
Di ruang rapat Dewan Sihir, Emily menyaksikan semuanya.
“Tampaknya Galaktika tidak bermaksud berkhianat. Emily rasa Lucas benar, dia bisa dimanfaatkan dengan baik”
“Tapi Emily ragu dia akan sepenuhnya memihak kami. Selain itu, gadis menyebalkan itu…Emily akan segera mengadukan semua ini pada Lucas saat mereka tiba”
“Misha…Emily akan mengawasimu dengan ketat”
**
Di lobi, Algeria masih bersama dengan Emilia dan Tatiana.
“Aku harap Emilia-sama tidak mengalami hal seperti itu lagi”
“Aku tidak apa-apa, Algeria-sama. Pendaftaran akan segera berakhir. Aku sudah mengatakan bahwa mereka semua bisa kembali ke sini di jam 1 siang. Kita bisa membersihkan semua ini”
Algeria melihat sekelilingnya dan bertanya pada keduanya, “Apakah kelompok Rebellenarmee tidak ada?” bisiknya
“Mereka tidak datang ke loket ini. Mungkin mereka berada di loket lainnya” jawab Tatiana sambil berbisik
“Begitu. Aku mengerti. Aku akan kembali ke ruanganku sebentar untuk memeriksa sesuatu. Kalian tolong urus yang ini ya. Siang nanti, kita mulai upacara penerimaannya”
Algeria pergi meninggalkan tempat tersebut. Emilia sesekali mengelus pipi yang ditampar oleh Misha sambil mengingat kalimat miliknya.
[Aku tidak akan pernah memaafkanmu, dasar wanita tidak punya perasaan! Karena itu tidak ada bangsawan yang ingin menjadi tunanganmu!]
[Kamu hanya boneka yang dikendalikan oleh kakakmu sendiri! Bahkan adikmu yang paling kecil lebih berbakat darimu dan adik keduamu yang tidak berguna itu!]
Emilia tidak tau harus merasa kesal atau sedih. Tidak ada perasaan khusus di hatinya dan seperti tidak ada amarah yang berlebih darinya.
Dia bahkan mengingat perkataan Ryou kepadanya.
[Sikap yang menganggap semua hal akan baik-baik saja selama kita berbuat baik. Memangnya dunia ini bekerja seperti itu?]
[Sesekali beranilah karena itu semua menyangkut harga dirimu sendiri]
Emilia sempat bergumam dalam hatinya, ‘Harga diri…apakah anak cacat sepertiku pantas memiliki harga diri?’
Tatiana yang melihat itu bertanya dengan wajah cemas, “Apa tamparan itu masih sakit, Emilia-sama?”
“Tidak. Aku tidak apa-apa. Ini sudah tidak sakit”
“Tapi pipimu masih sedikit merah”
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Terima kasih banyak, Tatiana-sama. Kita bereskan dokumennya dan bersihkan loketnya”
Tatiana hanya diam melihat Emilia pergi merapikan dokumen di loket.
******
Lucas dan kedua temannya akhirnya hampir sampai di gedung akademi.
“Setibanya di akademi, aku akan meletakkan belanjaanku di kamar. Kalian duluan saja ke ruang rapat. Emily pasti memiliki banyak hal yang ingin dilaporkan kepada kita” kata Mark
Lucas melihat Mark dan belanjaannya itu sambil berkata dengan ekspresi serius, “Baiklah. Tapi pastikan bahwa social experi–…lupakan saja. Aku yakin kamu tidak akan melakukan hal aneh”
Rexa masih berpikir sendiri.
‘Suratku seharusnya sudah sampai di tangan ayah. Aku yakin dia akan langsung bicara pada ibu mengenai ini’
‘Tapi aku tidak bermaksud untuk menghentikan pembatalan pertunanganku. Aku sudah lelah dengan Misha dan aku yakin ayah tidak tau soal konspirasi dari Earl Midford’
Rexa melihat kedua temannya, “Apakah menurut kalian aku harus membicarakan hal ini pada kedua orangtuaku?”
“Mengenai apa?”
“Konspirasi keterlibatan Earl Midford dengan kasus yang terjadi”
Lucas dan Mark melihat satu sama lain. Mark menjawab dengan tegas.
“Tidak untuk saat ini. Aku yakin ibumu yang setengah gila itu tidak akan mempercayainya. Selain itu, aku sudah katakan padamu untuk mengajarkan ayahmu yang bodoh itu cara mengendalikan mulut istri pertamanya”
Mata Mark berubah merah dan nada bicaranya berubah dingin sekarang.
