Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 93. Pertukaran bag. 1



Arkan dan Riz masuk ke dalam lobi [La porte du Paradis].


“Selamat datang kembali, Monsieur, Madame” sambut wanita di meja resepsionis


“Yo, kami ada sedikit urusan. Di depan pintu ada gerobak berisikan barang untuk tempat ini jadi sesekali tolong kau lihat ya, Lucy”


“Baik, Monsieur”


“Ayo naik”


Jack dan Seren menaikki tangga itu terlebih dahulu. Kedua orang di belakangnya itu masih diam di tempat sampai pasangan suami-istri itu mulai tidak terlihat lagi di depannya.


Dalam hati, Arkan mulai berdoa dan berharap.


‘Hanya tinggal sedikit lagi. Kumohon semoga semuanya dapat berjalan sesuai keinginan kami’


Riz yang melihat wajah tegang Arkan bertanya sambil berbisik.


“Jangan tegang dan terlihat panik! Kau harus melakukannya dengan baik karena aku sudah membawamu sampai sejauh ini, mengerti?”


Arkan menengok Riz dengan tatapan serius.


“Bantu aku kalau aku kesulitan mengatakan apapun dari mulutku karena gugup”


“Aku tau. Tapi pertama-tama bantu dirimu sendiri dulu sebelum meminta bantuan” jawab Riz sambil berjalan ke arah anak tangga


Arkan mulai menarik napas dalam-dalam dan melihat wanita di resepsionis yang berjalan ke arahnya.


“Apakah tuan tidak mau naik?”


“A–aku akan naik. Terima kasih banyak”


Arkan mulai berjalan ke arah tangga. Sambil menaikki anak tangga itu, dia melihat ke belakang. Wanita resepsionis itu membuka pintu lalu keluar dari tempat itu.


“Dia benar-benar pergi ke luar untuk memeriksa gerobaknya seperti yang diperintahkan Jack-sama. Apakah dia tidak takut dengan pemimpin seperti itu?” gumam Arkan dengan suara pelan


Komentar yang bagus. Tapi ternyata, komentar itu masih berlanjut. Arkan melanjutkannya itu dalam hati.


‘Normalnya, semua orang pasti akan berpikir demikian. Siapa yang suka bekerja di tempat penuh dengan aroma kematian dimana-mana? Selain itu, karyawan itu adalah wanita. Dia wanita! Terlepas dia masih lajang, sudah menikah atau baru saja bercerai dengan suaminya, kenapa dia mau bekerja di tempat penuh darah dan mayat begini?! Memangnya sebegitu putus asanya dia sampai-sampai mau bekerja di tempat seperti ini?!’


Arkan telah sampai di lantai dua dan melihat Riz yang berdiri di depan sebuah pintu yang terbuka. Dia melihat remaja itu melambaikan tangannya lalu masuk ke ruangan tersebut.


Sambil berjalan, ternyata dia masih memikirkan wanita di bawah.


“Wanita itu…Lucy ya. Aku ingin tau berapa gaji yang diterima olehnya selama bekerja di tempat ini? Haruskah aku bertanya berapa kisaran gaji yang mereka berikan padanya saat pulang nanti?”


Hanya selang beberapa detik kemudian, dia berubah pikiran.


“Tidak tidak tidak tidak !! Itu tidak perlu! Memang kau mau bekerja dengan psikopat seperti mereka, Arkan? Kuatkan dirimu!!”


Sungguh menyedihkan. Itulah isi dari dilema seorang bartender yang masih memikirkan nasib gaji dan bonusnya, serta tempat kerjanya yang masih hancur lebur saat ditinggalkan olehnya.


Arkan masuk ke dalam ruangan itu dan dilihatnya sofa serta meja dan kursi layaknya sebuah ruang kerja normal. Yang paling mencengangkan adalah ruangan itu bersih, rapi dan jauh sekali dari kesan psikopat berdarah yang suka memotong anggota tubuh manusia.


‘Apakah ini benar ruang kerja manusia atau ini sudah ada di dunia lain?’ tanya Arkan dalam hati


Pertanyaan di pikirannya itu secara tidak langsung adalah sebuah kalimat yang menyindir dedikasi pengelola pasar gelap. Tapi beruntung diantara mereka tidak ada yang memiliki kemampuan membaca pikiran.


Riz yang masih berdiri di dekat sofa seperti enggan untuk duduk sebelum dirinya dan Arkan dipersilahkan untuk itu.


Jack yang sudah duduk bersama sang istri di sofa tersenyum dan mempersilahkan tamunya untuk duduk.


“Silahkan duduk. Anggap rumah sendiri”


“Te–terima kasih banyak” kata Arkan dengan senyum yang dipaksakan


Arkan memilih duduk di sebelah Riz demi keamanan dan jaminan hidup yang lebih besar. Arkan yang memperlihatkan wajah datar seakan semua baik-baik saja langsung berkata dalam hatinya dengan penuh keyakinan.


