Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 83. Hal Menakjubkan yang Dilakukan oleh Anak-Anak bag. 1



Di bar [Barre des Noirs], Theo dan anak-anak itu duduk di dalam tidak lama setelah Arkan keluar dari tempat itu.


“Theo-niichan, apa yang harus kita lakukan sekarang?”tanya Michaela


Theo melihat sekeliling tempat itu.


‘Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan di sini meskipun Arkan-nii sudah mengatakan pada kami untuk tinggal’ pikirnya dalam hati


Melihat anak-anak itu tampak cemas, Theo memutuskan untuk pergi ke ruang karyawan di belakang.


“Kita lihat tempat yang tadi dimaksud oleh Arkan-nii ya. Kalau kalian lelah, kita bisa mandi dan tidur di sana”


“Tapi aku mau tidur di rumah kita saja” kata salah satu anak kecil


“Arkan-nii sudah bilang kalau keadaannya sedang tidak baik-baik saja kan? Kita tidak boleh membuat Ryou-nii dan yang lain dalam masalah lagi. Sampai mereka semua kembali bersama kita, yang bisa dilakukan adalah tetap bersama”


Anak-anak yang lain terdiam dan hanya mengangguk. Mereka berjalan ke ruangan yang ada di belakang. Letaknya di samping dapur dekat gudang. Tidak begitu besar memang, namun masih lebih bersih dibandingkan dengan tempat yang disebut rumah oleh anak-anak itu.


Beragam komentar muncul dari anak-anak itu.


“Bersih. Tidak banyak barang ya”


“Tapi tidak luas. Kupikir akan lebih luas lagi”


“Ini jauh lebih bersih dibandingkan rumah. Di samping situ ada kamar mandi juga. Kita bisa mandi juga kata Arkan-niichan” kata Michaela


Theo hanya melihat anak-anak itu bicara sambil merasa khawatir. Theo menggenggam bandul kalung di balik kerah bajunya. Dia memejamkan matanya dan berdoa untuk semuanya.


‘Semoga Ryou-nii dan yang lain baik-baik saja. Semoga Kino-nii tidak terluka. Aku mohon!!’


Michaela menyadari bahwa Theo seperti sedang cemas. Dia menarik bajunya.


“Theo-niichan, jangan membuat wajah jelek itu. Kalau yang lain melihatnya nanti yang lain menangis lagi”


Theo terdiam dan tersenyum.


“Aku mengerti. Aku minta maaf. Sekarang kau diam di sini dulu ya. Aku akan melihat apa ada sesuatu di dapur tempat ini”


Michaela hanya diam tanpa mengatakan apapun dan melihat Theo keluar dari ruangan itu. Beberapa anak-anak ada yang sudah duduk di lantai dan tidur, ada juga yang pergi ke toilet.


Di dapur, Theo menemukan beberapa botol air dan membawanya untuk anak-anak minum.


“Aku menemukan ini. Sebaiknya kalian minum ini dulu dan istirahat”


Anak-anak itu mengambil botol air itu dan meminumnya. Sekarang, Theo harus memikirkan langkah selanjutnya.


‘Dengan uang yang diberikan oleh Kaito-nii dan Arkan-nii, aku bisa membeli beberapa pakaian atau makanan untuk mereka. Tapi aku merasa aku masih harus menyimpan sedikit sampai semua kembali. Aku tidak boleh lengah sedikitpun atau semua akan kembali dalam masalah!’


Meskipun mereka tidak ikut bertarung namun menunggu juga merupakan tugas penting bagi Theo saat ini.


Theo mencoba membuka topik pembicaraan paling umum.


“Apa kalian semua lapar?”


Anak-anak itu saling melihat satu sama lain lalu menjawab pertanyaan Theo dengan wajah penuh keraguan.


