
Di luar gedung kampus, terlihat banyak sekali zombie yang berjalan di semua sisi. Jumlah mereka terus bertambah dengan banyaknya mahasiswa yang mati akibat terinfeksi oleh makhluk mengerikan itu.
Terdengar jeritan di setiap lantai dan sisi bangunan. Namun, tanpa diketahui oleh beberapa pihak, jeritan itu bukan hanya terdengar dari peserta hidup yang diserang oleh zombie, namun juga berasal dari peserta hidup yang saling menjatuhkan satu sama lain.
Di sebuah gedung bertuliskan [Gedung Arsip], terdapat lebih dari 30 mahasiswa di dalamnya.
Terlihat beberapa orang di sana tampak ketakutan, ada pula yang menangis. Namun, di beberapa sisinya
terlihat ada mahasiswa lain yang memegang sesuatu seperti pisau dan tongkat pemukul kayu, besi dan alat lain seperti pisau cutter serta alat-alat kebersihan.
Di dalam sana terdapat seorang mahasiswa laki-laki bertubuh tinggi dengan wajah cukup tampan dan senyum licik yang menghiasi wajahnya.
Begitu kental senyuman itu hingga memberikan kesan bahwa orang itu sangat berbahaya.
Mahasiswa itu tampak sedang mengetik banyak hal di dalam aplikasi [Event Horror Apps] sambil terlihat tersenyum licik.
‘Ahahaha, dengan begini kami bisa mendapatkan banyak sekali persediaan makanan dan senjata tanpa perlu bersusah payah. Biarkan saja sampah-sampah di luar itu mati’ pikirnya dalam hati
Selesai mengirim pesan, dia melihat ke arah kumpulan mahasiswa yang berada di tengah-tengah ruangan gedung arsip. Mereka tampak ketakutan dan sebagian menunjukkan wajah tidak senang.
Mahasiswa itu mendekatinya mereka dan tertawa.
“Ahahaha, lihat kalian semua ini! Sudah aku bilang jika kalian tidak ingin bergabung dengan mereka yang sudah dilempar keluar, sebaiknya kalian menuruti perintahku dan keluar untuk mencari makanan lebih banyak lagi”
Salah seorang dari mereka berkata dengan wajah penuh kebencian.
“Baek Hyeseon! Ini bukan saatnya untuk melakukan hal seperti ini! Kita semua dalam bahaya dan tidak bisa meminta bantuan dari luar! Tidak seharusnya kau melakukan hal yang bisa membahayakan orang lain seperti ini!”
“Han Wonjae, ini bukan tempatmu untuk menceramahiku! Kalau kau, yang merupakan temanku itu ikut membelaku dan diam tanpa menentangku…kau mungkin bisa saja mendapatkan makanan untuk bertahan dari neraka ini” ucap mahasiswa bernama Baek Hyeseon
“Aku tidak ingin kita semakin dalam bahaya karena ulahmu!” teriak sosok mahasiswa bernama Han Wonjae
“Hah?”
“Baek Hyeseon! Semua ini salah! Kamu memberitau mereka bahwa tempat ini aman dan membuat mereka membahayakan diri mereka sendiri demi sampai ke sini?! Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan?”
“Lalu? Apa urusannya denganku?” Baek Hyeseon terlihat begitu santai menanggapi perkatan Han Wonjae
“Mereka datang bersama dengan semua persediaan yang mereka temukan demi meminta pertolongan! Lalu, kamu membuang mereka karena mereka menentangmu?! Kamu kira kita akan selamat dengan semua itu?!”
“……” Baek Hyeseon terdiam
“Saat mereka mengirimkan pesan bahwa mereka meminta tolong, kamu beralasan dengan semua hal yang bertolak belakang dengan apa yang kamu informasikan kepada mereka. Apa kamu masih memiliki hati sebagai sesama manusia?!” Han Wonjae membentaknya
Setelah dibentak seperti itu, wajah Baek Hyeseon menunjukkan ekspresi yang memperlihatkan bahwa dirinya begitu kesal pada Han Wonjae.
