Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 177. Event Horror: Pemain vs Zombie bag. 4



Sementara itu, Park Cho Joon yang berada di dalam dapur kantin tampak begitu waspada dengan sebuah panci


di tangannya.


“Aku tidak akan membiarkan tempat yang aman ini dimasuki oleh siapapun? Hanya aku yang boleh selamat. Dan aku harus membalas apa yang Ha Jinan lakukan padan Eunji! Selain itu, orang asing yang berlagak kuat itu juga!” katanya


Tampaknya, masih membutuhkan banyak waktu bagi Park Cho Joon untuk berhenti bersikap pengecut dan sok kuat seperti itu.


Sementara di dalam kantin, Kino dan Ryou terus melawan para zombie itu.


“Kino, mau kuberitau hal yang menarik?”


“Ryou, ini bukan saatnya untuk–”


“Ini…sedikit berbeda dengan anime Gakkou Gurashi dan High School of The Dead! Padahal settingnya sama-sama di bangunan sekolah. Ya, bedanya kalau ini kampus” kata Ryou


“Ini bukan saatnya untuk mengatakan hal itu!”


“Tapi memang beda! Mereka lebih lambat dari zombie yang aku bayangkan!” Ryou memukul kepala zombie yang mendekatinya


“Ryou, kita tidak ada waktu membahas anime dan game”


Zombie akan sangat mengerikan jika dilawan dalam jumlah banyak dan kau tidak memiliki senjata apapun. Tapi karena Ryou memiliki penggorengan besar di tangannya, maka dia sedikit lebih berani dibandingkan saat pertama datang dan tidak memiliki apapun di tangan.


Meskipun begitu, memang cukup sulit untuk membunuh zombie hanya dengan penggorengan dan panci yang hanya bisa digunakan untuk memukul kepala dan wajah mereka dengan keras.


Beberapa dari zombie itu ada yang masih bisa menahan serangan dan pukulan tersebut sehingga mereka berdua harus melakukannya beberapa kali sampai kepala mereka benar-benar hancur dan mati.


“Seandainya aku punya pedang seperti kemarin…zombie jelek ini tidak akan jadi masalah serius” gerutu Ryou


Kino sempat melihat pintu kantin.


‘Tidak ada suara zombie di luar. Apa itu artinya Kaito-san sudah berhasil menbunuh mereka semua? Tapi, kenapa dia belum masuk?’ Kino bertanya-tanya dalam hati


Kim Yuram dan Ha Jinan serta mahasiswa lainnya masih dalam posisi siaga, sedangkan Seo Garam yang menopang tubuh Kang Ji Song untuk berjalan berusaha untuk membawanya pada yang lain.


“Garam! Kang Ji Song!” Kim Yuram langsung berlari menghampiri mereka


“Ukh…”


“Ji Song-ah, kau baik-baik saja?” Seo Garam sempat panik mendengar eluhan Kang Ji Song


“Aku…baik. Hanya saja aku merasa…perutku ditendang terlalu…keras”


Mahasiswa lain berusaha menolong mereka dan mundur ke belakang sedikit lagi. Kang Ji Song melihat apa yang dilakukan oleh Kino dan Ryou di garis depan.


“Mereka…melawan monster itu berdua saja?”


“Benar.Mahasiswa asing itu menakjubkan. Aku merasa mereka memiliki basic bela diri” kata salah satu mahasiswa lain


“Melihat apa yang Kino-nim lakukan pada Park Cho Joon untuk menolong Ha Jinan sudah memberikan bukti kalau mereka memiliki kemampuan bela diri” timpal seorang lainnya


Semua hal yang dikatakan oleh mereka semua itu benar. Apalagi sejak mereka harus menghadapi semua hal sulit di ‘dunia malam’ waktu itu, zombie bukanlah hal yang sulit untuk dihadapi. Dengan catatan, selama jumlahnya tidak bertambah.


Kino masih sangat penasaran dan mencoba berlari ke pintu kantin.


“Ryou, aku ingin pergi ke pintu kantin” seru Kino sambil berlari


“Tu–tunggu sebentar! Kenapa kau mencoba untuk–”


“Suara zombie itu tidak terdengar, begitu juga dengan suara Kaito-san. Mungkin saja Kaito-san sudah–”


-BRAAK


Pintu kantin terbuka dan semua orang di sana tampaknya nyaris mengalami serangan jantung mendadak. Bagaimanapun juga, mereka tidak lagi menahan pintu itu ketika Kaito berada di luar, jadi saja jika mereka begitu terkejut hingga syok.


Kino tersenyum melihat Kaito berhasil kembali.


“Kaito-san!”


Kaito hanya membalas itu semua dengan senyuman dan langsung menebas sisa zombie yang ada. Satu demi satu zombie tersebut berhasil dipenggal dan dibunuhnya. Dalam waktu singkat, mereka semua telah berhenti bergerak.


Seo Garam dan semua yang melihat itu tidak bisa berkata apa-apa.


“Dia…menghabisi mereka semua dalam sekejap”


“Seo Garam…apa alasan tidak ada zombie yang datang ke dapur kantin karena…Kaito-ssi?” Ha Jinan bertanya dengan ekspresi terkejut yang tidak dapat disembunyikan


“Begitulah”


“Ternyata dia benar-benar membunuh semua zombie di luar pintu kantin sebelum ini sendirian” kata Kim Yuram


Setelah membersihkan darah yang ada pada pedangnya, Kaito langsung berjalan ke arah Yuki bersaudara.


