Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 43. Pencarian Informasi bag. 1



Saat itu, Kino menaiki tangga menuju altar untuk masuk ke dalam. Di depan pintu altar hanya terlihat penduduk yang keluar masuk untuk berdoa atau habis berdoa. Suasananya benar-benar ramai seperti sebelum-sebelumnya.


“Sampai sekarang aku masih berpikir ini adalah ‘dunia siang’. Padahal baru dua kali aku berada di sana, rasanya seperti sudah tinggal di tempat ini sangat lama”


Kino sempat berpikir dalam hatinya.


‘Kalau dihitung sejak aku dan Ryou datang di malam ketika Kaito-san bertarung dengan makhluk bernama dark wolf, ini adalah hari ketiga kami berada di ‘dunia’ aneh ini. Sulit dipercaya dalam waktu tiga hari, aku dan Ryou sudah pernah hampir mati berkali-kali. Rasanya seperti mimpi tapi terlalu nyata untuk disebut mimpi’


Kino mencoba mengingat banyak hal yang terjadi selama tiga hari terakhir dan semua itu adalah karena kekuatan mistis dari jam saku antik yang ditemukan adiknya dalam buku tua aneh di perpustakaan keluarga mereka.


“Aku harap kami bisa menemukan jam saku itu secepatnya dan Kaito-san bisa menemukan kepingan ingatannya kembali”


Selesai memikirkan hal-hal yang nostalgia, Kino mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam altar. Ketika masuk, dia sempat berhenti dan berbalik melihat ke arah pintu masuk. Dia seperti mengingat sesuatu.


“Bukankah Ryou dan Kaito-san bilang ada anak-anak yang sering meminta sumbangan di sekitar pintu masuk altar, tapi kenapa aku tidak melihat mereka hari ini?” Kino menatap ke pintu dengan wajah heran


Saat dia sampai di altar, semua anak-anak itu belum tiba di sana. Namun, dia tidak membiarkan rasa heran itu menahannya. Kino kembali berjalan dan berbaur dengan penduduk yang datang.


Masih dengan situasi dan kondisi seperti kemarin. Ada yang berdoa, ada juga yang hanya mengobrol sambil memandangi arsitektur tempat itu, ada pula yang sepertinya pamer hal-hal yang menyenangkan.


Kino mencoba menenangkan hatinya sambil berjalan ke arah petugas penjaga yang berada di depan. Namun, langkahnya terhenti saat melihat betapa banyaknya orang yang mengelilingi semua petugas itu.


Jumlah mereka pagi ini ada lima orang tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki celah kosong untuk diisi olehnya.


“Kemarin salah satu dari petugas penjaga itu mengatakan akan memberitauku jika menemukan sesuatu tentang jam saku kami yang hilang. Tapi, melihat mereka sibuk seperti itu kurasa aku harus menunggu sebentar lagi”


Tiba-tiba dari arah samping kirinya, Kino seperti dipanggil oleh seseorang.


“Kakak yang waktu itu!”


“Siapa yang memanggil?”


“Kakak yang kemarin, di sini…kami di sini!”


Kino menengok ke arah kirinya dan dia melihat wanita yang membawa balita sedang duduk di kursi panjang altar. Itu adalah wanita yang kemarin duduk bersamanya.


Wanita itu tersenyum dengan ceria bersama balita perempuan yang manis.


“Di sini kakak, kami di sini. Ayo kemari!” sambil melambaikan tangan wanita itu memanggilnya


Kino dengan senyum manis menghampiri mereka.


“Selamat pagi, Nyonya. Selamat pagi Ivy-chan”


“Selamat pagi. Ayo duduk sini” wanita itu sedikit bergeser ke samping kirinya


“Permisi” Kino menundukkan kepala untuk meminta ijin


Tidak lama setelah Kino duduk, balita bernama Ivy langsung dengan cepat memeluknya dan duduk di pangkuannya. Kino cukup terkejut dengan itu tapi dia langsung dengan lembut memeluk anak itu sambil membiarkannya duduk di pangkuannya.


