Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 65. Petunjuk dan Awal Masalah Baru bag. 5



Kino begitu syok mendengar apa yang dikatakan oleh Stelani mengenai lima orang yang dibunuh oleh pria bernama Justin tersebut.


“Justin-sama memang begitu kejam pada siapapun, tidak peduli apakah itu anak-anak atau orang tua. Tapi sepertinya sejak kemarin kami dengar sepertinya Justin-sama sedang tidak enak hati” lanjut Stelani


“Itu karena dia sedang mencari orang yang dianggap pengganggu wilayahnya” Fabil menambahkan keterangan Stelani


“Pengganggu wilayah?”


“Justin-sama sepertinya mencari seorang pria dengan pedang tanpa sarung pedang. Kami sempat melihatnya pagi ini ketika menaikki anak tangga menuju altar. Kino-niichan, aku yakin itu adalah orang yang dicari Justin-sama” lanjut Fabil


Kino memperlihatkan ekspresi tidak biasa mendengar keterangan Fabil. Ada suatu kalimat di sana yang memberinya perasaan tidak biasa.


‘Pria dengan pedang tanpa sarung pedang katanya. Bukankah itu…Kaito-san!!’


Kino mengingat apa yang dikatakan Kaito kemarin sore.


[Tempat itu begitu lembab, kumuh, pencahayaan yang kurang dan penuh dengan orang-orang tidak ramah. Kurasa mereka bahkan tidak suka berhubungan dengan penduduk kota ini]


[Mengingat orang-orang itu tidak senang melihatku di sana, kemungkinan besar mereka benar-benar tidak suka berhubungan dengan penduduk kota ini]


Kino kembali berkata dalam hatinya.


‘Mungkinkah itu yang dimaksud oleh Kaito-san? Orang-orang yang tidak ramah itu, apakah mungkin itu adalah Justin yang dimaksud? Itu artinya kemungkinan Kaito-san sudah bertemu dengannya. Atau paling tidak, Kaito-san mungkin sudah bertemu dengan orang yang berkaitan dengan Justin’


Benang lainnya sudah terhubung dengan pemikiran Kino yang sebelumnya. Setidaknya, teori dalam otaknya sudah rampung hampir seluruhnya.


‘Ternyata ini alasan dibalik semuanya. Ditambah lagi, siapa yang menyangka bahwa Kaito-san secara tidak langsung terlibat dengan tempat ini. Apa mungkin Kaito-san sudah mengetahuinya atau justru hal itu terhubung dengannya tanpa sepengetahuan dirinya?’


Terlalu banyak pertanyaan di dalam otak Kino. Namun, satu hal yang jelas bahwa semuanya tidak terjadi secara kebetulan.


Seperti ‘kedua dunia’ itu yang menyeret Kaito, tampaknya ‘dunia’ sekarang juga seperti menyeret Kaito dengan dia dan adiknya sebagai tambahan di dalamnya.


“Ini lebih rumit dari sebelumnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Kino bergumam pelan


“Kino-niichan?” Fabil memanggil Kino dengan wajah heran


Setelah mendengar namanya dipanggil, Kino langsung memasang wajah serius kembali dan bertanya kepada mereka berdua.


“Stelani-chan, Fabil-kun, apakah kalian bisa menceritakan sedikit yang kalian tau mengenai hal itu? Mengenai pria bernama Justin yang membunuh di bar?”


“……” keduanya diam sesaat dan saling melihat satu sama lain


Hanya selang beberapa detik, Stelani bicara.


“Kemarin malam hanya Theo yang pergi ke bar dan menyaksikannya secara langsung jadi kami tidak tau detailnya. Hanya saja ketika kembali ke rumah, Theo menceritakan semuanya. Lalu malam itu saat kami pulang dari kota setelah belanja dan membeli roti, kami sempat hampir bertemu dengan lima orang anak buah Justin di jalan sana”


Stelani menunjuk ke belakang punggung Kino, lebih tepatnya ke arah sebuah gang kecil dengan banyak kotak barang dan tumpukkan plastik.


“Mereka tidak datang dari arah bar jadi kami berpikir kemungkinan mereka sudah mencari ke hampir wilayah sekitar sini untuk menemukan pria berpedang tanpa sarung pedang tersebut”


“……” Kino masih mendengarkan Stelani dengan baik


“Aku, Stelani dan Theo kemarin malam mendengar bahwa Justin-sama baru saja membunuh lima orang termasuk dua anak buahnya. Sepertinya alasan dia membunuh mereka karena gagal menemukan orang yang dicari Justin-sama. Hanya itu yang kami tau, Kino-niichan. Selebihnya kami tidak tau” kata Fabil menambahkan penjelasan yang dia tau


“Itu artinya hanya Theo-kun yang mengetahui semuanya?”


