Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 192. Rencana Penyelamatan Gedung Arsip bag. 2



Sementara itu, Kino bersama Seo Garam mendorong meja dan kursi untuk menahan pintu. Sedangkan Ryou, tampak sudah bersiap mencari data yang ingin dia temukan.


Komputer itu dinyalakan olehnya.


‘Cepatlah! Kenapa loading-nya lama sekali…selesai!’


Dengan cepat dia mengetik pada command prompt sambil mendownload beberapa bahasa pemrograman.


‘Sudah kuduga nama universitas dan juga kotanya tidak bisa terbaca. Tapi, aku terkejut mereka benar-benar memiliki setting yang seperti ini. Aku harus cepat melakukannya’ kata Ryou dalam hati


Seperti sudah cukup menguasainya, kemampuan mengetik yang dimiliki Ryou sangat cepat. Hanya dalam beberapa waktu, dia berhasil meretas data seluruh mahasiswa di sana.


“Tidak begitu mudah tapi juga tidak sulit. Sepertinya harus dilakukan dengan cepat” gumamnya pelan


Seo Garam yang melihat itu cukup takjub dengan hal yang dilakukan Ryou.


‘Dia jenius…’ pikirnya


Kino mendekati Ryou untuk melihatnya.


“Bagaimana? Apa data yang kamu cari sudah ketemu?”


“Sedikit lagi. Aku sedang mencari data mahasiswa tingkat akhir tahun ini. Sebentar…ah! Ketemu!”


Kino dan Ryou melihat semua daftar riwayat ketiganya dan artikel mengenai apa yang mereka lakukan beberapa bulan terakhir di buletin kampus.


“Tema terbesar untuk event yang ingin kami bertiga adakan adalah sebuah simulasi yang melibatkan seluruh pihak dan staff kampus. Terinspirasi dari film bertemakan zombie, rencananya kami akan menggelar sebuah event dengan tema yang sama. Selain itu, Ini akan menjadi sebuah pencapain baru bagi aplikasi [Event Horror Apps] ini”


Kino dan Ryou cukup terkejut dengan isi artikel tersebut.


“Jadi memang sudah direncanakan ya” gumam Ryou


“Sepertinya begitu”


“Cih! Gara-gara itu, kita nyaris mati. Sudah begitu, dua dari pembuatnya juga sudah jadi zombie di luar sana”


“Sekarang, ini mau diapakan olehmu?” Kino bertanya pada Ryou


“Hmm…? Ini kan…”


Seo Garam menghampiri mereka dan melihat layar komputer. Betapa kagetnya dia melihat semua yang ada di layar komputer adalah hasil kerja Ryou sendiri.


“Kau meretas semuanya?! Secepat ini?!”


“Aku sudah bilang kalau hanya data siswa aku masih bisa. Sekarang, aku ingin kau melihat ini juga”


Seo Garam melihat data mengenai Jung Leon, Lee Seung Chan dan Song Haneul.


“Ini data pribadi dan riwayat hidup sunbae-nim. Apa yang ingin kau lakukan dengan semua ini, Ryou?”


“Aku ingin mengirimkan ini ke emailmu. Beritau alamat emailmu sekarang”


Seo Garam memberikan ponselnya pada Ryou. Setelah Ryou menerima dan mengirim semua data-data itu ke dalam emailnya, dia segera menghapus semua riwayat pencariannya. Kurang lebih membutuhkan waktu beberapa menit sampai semua data-data itu terkirim seluruhnya.


“Aku masih belum mengerti mengapa kau membutuhkan semua itu” tanya Seo Garam


“Nanti akan berguna. Ada beberapa hal yang menarik minatku. Sekarang, kita keluar dari sini”


Setelah menyingkirkan kursi dan meja yang menghalangi pintu, mereka bergegas pergi ke ruang kelas KA06. Saat pintu dibuka, mereka benar-benar tidak menyangka bahwa ada banyak kepala di lantai serta darah dimana-mana.