“Kami lapar tapi–”


“Kami tidak merasa begitu lapar juga, Theo-niichan”


“Apa itu? Kenapa jawabannya seperti itu?” Theo bertanya dengan wajah bingung


“Kami memang lapar tapi kami masih sangat takut jadi kami tidak merasa begitu lapar”


“Kalau ingat kejadian saat Stelani-neechan dan Fabil-niichan dibawa pergi, aku jadi ingin menangis lagi dibandingkan makan” kata Michaela dengan wajah murung


Siapa yang menyangka pertanyaan sederhana itu berujung pada perubahan suasana di sana sekarang. Michaela dan anak-anak lain akhirnya mulai terlihat sedih lagi sekarang.


Theo menyadari betapa buruknya dia dalam menghibur orang lain. Tidak mau berpikir terlalu sulit, dia memutuskan untuk mencari suasana baru dengan mengajak mereka keluar dari tempat itu.


“Aku tidak ingin kalian sakit. Kita akan mencari makan saja di luar. Kalian tadi sempat cerita bahwa Kino-nii membawa kalian makan enak, kan? Aku belum merasakan makanan itu. Kita pergi ke sana sambil mencari suasana yang lebih baik ya, bagaimana?”


“Tapi di luar katanya tidak aman” kata salah satu anak kecil itu


“Tidak aman kalau kalian keluar sendiri. Kita keluar bersama-sama dan aku ada untuk melindungi kalian. Setelah makan, kita hanya perlu kembali ke sini”  jelas Theo


“Lalu kalau kita pergi keluar, yang menjaga bar ini siapa?”


“Kita bisa tutup pintu depannya dan lewat belakang agar aman” Theo masih berusaha untuk mencari alasan meski sedikit dipaksakan


“Tapi bar ini pintu depannya sudah rusak, Theo-niichan. Kalau ada pencuri bagaimana?”


“……” sekarang Theo jadi terdiam mendengar jawaban anak kecil di depannya


Baru ingin berpikir ulang lagi, dari luar terdengar teriakan keras.


“Bar milikku! Tidak!!!”


Kepanikkan mulai terlihat dari raut wajah Theo dan anak-anak itu. Dengan cepat Theo meminta mereka berlari keluar dari ruangan tersebut dan mencari sesuatu sebagai senjata termasuk sapu dan tongkat pel. Bahkan, Michaela membawa dua botol kosong sebagai senjata pertahanannya.


Theo memimpin semua anak-anak yang berdiri di belakangnya dan berjalan mengendap-endap. Dia bicara dengan nada pelan kepada mereka semua.


“Dengar, pokoknya setelah aba-aba kita keluar dan langsung serang orang itu. Mengerti kan?”


“Umm” semuanya mengangguk


Dengan wajah panik mereka semua berjalan tanpa suara. Theo yang berada di depan mengitip dari balik dinding.


Di dalam bar, orang tersebut terdengar menangis dan teriak. Hal itu membuat anak-anak yang sedang bersembunyi di balik dinding untuk mengawasinya semakin terlihat cemas.


“Kenapa malah semakin hancur?! Apa yang dilakukan oleh Arkan sampai tempat ini seperti habis dihancurkan oleh Justin!! Noda merah apa ini?! Ini mimpi buruk!!”


Tidak lama terdengar teriakan dari orang itu dari ruangan Justin.


“Gyaaa!!! Apa ini?!”


Setelah teriakan itu, Theo langsung memberi aba-aba untuk keluar dan menyerang orang tersebut.


“Serang dia sekarang!!”


Dari arah belakang, anak-anak itu keluar dan menyerang orang yang sekarang berada di ruangan Justin.


-BAAK…BUUK


Dengan sapu dan tongkat pel ditambah botol kosong yang dibawa mereka, pertarungan anak-anak melawan orang asing dimulai. Mereka memukuli tubuhnya tanpa henti.


“Ouch, aww!! Oi apa-apaan ini?! Kenapa aku dipukuli begini?! Hentikan!!”


“Kau jangan macam-macam ya!. Ayo serang dia terus dan pukul lebih keras!!”


