
Sebuah cahaya putih terlihat dan Kaito sedang berada di tengah keramaian.
“Dimana ini?”
Kaito berjalan di tengah keramaian itu dan melihat sosok yang tidak asing untuknya.
“Adler!”
-Deg
Jantung Kaito berdegub kencang saat teriakan nama itu terdengar di telinganya. Kaito langsung menengok ke arah sosok itu dan dia melihat sosok pria tinggi yang dikenalnya, Adler Klaue.
“Itu…Adler…Klaue”
Kaito mendekatinya, namun dia terkejut saat tubuhnya dilewati begitu saja oleh sosok pemuda lain yang memanggilnya. Pemuda itu menggandeng tangan seorang anak kecil.
“Aku? Itu aku…kan?”
Sosok anak kecil itu adalah sosok Kaito. Setidaknya itu adalah sosok dirinya di masa lalu.
“Tuan, kau lagi. Kenapa? Apa ada giant serpent lagi yang muncul di dekat pemukiman?”
“Bukan itu. Anakku ingin sekali bertemu denganmu. Katanya kau berhutang sesuatu padanya” kata orang itu dengan ramah
Saat melihat sosok itu, ada sebuah rasa rindu di hati Kaito.
“Jadi wajah itu adalah wajah ayahku?”
Benar, kali ini Kaito melihat sosok wajah ayahnya dengan jelas. Bahkan sekarang, dia bisa mendengar nama sang ayah disebut oleh Adler setelahnya.
“Tuan Blauer, kurasa anakmu itu membutuhkan sedikit…pelajaran. Benar kan, bocah?”
“Aku bukan bocah! Namaku–”
“Iya iya aku tau, aku tau. Aku sudah dengar itu puluhan kali kemarin. Jadi, aku punya hutang apa padamu?”
“Kau punya hutang mengajariku gerakan sat sit sut kemarin”
Adler dan ayah Kaito, Blauer, saling menatap dan melihat satu sama lain. Tidak lama setelah itu, mereka tertawa.
“Ahahahaha! Apa itu sat sit sut? Perutku sakit! Tuan Blauer, anakmu pandai melawak”
“Ahaha. Sini sini” Blauer menggendong Kaito dan menatapnya, “Kenapa ingin sekali belajar ilmu berpedang dari Adler?”
“Karena dia bisa mengalahkan ular besar kemarin, ayah”
“Begitu. Tapi umurmu belum cukup”
“Kalau belajar dari kecil, aku bisa jadi semakin hebat nanti”
Adler tertawa sampai mengeluarkan air mata. Sudah begitu, mereka akhirnya menjadi tontonan di keramaian itu.
Tempat itu adalah kota tempat tinggal Kaito saat kecil. Beberapa penduduknya mengenal mereka dengan baik, termasuk Adler Klaue.
Beberapa orang yang melihat Adler tertawa keras tersenyum, bahkan ada yang menggodanya dan menghampiri Blauer.
Kaito di masa sekarang, yang melihat itu tanpa sadar menangis.
“Blauer…ayahku bernama Blauer. Akhirnya aku mengingatnya. Ayahku…wajah dan senyuman itu…”
Meskipun dia tau bahwa tubuhnya tidak nyata di dalam ingatan itu, Kaito tidak peduli. Dia berjalan dan berdiri di depan wajah sang ayah yang menggendong dirinya saat masih kecil.
Tangan Kaito mencoba memegang wajah itu.
“Ayah…ini…ayahku”
Kaito tidak bisa menahan air matanya lebih dari itu. Dia menangis. Mungkin ini adalah pertama kalinya Kaito menangis sejadi-jadinya.
Diawali dengan mendengar suara kedua orang tuanya, melihat wajah mereka dan sekarang dia bisa mengingat nama ayahnya, ini adalah sebuah kemajuan yang begitu pesat.
Tanpa sadar, beberapa kali Kaito mencoba untuk menyentuh dan memeluknya. Pada akhirnya dia berkali-kali gagal dan hampir terjatuh.
Ingatan lain diputar. Kali ini adalah ingatan dimana Kaito kecil menghabiskan waktunya di dekat sungai bersama Adler Klaue.
“Adler…”
“Ada apa, tuan penagih hutang?” jawab pemuda itu dengan santai sambil memainkan pedangnya
Saat itu, ingatan yang diputar adalah ingatan saat Adler sedang berlatih. Kaito memperhatikan kembali semua ingatan itu sambil menghapus air matanya.
