Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 25. Hari yang Tenang bag. 2



Di pagi hari itu, Kaito menghabiskan waktu cukup lama di dalam toko pakaian tersebut. Dia masih sibuk dengan beberapa promosi pakaian murah yang ditawarkan oleh pelayan, tetapi dia hanya diam saat pelayan menjelaskannya.


Ini tidak seperti dia senang berbelanja atau pemilih, hanya saja yang membuatnya tidak bisa mengatakan apapun adalah karena di setiap sudut tempat yang luas itu telah berubah menjadi medan pertempuran yang sengit.


Banyak suara dari para pelanggan yang hampir semuanya adalah perempuan dan mereka mulai memiliki sorot mata tajam dengan suara teriakan dimana-mana.


‘Aku merasa tempat ini akan menjadi seperti waktu itu. Aku harus segera menyelesaikan ini semua dan pergi dari sini sebelum banyak barang yang dilemparkan oleh para wanita di belakangku”


Kaito hanya bisa memikirkan hal itu sejak dia bisa merasakan aura hitam tidak mengenakan dari belakang. Dia memutuskan untuk tidak akan melihat ke belakang punggungnya dan sebisa mungkin keluar dari tempat itu dengan selamat.


“Apakah anda ingin mengambil pakaian ini atau ada yang lain lagi, tuan?”


Pelayan tersebut memberikan senyuman bersinar kepada Kaito. Kaito tidak mengatakan apapun dan memberikan beberapa koin emas dari sakunya kepada pelayan tersebut. Dengan cepat pelayan membungkus semua belanjaannya dan Kaito bergegas pergi dari tempat itu.


“Aku rasa aku tidak akan masuk ke toko ini lagi setelahnya. Wanita ternyata bisa lebih menakutkan jika melihat barang-barang diskon”


Kaito mencoba menjaga ekspresinya untuk tetap tenang walaupun pada kenyataannya tidak seperti itu.


Dia berjalan kaki dengan membawa tiga kantong belanjaan bersamanya. Entah kenapa dia berjalan dengan perasaan tenang, seperti tidak ada yang dipikirkannya.


Mungkin ini adalah perasaan senang yang dirasakannya setelah perjuangan panjang. Dia mengingat banyak hal yang terjadi sebelum bertemu dengan kedua remaja yang sekarang bersamanya.


‘Aku selalu membayangkan mungkin aku tidak akan pernah merasakan hal seperti ini. Aku tidak ingat berapa lama aku terus berputar-putar di ‘kedua dunia’ ini hanya untuk menemukan petunjuk kepingan ingatanku. Sejujurnya aku sudah putus asa dan mungkin aku hanya akan terus bertarung tanpa menemukan apapun di tempat ini. Sampai akhirnya aku bertemu dengan mereka’


Kaito mengingat semua perasaan yang mungkin telah dia lupakan selama ini. Terus melakukan perjalanan ke tempat dan dunia yang tidak diketahui olehnya sambil terus mencari sesuatu yang bahkan tidak diketahui petunjuk keberadaannya. Kaito bahkan berpikir bahwa dia mungkin sudah lelah secara mental dan mengakui itu.


‘Jika aku sendiri, aku mungkin akan menyerah sekarang. Jam saku ini pun hanya mengantarkan aku ke lokasi kepingan ingatanku tanpa memberikan kekuatan apapun. Selain itu, aku benar-benar tidak percaya pada keberuntunganku. Mereka seperti musuh dalam selimut, sama sekali tidak bisa diandalkan. Bahkan aku merasa aku sudah hampir mati berkali-kali karena tingkat keberuntungan ku sangat kecil. Kurasa ‘orang itu’ juga sudah mengetahui hal tersebut’


Kaito menyadari keberuntungan miliknya itu benar-benar senang bermain dengan nyawanya dan dia tidak menyangkal semua itu.


Tapi, tidak ada yang mengira bahwa takdir mempertemukan dirinya dengan kedua remaja itu. Sepanjang jalan, dia melihat jam saku miliknya dan memperhatikan setiap detail jam tersebut.