“Kurasa Theo juga hanya bisa bicara sampai situ, karena di saat itu tidak mungkin dia bisa berpikir dengan jernih” lanjut Fabil


“Kalian benar. Terima kasih sudah menjawabku dengan baik”


Kino terlihat mulai serius sekarang.


‘Dari apa yang kudengar, tampaknya pria bernama Justin ini bisa melakukan apapun dengan alasan kekuasaan. Bahkan kalau dipikirkan kembali, alasan dia membunuh kedua anak buahnya itu sangat tidak masuk akal. Aku sudah bisa memastikan bahwa orang itu memiliki kejiwaan yang buruk dan pengendalian emosi yang setingkat dengan anak berusia 5 tahun’


Mungkin sedikit aneh, tapi apa yang dipikirkan oleh Kino sekarang nyaris terdengar seperti sindiran yang berbasis pada kenyataan.


Seandainya hal itu diungkapkan olehnya secara langsung dari mulutnya dan di sampingnya sekarang ada Ryou yang mendengarkan, kemungkinan besar sang adik akan menangis karena bangga mendengar kakaknya bisa mengatakan sindiran pedas yang sangat elegan seperti itu.


Mari berdoa semoga Kino bisa menjadi pribadi yang semakin baik meskipun dia bisa melakukan sindiran seperti sang adik di kemudian hari.


Pada akhinya, semua yang dipikirkan Kino mulai terlihat jelas dan sekarang yang harus dilakukannya adalah menemukan Theo.


“Aku mengerti. Sekarang karena aku sudah mengetahui masalah kalian, aku akan membantu agar kalian lepas dari Justin-sama. Tetapi aku harus menemukan Theo-kun juga”


“Kino-niisan mau melawan Justin-sama?! Itu mustahil!” Stelani langsung teriak dengan wajah terkejut


Fabil juga tidak kalah kagetnya. Akan tetapi Kino tersenyum mendengar Stelani dan mengusap-usap rambut keduanya.


“Aku tidak akan melakukannya sendirian. Aku memiliki adik yang kuat dan seorang teman baik yang sangat ahli dalam urusan bertarung. Selain itu, aku harus mengatakan bahwa orang yang dicari pria bernama Justin itu kemungkinan adalah teman baikku tersebut”


“Eh?!”


“Orang yang dicari oleh pria bernama Justin itu bukanlah orang yang jahat. Setidaknya aku bisa menjamin hal itu dengan baik. Percayalah padaku”


Tidak ada diantara keduanya yang meragukan perkataan Kino, tentu saja mereka langsung percaya padanya. Kino tersenyum melihat mereka tersenyum dan mengangguk percaya padanya.


“Baiklah, karena kurang lebih aku dan kalian berdua sudah mengetahui kondisi dan situasi masing-masing, sebaiknya kita pergi dari sini. Aku sendiri masih harus menemukan Theo-kun”


Stelani dan Fabil melihat satu sama lain dan mengangguk yakin.


“Kino-niichan, sebenarnya kami berpikir kami tau kemana dia pergi sekarang”


“Benarkah itu, Fabil-kun?” Kino terlihat senang seperti mendapat pencerahan baru


“Benar. Kami rasa dia pergi ke bar karena di tempat asing ini hanya rumah kami dan bar itu saja yang selalu kami datangi”


“Bar ya…apa namanya?” Kino bertanya kepada Fabil


“Bar tua gaya klasik bernama [Barre des Noirs]”


“Kalau begitu, tolong tunjukkan padaku jalannya”


“Kami mengerti. Ayo, Kino-niisan” Stelani menggandeng tangan Kino


-CRAAAAAT


******


Ryou berlari mengejar Theo yang sudah berada di depannya. Meskipun begitu, mustahil untuk anak berusia 11 tahun mampu mengalahkan remaja yang memiliki keahlian dalam bidang olahraga seperti Ryou.


Dengan cepat Ryou bisa menyusul Theo dan menarik bagian belakang bajunya.


“Jangan kabur kau bocah! Kau kira kau mau pergi kemana, hah!!”


“Lepaskan aku! Aku harus segera kembali ke tempat teman-temanku! Lepaskan aku!!”


“Oi, berhenti memberontak!”


Ryou akhirnya memegang lengan Theo dengan kuat dan menariknya ke dinding yang berada di sisi samping tempatnya berada.