“Kerja bagus. Kalian melakukan hal yang hebat meski tanpa senjata”


Kino bertanya dengan ekspresi cemas.


“Itu–”


“Kaito!!”


“……!!” Kaito secara reflek bergerak ke arah samping


-CLAANG


Bunyi sebuah benda yang jatuh ke lantai.


Semua orang terdiam, termasuk Kino yang melihat sang adik menghampiri mereka berdua. Rupanya, Ryou tidak berbohong saat dia berkata dia akan melempar Kaito dengan penggorengan.


Ryou mengeluarkan semua emosinya.


“Harusnya kau jangan menghindari penggorengan itu!”


“Aku tidak suka mendapat serangan dadakan”


“Tapi kau sudah setuju kalau aku bisa melemparnya padamu ketika ini selesai!! Jangan pura-pura lupa ya!”


“Kau menganggap itu serius?” Kaito tampak terkejut


“Sejak kapan aku senang bercanda dengan orang sepertimu, hah?! Aku akan mengulanginya lagi dan kau dilarang menghindar!” Ryou begitu kesal pada sikap Kaito


“Aku…menolak. Aku tidak ingin dilempar dengan penggorengan itu. Aku tarik kembali ucapanku” kata Kaito dengan santai sambil tersenyum tipis


Sepertinya selera humor Kaito sudah mengalami sedikit peningkatan. Dia bahkan bisa menggoda Ryou yang sekarang sedang kesal.


Tapi bukan saatnya untuk Kaito berkata begitu. Kino dan semua orang tampak begitu cemas. Seo Garam bahkan menghampirinya mereka.


“Kaito-ssi, kemana semua zombie-zombie itu? Apakah kau sudah membunuh mereka semua?”


“Tidak, belum semua. Mereka semua masih ada di sekitar lantai ini. Aku sempat memancing mereka menjauh dari tempat ini dengan berlari ke arah koridor lalu bersembunyi di salah satu ruangan”


“Jadi, itu sebabnya aku tidak mendengar suara Kaito-san dan para zombie itu” Kino sedikit lega mendengar itu


“Akan jauh lebih baik jika kita pergi dari tempat ini secepatnya. Aku khawatir akan semakin banyak zombie yang datang dan kita akan kehilangan kesempatan untuk mencari tempat aman untuk bersembunyi” saran Kaito


Seo Garam mengangguk setuju, begitu pula dengan yang lainnya. Tapi Kim Yuram tampaknya tidak berpikir seperti itu.


“Maaf, tapi aku masih ada sedikit urusan


Dia tidak bisa melakukan itu sebelum membuat sedikit pembalasan pada Park Cho Joon yang sekarang sedang berada di dalam dapur kantin.


“Aku ingin sekali membuat sedikit perhitungan pada si pengecut itu! Beraninya dia menjambak dan menendang kami berdua serta menghajar Kang Ji Song seperti itu! Aku akan membuatnya menyesal!”


Kim Yuram tampaknya begitu kesal dan marah. Kejadian itu sempat dilihat sedikit oleh Kino. Tentu saja dia begitu mencemaskan kondisi kedua gadis itu. Sedangkan mahasiswa lain tidak begitu memperhatikan, sehingga sekarang mereka mulai tersulut emosi.


“Kang Ji Song, apa itu benar? Park Cho Joon menyelinap masuk dan langsung mengusir kalian keluar?”


“Benar. ponsel Yuram masih ada di dalam sana”


“Lupakan soal ponselku! Akan kuberi dia pelajaran!” Kim Yuram berjalan menuju dapur kantin


Namun, baru beberapa langkah dia sudah dihentikan oleh Kaito.


“Kita tidak memiliki waktu untuk mengurusi orang seperti itu”


Ekspresi Kim Yuram begitu kesal dan dia tidak ingin dihentikan oleh Kaito. Dia terlihat kesal sekali.


“Kenapa?! Dia benar-benar arogan dan sejak awal aku sangat tidak menyukainya!”


“Aku tau, tapi ini bukan saatnya untuk itu. Kau tidak memiliki masalah pendengaran kan? Aku sudah katakan bahwa jumlah mereka cukup banyak untuk aku hadapi sendiri karena mereka terus berdatangan tanpa henti. Hanya tinggal masalah waktu sampai mereka tiba di tempat ini lagi”


“Lalu bagaimana dengan Park Cho Joon!” Kim Yuram membentaknya


“Nee, Kaito. Biarkan gadis liar itu melakukannya”


Kaito melihat Ryou dengan ekspresi wajah datar. Ryou melanjutkannya kembali.


“Dengar. Sejujurnya aku ingin sekali meninggalkan pengecut seperti Park Cho Joon. Tapi, aku sudah dimarahi oleh kakakku dan aku tidak mau dimarahi lagi olehnya”


“……”


“Kalau memang itu bisa membuat gadis liar itu lega, kenapa tidak biarkan dia melakukannya? Itu jauh lebih baik daripada aku yang menghajar Park Cho Joon itu”


“Ryou, jangan memprovoka–”


Belum sempat Kino menyelesaikan kalimatnya, Ryou melanjutkan kalimatnya.


“Jika aku yang melakukannya, aku tidak akan segan-segan menghancurkan wajahnya seperti yang aku lakukan pada para makhluk jelek barusan. Aku tidak merubah pikiranku untuk meninggalkan pria bernama Park Cho Joon di sini, karena menurutku dia pantas untuk mati”


******