“Bentuk dan warna milik mereka benar-benar mirip sekali dengan jam ini, bahkan ukiran di dalam tutupnya pun persis. Hanya saja, pada jam milik mereka terdapat banyak sekali goresan dan terlihat sedikit pudar. Terlalu mustahil bila disebut kebetulan, apalagi benda ini pemberian dari ‘orang itu’. Tidak mungkin benda ini bisa dimiliki dengan mudah”


Sejak awal dia merasa bahwa jam saku milik mereka memiliki hubungan dengannya. Meskipun sampai saat ini hal itu belum terbukti atau hanya tebakannya saja, namun untuk sekarang Kaito tidak mau memikirkan hal itu. Cukup perasaan senang untuk saat ini dan dia berharap takdir yang membawanya dalam pertemuan dengan mereka tidak mengkhianatinya.


Setelah berjalan beberapa menit dan sampai di penginapan kembali, Kaito melihat jam sakunya kembali.


“Sudah jam 08.55. Aku yakin mereka berdua pasti sudah tidur. Kurasa hadiah ini bisa disimpan untuk nanti”


Kaito memasukkan kembali jam sakunya dan menaiki tangga menuju kamar. Dia mengetuk pintu tiga kali dan tidak ada tanggapan apapun dari mereka. Akhirnya dia mencoba membuka pintunya. Kaito tidak terlihat terkejut saat mendapati pintu ruangan tersebut tidak dikunci kembali oleh keduanya.


“Sepertinya orang dari dunia lain memiliki kebiasaan untuk tidak pernah mengunci pintu kamar mereka meskipun sudah kutinggalkan di meja”


Kaito meletakkan belanjaan di meja dan mengambil kunci ruangan tersebut dari atas meja lalu mengunci pintunya. Setelah berbalik ke tempat tidur, dia melihat dua remaja yang tidur seperti bongkahan kayu, begitu tenang bahkan sama sekali tidak bergerak meskipun ada suara di dekatnya.


“Mereka benar-benar sudah berjuang sampai sejauh ini. Bukan hanya berusaha saling melindungi satu sama lain, tapi mereka juga telah menolongku. Kurasa mereka memang bukan anak-anak normal”


Kaito hanya tersenyum melihat mereka tertidur. Dia melepas sabuk pedang dan meletakkannya di samping tempat tidur berukuran kecil itu. Setelah itu dia berjalan ke lemari kayu, mengambil handuk kecil dan pergi menuju ke kamar mandi. Dia memutuskan untuk memanfaatkan momen tenang itu untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah kurang lebih lima belas menit, dia keluar mengenakan pakaian yang sama seperti sebelumnya, termasuk jubah kesayangannya dengan keadaan rambutnya yang basah.


Di penginapan itu, kamar mandi yang tersedia memang tidak memiliki bathtub dan hanya ada alat shower, namun mereka menyediakan sampo dan sabun lengkap untuk pelanggan yang menginap di sana. Rambut hitam Kaito yang basah membuat penampilannya begitu terlihat misterius dan terkesan maskulin dengan warna mata biru miliknya.


Setelah selesai mengeringkan rambutnya, dia mengalungkan handuk kecil itu di leher dan merebahkan dirinya di atas kasur. Matanya masih terbuka dan tidak terlihat mengantuk sama sekali.


“Jika aku tidur sekarang, apakah aku masih akan melihat mimpi buruk itu lagi ataukah aku akan melihat wajah kedua pasangan itu?”


Kedua pasangan yang dimaksud adalah suami istri yang dilihatnya dari kepingan ingatan miliknya. Dia menyimpulkan bahwa mereka adalah kedua orang tuanya dan anak yang digandeng oleh mereka adalah dirinya. Dia tidak percaya sepenuhnya pada ingatan itu sejak mereka hanyalah sekeping ingatan yang masih belum lengkap.


“Jika itu memang benar mereka, akhirnya aku bisa melihat seperti apa wajah kedua orang tuaku”


Kaito masih memikirkan wajah kedua pasangan tersebut. Dadanya merasakan perasaan yang spesifik tapi tidak dipungkiri bahwa sejak permata itu masuk ke dalam tubuhnya, pikirannya menjadi lebih jernih. Juga, untuk alasan yang belum diketahui pasti, ada perasaan rindu walaupun samar saat dia melihat bayangan ingatan itu. Seolah berdoa untuk melihat wajah mereka lagi dalam mimpi, Kaito mulai memejamkan matanya dan tertidur.