“Kamu meminta mereka untuk keluar lagi dan mencari makanan di setiap minimarket kampus yang sudah bisa dipastikan mereka akan mati dan berakhir menjadi zombie seperti di luar. Tidak kah kamu berpikir kalau itu hanya–”
Baek Hyeseon tampaknya tidak mau mendengarkan lebih jauh ceramah dari teman sekampusnya itu.
Dia menyuruh orang-orang yang memegang tongkat kayu dan lainnya untuk memukuli dan menghajarnya pemuda itu.
Awalnya, pemuda bernama Han Wonjae bisa mengatasinya. Namun, tidak bertahan lama karena dia seorang diri. Satu lawan delapan, itulah yang terjadi sekarang.
Teriakan dari para mahasiswi terdengar disertai dengan histerisnya tangisan mereka. Beberapa mahasiswa menahan diri untuk membantu kakak senior mereka yang dihajar habis-habisan oleh delapan orang sekaligus.
Tidak lama, dari belakang ada sekitar tiga mahasiswa lain yang membantu Han Wonjae dan menyerang kedelapan orang yang menghajarnya.
Dengan tangan kosong, mereka terus mencoba melawan. Namun, hanya berselang beberapa menit saja mereka mampun melakukannya.
Salah seorang dari kelompok Baek Hyeseon mulai menusuk punggung dan paha mereka menggunakan pisau cutter yang dipegangnya. Teriakan itu terdengar sampai memekakan telinga.
Tidak lama setelah itu, lima dari delapan orang yang menghajar mereka pergi ke arah pintu dan menggeser meja kayu serta kursi-kursi yang mengganjal pintu dan membuka kuncinya pintunya.
Tiga orang yang menjaga empat orang yang mulai terkapar lemah itu mulai menusuk salah satu paha dan kaki mereka semua.
“Aaakh!!” mereka berteriak
Hal tersebut dilakukan sebanyak dua kali di tempat yang sama. Terbayang betapa sakitnya luka tusukkan yang ditusuk kembali di tempat yang sama seperti itu. Tentu saja itu melumpuhkan kaki mereka untuk bisa berjalan atau berlari kencang.
Empat dari lima orang yang sebelumnya menyingkirkan meja dan kursi di pintu masuk kemudian berjalan ke arah pemuda malang bernama Han Wonjae dan tiga mahasiswa lain. Mereka membantu tiga orang lain menyeret tubuh keempatnya.
“Baek Hyeseon! Apa yang mau kamu lakukan?! Kamu tidak bisa melakukan ini pada kami?!” ucap Han Wonjae dengan kesal
“Baek Hyeseon, kamu akan menyesal jika melakukan ini! Ini bukan saatnya untuk saling menindas! Kita harus memikirkan cara untuk lepas dari situasi ini!”
“Dan aku ingin kau yang melakukannya”
Senyum sinis dan sorot mata dingin membuat wajah Han Wonjae pucat.
“Apa yang kamu–”
“Kalau kau merasa kasihan dengan semua orang yang mempertaruhkan nyawa mereka demi datang ke tempat ini, kenapa tidak kau saja yang keluar dan mencari makan serta menyelamatkan mereka semua? Bawa mereka berempat keluar” perintah Baek Hyeseon
Ketiga mahasiswa lainnya menangis dan meronta-ronta dengan luka di kaki dan paha mereka. Han Wonjae juga mencoba melepaskan dirinya.
“Lepaskan aku! Tidak! Kau tidak bisa melakukan ini pada kami! Baek Hyeseon, kamu iblis! Lepaskan aku!”
“Ya ya, kau akan dilepaskan begitu…kau berada di luar”
Keempat mahasiswa itu dilempar keluar hingga terjatuh dan sulit untuk berdiri. Saat pintu ditutup, kedelapan orang yang menghajar mereka kembali mengunci pintunya dan menahannya dengan kursi dan meja kayu lagi.
Kini, keempat mahasiswa yang terluka itu berada di luar gedung arsip.