‘Aku tidak akan pernah menganggap ini sebagai rumahku, titik! Kalau bisa, aku akan menjadikan momen ini sebagai sesi pertama dan sesi terakhirku mengunjungi tempat ini. Setelah itu, akan kumasukkan tempat ini ke dalam daftar tempat ‘paling tidak ingin kudatangi’ lagi di dunia! Akan kucatat dengan tinta merah dan kutulis pada daftar paling atas!’


Jack yang terlihat sangat santai dengan pakaiannya itu benar-benar elegan. Setidaknya Arkan mengakui bahwa di hadapannya sekarang, dia sedang bicara dengan seorang pemilik sekaligus pelaku usaha.


Seren yang duduk di samping suaminya menarik pakaian suaminya dan membisikkan sesuatu. Jack meminta izin terlebih dahulu kepada dua orang tamunya tersebut.


“Permisi, aku minta maaf. Ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh istriku dan ini sedikit pribadi”


“Silahkan” jawab Riz sambil tersenyum


Sungguh etika yang bagus. Meskipun dalam dunia manapun, berbisik-bisik itu bukalah hal yang sopan untuk beberapa momen tertentu tapi keduanya tidak memikirkan hal itu terlalu serius.


Alasannya ada dua yaitu karena pasangan suami-istri itu meminta izin terlebih dahulu dan yang kedua karena orang yang melakukannya adalah pembunuh. Tentu kedua orang itu tidak peduli pada semua hal tidak sopan yang dilakukan tersebut selama mereka bisa keluar hidup-hidup dari sana.


Seren tampak membisikan sesuatu pada sang suami.


“Sayang, kurasa mereka sudah keluar. Bagaimana ini? Haruskah aku mengejarnya agar mereka tidak kabur lalu mematahkan kakinya?”


“Tidak perlu. Mereka tidak begitu menarik perhatianku lagi jadi abaikan saja. Mereka juga tidak akan bisa meninggalkan tempat ini karena William ada di depan. Aku yakin dia pasti akan menangkap kedua anak itu kembali” jawab Jack sambil berbisik


“Aku hanya sudah tidak tertarik. Terserah saja jika mereka ingin bermain kejar-kejaran dulu kalau bisa. Sekarang, aku sedang tertarik dengan mayat Justin yang mereka bawa. Lupakan soal malaikat Justin yang sudah tidak bersinar lagi di mataku. Aku ingin dengar penawaran dari mereka”


Selesai berbisik, Jack kembali tersenyum dan Seren keluar dari ruangan.


“Terima kasih sudah menunggu. Aku benar-benar minta maaf karena sudah menyita waktu kalian selama kurang lebih dua menit”


“Tidak masalah, Jack-sama. Kami ingin membicarakan bisnis penting terkait mayat di bawah”


Riz memulai pembicaraan dengan sebuah pembukaan yang baik. Dia melanjutkannya kembali.


“Umm…begini Jack-sama. Arkan ingin melakukan pertukaran dengan Jack-sama menggunakan mayat di bawah itu”


“Seren sudah memastikan bahwa itu memang mayatnya. Tapi sebelum itu aku ingin dengar ceritanya terlebih dahulu. Tentu saja aku juga akan memberitau kalian hubunganku baru-baru ini dengan teman lamaku itu”


Riz terdiam dan menengok ke arah Arkan. Dengan keyakinan penuh, Arkan mulai memberitau semuanya pada Jack termasuk hal yang baru-baru ini terjadi.


“Jack-sama, pagi ini Seren-sama datang ke bar tempatku bekerja dengan penjaga gerbang di luar untuk menanyakan tempat tinggal anak-anak jalanan yang diasuh oleh Justin-sama”


“Benar. Istriku juga menceritakan itu padaku. Itu ada hubungannya dengan hubungan yang baru saja kusepakati dengan teman lamaku itu”


“Aku tau. Justin-sama meminta bantuan kepada Jack-sama dan Seren-sama untuk mencari seorang pria berpedang tanpa sarung pedang yang masuk ke wilayah asing tempat Justin-sama berkuasa. Apakah sampai sini ceritaku benar?”


“Benar. Sebenarnya alasannya itu sangat tidak masuk akal dan sepele untukku. Yang lebih bodohnya lagi ciri-ciri tidak jelas yang diberikan oleh temanku itu juga sama konyolnya dengan dua anak buah milikya yang sudah siap menjadi dagangan Riz nanti malam” jawab Jack dengan santai sambil tersenyum


Tidak lama kemudian, Seren datang membawakan empat cangkir teh dan kue krim berwarna merah. Sambil membagikan suguhannya, Seren tersenyum dan berkata.