Namun saat tubuh sang balita itu menyenggol pinggangnya, Kino langsung menjadi panik.


“Hati-hati Ivy-chan! Maafkan aku, Nyonya. Hari ini aku membawa senjata tajam bersamaku. Aku khawatir akan melukai Ivy-chan”


Kino sedikit panik dan cemas melihat balita itu langsung duduk di pangkuannya dengan nyaman sekali. Mendengar itu, sang ibu hanya tersenyum dan menjawab.


“Jangan khawatir. Bukankah sarung pisaunya tertutup rapat? Selain itu, lihat…Ivy sama sekali tidak peduli pada benda di pinggangmu itu. Dia sepertinya sangat menyukaimu”


Mendengar itu, Kino masih sedikit cemas. Namun, ternyata balita itu benar-benar mengabaikan dagger di pinggang Kino dan fokus pada jari-jari lentik Kino.


“Ara ara…Ivy sepertinya sangat menyukaimu” senyum lebar wanita itu menghiasi wajahnya


“Aku senang Ivy-chan menyukaiku. Halo Ivy-chan” Kino bicara ke arah balita yang tersenyum padanya


“Oh iya, kakak–”


“Kino, namaku Yuki Kino. Maaf, sebelumnya tidak sempat memperkenalkan diri. Um, nyonya–”


“Lily Rain. Salam kenal Yuki” wanita itu memperkenalkan dirinya


“Panggil aku Kino, Lily-san. Yuki adalah nama keluargaku” Kino tersenyum


“Hoo, nama keluarga yang unik. Kino benar-benar berasal dari luar kota ini ya”


“Begitulah”


Wanita bernama Lily itu mulai bertanya pertanyaan umum padanya.


“Hari ini sedikit terlambat ya? Apa kamu kesiangan?” sambil tertawa kecil, wanita itu bertanya


“Ahaha, begitulah. Setelah melalui hari yang panjang kemarin, sepertinya tubuh ini benar-benar membutuhkan istirahat. Memang sedikit memalukan tapi baru kali ini aku merasa bangun terlalu siang untuk melakukan banyak hal di pagi hari”


“Ahahaha, tidak masalah. Terkadang anak muda perlu menikmati kehidupannya. Lagipula, Kino masih sangat muda jadi nikmati masa mudamu selagi bisa”


“Lily-san benar…”


Kino yang belum menyelesaikan pembicaraannya sempat menengok ke arah petugas penjaga yang dikerumuni banyak orang. Sambil menengok ke Lily, Kino bertanya padanya.


“Bicara soal banyak hal, bukankah petugas penjaga di sana sudah sangat sibuk. Sejak masuk ke dalam, aku melihat mereka semua dikelilingi banyak jamaah. Apa terjadi sesuatu hari ini, Lily-san?”


“Sebenarnya bukan hari ini saja. Sejak kemarin sudah seperti itu. Banyak sekali orang-orang yang mendatangi mereka sambil marah-marah”


“Marah-marah ya…”


Kino mengingat apa yang kemarin sempat didengarnya ketika kembali ke tempat itu untuk mencari tau tentang jam sakunya yang hilang.


[Kau pikir aku akan percaya ucapanmu!!. Ini sudah ketiga kalinya aku kehilangan emas dan permataku!]


[Aku sudah kehilangan berlian kesayanganku hari ini. Tempo hari aku juga kehilangan dompetku! Sebenarnya apa-apaan tempat ini!]


Dia bertanya kembali pada Lily.


“Kemarin siang aku sempat kembali ke tempat ini dan tidak sengaja mendengar beberapa orang marah-marah mengenai barang mereka yang hilang. Apa kumpulan orang-orang itu masih tentang hal yang sama, Lily-san?”


“Oh, kamu juga dengar itu ya”


“Sebenarnya, aku juga ingin bertanya tentang barangku yang hilang juga. Awalnya aku berpikir mungkin terjatuh di jalan jadi aku menelusuri semua tempat yang kudatangi termasuk tempat ini. Apakah Lily-san tau yang sebenarnya?”