-Buuk


Karena dia mendorongnya cukup kuat, ada suara yang dihasilkan dari dorongan tersebut. Ini tidak seperti Ryou marah padanya. Sekilas setelah dia membuat anak itu tidak bisa bergerak karena ditahan oleh tangannya, Ryou menyadari Theo menangis dan terlihat pucat sekali.


“Oi, kau harus jelaskan padaku apa yang–”


“Teman-temanku dalam bahaya!!”


“Apa?!” Ryou terkejut


Belum selesai dia bicara, Theo sudah menangis dan berteriak ke arahnya dengan begitu putus asa.


“Dalam bahaya katamu?! Apa maksud ucapanmu itu? Apa si gorilla yang kau maksud itu ada di sana dan melakukan hal aneh?”


Ryou mulai menaikkan nadanya sedikit yang menandakan bahwa dia mulai panik dan terbawa emosi.


“Gorilla itu sudah menjual aku dan teman-temanku untuk menemukan Kaito-nii–”


“Menjual kalian?! Aku tidak–”


Ryou menjadi benar-benar panik sekarang. Belum selesai dengan kalimatnya, Theo mulai berteriak.


“Gorila itu menjual kami pada seorang pembunuh kejam yang baru saja pergi dari bar!!” Theo tidak bisa mengendalikan dirinya dan menangis


“Pembu…nuh katamu…”


Ryou jelas mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Kaito beberapa waktu lalu.


[Kemungkinan mereka bisa bertarung dan dilihat dari kemampuan mereka pergi dengan cepat tanpa suara seperti itu sudah dipastikan bahwa mereka berbahaya]


[Aku bahkan berpikir mereka terbiasa membunuh dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar seperti itu]


“Jangan bilang kalau yang tadi itu–” mata Ryou melebar karena syok sambil mengatakan hal itu


“Mereka akan membunuh teman-temanku dan menjual mereka!! Aku harus segera kembali ke rumah!! Lepaskan aku!!”


Theo memberontak dan berhasil meloloskan diri dari Ryou. Dia mulai berlari kembali dengan cepat. Tetapi Ryou yang masih syok tidak bermaksud membuat Theo lari sendirian.


“Dasar sial!!”


Ryou mengejar anak itu lagi dan berhasil menangkapnya kembali. Setelah ditangkap oleh Ryou, Theo kembali memberontak dan mencoba melepaskan dirinya sambil terus berteriak dan menangis.


“Lepaskan aku!!”


“Kau pikir kau bisa melakukan sesuatu pada orang-orang itu?! Kau hanya akan mati lebih cepat jika mencoba melawannya!”


“Teman-temanku dalam bahaya sekarang dan aku tidak punya waktu untuk menunggu!!”


“Kh…”


Ryou sudah kehabisan kesabaran dan mulai melempar anak itu jatuh ke tanah.


-Buuuk


“Akh!!” Theo berteriak tidak lama setelah tubuhnya jatuh ke tanah


Dengan cepat Ryou langsung mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya ke leher Theo.


“Ahh!!” Theo terkejut melihat ujung lancip pedang itu sudah berada di depan matanya


Bersamaan dengan itu, dia melihat tatapan dingin Ryou yang terlihat seperti merendahkannya.


“Sekarang bagaimana kau bisa melawan pedangku ini, bocah?”


“……” Theo hanya bisa gemetar dan menangis karena takut


“……” Ryou hanya melihatnya menangis dan gemetar


Setelah itu dia menarik kembali pedangnya dan menyimpannya ke posisi sebelumnya. Ryou berlutut dan melihat Theo dengan tatapan serius.


“Lihat betapa bodoh dan lemahnya dirimu. Mencoba pergi tanpa rencana hanya akan memperpendek umurmu. Kau pikir untuk apa aku mengejarmu sampai sejauh ini?!”


“R–Ryou…-nii. Hiks…hiks…huwaaaa”


Theo mulai tidak bisa menahan air matanya dan Ryou memeluknya.


Usaha terbaik dari seorang kritikus bermulut pedas seperti Ryou. Meskipun dia begitu keras kepala dan galak, namun seorang Ryou yang sangat menyayangi kakaknya itu tentu memiliki rasa empati yang besar.


Sambil menangis dalam pelukkan Ryou, Theo terus mengutuk Justin.


“Aku mengutuknya!! Aku tidak akan pernah memaafkannya! Aku tidak akan memaafkannya! Dia iblis, dia pantas mati. Dia pantas mati!!. Aku berharap dia mati!!”


Tanpa disadari siapapun, ada cahaya kecil dari dalam kerah pakaian Theo. Sebuah titik cahaya kecil namun dapat mengubah roda takdir di tempat asing tersebut.


******