
Di ruang 2, di saat seluruh peserta keluar setelah ujian…
Ryou dengan mudahnya menghampiri Xenon dan si kembar sambil memegang tangannya.
“Kau, ikut aku sebentar”
Dia langsung menariknya pergi keluar. Tanpa diketahui oleh keduanya, mereka diikuti.
**
Di lorong koridor, mereka terus berjalan menjauhi ruang ujian sebelumnya. Ryou sama sekali tidak memperlambat jalannya, membuat Xenon terus meminta Ryou untuk berhenti melepaskan tangannya.
“Ryou, lepaskan dulu. Aku akan mendengarkanmu jadi sebaiknya lepaskan sekarang”
Langkah kaki Ryou terhenti. Namun, dia masih belum melepaskan tangan Xenon. Sekarang ini, genggaman tangan Ryou semakin keras sehingga membuat Xenon mulai bingung.
“Ryou, kau kenapa?”
Tangan Ryou melepaskan pergelangan tangan Xenon dan dia langsung menengok sambil melihat pengujinya itu.
“Kau lihat apa yang dilakukan oleh peserta menyebalkan nomor 112! Dia nyaris memenggalmu tadi!” gerutu Ryou
“Aku tau. Aku yang bilang padamu soal itu. Kenapa dibahas lagi? Lagipula, aku sudah katakan padamu untuk tidak melakukan atau mengatakan hal yang macam-macam. Jangan bilang kau sendiri yang mengatakan hal itu pada peserta tadi?”
Tebakan Xenon tepat. Ryou sebelum ini secara terang-terangan bertanya soal setengah elf dan rencana peserta itu untuk mencelakai Xenon.
Ryou berusaha menutupinya dengan kebohongan.
“Aku tidak melakukannya”
“Bohong. Kau kira aku tidak tau sifatmu itu? Kita memang baru saling mengenal, tapi dari caramu menyikapi sesuatu dengan mulut pedas yang kau punya, aku bisa dengan mudah menebak kalau kau baru saja langsung mengatakan hal yang to the point”
“……” Ryou terdiam mendengarnya
“Apa? Kenapa diam?” Xenon jadi bingung
Ryou bergumam, ‘Ternyata di sini juga ada istilah kalimat to the point ya. Wow!’
Sekarang, gumaman Ryou dalam hatinya justru memikirkan hal yang tidak berguna sama sekali. Menakjubkan.
Kembali ke pokok masalah sekarang, Ryou akhirnya tidak bisa mengelak setelah mendapat kalimat barusan.
“Aku…”
“Apa?” Xenon masih menunggu penjelasan Ryou
“Aku mengatakan padanya soal aura membunuh yang aku rasakan bersama Kino dan Kaito. Dia mengeluarkan aura yang sama seperti yang ada pada saat kami selesai melakukan pendaftaran kemarin”
Xenon terbelalak tidak percaya. Dia tidak tau harus teriak atau marah pada murid sihirnya itu.
“Kau…bo–…lupakan”
Niatnya ingin mengumpat kata ‘bodoh’ pada Ryou tadi, tapi tidak jadi karena akan berakibat fatal nantinya.
‘Jangan sampai beradu mulut dengan dia di sini. Bisa gawat kalau sampai ada murid atau peserta lain yang tau kami berdua saling kenal satu sama lain’
Xenon mengendalikan dirinya sendiri dan bertanya dengan pelan.
“Kau bilang kau langsung bertanya, bukan…kau bilang kau langsung mengatakan padanya soal aura itu pada peserta nomor 112. Lalu, bagaimana responnya terhadap ucapanmu itu?”
“Dia seperti tidak senang dan mengatakan bahwa aku menuduhnya. Tapi aku tidak tahan dengan aura yang dia miliki itu! Aku sangat yakin bahwa dia memang menargetkanmu sejak awal, Xenon!”
Ryou masih melanjutkan kalimatnya, “Luna dan Piero, peserta nomor 99 dan 50 yang kau luluskan itu menjelaskan semua isi pertarungannya padaku”
“Dengan penjelasan dari mereka, aku juga langsung mengatakan pada setengah elf itu kalau dia sengaja ingin membunuhmu tapi seolah itu adalah kecelakaan”
“Dia memang mengelak sampai akhir, tapi aku merasa dia juga nyaris membunuhku tadi”
“Awalnya aku coba melihat psikologi miliknya dan memperhatikan tiap detail dari raut serta ekspresinya. Mungkin saja dia akan terpancing”
“Tapi justru kau yang kehilangan kendali. Dasar ceroboh” Xenon hanya bisa menghela napas pendek setelahnya
Ryou mulai berpikir sejenak dan bertanya pada Xenon.
“Dia ingin membunuhmu. Sekalipun kau ingin mencari informasi seperti yang kau katakan padaku sebelumnya, bukankah itu terlalu berbahaya?”
“Ryou…”
“Pokok masalah ini dan semua yang terjadi di Negara ini adalah konspirasi yang diawal oleh perang yang terjadi 50 tahun lalu. Kalian juga terkena sihir yang bisa menyegel ingatan. Kau mungkin sudah mengingat semuanya, tapi bagaimana dengan yang lainnya?”