“Jadi barang milikmu juga ada yang hilang ya? Aku turut prihatin. Semoga kamu bisa menemukannya”


“Terima kasih. Jadi, soal kabar itu…”


Kino bermaksud membawa percakapan ini ke arah yang lebih berguna untuknya karena dia sangat membutuhkan informasi apapun.


Awalnya dia sudah mendengar banyak hal dari sang adik dan Kaito, tapi sampai kemarin pikirannya tetap berpegang teguh pada prasangka bahwa jam sakunya hilang entah kemana.


“Aku tidak begitu mengetahui detailnya, hanya saja sepertinya benda-benda itu semua hilang sejak seminggu belakangan ini. Biasanya jika ada benda yang hilang baik itu benda berharga atau tidak, petugas penjaga di sana akan langsung memberikan informasi terkait hal tersebut. Tetapi kejadian kali ini berbeda”


“Apakah benda-benda itu memiliki nilai lebih seperti uang atau emas?”


“Benar. Memang benda sejenis itu yang hilang”


“……”


Kino dengan tenang mendengarkan Lily sambil bermain dengan Ivy yang menggenggam jari tangannya dengan erat. Pandangannya tetap melihat ke arah wajah Lily saat itu menandakan Kino serius mendengarkan.


“Semua benda yang hilang itu sama sekali tidak ditemukan jejaknya. Petugas bahkan mengira mungkin ada jamaah di sini yang sengaja mengambilnya dan tidak memberitau petugas. Itu memang mungkin terjadi, iya kan?”


“Benar juga, bisa saja ada orang yang tidak bertanggung jawab melakukannya. Apalagi jika benda yang hilang adalah benda berharga” Kino mulai membenarkan pernyataan Lily


Memang benar, di dunia manapun juga uang dan benda yang memiliki nilai jual akan selalu berharga. Tidak peduli apapun itu selama bisa mendatangkan keuntungan baginya, termasuk barang hasil temuan dan curian.


“Tapi ini adalah tempat suci. Seharusnya mereka tidak melakukannya”


“Kurasa bukan karena alasan klasik seperti itu, Lily-san. Jika orang yang menemukan benda berharga itu memang sedang membutuhkan uang, aku yakin mereka akan tetap mengambilnya demi memenuhi kebutuhan mereka. Terlepas dari apa yang disebut dosa, mereka akan tetap melakukannya untuk menyambung hidup mereka”


“……” Kino hanya diam tanpa berkomentar


Apa yang dikatakan Kino memang menggambarkan kehidupan nyata di dunia manapun di zaman apapun. Hidupmu adalah tanggung jawabmu. Lakukan apapun demi menyelamatkan hidup adalah peraturan nomor satu.


Konteks pemikiran itulah yang paling masuk akal untuk kasus kehilangan di altar saat ini. Akan tetapi itu bukan informasi yang dibutuhkan Kino.


“Lily-san, kembali lagi mengenai kasus kehilangan itu. Lily-san mengatakan kalau sudah seminggu terakhir ya. Apakah itu artinya sebelum ini kasus kehilangan tidak pernah terjadi?”


“Kasus barang hilang pasti ada tetapi memang hanya seminggu belakangan ini saja yang meningkat drastis. Selain itu, sampai sekarang tidak ada satupun dari benda yang hilang itu ditemukan oleh petugas. Seperti seakan-akan benda itu memang bukan hilang tapi dicuri”


“Dicuri?”


Sekarang, Kino mengingat hal yang berkaitan dengan jawaban Lily. Dia ingat sebuah respon mengejutkan dari Kaito saat mendengar cerita dia dan adiknya kemarin sore.


Saat dia menjelaskan pemikiran Ryou tentang kemungkinan jam saku mereka telah dicuri, jelas Kaito memberikan respon yang perlu dipertanyakan.