***


Sebuah kabut menyelimuti sesuatu. Semakin lama, kabut itu semakin hilang dan dari kejauhan terdengar suara seorang wanita yang memanggil.


“$&^&, sudah waktunya untuk pulang” wanita itu memanggilnya dari kejauhan


Kaito melihat wanita itu berdiri di depannya. Fisik wanita itu terlihat seperti berusia 20-25 tahun dengan rambut hitam lurus sepanjang bahu dan memiliki mata biru yang cantik. Dia mencoba untuk menyentuh wajah wanita itu sampai akhirnya dia terkejut karena wanita itu berjalan menembus tubuhnya.


Kaito berbalik dan melihat wanita itu mendekati seorang anak kecil. Anak kecil itu berjenis kelamin laki-laki berusia sekitar 6-7 tahun dengan rambut hitam, meskipun tidak begitu jelas seperti apa wajah anak itu tapi warna matanya yang biru sama seperti miliknya.


“Apakah ini mimpi ataukah ini ingatanku?”


Dia tidak asing dengan wajah wanita itu. Wajahnya sama seperti sosok wanita pada gambaran di ingatannya. Ada perasaan rindu saat melihatnya. Tanpa disadari, air mata menetes begitu saja.


“Ini…apakah aku menangis sekarang? Kenapa?” Kaito memegang pipinya


Tiba-tiba ada bayangan lainnya yang muncul dari sebelah wanita itu. Itu adalah sosok pria yang terlihat berusia sama dengan wanita di sampingnya dengan mata biru yang dilihatnya dalam ingatan. Mereka seperti bicara sesuatu tetapi Kaito hanya bisa melihat mereka tanpa bisa menyentuhnya.


“Apakah $&^& sudah selesai bermain? Kita bisa pulang sekarang, kan?” pria itu tersenyum dan menggandeng tangan anak itu


“Besok aku bisa bermain lagi?”


“Tentu. Kami akan menemanimu lagi besok, tapi sekarang kita pulang dan makan malam bersama. Ayo, kemari”


Kaito tidak bisa melihat dengan jelas dimana lokasi bayangan itu dan apa yang sebenarnya dilakukan anak itu. Dia hanya tidak bisa mendengar satu kata yang keluar dari mulut mereka. Itu seperti nama dari sang anak.


“Apakah ini benar ingatanku? Bisakah aku percaya pada ingatan ini? Tapi…entah kenapa aku merasa sangat merindukan wajah mereka…”


Air mata masih mengalir dari matanya. Dia hanya bisa melihat mereka mulai menggandeng tangan anak itu dengan senyuman.


“$&^& sangat senang sekali hari ini” anak itu tersenyum dengan ceria


“Syukurlah. Makan malam hari ini adalah kesukaan $&^& semua, karena itu kita cepat pulang lalu kami akan mendengarkan ceritamu hari ini” wanita itu tersenyum bahagia kepada sang anak


Sang anak mengangguk dan tersenyum ceria sekali. Itu benar-benar seperti sebuah kenangan manis dari sebuah keluarga kecil yang bahagia dan Kaito hanya bisa terpaku melihatnya.


Bibirnya tidak bisa mengatakan apapun meskipun dia membuka mulutnya. Hanya bisa menunjukkan ekspresi wajah sendu seperti merindukan semua itu. Dia masih belum tau apakah benar itu kenangan masa kecilnya atau bukan, tetapi yang jelas semua bayangan itu mirip dengan gambaran saat permata itu masuk ke tubuhnya.


Sedikit demi sedikit bayangan kenangan itu menghilang dan yang tersisa adalah Kaito yang berdiri seorang diri. Sebuah cahaya mulai mendekati Kaito dan terdengar suara yang memanggilnya.


“….To….Ito”


“…..Aito….”


Suara itu semakin jelas sampai akhirnya terdengar seperti teriakan keras dari seseorang yang tidak asing lagi untuknya.


“Kaito!! Kaito bangun!!”


Kaito yang kaget langsung membuka matanya. Dia mencoba mengatur napas dan melirik ke sisi kanannya. Kaito melihat dua sosok yang dikenalnya. Mereka menatap wajahnya dengan ekspresi terkejut dan begitu panik.


“Kaito-san, apa kamu baik-baik saja? Kami membangunkanmu tapi Kaito-san sama sekali tidak bergerak”


“Kau masih ingat siapa kami, kan? Katakan padaku, berapa jumlah kaki kambing sialan yang menendang tubuhku semalam?”