“Silahkan diminum dan nikmati kuenya”


Saat itu disuguhkan, Arkan langsung berubah pucat karena teh dan kue itu terlihat sangat normal. Normal di sini diartikan benar-benar seperti makna katanya. Aroma teh yang wangi dan kue krim yang terlihat lezat sekali.


Kecurigaannya meningkat ketika Riz tanpa ragu meminum teh dalam cangkirnya dan menikmatinya dengan begitu tenang.


Meskipun begitu, Arkan tidak merubah pikirannya untuk berprasangka yang tidak-tidak. Itu karena suguhannya terlalu normal, dia jadi sangat takut menyentuhnya.


“Kau tidak mau meminumnya? Aku tidak memasukkan racun apapun ke dalamnya” kata Seren


“Ti–tidak, bukan begitu Seren-sama. A–aku hanya ingin bicara lebih serius sebelum menikmati teh buatan Seren-sama” Arkan menjawab dengan senyum meyakinkan


“Baiklah. Nanti dihabiskan ya. Kalau tidak, aku akan menangis nanti dan mungkin saja tidak sengaja memotong kepalamu” senyum Seren dengan sangat cantik


Senyumannya itu seperti sebuah ancaman nyata yang tidak bisa dihindari oleh Arkan.


“Ahahaha”


Secara tidak langsung, dia memang diwajibkan untuk menghabiskan semua suguhan itu atau mungkin dia yang akan jadi suguhan di pasar gelap selanjutnya. Itulah yang dia pikirkan.


Arkan melanjutkan kembali pembicaraannya.


“Jack-sama, mari kita lanjutkan kembali yang tadi”


“Tentu. Sampai dimana tadi itu?”


Jack berusaha mengingat kalimat terakhirnya dan berkata “oh, sampai aku mengatakan dua orang bodoh itu sudah masuk dalam dagangan Riz. Iya benar, mereka sudah dibunuh semalam dan mayatnya sudah terdaftar sebagai barang yang dijual untuk pembukaan”


“Jack-sama, aku tau bahwa Justin-sama melakukan transaksi dengan Jack-sama dan menukar nyawa sembilan anak jalanan itu untuk menemukan pria berpedang tanpa sarung pedang. Tapi, ada hal yang belum diketahui Jack-sama…”


“……” Jack masih mendengarkan


“…Saat kembali, Justin-sama bertarung dengan pria pengguna pedang tanpa sarung pedang itu sendiri dan mati di tangannya”


“Apa? Dia bertarung dengan orang yang dia cari dan mati?” Jack terkejut mendengarnya


Seren yang sedang memakan kue krimnya itu langsung terdiam dan meletakkan kembali kuenya di atas meja sambil terlihat serius.


“Pria berpedang tanpa sarung pedang itu datang ke tempat kerjaku karena suatu alasan pribadi dan tanpa sengaja keduanya bertemu lalu Justin-sama menyerangnya. Setelah bertarung, pria berpedang itu berhasil memotong kedua lengan milik Justin-sama dan membunuhnya”


Cerita itu tidak bohong namun bagian ‘membunuhnya’ itu sedikit ditambahkan karena Arkan sendiri tidak tau siapa yang membunuh Justin. Dia hanya menduga salah satu diantara Ryou atau Kaito yang melakukannya.


“Karena itu, aku ingin Jack-sama melakukan pertukaran denganku! Aku ingin pengelola pasar gelap membatalkan semua permintaan Justin-sama karena dia telah mati. Sebagai gantinya, aku akan menukar mayat Justin-sama dengan tiga orang yang dibawa ke tempat ini! Setelah itu aku ingin semua sisa transaksi yang dilakukan Justin-sama jika ada dibatalkan!”


Arkan mengatakan semua itu dengan sangat yakin dan terlihat terburu-buru. Riz yang melihatnya hanya bisa tercengang dan bergumam dalam hati.


‘Kukira dia akan gugup saat mengatakannya. Ternyata dia bisa mengatakan semuanya dengan baik. Sekarang…hanya tinggal melihat reaksi apa yang akan diberikan oleh Jack-sama dan Seren-sama terhadap tawaran ini’


Riz terlihat sangat cemas hanya dengan mengamati sikap tenang dan hening dari kedua pasangan tersebut. baik Jack-sama dan Seren-sama tampak serius sekali.


Tidak ada senyuman sedikit pun di bibir mereka dan mata tajam seperti seorang pembunuh yang sedang mengintai mangsa terlihat menusuk tajam ke arah dirinya dan Arkan. Tangan Riz gemetar namun dia berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlihat panik.


‘Ini adalah transaksi bisnis. Aku yakin semua akan baik-baik saja’ itulah yang dipikirkan Riz dalam hati


Jack mulai mengatakan sesuatu setelah diam beberapa saat.


“Arkan, aku ingin kau jawab aku dengan jujur terlebih dahulu. Apa orang yang membunuh Justin ikut bersamamu ke tempat ini?”


******