Anak-anak adalah makhluk manis yang sangat polos di dunia ini. Ketika mereka diperintahkan untuk melakukan sesuatu, mereka akan melakukannya secara penuh dan tidak setengah-setengah.


Tentu saja itu berlaku saat mereka diminta memukuli orang.


“Hiyaaaa! Rasakan ini orang jahat!”


“Pergi dari sini!!”


“Kami harus mengusir orang asing pergi dari sini!! Arkan-niichan bilang begitu!!”


-Deg


“Arkan katamu–”


Tepat setelah anak-anak itu menyebut nama Arkan, reaksi wajah orang itu langsung berubah. Tidak hanya berubah, dia juga menjadi tidak terkendali dan berteriak.


“Akan kupotong gajinya dan kuhapus cuti tahunannya itu, dasar karyawan durhaka!!”


“……” semua anak-anak termasuk Theo langsung kaget dan mundur ke belakang


Mereka terlihat seperti anak marmut kecil yang baru saja melihat beruang mengamuk.


“Theo-niichan, aku takut. Dia jelek seperti Justin-sama” kata Michaela sambil memeluk Theo


Bukan hanya Michaela, yang lain juga tampaknya berpikiran hal yang sama dengannya.


Orang di depannya itu adalah seorang pria yang terlihat berumur 30 tahun dengan tubuh tinggi. Tidak begitu kurus dengan kulit sedikit gelap.


Pria itu masih terus marah-marah tidak jelas sambil memanggil nama Arkan.


“Nox baru saja keluar dan sekarang dia menghancurkan tempat ini, dia mau mengosongkan dompetku dan menghanguskan uangnya ya! Awas saja karyawan durhaka itu!. Akan aku kutuk dia, kupotong gajinya, kuhilangkan bonusnya, kuhapus cutinya dan ku…hmm?”


Dia menengok ke arah belakang dan melihat ada ‘sekumpulan marmut’ dengan tongkat pel dan sapu di pojok ruangan. Setidaknya, itulah yang dia lihat sekarang.


“Kalian anak-anak jalanan itu kan? Kenapa kalian memegang…Ah! Kalian yang memukulku dengan itu ya!! Grrr!” sekarang wajahnya kembali menjadi marah


Melihat itu, anak-anak kecil lain hampir berteriak. Theo dengan cepat berdiri di depan mereka untuk melindungi semuanya sambil menggenggam tongkat pel.


“Siapa kau?! Keluar dari sini atau akan kupukul kau dengan pel ini!”


“……” pria itu terdiam sambil menatap dingin


Dia berjalan ke depan dan menghampiri anak-anak itu. Tidak lama kemudian wajah menyeramkannya berubah menjadi wajah penuh senyum seperti boneka beruang.


“Lama tidak bertemu anak-anak manis~”


Seketika wajah Theo tanpa ekspresi dan berubah pucat melihat perubahan raut wajah dari pria besar di depannya. Bahkan dia bisa melihat ada bayangan boneka beruang yang sedang menabur kelopak bunga mawar dan permen di belakang pria itu. Sungguh imajinasi yang sangat kaya dari Theo.


Tampaknya perubahan sikap pria itu menimbulkan trauma untuk anak-anak itu.


“Gyaaa!!! Setan!!” teriak anak-anak kecil itu


“Aku bukan setan!. Aku manager tempat ini, manager!. Kalian jarang melihatku tapi kita sudah pernah bertemu, ingat?!” pria itu terlihat panik ketika diteriaki oleh anak-anak lain


Theo langsung kembali sadar dan langsung berteriak ke arah pria itu.


“Aku tidak ingat kau, dasar om-om mesum! Pedofil! Menjauh dari kami dan keluar dari sini!”


“……”  sekarang giliran pria itu yang terdiam dan pucat


Setelah beberapa detik, akhirnya dia bisa mendapatkan kembali ketenangan dirinya dan memperkenalkan diri di hadapan anak-anak itu.