[Apa kalian berdua berpikir itu hanya kebetulan saja? Kalian yakin? Maksudku, aku ingat dengan jelas bahwa kalian pergi ke altar pagi ini]


‘Jawaban Kaito-san waktu itu…kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Itu bukan respon yang tidak penting. Kaito-san seperti telah menyadari sesuatu saat itu. Kenapa aku bisa melewatkannya?’


Kino benar-benar dibuat rumit dan terkejut dengan pikirannya. Dia menyadari telah melewatkan sesuatu yang penting.


Ini adalah momen yang tepat untuk Kino mendapatkan informasi lain. Lily melanjutkan penjelasannya.


“Iya, benar. Seperti semua benda itu memang dicuri. Karena aneh sekali tidak ada satupun yang kembali. Jika memang ada orang yang menemukannya dan tidak mengembalikannya, itu sama juga dengan mencuri, kan? Aku merasa alasan itu yang masuk akal. Aku sangat yakin benda itu dicuri”


“Apakah para korbannya berpikir begitu?” Kino bertanya


“Tentu saja mereka akan mulai berpikir begitu. Aku sangat yakin!”


Lily menjawab dengan mendekati wajah Kino.


Hal itu tentu membuat Kino terkejut dan mundur sedikit dengan wajah merah merona karena malu.


“Li–Lily-san…wajahmu…terlalu dekat” Kino merah karena malu


Dia terlalu polos untuk didekati wanita. Meskipun Lily terlihat seperti sudah memiliki usia nyaris kepala tiga tapi dia tetap saja wanita yang cantik.


Kino yang tidak punya pengalaman cinta dengan seorang perempuan tentu saja malu saat wajah wanita itu berada begitu dekat dengan wajahnya. Jantungnya berdetak dengan cepat seakan nyaris berhenti di tengah-tengah.


Lily yang menyadari itu hanya kembali ke posisi awal sambil tersenyum.


“Oh, maafkan aku. Aku hanya terlalu bersemangat. Aku lanjutkan lagi kalimatku tadi”


“Te–tentu” Kino mencoba mengembalikan mentalnya


Ivy yang berada di pangkuan Kino tersenyum ceria lalu tertawa melihat kakak yang dekat dengannya menjadi salah tingkah. Bahkan anak kecil saja tau betapa lugunya orang yang memangku dirinya sekarang.


“Baik,  akan aku lanjutkan. Begini, kenyataan soal benda mereka hilang itu benar dan dengan usaha pencarian yang tidak mengalami perkembangan sama sekali membuktikan teori bahwa benda itu dicuri”


“……” Kino mulai serius mendengarkan kembali


“Satu lagi yang paling mencolok, kenapa semua benda yang hilang itu memiliki nilai? Bisa saja hanya sapu tangan atau benda lain, tapi semua benda yang hilang itu sekelas dengan uang, permata atau emas. Orang normal mana yang akan berpikir semua benda itu hilang tiba-tiba?”


“……!!!” kali ini Kino sangat terkejut mendengarnya


“Sejak benda yang hilang itu berharga, mustahil mereka tidak menjaganya dengan baik, iya kan? Dan mustahil bagi pencuri untuk melewatkan semua benda itu”


Kino langsung berkata dalam hatinya.


‘Dia benar! Sekarang aku baru menyadarinya, kenapa benda yang hilang di altar itu semuanya punya nilai jual? Aku benar-benar ceroboh tidak menyadari hal itu lebih cepat. Karena terlalu syok kemarin, aku sampai tidak menyadari petunjuk dari kalimat Kaito-san. Kamu benar-benar bodoh, Kino!’


Cukup dengan menyalahkan kecerobohannya sendiri, Kino kembali bertanya pada Lily.


“Sebelum dan setelah kasus kehilangan itu terjadi, apakah Lily-san merasakan atau melihat sesuatu yang berbeda? Lily-san cukup lama di tempat ini, benar begitu kan? Aku rasa kamu mengetahui sesuatu seperti apa tempat ini sebelumnya?”


“Sebelum dan setelah kasus kehilangan ya…coba kuingat. Ah!”


