Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 176. Event Horror: Pemain vs Zombie bag. 3



Di luar kantin, Kaito sibuk dengan semua ‘tamu tak diundang’ yang terus berdatangan untuk ‘mengajaknya bermain sebentar’.


“Aku senang ide nekad yang biasa dilakukan Kino selama ini bisa aku praktekan sendiri”


Beberapa zombie datang mendekatinya dan Kaito mulai membunuh mereka. Karena di luar ruangan kantin banyak sekali noda darah dan mayat para zombie yang sudah tidak mungkin dihitung, Kaito menggunakan cara lain untuk membunuh mereka.


‘Aku harus pergi dari tempat ini. Dengan tumpukan mayat yang sangat banyak seperti ini dan kepala mereka yang menggelinding setiap aku penggal, akan sangat menyulitkan pergerakanku. Selain itu, aku penasaran dari mana sumber mereka’


Kaito mulai berlari sambil membunuh setiap zombie yang mendekatinya. Beberapa dari mereka mulai terlihat agresif dan ingin sekali menyentuhnya.


Seketika, Kaito memotong kedua tangan dan kaki para zombie yang mencoba menyentuhnya lalu memotong kepala mereka saat berhasil dijatuhkannya.


Sepanjang koridor itu, Kaito menyadari bahwa para zombie mulai mengikutinya dan mengabaikan pintu kantin itu.


“Tampaknya ini berhasil. Dengan menjauhkan diriku dari tempat itu, paling tidak mereka bisa selamat. Tapi, aku harus segera mencari dari mana para zombie itu masuk. Jika tidak, kemungkinan mereka akan berhenti menyerang”


Ketika berbelok ke arah kanan, Kaito menyadari bahwa para zombie itu tidak cepat mengikutinya.


“Mereka benar-benar lambat”


Meskipun begitu, para zombie itu tetap mengejarnya. Sedikit pemandangan lucu untuk Kaito bahwa zombie-zombie itu terlihat seperti anak kecil yang baru belajar berjalan.


“Apa semua makhluk yang bernama zombie itu seperti ini? Mereka tampaknya sangat tidak berbahaya. Tapi jika jumlahnya terlalu banyak, mereka benar-benar merepotkan”


Namun, Kaito akhirnya berlari kembali dan bersembunyi di salah satu ruangan. Dia memasuki tempat itu dan menutup pintunya untuk bersembunyi sehingga tidak terlihat oleh merka semua.


‘Ryou mengatakan bahwa mereka sangat sensitif terhadap suara. Selama tidak bersuara, mereka akan segera pergi dari sini’ pikirnya dalam hati


-GRAAA…GRAAA


Suara para zombie itu terdengar mulai mendekati ruangan tempat Kaito bersembunyi. Suara itu semakin mendekat dan mendekat. Hingga akhirnya Kaito mulai menyadari bahwa suara itu telah berada di depan pintu.


Sejak di dalam ruang kelas itu tidak memiliki jendela untuk melihat ke luar, Kaito hanya bisa mengira bahwa semua makhluk itu telah pergi.


‘Suaranya masih terdengar sedikit. Kurasa mereka sudah mulai menjauh’ gumamnya dalam hati


Kaito sempat melihat ruang kelas yang dimasukinya. Itu adalah ruangan yang penuh dengan noda darah dimana-mana.


“Tampaknya tempat ini sempat menjadi saksi bisu dari terciptanya zombie-zombie di luar. Selain itu, melihat noda darah ini, paling tidak ada lebih dari 4-5 orang yang mati karena terinfeksi” ucap Kaito pelan


Dilihat dari tempat itu, mereka memang tidak memiliki sesuatu untuk mengganjal pintunya, sejak semua kursi dan mejanya saling menyambung serta tidak adanya benda yang bisa dijadikan sebagai senjata.


“Aku rasa kelas dari ketiga mahasiswa itu bentuknya seperti ini”


Kaito tampaknya sudah cukup melihat kelas itu dan pergi untuk mengecek kembali keadaan di koridor.


Dia membuka pintunya perlahan dan mengintip sedikit. Terlihat bahwa koridor itu kosong dan akhirnya dia kembali membuka pintunya sedikit lebih lebar. Hingga akhirnya dia benar-benar yakin bahwa mereka telah pergi dari area itu, Kaito keluar dan berlari.


‘Mari kita lihat apakah para zombie itu cukup pintar untuk kembali ke tempat itu lagi atau tidak’


**


Sementara itu, tidak lama setelah Kaito berada di luar pintu kantin…


Ryou sibuk membunuh makhluk jelek tidak menyenangkan itu. Di sisi lain, Park Cho Joon terlihat mengendap-endap menuju dapur kantin dan berhasil masuk.


Kim Yuram yang saat itu masih melihat isi chat pada ponselnya ingin berteriak ketika melihat si pengecut besar mulut itu masuk ke sana.


“Kang Ji Song, kenapa si pengecut itu ada di sini?!”


Ha Jinan dan Kang Ji Song melihat Park Cho Joon datang sambil tersenyum jahat.


“Cho Joon, bukankah kau seharusnya di luar?!” Kang Ji Song terlihat waspada melindungi kedua gadis di belakangnya


“Heh?! Biar saja para orang asing dan Seo Garam itu yang mati! Sebaiknya kalian juga pergi dari sini! Hanya aku yang boleh bersembunyi di tempat ini”


“Park Cho Joon! Aku tau kau itu pengecut dan tidak tau diri! Aku senang Kim Eunji tidak menerima pernyataan cintamu yang tidak berguna itu!” Kim Yuram akhirnya mengeluarkan suara keras karena membentaknya


Mendengar hinaan yang melibatkan Kim Eunji, Park Cho Joon mulai mengambil tindakan kasar. Dia segera menyerang Kang Ji Song yang berada di depan kedua gadis itu.