“Aku tidak salah, Lucas. Perjodohan Rexa ini…kita semua tau siapa dalangnya. Dan semua ini adalah upaya lain dari Vexia untuk mendapatkan semua perhatian bangsawan dan menyalahkan Axelia, ibunda Xenon”
“Kejadian di masa lalu saat itu…aku tau betapa hancurnya Xenon sehingga dia bisa bersikap seperti ini pada Rexa”
“Tapi terlepas dari itu, aku tidak setuju jika Marquis van Houdsen terlibat dalam kasus yang kita hadapi. Sebisa mungkin jangan sampai ada anggota keluarga di luar Akademi Sekolah Sihir yang menyadari hal ini”
“Biarkan kita yang mengurusnya sebagai Dewan Sihir. Aku harap kamu mengerti cara untuk meletakkan prioritas dan pekerjaan, Rexa”
Rexa terdiam mendengar semua ucapan pedas Mark. Lucas sendiri tidak mengatakan apapun. Hanya bisa memejamkan mata dan menghela napas.
Mark kembali bicara.
“Aku tidak bermaksud menyinggungmu, tapi karena kita bertiga sudah saling mengenal satu sama lain bersama dengan Xenon dan kedua anak kembar Viscount Rottenburg, aku rasa bukan hal aneh jika kita bisa tau sifat asli tiap keluarga pahlawan”
“Aku hanya khawatir bahwa bukan hanya dari Midford yang melakukan tindakan ini. Bisa jadi ada keluarga lain yang bekerjasama dengannya”
“Segala kemungkinan harus kita prioritaskan, ingat itu”
“Selain itu, apapun hasil dari surat yang kamu berikan kepada Marquis van Houdsen mengenai pembatalan pertunangan ini, biarkan itu menjadi masalah keluargamu dan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan”
“Aku mengerti, Mark. Maafkan aku karena bertanya hal yang aneh” kata Rexa dengan nada lemas
“Dan soal Xenon, dia akan tetap berada dalam tanggung jawabku. Jadi, kalaupun nantinya masalah ini akan merambat kemana-mana dan melibatkannya, aku bisa menjadi orang yang ikut campur”
“Aku tau itu” kata Rexa sambil tersenyum
“Aku hanya suka mencari ribut dengan orang menyebalkan dan ibumu yang cerewet itu bisa jadi korbanku”
“Mark…” Lucas kali ini berusaha menenangkan Mark
Tanpa ekspresi dan rasa bersalah, Mark hanya diam dan mengabaikan Lucas.
Ketika sampai di akademi, Mark langsung pergi menuju asrama. Lucas dan Rexa menuju ruang rapat yang tentu saja melewati lobi utama dan keramaian.
“Aku harap tidak ada kekacauan selama kita pergi” gumam Lucas
“Aku tidak tau. Sebaiknya kita kembali sekarang”
Tanpa diketahui oleh Emilia dan Tatiana yang sebentar lagi selesai dengan loket mereka, keduanya menuju ruang rapat Dewan Sihir.
**
Sementara itu, beralih ke tempat ketiga remaja dari dunia lain berada.
“Mau apa kita ke tempat ini?” tanya Kino
Sekarang ini, posisi mereka berpindah ke sebuah gedung besar yang tinggi seperti menara. Sungguh perpindahan yang cepat sekali, mengingat mereka sedang dalam kondisi ingin sekali menemukan hal berguna sebagai informasi.
“Tempat ini sepertinya berpotensi menjawab semua rasa ingin tau kita. Di anime, semua yang berbentuk menara pasti menyimpan buku-buku kuno, buku sihir, grimoire dan hal-hal terlarang lain” kata Ryou dengan wajah penuh percaya diri
Kino hanya bisa diam dan mengeluh dalam hati.
‘Aku mohon tolong kali ini tidak ada masalah lagi’
Kaito mencoba menenangkan hati Kino, “Tidak apa-apa, Kino. Aku cukup percaya diri dengan Ryou kali ini”
“Kaito-san…tapi sejujurnya aku sudah sedikit kehilangan kepercayaan diriku pada adikku sendiri. Dia semakin…sulit ditenangkan”
“Kino, kalau kau sulit menenangkan Ryou maka kita berdua yang akan habis. Jangan menyerah ya, aku mendukungmu selalu. Hanya kau yang bisa membuatku kuat menghadapi mulutnya itu. Tolong, jangan menyerah”
Ryou yang sudah berjalan lebih dulu berteriak, “Kalian mau di sana terus?”
Kedua orang itu saling memandang dan memasang senyum penuh keterpaksaan. Akhirnya mereka memutuskan untuk pasrah kali ini.
******