
Di rumah sakit, Kino dan Ryou mulai membahas masalah serius.
“Aku tidak ingin membayangkan hal ini, tapi mungkinkah permata itu ada di pasar gelap?” Ryou bertanya dengan wajah tidak yakin
“Pasar gelap?”
“Bagaimana menurutmu?”
Kino terdiam dan tidak mengatakan apapun. Seakan masih ada hal yang membuatnya ragu, dia hanya bisa berpikir ulang kembali.
‘Aku tidak tau seperti apa tempat yang di sebut pasar gelap itu. Aku hanya mendengar dari cerita Arkan-san bahwa tempat itu adalah tempat penjualan organ tubuh dan mayat manusia. Tetapi, apakah mungkin tempat itu memiliki permata yang dicari oleh Kaito-san?’ pikir Kino dalam hati
Ryou melihat kakaknya berpikir keras soal pertanyaannya tadi. Dia tidak ingin membuat sang kakak menjadi stress, tapi bagaimanapun juga dia tetap sangat penasaran dengan semua itu. Kino terlihat belum akan mengatakan apapun. Di saat seperti itu, Ryou mulai menghela napasnya dan berkata dengan santai.
“Lupakan saja! Jangan memikirkan hal sulit seperti itu, Kino”
“Ryou, tapi…”
Ryou mengusap-usap tangan kiri sang kakak.
“Luka ini harus sembuh dulu. Tidak perlu terlalu memikirkan apa yang kukatakan. Anggap saja itu hanya pertanyaan bodoh yang tidak masuk akal sama sekali. Jangan sampai hal seperti itu membuatmu stress sampai memperlambat kesembuhanmu” Ryou tersenyum pada sang kakak
“Tapi, aku mulai berpikir apa yang kamu katakan mungkin saja benar. Kalau melihat dari pengalaman sebelumnya, ingatan Kaito-san memang selalu berada dalam lokasi yang berbahaya. Mungkin saja memang ada di sana”
“Sudahlah, jangan membahas hal itu lagi. Aku minta maaf sudah membuatmu memikirkan hal yang aneh-aneh saat kau baru saja bangun”
“Ryou…”
Keadaan menjadi hening kembali. Ryou hanya terus mengusap-usap tangan kiri Kino yang terbungkus perban dengan lembut, sedangkan Kino masih memikirkan hal yang dikatakan oleh adiknya itu.
‘Aku berharap permata Kaito-san tidak berada di tempat berbahaya kali ini. Seandainya kami bisa menemukan permata itu lebih cepat, aku yakin kali ini pasti…’
**
Sebelumnya, Kaito keluar dari ruangan Kino untuk membeli obat. Setelah menuruni tangga dan sampai di pintu keluar, dia sempat berhenti dan menengok ke sekitar tempat itu seperti mencari sesuatu atau seseorang.
“Sepertinya Riz benar-benar pergi membawa senjata kami. Mungkinkah dia pergi dengan Theo dan yang lainnya saat turun tadi?”
Sempat berjalan pelan, Kaito mulai mengabaikan hal itu.
“Pedang itu tidak akan menghilang dariku. Lagipula sarungnya sendiri pasti akan muncul lagi”
Kalimat yang sungguh ambigu dari Kaito. Di siang hari itu, Kaito berjalan santai di jalan utama di pusat kota.
Keadaan di sana sangat ramai dan tidak bisa dipungkiri bahwa tempat itu benar-benar terlihat semakin hidup dengan banyaknya jajanan di kios yang ada di setiap sudut.
“Aku merasa seperti sudah lama sekali tidak merasakan hal seperti ini. Sama seperti saat aku berjalan bersama dengan ‘orang itu’. Rasanya seperti baru saja terjadi kemarin”
Ada suatu bayangan yang diingat oleh Kaito.
***
Ini adalah sebuah bayangan atau sebuah memori ingatan yang dimiliki oleh Kaito.
Di sebuah kota yang asing dengan keadaan yang ramai, terlihat dua orang yang sedang berjalan bersama saat itu. Salah satu dari mereka merupakan Kaito sendiri dengan seseorang yang berjalan di depannya.
Masih tidak digambarkan secara jelas rupa dan fisik dari orang yang ada dalam ingatan itu. Apakah dia wanita atau pria. Tapi, Kaito yang ada dalam bayangannya itu terlihat dekat dengannya. Tingginya nyaris sama seperti dirinya dengan senyum yang menghiasinya.
Saat itu, suasana siang hari seperti ini. Sebuah percakapan singkat terjadi antara dia dan orang tersebut.
“Kaito, kamu suka dengan pedang ini?”
“Pedang? Untuk apa?”
“Jika kamu berlatih menggunakan pedang ini, mungkin saja kamu bisa dengan cepat melakukan perjalan untuk menemukan ingatanmu”
“Tapi, di tempatmu ada banyak pedang dan senjata kan? Untuk apa membeli pedang yang baru?” tanya Kaito pada orang itu
“Dasar tidak pengertian. Kalau membawa pedang yang baru nanti kamu bisa memamerkannya pada rekan yang kamu temui nanti. Selain itu, aku akan membelikanmu yang paling mahal” orang itu tersenyum senang
“Sebentar, rekan katamu? Apa maksudmu? Memang aku akan pergi bersama seseorang dari sini?”