“Ehem. Aku ini benar-benar manager sekaligus pemilik tempat ini. Namaku Joel. Kalian pernah bertemu denganku beberapa kali di sini”


“Berapa kali tepatnya?” tanya seorang anak dengan wajah ragu-ragu


“Em…tiga. Atau empat ya? Aku lupa”


“Kau saja menjawab tidak niat begitu! Aku yakin kau penjahat!. Sekarang keluar!!” teriak Theo marah


“Aku benar-benar pemilik tempat ini! Arkan adalah karyawanku dan aku datang ke sini karena curiga dengan semua laporan yang dia berikan padaku pagi ini jadi aku melihatnya sendiri. Tidak bisakah kalian percaya padaku? Lihat ini, aku sangat manis dan menggemaskan~”


“……”


Melihat pria bernama Joel itu membuat wajah tersenyum merona seperti strawberry membuat semua anak-anak termasuk Theo merinding ketakutan.


“Kau jelek seperti Justin” kata Theo dengan nada datar tanpa ekspresi


-Jleb


Sungguh kalimat yang tajam dari seorang anak kecil. Seakan melupakan perlakuan anak-anak yang memukulnya, sekarang dia justru berdiri dengan wajah sedih sambil menangis dan aura suram yang mengelilingi tubuhnya.


“Jelek seperti Justin katanya. Hiks…aku tau dia jelek tapi aku tidak rela disamakan dengan orang seperti dia. Hiks...hiks”


Michaela terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan pria besar itu. Dia berjalan mendekatinya lalu menarik pakaiannya. Theo dan anak-anak lain menjadi panik.


“Michaela, jangan mendekati orang itu! Dia orang yang mencurigakan!”


Theo menarik tangan Michaela agar melepaskan pakaian pria itu tapi gadis kecil itu tersenyum pada Theo.


“Theo-niichan, paman ini tidak jahat”


“Hah? Apa yang kau katakan?”


“Dia menyebutkan namanya dulu pada kita. Bukankah Theo-niichan selalu bilang orang jahat tidak akan menyebutkan nama mereka saat ditanya? Paman ini menyebut namanya Joel. Artinya dia tidak jahat, sama seperti Kino-niichan”


“……”


Sekarang keadaan berubah. Theo terpaksa harus mendengarkan ucapan Michaela sejak dia ingat kata-katanya sendiri. Dia meminta semua anak-anak untuk menurunkan semua senjata yang dipegangnya.


“Jadi, paman…seandainya benar yang kau katakan itu, kenapa aku tidak ingat pernah bertemu denganmu?” tanya Theo dengan tatapan curiga


“Itu karena aku terlalu sibuk akhir-akhir ini jadi aku hampir jarang memeriksa tempat ini. Tapi…tapi meskipun jarang, aku tetap memantau tempat ini dengan baik. Kau tau kan, bisnis di tempat asing seperti ini penuh resiko!. Apalagi sejak…sejak…”


Joel menjadi gugup sehingga bicara terbata-bata seperti itu.


“Sejak tempat ini menjadi  tempat favorit si gorilla itu maksudmu?”


“Benar! Tepat sekali! Aku masih sayang pada nyawaku jadi aku tidak mau terus bertemu dengannya. Aku hanya sempat melihat kalian tiga kali ketika kebetulan aku ada. Sisanya karena kalian dan aku ada di tempat ini pada waktu berbeda. Aku tidak berbohong, aku serius! Percayalah padaku!!”


Joel terlihat sangat ketakutan dan mencoba meyakinkan semua anak-anak itu. Michaela mungkin percaya padanya sekarang dan diikuti oleh anak-anak yang lain. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku kepada Theo. Sikapnya itu justru mengundang pendapat berbeda dari anak itu.


Terima kasih pada sikap Joel yang gugup dan ketakutan itu, sekarang Theo menjadi semakin curiga dan menemukan sebuah cara untuk menyerang mentalnya.


“Kau tetap saja terlihat seperti om-om mesum untukku, paman”


******