Kang Ji Song melawannya dengan memukul Park Cho Joon dengan kursi yang telah dia pegang untuk pertahanan diri. Namun sayang, Park Cho Joon berhasil menghindari pukulan itu dan menonjok perut Kang Ji Song sampai dia tidak bisa bangkit karena kesakitan.


“Agh!!”


-BUUK


“Agh!” Kang Ji Song menerima tendangan kuat pada perut dan dadanya


“Ji Song!” kedua gadis itu berteriak


Segera, Park Cho Joon menjambak rambut kedua perempuan itu dan menarik mereka dengan kuat hingga ponsel Kim Yuram terjatuh ke dekat tubuh Kang Ji Song.


“Lepaskan! Apa yang kau lakukan, orang gila! Lepaskan aku!” Kim Yuram berteriak


“Sakit! Aku mohon lepaskan aku! Park Cho Joon!


Kino yang masih sibuk dengan para makhluk itu sempat mendengar teriakan pada gadis yang seharusnya bersembunyi dalam dapur kantin. Namun selang beberapa menit setelahnya, dia begitu syok melihat ada seseorang yang menendang tubuh mereka berdua hingga terjatuh.


Itu adalah Park Cho Joon. Dia yang telah berbuat kasar pada kedua gadis itu.


“Kyaaa!!”


Kedua gadis itu terjatuh sambil menahan sakit karena tendangan dan dorongan dari Park Cho Joon. Dia segera masuk ke dalam dapur kantin kembali. Setelah itu, dia menyeret Kang Ji Song yang tidak berdaya keluar hingga membiarkannya terkapar di luar dapur kantin.


“Ha Jinan-san! Kim Yuram-sam!” Kino berteriak sambil berlari ke arah mereka


Tubuh kedua gadis itu tampak bersimbah darah di lantai akibat terjatuh di dekat genangan darah. Selain itu, ada sebuah kepala dari zombie yang menggelinding di dekat mereka membuat keduanya berteriak histeris.


“Apa ini?! Kyaaa!!!”


Seo Garam begitu terkejut. Mahasiswa lain yang masih fokus pada zombie yang tersisa mulai mundur perlahan ke arah kedua gadis itu.


“Jinan-san, Yuram-san, kalian baik-baik saja? Pegang tanganku. Akan kubantu kalian berdiri” ujar Kino seraya mengulurkan tangannya


“Kenapa kalian di sini?! Kita sudah sepakat bahwa kalian harus bersembunyi, benar kan?” bentak salah satu mahasiswa tersebut


“Park…Cho Joon…memukul Kang Ji Song dan menyeret kami ke sini!” Kim Yuram terlihat marah sekali


Semua mahasiswa lain melihat Kang Ji Song yang mencoba bangkit dan berdiri. Tapi semuanya menjadi histeris saat ada empat ekor zombie yang mencoba mendekati mereka. Kino yang telah membantu kedua gadis itu berdiri langsung meminta mahasiswa lain untuk mundur dan melindungi mereka.


“Kau mau apa, Kino-ssi?” tanya seorang mahasiswa lain


“Tolong lindungi mereka! Aku akan menghadapinya. Jumlah mereka tidak akan bertambah jadi cepatlah!”


“Kino-ssi! Kino-ssi!” Ha Jinan memanggil nama Kino sambil menangis


Tapi, Kim Yuram menariknya dan berlari ke belakang.


“Yuram, Kino-ssi…kita tidak bisa meninggalkannya”


“Jinan, kita jangan sampai mengganggunya! Selain itu, aku akan membalas perbuatan Park Cho Joon itu. Lihat saja nanti!” ucap Kim Yuram dengan penuh emosi


Sekarang, Ryou yang sudah melihat drama itu dari kejauhan sambil membunuh monster sudah mulai menyadari bahwa ada satu benalu yang harus disingkirkan.


‘Apa bedanya membunuh satu dua orang lagi setelah aku sudah memiliki label pembunuh di dalam namaku’ pikirnya dengan wajah tanpa ekspresi


Pandangan matanya ditujukan pada ruang dapur kantin yang jelas diketahui bahwa sekarang hanya Park Cho Joon sendiri yang ada di dalamnya.


Seo Garam segera berlari menolong Kino. Dia memukul zombie yang mendekatinya dengan penggorengan di tangannya dengan keras dari belakang. Setelah kepalanya dipukul dan terjatuh, Seo Garam langsung menghantamnya kembali dengan keras.


“Garam-san…terima kasih”


“Kino-ssi, jangan katakan…Park Cho Joon yang membawa mereka keluar”


“Benar. Sebaiknya Garam-san membantu Kang Ji Song-san untuk berdiri dan bawa dia ke belakang bersama yang lain. Sepertinya dia menerima serangan dari Park Cho Joon-san”


“Bagaimana denganmu?!”


“Aku yang akan menjaga kakakku!” Ryou datang setelah menendang zombie itu. Dia berkata pada Seo Garam “sebaiknya kau pergi sekarang”


“……” Seo Garam mengikuti perkataan Ryou dan pergi membantu Kang Ji Song


Sekarang, kedua kakak beradik itu harus menghadapi sisa makhluk-makhluk itu bersama.


******