“Xenon, ini konspirasi pihak dalam dan bangsawan terlibat di dalamnya. Aku dan kakakku serta Kaito mungkin akan membantumu mencari dalang dari pihak yang membantu para pemberontak ini dari dalam akademi”
“Tapi kami juga tidak ingin kau sampai terluka nantinya. Kino dan Kaito akan kuberitau soal ini”
Xenon melihat Ryou, “Memberitau soal apa?”
“Soal dirimu yang menjadi incaran dari penyusup dan tentang si penyusup itu. Aku sudah tau seperti apa wajah setengah elf itu dan aku yakin dia datang bersama dengan teman-temannya untuk tujuan yang sama”
“Aku sarankan untuk tidak membahas ini dulu di sini, Ryou”
“Tapi ini penting. Kau harus melihat dari sisi keselamatanmu!” Ryou mencoba meyakinkannya kembali
“Aku mengerti. Tapi aku sarankan kita tidak membahasnya sekarang. Kita bisa membicarakan ini setelah selesai” kata Xenon
Ryou hanya mengangguk. Di saat Xenon tersenyum, ekspresi wajah Ryou terkejut melihat kedua saudara kembar itu datang mengejar mereka.
“Kalian berdua!” teriak Jene
Xenon melihat ke belakang dan melirik Ryou setelah itu. Ryou mengerti arti dari lirikan itu, yang dimaksudkan untuk tidak membahas apapun pada Jessie dan Jene.
“Kalian berdua, kenapa terlihat seperti memiliki urusan yang begitu penting? Apa yang kalian bicarakan?” Jene begitu ingin tau apa yang dibicarakan oleh keduanya
“Tidak ada. Ini hanya sebuah hal yang tidak ada hubungannya dengan kalian berdua. Berhentilah ikut campur” jawab Ryou ketus
Jene tampaknya tidak senang dengan ucapan Ryou dan membalasnya.
“Ini adalah urusanku juga sejak dia adalah calon iparku”
“Baru calon iya kan? Lagipula, urusan pribadi iparmu sekalipun bukanlah urusan yang harus kau ketahui. Makanya, aku bilang berhentilah ikut campur”
Jene menjadi emosi, namun dia tidak mau membuang tenaganya. Dia langsung bertanya pada sang calon adik iparnya.
“Xenon, kau berhutang penjelasan padaku”
“Jene-sama, ini bukanlah hal penting. Sebaiknya tidak mempermasalahkan hal ini. Selain itu, aku juga tidak ingin mengatakan hal pribadiku kepada kalian. Ini urusan pribadiku dengan Ryou. Aku mohon pengertiannya”
“Kenapa? Apa kami begitu tidak bisa dipercaya olehmu?! Kita ini teman, kan?”
Jessie mendekati tunangannya dan mencoba bicara dengannya.
“Xenon, apa kamu yakin tidak ingin mengatakannya padaku?”
“Ini benar-benar bukan hal penting, Jessie-sama”
“Tapi, Xenon dan anak itu seperti menyembunyikan sesuatu. Semalam juga kalian pergi begitu saja. Aku dan Jene akan membantumu, apapun itu”
“Terima kasih untuk niat baiknya. Aku akan mengatakannya pada kalian jika aku memang membutuhkan bantuan. Untuk sekarang, aku masih bisa sedikit berusaha lebih keras lagi”
Xenon langsung pergi meninggalkan kedua saudara kembar itu dan Ryou. Jene memanggilnya, namun dia tidak menengok. Ryou menghela napas berat.
“Kenapa?!” tanya Jene sinis
“Dengar, aku tidak tau serumit apa hubungan kalian. Tapi aku akan memberitau kalian sesuatu soal sikapnya itu”
“Apa kamu tau sesuatu?” Jessie bertanya dengan penasaran
Ryou mengatakan hal yang tidak disangka-sangka.
“Dia begitu karena tidak ingin melibatkan siapapun. Seharusnya, jika kalian memang teman dan tunangannya, hargai itu. Kalian tidak akan mendapatkan kepercayaannya jika terus memaksanya”
“Jika ingin membantunya, sebaiknya kalian melakukannya diam-diam atau paling tidak…berhentilah memaksanya bercerita”
Jene merasa kesal dan mendekati Ryou. Dengan tatapan sinisnya, dia bertanya “Tau apa kau mengenai dirinya?!”
“Aku tidak tau apapun tentangnya karena kami hanya kenal selama kurang lebih tiga hari. Tapi, aku tau bahwa dia mencoba yang terbaik untuk tidak merepotkan siapapun”
“Terlebih, dia yang selalu menganggap dirinya rendah itu sangat peduli pada orang-orang di sekitarnya”
“Kalian yang telah mengenalnya lama seharusnya tau, kenapa dia bisa bersikap seperti itu dan kenapa dia menganggap dirinya begitu rendah di mata yang lain”
Ryou pergi meninggalkan kedua saudara kembar itu.
Dari sini, Jessie dan Jene sadar bahwa ada sebuah tembok besar yang dibangun Xenon untuk mereka.
******