Meskipun ruangan tersebut gelap, namun mereka masih bisa melihat pemandangan di sekitar. Termasuk orang-orang yang sedang duduk di bagian kiri ruang kelas.


“Apa yang terjadi di sini?” Kino begitu syok melihatnya


“Kino-ssi!”


Melihat Kino, Ha Jinan mendekatinya dan langsung memeluknya. Pelukan itu dilakukan tanpa sadar, namun momennya benar-benar sangat tepat.


Sempat sadar dan malu, Ha Jinan melepaskan pelukannya dari Kino dengan wajah merah.


“Ma–maafkan aku”


“Bukan itu, kenapa bisa seperti ini?! Apa yang terjadi?”


“Itu…pintunya terbuka lebar. Dan saat Kaito-ssi melihatnya, ada banyak zombie di dalam dan…”


“Kita tidak bisa menyelamatkan siapapun, Kino. ketiga mahasiswa yang sebelumnya terhubung dengan komunitas itu sudah mati dimakan zombie dan berakhir menjadi zombie juga” jelas Kaito


“Kaito-san yang…membunuhnya?”


“Benar. Namun, dari sana aku menemukan sedikit fakta lain”


“Fakta lain?”


“Benar. Dari hasil pertarunganku dengan mereka, perubahan dan kecepatan gerakan mereka tampaknya dipengaruhi oleh pemicu. Dan itu adalah mereka yang menggigit dan memakan daging manusia”


Ryou tertegun. Itu mengingatkan pada isi lengkap artikel yang dibacanya.


‘Ternyata begitu. Konsepnya sudah tertata dengan rapi. Event ini memang penggambaran nyata dari rencana yang dibuat oleh ketiga programmer itu dan yang bisa mewujudkan semua itu adalah…kekuatan permata milik Kaito’


Pikiran itu yang paling masuk di akal. Setelah mereka terlalu lama berpikir, mereka harus segera melanjutkan rencana mereka. Kim Yuram bertanya pada semua.


“Kita harus pergi dan–”


-GRAA


-Deg


Semua orang terkejut. Mereka mendengar suara zombie yang datang entah dari mana. Di lorong koridor yang sepi itu, gema terdengar di telinga dan masuk ke dalam ruang kelas tempat mereka berada.


Dengan cepat, semua orang bersembunyi di bawah meja dan di belakang pintu. Ada pula yang bersembunyi di pojok ruangan dan merunduk.


Hal ceroboh yang dilakukan mereka adalah tidak menutup pintu ruangan tersebut, yang artinya membuka peluang bagi beberapa zombie untuk masuk.


“Mereka…datang” Ha Jinan gemetar


“Jangan cemas. Selama tidak bersuara, kita bisa melakukan sesuatu” bisik Kino yang sekarang sedang bersamanya


Ha Jinan memang sedang takut sekarang, tapi dia cukup tenang karena berada di dekat Kino.


Kim Yuram juga sedang merasakan hal yang dirasakan oleh temannya itu. Dia berada di belakang punggung Ryou yang siaga dengan senjatanya. Meskipun di sampingnya ada Seo Garam, namun kehadian pemuda itu tidak begitu dihiraukan.


“Jangan ada yang berteriak sekalipun salah satu dari mereka ada yang masuk, mengerti?” bisik Ryou


“Aku mengerti” jawab Seo Garam


Kim Yuram hanya terdiam dan dengan hati-hati memegang pakaian Ryou. Remaja itu menengok ke belakang.


“Kau takut?”


“Ti–tidak! Aku tidak takut!”


“Terserah saja. Kalau kau takut, sebaiknya pegang tanganku. Paling tidak, kalau kau sulit berlari nanti, aku bisa menarikmu agar lari lebih cepat. Tapi, jangan sampai merepotkanku atau kita semua yang akan dalam masalah nanti”


-Deg


‘Ta–tangan katanya? Dia memintaku…menggandeng tangannya?’