“……” Kaito terdiam sesaat mendengar pertanyaan aneh Ryou dan menjawab “dua” dengan suara agak serak.


Kaito bangun dan duduk di tempat tidur. Dia sedikit menenangkan pikirannya sambil menghapus air matanya. Terdiam dan berpikir sejenak, Kaito sepertinya masih mempertanyakan tentang semua yang dilihatnya.


‘Apakah ini karena ingatan yang baru saja aku dapatkan? Semua yang terlihat dalam mimpi barusan terasa nyata seakan aku memang pernah mengalaminya. Bisakah aku mempercayai semua itu adalah bagian dari ingatanku yang hilang? Atau haruskah aku menyangkal semua itu?’


Wajah kaku Kaito membuat Ryou sedikit kesal dan memukul pundak Kaito perlahan.


“Oi!”


“Ah!. Maafkan aku. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku hanya habis bermimpi” Kaito berusaha menunjukkan wajah tenangnya


“Mimpi sampai membuatmu menangis? Kaito-san yakin itu bukan bermimpi buruk?” Kino terlihat mencemaskan Kaito


“Tidak. Justru sebaliknya, aku merasa sangat merindukan pemandangan dalam mimpi itu sampai membuatku menangis. Aku sudah tidak apa-apa, terima kasih sudah membangunkanku”


Kaito tersenyum melihat mereka walaupun wajah kedua orang itu masih tidak yakin, tapi mereka memutuskan untuk tidak banyak bertanya. Ryou melihat Kaito mengalungkan handuk kecil di lehernya dan memperhatikan rambutnya.


“Kaito, apa sebelumnya kau habis mandi? Rambutmu dan handuk di lehermu itu–”


“Ini? Sepulang dari luar, aku langsung mandi dan tidur sebentar. Aku melihat kalian tidur dengan nyenyak jadi aku tidak tega membangunkan kalian”


Kino berjalan menuju meja dan memegang kantong belanja yang ada di atas meja.


“Kaito-san, kantong apa ini? Ini seperti pakaian”


“Pakaian?” Ryou pergi dan melihatnya sambil berkata, “ini benar-benar pakaian. Apa kau membutuhkan semua ini?”


“Itu bukan untukku. Itu untuk kalian berdua. Kurasa kalian harus mengganti pakaian kalian itu dengan yang baru”


“Untuk kami?” Kino terlihat terkejut


Kaito berdiri dari tempat tidur dan menghampiri mereka. Dia mengeluarkan semua isi dari ketiga kantong belanja tersebut dan menunjukkan isinya.


“Ini adalah pakaian yang menurutku cocok untuk kalian. Aku tidak menganggap pakaian kalian itu aneh. Hanya saja aku merasa bahwa kalian mungkin akan membutuhkan pakaian ganti. Walaupun sebenarnya selama berada di ‘kedua dunia’ ini, semua yang rusak dan bagian yang terluka akan langsung kembali seperti semula tapi aku hanya berpikir kalian akan memerlukan ini”


“Jadi, ini alasan kenapa kau meminta kami menunggumu kembali saat kami ingin mandi?. Benar-benar di luar dugaanku” Ryou masih melihat-lihat semua pakaian itu


Kedua kakak beradik itu melihat semua pakaian di atas meja. Mereka terlihat cukup senang dengan semua itu, terutama Ryou yang terlihat sangat senang dengan jubah berwarna hitam yang dibeli oleh Kaito. Ukurannya all size, jadi baik Kino atau Ryou bisa memakai semua pakaian tersebut.


“Terima kasih banyak, Kaito-san! Aku sangat senang sekali!. Aku akan mandi dan aku akan mencoba memakainya sekarang”


Kino mengambil beberapa helai pakaian yang menurutnya cocok dan langsung pergi untuk mandi. Kaito tidak hanya membeli pakaian luar tetapi karena terlalu perhatian, Kaito bahkan membeli beberapa pakaian dalam juga untuk mereka. Entah kenapa meskipun dia tidak yakin dengan ukuran tubuh mereka, dia tetap membeli beberapa sebagai pilihan.


“Kau benar-benar membeli ini semua?”