Tiga mahasiswa lain mencoba berdiri, ada juga yang merangkak menuju pintu masuk gedung arsip untuk meminta pertolongan. Sepanjang mereka melangkahkan kaki mereka yang terluka dengan darah yang mengalir, mereka terus meminta tolong seperti orang gila
“Buka pintunya! Kami tidak ingin mati!”
“Sunbae! Sunbae! Kau tidak boleh membiarkan kami mati! Sunbae! Baek Hyeseon-sunbae!”
“Tidak! Tolong! Aku tidak ingin mati! Ibu! Ayah!”
Baek Hyeseon melihat keadaan di luar dari jendela. Dia tampak tersenyum senang sekali. Dia bahka sempat memberikan beberapa kata sambutan kepada yang lainnya.
“Lihat itu! Lihat apa yang telah teman kita lakukan di luar! Betapa heroik sekali sikap mereka yang rela mengorbankan nyawa mereka demi menyelamatkan orang lain dan mencari bahan makanan untuk kita semua. Kalian harus bersyukur…”
Semua orang menangis dan tidak berani melakukan apapun karena takut. Baek Hyeseon melanjutkan kalimatnya kembali.
“Kalian harus bersyukur karena jiwa kepahlawanan temanku dan tiga pengikutnya itu akan menyelamatkan kalian semua”
Han Wonjae yang berada di luar mencoba bangkit. Dan ketika dia melihat ke depan, sekawanan zombie dari seluruh arah mencoba mendekati mereka.
“Tidak!!” teriaknya
Sambil menangis dengan wajah putus asa, Han Wonjae mencoba berjalan bahkan berlari meskipun hal tersebut tidak bisa dilakukannya.
“Baek Hyeseon! Baek Hyeseon! Tolong aku! Buka pintunya! Aku tidak ingin mati!”
“Ahahahah! Bukankah kau sendiri yang mengatakan ingin menolong mereka? Aku memberikanmu kesempatan untuk menjadi pahlawan, temanku. Jadilah pahlawan bagi kami! Ahahaha”
Tawa keras dari Baek Hyeseon membuat semua orang di dalam begitu takut. Sebagian dari mahasiswi menutup telinga dan menangis karena tidak ingin mendengar jeritan dan tangisan mereka yang ada di luar.
Para zombie itu semakin banyak dan semakin mengepung keempatnya. Sungguh tidak ada harapan bagi mereka.
“Baek Hyeseon! Aku tidak akan memaafkanmu! Kau pantas mati! Kau pantas ma…aaakh!!”
“Tidak! Aku tidak ingin mati! Menjauh! Menjauh! Aaakh!!”
Keempat mahasiswa itu berakhir menjadi santapan sekawanan zombie yang menangkap mereka. Tidak butuh waktu lama sampai teriakan mereka berempat tenggelam tak terdengar.
Salah satu faktornya adalah akibat luka di kaki mereka yang sengaja dibuat. Dan sekarang, mereka telah mati.
Hanya berselang beberapa menit setelah para zombie itu pergi, Han Wonjae dan ketiga mahasiswa lainnya berdiri dengan banyak darah, bekas gigitan dan lubang pada tubuhnya. Mereka mulai bangkit dan berubah menjadi zombie.
Di dalam gedung arsip, ada seseorang yang secara diam-diam mengirimkan chat ke dalam sebuah grup chat dari aplikasi berbeda.
"Baek Hyeseon telah membunuh temannya, Han Wonjae-sunbae dan tiga orang lainnya"
"Jangan percaya pada isi pesan yang dia kirimkan ke chat grup [Event Horror Apps] karena itu semua hanya sebuah akal agak seluruh persediaan makanan kita direbut olehnya!"
"Sebarkan ini agar tidak ada yang tertipu oleh kelicikannya! Ada hal yang harus diwaspadai selain zombie-zombie itu yaitu orang yang berusaha memanfaatkan kita dan merebut persediaan makanan kita. Salah satunya adalah kelompok Baek Hyeseon!"
******