Pikiran itulah yang sedang berbisik di dalam hati gadis itu.


Kim Yuram cukup terkejut mendengarnya. Ini seperti Ryou mengerti bahwa gadis itu ingin sekali menyentuhnya. Dengan malu-malu, Kim Yuram mulai menggandeng tangannya.


Gadis yang bicaranya lumayan tegas sepertinya ternyata menyukai remaja bermulut pedas seperti Ryou.


Tapi, musim semi seperti itu tidak datang di saat yang tepat.


Beberapa saat setelahnya, langkah kaki para zombie itu semakin dekat dan ternyata benar. Ada lebih dari lima zombie yang masuk ke dalam kelas tersebut.


‘Enam…tujuh…delapan….eh?! Sebelas?! Ada sebelas ekor yang masuk?!’ Kang Ji Song seperti berteriak dalam hati


‘Ini tidak baik! Jika ada sebelas ekor yang bisa masuk ke sini, itu artinya ada lebih dari 20-30 ekor di lorong koridor’ pikir Seo Garam


Kaito sudah siap untuk membunuh mereka semua tapi ketika dirinya melihat Kino menggelengkan kepalanya dengan wajah cemas, dia mengurungkan niatnya.


Mereka semua menahan napas dan menutup mulutnya sambil berusaha tidak bergerak.


Kepanikan terlihat dari wajah para mahasiswa itu. Berbeda dengan para mahasiswa, Kino, Ryou dan Kaito tidak berhenti mengamati pergerakan kesebelas zombie yang berkeliling ruang kelas itu.


Saat ada salah satu dari mereka yang hampir mendekati meja tempat Kang Ji Song bersembunyi, Kino memanfaatkan botol minuman dan minuman kaleng yang ada pada tas belanja Ha Jinan.


“Jinan-san, aku minta dua botol dan minuman kaleng ya” bisik Kino


“Tentu”


Setelah mengambilnya, Kino melemparnya keluar dengan keras ke arah koridor dan tembok. Botol tersebut berbunyi dan menggelinding sehingga menarik perhatian semua zombie yang ada di dalam ruangan tersebut maupun yang ada di lorong koridor.


Semua zombie-zombie itu mulai berjalan perlahan ke arah pintu untuk mencari sumber suaranya.


Untuk beberapa saat, tidak ada dari mereka yang bergerak terlebih dahulu dan tetap pada posisinya karena semua zombie akhirnya berkumpul pada satu titik.


Setelah kurang lebih lima sampai sepuluh menit, suara para zombie itu mulai sedikit menjauh. Mereka mulai menjauhi ruangan tempat ketujuh orang itu bersembunyi.


“Kita selamat” Kang Ji Song terlihat lega


“Tapi untuk saat ini. Selanjutnya kalau sedang sial level maksimal, kita tidak akan bisa seperti ini lagi” celetuk Ryou


Kaito tengah bersiap dan melihat ke luar koridor untuk memastikan keadaan di luar.


“Kita keluar dari sini sekarang. Kalau tidak salah dari sini kita bisa lewat belakang, kan?”


“Dari ruangan ini, kita kembali lagi ke jalan tadi lalu ambil belokan ke arah kanan. Ada pintu barat yang nanti akan tembus ke taman dan area santai mahasiswa. Setelah menuruni tangga, kita ambil jalan lurus untuk sampai ke gedung arsip di samping gedung Fakultas Seni Rupa” Kang Ji Song menjelaskan rutenya


“Baiklah kalau begitu. Kita pergi sekarang”


Kaito memberikan aba-aba kepada mereka lalu berlari dengan cepat. Kino dan Ryou masing-masing menggandeng tangan kedua gadis yang secara otomatis membuat si gadis terlihat merona.


Setelah berlari sambil mengamati sepanjang lorong koridor, akhirnya mereka melihat pintu keluar.


Begitu pintu dibuka dan semuanya keluar, mereka melihat sebuah pemandangan yang sangat ‘memanjakan mata’.


******