Lily menengok ke belakang dan menunjuk ke arah pintu masuk besar. Kino ikut menengok dan melihat ada sekumpulan anak-anak yang berdiri di sana.


‘Anak-anak itu…sudah ada di sana. Sebelumnya mereka tidak ada. Itu artinya mereka baru saja datang atau sudah di sana tanpa kusadari’ Kino bergumam dalam hati


“Anak-anak yatim piatu itu meminta sumbangan di pintu masuk altar. Mereka baru saja seminggu di sini. Sepertinya ada satu dari mereka sering masuk untuk meminta sumbangan kepada para jamaah yang ada di dalam. Kadang aku juga sering memberikan uang pada mereka”


“Anak-anak yatim piatu? Mereka tidak memiliki tempat penampungan seperti panti asuhan?”


“Entahlah. Saat pertama datang aku pernah bertanya pada mereka dimana letak tempat tinggal mereka tapi tidak ada yang menjawab satupun. Karena kasihan jadi aku tidak bertanya lebih dari itu dan memberi mereka uang”


“……”


“Para penduduk di sini juga tidak merasa hal itu merepotkan jadi mereka terus memberi mereka uang sebagai bentuk amal”


“Begitu”


“Sejujurnya saja aku kasihan sekali pada mereka semua. Mereka masih kecil-kecil tapi sudah harus berjuang tanpa orang dewasa bersama mereka. Hmm?”


Lily memperhatikan lebih detail ke arah anak-anak di depan altar itu. Setelah itu dia melihat-lihat sekeliling ruangan altar dan bicara sendiri.


“Sepertinya kurang satu orang”


“Apanya yang kurang?” Kino menjadi heran bertanya pada Lily


“Anaknya. Di depan pintu altar itu hanya ada dua orang yang terlihat lebih tua dibandingkan anak-anak yang lain. Biasanya ada satu orang lagi anak laki-laki yang sepertinya seusia dengan dua anak yang lebih tua di luar”


“Ada lagi?”


“Iya ada satu. Anak laki-laki itu sering memakai topi coklat, dia adalah anak yang sering meminta sumbangan di dalam altar ini. Aku sudah tiga kali memberinya uang sumbangan padanya. Tapi, kemarin aku tidak bertemu dengannya”


“Anak laki-laki dengan topi ya…”


Kino ingin melanjutkan kalimatnya tapi dia tidak melakukannya karena seperti mengingat sesuatu.


‘Sepertinya aku tidak asing dengan ciri-ciri anak itu’


Kino mencoba mengingatnya sambil bertanya kembali.


“Apakah ada yang aneh dengan mereka semua, Lily-san?”


“Siapa yang dimaksud? Anak-anak itu? Tentu saja tidak. Mereka anak-anak yang baik, tidak akan ada yang berpikiran buruk pada anak yatim piatu yang hanya berdiri seharian di sana untuk meminta sumbangan. Setidaknya untukku sendiri”


“……!!!”


Kino sekarang memasang ekspresi kaget dan menatap


Lily dengan wajah aneh.


“Tapi mungkin berbeda untuk orang sombong yang tidak memiliki hati nurani dan senang memamerkan emas mereka di tempat suci"


"......"


"Aku seperti sedang melakukan dosa sekarang tetapi sejujurnya aku senang mereka kehilangan benda yang sering mereka pamerkan itu. Kurasa itu hukuman dari Tuhan untuk mereka. Biarkan saja mereka merasakannya!”


“……”


Kino hanya tersenyum. Kalimat pedas dan sindiran menusuk hati yang bisa menghancurkan mental orang lain itu mirip dengan seseorang yang dia kenal. Benar, mirip dengan adik kesayangannya.


Dia bahkan memberikan komentar terbaiknya untuk wanita yang baru ditemuinya kemarin.


‘Aku tidak menyangka ada orang lain yang memiliki mulut yang mirip sekali dengan Ryou. Kemampuan menyindir seseorang miliknya itu benar-benar menakjubkan. Aku berharap Lily-san dan Ryou tidak saling bertemu atau mereka akan menjadi tim yang mengerikan’


******