“Aku membelinya dengan penuh perjuangan. Kenapa? Apa kau tidak menyukainya?”


“Aku tidak mengatakannya. Hanya saja, tidak biasanya kau membeli barang seperti ini. Akhirnya aku tau alasan lain kau menjual semua penawar itu. Ternyata bukan hanya untuk membayar penginapan tapi juga membeli semua ini. Aku senang, terima kasih banyak ya!” Ryou tersenyum senang


“Sama-sama. Aku mencoba yang terbaik. Selain itu, aku yakin kau juga pasti membayangkan betapa jijiknya darah goblin itu. Aku tidak yakin dengan ukuran semua yang kubeli jadi aku memilih semua yang terlihat pas di tubuh kalian, termasuk jubah itu”


“Tapi kau tidak mengganti jubahmu. Kau yakin tidak mau melepaskan itu? Cairan menjijikan itu juga mengenai hampir seluruh bagian jubahmu, Kaito”


Kaito melihat jubah yang dipakainya dari sehabis mandi sampai tidur. Karena dia begitu menyukai jubahnya itu, dia memutuskan untuk tidak melepasnya.


“Ini sudah menemaniku sejak perjalanan pertamaku. Aku merasa benda ini sudah menjadi bagian dariku, sama seperti pedangku. Meskipun membayangkan cairan ungu di jubah ini membuatku kesal, tapi aku merasa sayang melepasnya”


“Hmm…berarti tujuanmu mengatakan kau jijik dengan darah goblin sampai mencari penginapan dengan fasilitas kamar mandi itu hanya sebuah alasan saja. Kau memang hanya ingin mandi saja kan?. Dasar!”


“Anggap saja begitu” Kaito hanya tersenyum menanggapi kata-kata Ryou


Setelah kurang lebih sepuluh sampai lima belas menit, Kino keluar dengan senyum cerianya. Di tangannya dia membawa pakaian awalnya. Itu adalah pakaian ganti yang dikenakannya setelah pulang sekolah untuk makan malam sebelum terlempar ke tempat itu.


“Lihat ini! Ukurannya sangat pas untukku. Kaito-san bahkan membeli pakaian dalam yang tidak terlalu besar. Ryou juga harus mencobanya. Terima kasih banyak, Kaito-san!”


Wajah memerah Kino menunjukkan dia begitu menyukai pakaian itu. Pakaian itu terdiri dari pakaian panjang sebagai lapisan pertama berwarna hitam dengan pakaian pendek untuk lapisan luarnya berwarna biru.


Dengan perpaduan celana panjang berwarna hitam dan sabuk ikat di luar berwarna perak, semua perpaduan pakaian itu sangat cocok dengan kulit putih Kino. Benar-benar ciri khas pakaian di dunia fantasi tapi versi nyata.


Melihat Kino memakainya, Ryou juga pergi untuk mencobanya. Kino memasukkan pakaian lamanya ke kantong belanja untuk disimpan dan dibawa nanti. Tentu saja celana panjang yang dibeli Kaito memiliki saku yang dalam untuk menyimpan benda berukuran kecil atau sedang seperti jam saku atau pisau. Kaito mirip seperti kakak atau orang tua mereka dibandingkan teman senasib.


“Terima kasih banyak Kaito-san”


“Akulah yang seharusnya berterima kasih padamu. Selain itu–”


Kaito memegang kedua tangan Kino dan menggenggamnya dengan erat.


“Terima kasih karena sudah mau mempertaruhkan nyawamu untuk permata itu. Meskipun aku sudah mengatakan ucapan terima kasih itu padamu beberapa waktu lalu, tapi aku merasa rasa terima kasihku padamu masih belum cukup. Setelah semua resiko yang kau ambil dan luka parah yang kau terima, aku merasa semua itu masih belum membalas semuanya. Aku mendapatkan permata itu berkatmu dan aku bisa melindungimu karena bantuan adikmu juga. Terima kasih banyak”


Kino tidak bisa berkata apapun mendengar Kaito mengatakan semua itu dengan suara seperti akan meneteskan air matanya lagi. Lagi dan lagi, Kaito terus mengungkit hal yang sudah dibahas sebelumnya. Kino mencoba membuat Kaito melupakan semua itu dan mengatakan semua yang Kaito lakukan untuknya sudah cukup membayar hutang budi padanya.