“Tentu saja tidak, dasar bodoh. Kamu pasti akan bertemu dengan banyak orang di tempat lain. Saat itu terjadi, kamu bisa sedikit memamerkan teknik bertarung dan pedang milikmu”
***
Itulah akhir dari ingatan Kaito. Sedikit ingatan sebelum dirinya memutuskan untuk melakukan perjalanan mencari ingatannya yang hilang.
‘Kalau ingat kejadian itu, aku jadi cukup terkejut karena ‘orang itu’ seperti bisa menebak apa yang akan terjadi. Tapi, aku tidak akan heran karena dia memiliki kemampuan yang disebut sihir. Meski begitu, aku masih belum mengerti kenapa jam saku pemberiannya bisa ada dua model yang sama? Selain itu, orang yang memilikinya juga berasal dari dunia lain?’
Setiap langkah kakinya dipenuhi dengan pikiran aneh hingga dia tidak menyadari bahwa dia sudah berada di kawasan pertokoan.
“Aa…sudah ada di tempat yang tidak asing lagi untukku” gumamnya pelan
Terima kasih pada ingatan dan pikiran berat Kaito, perjalan jadi terasa sangat singkat.
Kaito mulai mencari toko obat-obatan yang pernah didatanginya pertama sejak bertemu dengan Yuki bersaudara, [Magasin de drogue]. Remaja itu berdiri tepat di depan pintu toko tersebut sekarang dan sempat bergumam pelan.
“Hari ini aku datang untuk membeli obat, bukan untuk merampok atau membeli tanpa membayar. Aku punya uang sekarang. Ayo maju, Kaito”
Sepertinya, itu adalah usaha kecilnya untuk menyemangati diri sendiri setelah terus menerus mendapatkan julukan tidak ramah di telinga dari Ryou.
Ketika membuka pintu, Kaito disambut oleh senyum ramah dari orang yang tidak asing untuknya.
“Selamat datang, tuan”
“……” Kaito terdiam dan mengangguk sekali
Dia mengenalinya, itu adalah wanita yang dia temui di ‘dunia siang’ waktu itu. Wajah itu tidak asing karena dia sering bertemu dengannya. Ditambah lagi, wanita itu adalah orang terakhir yang ditemuinya sebelum dirinya terjebak di ‘dunia malam’. Bahkan saat kembali ke ‘dunia siang’ setelahnya, dia tidak pergi ke toko ini lagi. Karena itu, dia tidak bertemu lagi dengannya.
Tentu saat ini, tidak muncul kekhawatiran sedikitpun di mata Kaito tentang semua pembelian obat, racun serta penawar yang pernah dipesannya. Karena perulangan telah terjadi pada penduduk di saat terakhir kali dia tiba di ‘dunia siang’.
Dengan kata lain, Kaito bebas hutang.
“Permisi, apa aku bisa mendapatkan obat yang bisa menyembuhkan dan menutup luka serta menghilangkan bekas luka?”
“Mohon tunggu sebentar” pelayan wanita itu pergi untuk mengambilkan pesanan Kaito
Tidak lama setelah itu, sebuah botol dengan caira berwarna hijau disuguhkan padanya. Warnanya tidak berbeda dengan yang terakhir kali dia dapat. Selain itu, ukuran dan aromanya juga sama.
Sementara Kaito memperharikan dan mencium aromanya, pelayan wanita itu melihat Kaito dengan tatapan aneh. Bahkan tangannya gemetar karenanya.
Kaito yang menyadari itu akhirnya bertanya.
“Apa ada yang salah denganku?”
“Itu…pakaian tuan…kenapa…kenapa penuh dengan noda seperti darah begitu?”
Akan tetapi, kali ini berbeda. Dirinya benar-benar tidak membeli pakaian atau memiliki pakaian ganti lain selain itu. Ditambah lagi, karena dia berpikir hal yang berat di jalan tadi, dia tidak tau bahwa banyak orang yang melihatnya dengan tatapan takut juga.
Dengan menghela napas pelan, Kaito memberikan alasan yang cukup ‘masuk akal’ dengan kondisinya sekarang.
“Maafkan aku, aku baru membawa orang terluka ke rumah sakit”
“Jadi, itu adalah…da–da–darahnya?!”
“Bukan, ini jus tomat yang kuminum”
“……”
Sungguh sebuah alasan yang sangat ‘masuk akal’. Jika lawan bicaranya memiliki pemikiran kritis, mungkin saja sebentar lagi akan terjadi perdebatan sengit.
“Begitu. Ternyata hanya jus. Syukurlah. Berarti obat ini untuk tuan?” tanya pelayan wanita tersebut
“Bukan, ini untuk temanku”
“Be–begitu. Apa…orang yang dibawa oleh tuan itu–”
“Bukan, dia orang lain. Sekarang aku pesan obat ini sebanyak lima buah ya. Tolong totalnya”
Tidak mau memberikan alasan aneh lainnya, Kaito langsung memotong pertanyaan wanita tersebut. Setelah mendapatkan semuanya, dia keluar dari toko tersebut dengan terburu-buru.
