan bonus mereka.


“Hmm, cintaku yang mengatakannya? Tidak bohong, kan? Kau tau bahwa aku ini masih belum menyerah soal menaikkan harga kepalamu kalau kau sudah frustasi karena tidak bisa membayar hutang mantan pacarmu kemarin, kan?”


Mendengar ucapan Jack, Riz otomatis menengok dan melihat ke arah Jack dengan cepat sambil berkata dalam hati.


‘Jadi…panutanku yang hebat benar-benar menawar kepala karyawannya sendiri?! Mungkinkah koki yang dipenggal tiga hari lalu juga dibunuh karena harga kepalanya ditawar? Eh!!! Itu namanya kekerasan di dunia kerja!! Kurasa Jack-sama bukan tipe atasan yang baik’


Riz melihat wajah Lucy yang berubah pucat. Wanita itu menjawab dengan ekspresi takut.


“Ti–ti–tidak berbohong! Saya tidak akan berbohong! Madame benar-benar mengatakannya! Katanya, nanti Madame sendiri yang akan bertanya pada Monsieur!” Lucy menjadi panik mendengar pernyataan Jack


“Ya, sudahlah. Aku akan menaikkan gajimu saja 30% seperti yang kulakukan pada William. Bonusmu tidak naik tapi malam ini akan kubayar lemburmu. Tidak masalah, kan?”


Mendengar ucapan Jack, Lucy tidak bisa menghentikan senyum merona di wajahnya.


“Terima kasih banyak, Monsieur! Anda memang yang paling tampan dan yang terbaik di dunia!”


“Ya ya, aku memang tampan dan terbaik tapi kau bukan tipe idamanku Jadi, jangan jatuh cinta padaku karena aku sudah menikahi tuan putri paling cantik di dunia”


Jack terlihat begitu tidak nyaman karena Lucy berdiri mendekatinya dengan wajah berbinar. Dia bahkan bisa melihat gambaran strawberry berputar dengan glitter aneh di dekat wanita itu.


“Pindahkan mayat temanku itu dan jangan lupa kau bersihkan muntahan di dekat jendela di tempat penyimpanan ya” perintah Jack lagi


“Baik!”


“Oh, satu lagi. Setelah selesai memindahkan mayatnya, kau naik ke lantai atas dulu dan lihat ruangan dengan noda darah di lantainya ya. Kalau sudah, langsung turun dan bersihkan dekat jendela”


“Ruang pemotong, maksudnya?” tanya Lucy dengan wajah bingung


“Bukan bukan, ruangan yang satunya lagi. Tepat di samping ruangan itu. Coba nanti kau lihat ada yang hilang atau tidak, ya. Karena di sana seharusnya ada ‘mahakarya’ ciptaan Tuhan yang tertidur” kata Jack dengan senyuman manisnya


Kalimat Jack itu sedikit menarik perhatian Riz. Dia bahkan menjadi pucat setelah mendengarnya.


‘Hilang katanya? Tapi…bukankah itu ruangan tempat remaja itu….’ pikir Riz dalam hati


“Kebetulan aku ada sedikit urusan setelah ini, jadi akan pergi keluar dulu. Kalau kau melakukannya dengan baik, aku akan memberikan hari libur untukmu selama dua hari mulai besok sebagai tambahan” lanjut Jack


Tidak mau membuang waktu, Lucy yang merasa senang langsung menarik mayat Justin ke bangunan di sebelah [La porte du Paradis].


“Akhirnya pergi juga karyawan bermasalah yang satu itu” ucap Jack dengan santai


Jack berjalan mendekati Riz yang masih mematung tak bergerak.


“Jadi…punya tebakan kemana gerobakmu itu?” tanya Jack


“A–aku tidak tau. Bukankah tempat ini tidak akan didatangi siapapun selama belum waktunya persiapan untuk pembukaan!” Riz bicara dengan wajah panik


“Tapi, kau juga datang ke tempat ini tidak sendiri kan?”


“Eh?”


“Memang kau tidak ingat bersama siapa kau dan Arkan datang ke sini?”


-Deg


Ini bukan hanya tebakan Riz, tapi sudah firasat buruk. Dan dalam sekejab, firasat buruk Riz menjadi kenyataan. Terdengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga dari bangunan di samping mereka dan Lucy keluar dengan wajah panik.


“Mo–Mo–Monsieur! Mahakarya ciptaan Tuhan yang Anda maksud tidak ada di ruangan tersebut!”


“Apa?!” Riz kaget mendengarnya


“Aku sudah membuka semua pintu di ruangan tersebut namun tidak ada mahakarya yang tertidur di sana. Hanya dua kepala dari barang yang pagi ini datang di ruang pemotong!” Lucy menjelaskan dengan ekspresi panik


Jack hanya tersenyum dan mengangguk. Dia melihat ke arah Riz dengan gesture tubuh santai sambil bertanya “sekarang mengerti maksudku?”


Saat melihat sorot mata tajam Jack dan senyum sinis di bibirnya, Riz benar-benar terkena serangan mental.


‘Mereka benar-benar mau membuatku terbunuh’


******