Kino bahkan tersenyum dan mengatakan “anggap saja pakaian ini adalah bayaran yang setimpal untuk usahaku”. Kaito tidak punya pilihan selain melepaskan genggamannya, mengangguk setuju dan mulai melupakan semua yang berlalu.


Sepuluh menit kemudian Ryou keluar dengan pakaian yang baru dibeli oleh Kaito. Pakaian panjang berwarna hitam dengan rompi lengan pendek berwarna putih dan jubah hitam sangat cocok dengan celana panjang hitamnya. Ryou langsung memakai sabuk pedangnya lagi dan penampilannya benar-benar terlihat seperti seorang petualang di dunia fantasi.


“Aku akui kau punya selera yang bagus. Aku senang dengan warnanya”


Kali ini Ryou bisa sedikit akur dengan Kaito. Tidak ada kalimat pedas keluar dari mulutnya dan itu adalah pertanda baik.


Kaito melihat jam saku dari saku dalam jubahnya. Waktu menunjukkan pukul 04.00 yang artinya sudah jam empat sore. Mereka tidur cukup lama dan memutuskan untuk memakan roti yang diberikan pagi ini sebagai makan siang yang sedikit terlambat.


“Kaito-san, kita menghabiskan waktu cukup lama untuk istirahat sampai lupa mempersiapkan semuanya. Apakah tidak apa-apa?”


“Kino benar. Kita bahkan tidak memiliki racun atau senjata yang cukup. Selain itu jika mengikuti aturan ‘kedua dunia’ yang pernah dibahas, semua senjata kita masih tersebar di seluruh kota ini. Bukankah berbahaya jika tidak dicari. Beberapa dari mereka masih memiliki efek racun” Ryou mulai terlihat panik


Mereka berdua akhirnya mulai memahami cara kerja ‘kedua dunia’ itu dan mulai berinisiatif memikirkan rencana. Hanya dalam waktu kurang dari dua hari sejak terjebak di ‘dunia’ tersebut, Yuki bersaudara sudah mengalami adaptasi yang menakjubkan.


“Kita memang membutuhkan persiapan matang menghadapi ‘dunia malam’ lagi. Masih ada waktu dua jam yang tersisa. Setelah keluar dari tempat ini, kita bisa pergi ke toko senjata dan tempat yang khusus menyediakan racun sebagai rencana cadangan”


Kaito seperti telah memikirkan semuanya dan itu terlihat dari sorot matanya. Dengan kata-kata itu, mereka tidak lagi bersantai memakan roti sambil mengobrol.


Hanya membutuhkan waktu setengah jam mereka merapihkan semua barang-barang mereka, membawa kantong belanja berisi pakaian lama mereka dan pergi dari penginapan itu.


Satu setengah jam yang tersisa dipakai oleh mereka pergi berkeliling ke jalanan utama di kota itu untuk mengunjungi beberapa toko senjata selain tempat pertama yang dikunjungi mereka sebelumnya.


Setelah menghabiskan waktu selama satu jam di beberapa toko senjata dan mendapatkan semua senjata yang dibutuhkan seperti pedang, pisau dan satu set busur dan anak panah, mereka pergi ke toko ramuan tempat Kaito menjual penawarnya pagi ini.


“Aku baru tau dalamnya seperti ini. Kau yakin membawa kita ke tempat seperti toko penyihir begini?”


Ryou berbisik ke Kaito dengan wajah panik karena melihat banyak sekali kumpulan bahan-bahan berisi tulang hewan beracun dan cairan aneh terpajang nyata di etalasenya. Wajah pucat Kino juga mewakili rasa paniknya.


“Tidak masalah. Alasan aku sedikit lama tadi pagi karena aku sudah memesan beberapa racun dengan kadar yang tinggi untuk efek mematikan secara instan. Memesan langsung dari ahlinya akan membuat presentase keberhasilannya lebih tinggi”


Penantian selama hampir setengah jam akhirnya tidak sia-sia. Saat pesanan Kaito selesai, mereka langsung mendengar suara dentangan jam besar berbunyi. Suara jam tersebut membuat mereka bertiga berlari keluar dari toko sebelum ‘dunia malam’ mulai datang. Di saat keluar, mereka seperti melihat hal yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.


“Bagaimana mungkin kami berada di sini lagi?!”


******