Di toko obat, pelayan wanita itu ditanya oleh pelayan lainnya.
“Siapa pria tadi? Tampan sekali. Tapi…pakaiannya penuh noda darah. Apa jangan-jangan dia penjahat yang kabur?!” tanya teman pelayan tersebut
“Bukan. Itu jus tomat katanya”
“Hah? Jus tomat? Kau pikir dia sungguhan mengatakan hal itu?”
“Tentu saja. Orang tampan tidak akan berbohong” ucap pelayan wanita tersebut
“Kau benar. Tapi kurasa itu bisa saja darah sungguhan. Bisa saja dia memang penjahat”
“Orang tampan sudah pasti baik” jawab pelayan yang melayani Kaito sebelumnya dengan senyum percaya diri
Temannya sempat terdiam lalu menjawab dengan senyum ceria juga.
“Kau benar. Tampan itu adalah sosok kebenaran. Kecantikan itu sosok kesempurnaan. Kyaa~pria tadi keren sekali”
Sungguh pemikiran menarik dari para pelayan wanita toko obat.
**
Kaito yang telah mendapatkan obat akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.
“Ada-ada saja. Sepertinya hari ini aku harus mengajak Ryou kembali ke penginapan untuk mencuci pakaian ini dan membeli pakaian sementara”
******
Di rumah sakit, Kino dan Ryou mulai membahas hal lain.
“Ryou, aku ingin bertanya padamu”
“Soal apa?”
“Jika…jika kali ini ingatan Kaito-san ditemukan…apa kita akan siap berpisah dengannya?”
Ryou tidak menjawab. Dia hanya menggenggam tangan kanan sang kakak sambil menggoyang-goyangkannya seperti mengajaknya bermain.
“Ryou, aku serius”
“Jangan pikirkan itu, Kino”
“Tapi, mungkin saja kali ini kita akan benar-benar berpisah dengannya”
“Dan bisa saja setelah ini kita akan pulang ke Jepang”
“Eh?” Kino terkejut
Ryou berhenti menggoyang tangan kanan sang kakak dan menatapnya dengan tatapan serius.
“Kino, sebelumnya aku berpikir bahwa perpisahan dengan Kaito akan menyedihkan. Itu terjadi ketika permata yang kita dapatkan di ‘dunia malam’ berhasil masuk ke tubuhnya. Tapi, tolong jangan lupakan hal yang terpenting Kino. Dia menginginkan semua itu. Kaito berharap menemukan semua ingatannya!”
“……” Kino hanya terdiam
“Kaito menghabiskan banyak hal dan waktunya demi semua itu! Tapi, menemukan ingatan Kaito bukanlah tujuan kita!”
“Ryou…”
“Kita harus pulang ke Jepang dan jam saku itu adalah satu-satunya petunjuk yang kita miliki. Terlepas dari apakah memang benar jam saku itu membawa kita pada Kaito atau tidak, kau jangan sampai lupa apa tujuan kita sekarang! Bagaimanapun juga…aku tidak ingin terus berada di tempat ini”
“Tapi Ryou–”
“Aku lelah melihatmu terus terluka lagi dan lagi!!” Ryou berteriak kepada sang kakak
“R–Ryou…”
“Aku lelah melihatmu terus terluka dan nyaris mati seperti ini! Aku lelah terus menyalahkan diriku sendiri dan keadaan! Aku lelah, Kino!” wajah Ryou kembali bersedih
Kino hanya bisa terdiam dengan wajah sedih dan tatapan mata sendunya. Seketika, keheningan mulai terasa kembali. Ryou memeluk sang kakak.
“Jangan pikirkan apapun tentang perpisahan dengan Kaito. Kita harus membantunya menemukan permata ingatannya itu lalu kembali ke Jepang. Kau dengar itu, kan?” bisik Ryou
Setelah melepaskan pelukannya, Ryou kembali memegang tangan kanan Kino dan memainkannya dengan wajah senyum.
“Kita tidak perlu membahas ini di depan Kaito. Kita hanya perlu berjuang”
“……” Kino hanya terdiam dengan wajah murung
“Bukan berarti aku tidak sedih berpisah dengan Kaito, Kino. Hanya saja, kita juga memiliki tujuan”
“Aku…mengerti. Tapi, Kaito-san telah banyak menolong kita. Aku…aku merasa bahwa kita tidak akan mudah terpisah olehnya mulai sekarang”
“Kino, cukup. Jangan mengatakan hal aneh lagi”
Kino tidak lagi mengatakan apapun dari mulutnya. Sebaliknya, dia memikirkan banyak kemungkinan di dalam pikirannya.
‘Kamu tidak mengerti, Ryou. Jika benar jam saku ini memiliki hubungan dengan Kaito-san, itu artinya kita berdua mungkin akan terlibat dengan Kaito-san lebih dalam lagi. Entah kenapa, aku merasa bahwa semua ini tidak semudah yang dipikirkan’
******