Dirinya saat masih kecil bertanya, “Kenapa kau tidak mau tinggal di sini? Di sini sangat menyenangkan”
“Hmm~aku ingin menikah dengan gadis cantik yang pemalu”
“Cih, dasar mesum”
Gerakan Adler berhenti saat mendengar kata-kata itu. Dia melihat anak yang duduk di rerumputan dekat tepi sungai tidak jauh dari tempatnya berlatih.
“Tuan penagih hutang, kuharap kau jangan memanggilku begitu. Aku bukan orang mesum ya, ingat itu”
“Habis tipemu sangat tidak cocok dengan kepribadianmu”
“Kepribadian yang mana? Aku ini tampan, karismatik, berwibawa, pengelana tangguh dan kuat. Selain itu aku juga–”
“Miskin, tidak punya uang, makan harus minta ke ayah dan ibuku setelah menolong mereka membawa dagangan dan sok jual mahal” kata anak kecil itu
-Jleeeb
Satu serangan mental kembali dilontarkan oleh anak itu.
“Sudah begitu, korban rayuan bibi di samping rumah. Aku lihat kemarin kau dilempar panci karena dituduh selingkuh. Apanya yang karismatik dan berwibawa”
“Kemarin kudengar kau juga baru terlibat isu perselingkuhan dengan kakak yang sering membeli dagangan ayahku, kan? Aku dengar ceritanya dari ayah saat kau sudah tidur kemarin malam”
“Kalau sampai bocor ke orang lain, wajah tampan, karismatik dan berwibawa itu mau diletakkan dimana ya? Aku ingin tau”
Anak kecil itu tersenyum jahat. Seperti telah memenangkan peperangan, dia berdiri sambil membuat pose tolak pinggang.
Kalimat anak kecil itu begitu menyayat hati Adler. Dia bahkan sampai bertekuk lutut tak berdaya di hadapan anak itu.
“Tuan, kumohon tolong ampuni aku. Aku janji akan mengajarimu cara berpedang. Tolong jangan ambil sumber ketenanganku selama di kota ini ya. Aku mohon”
“Sial kau dasar anak kecil!”
Adler menggendongnya dan memutarnya beberapa kali. Anak itu berteriak meminta tolong dan mereka tertawa bersama.
Kaito yang awalnya sedih terdiam membisu dan berkata, “Mustahil. Anak itu pasti bukan aku”
“Kenapa aku bisa memiliki mulut sepedas Ryou?”
“Ini bohong, kan? Tapi ini adalah ingatanku jadi mustahil ingatan ini berbohong”
“Tapi aku masih tidak percaya. Aku mengejek Adler Klaue sampai seperti itu?”
“Mungkinkah pertemuanku dengan Ryou adalah karma karena mengejek dan mencaci maki Adler di masa lalu? Apa mungkin?”
Ingatan itu akhirnya berpindah kembali. Kali ini, langit malam mencekam dan teriakan orang-orang mulai menyambutnya.
“Lari! Itu Dark Spider dan Black Mantis!”
“Selamatkan diri kalian!”
Kaito langsung menjadi pucat. Semua kenangan itu langsung berubah mengerikan.
“Apa yang terjadi?”
Kepanikkan terlihat dan semua orang berlari. Terdengar suara yang begitu menakutkan dari ujung jalan yang ada di hadapan Kaito.
“Mereka bilang dark spider dan black mantis…mungkinkah monster-monster itu menyerang tempat ini?!”
Kaito berlari ke depan dan terlihat beberapa orang dewasa memegang senjata tajam seperti kapak, celurit dan pedang untuk menghentikan monster-monster itu.
“Kita tidak bisa menahannya lebih lama!”
“Blauer, kembalilah! Kau harus bersama istri dan anakmu!”
Betapa terkejutnya Kaito melihat sang ayah rupanya ada di antara orang dewasa yang bersenjata itu.
“Ayah? Ayah!” teriak Kaito
Saat Kaito berteriak, dari belakang sang ayah dia melihat sosok black mantis yang hendak menyerang.
“Ayah, di belakangmu!!”
Kaito berlari dan mencoba menghentikannya. Akan tetapi, saat ada wanita yang berteriak dan menembus tubuhnya, dia sadar bahwa itu semua adalah ingatannya.
Dia melihat ke belakang dan terlihat suara tangisan dari dirinya saat kecil.
“Ayah! Tidak! Siapa saja, tolong ayahku!!”
Kaito kecil dipeluk oleh sang ibu yang begitu pucat dan pasrah.
Namun keajaiban terjadi. Sebuah serangan berhasil menghentikan black mantis itu dan membuat Blauer selamat.
“Adler?!”
“Tuan Blauer, cepat pergi ke tempat Nyonya Rosa Juwel dan bocah kecil itu sekarang! Kalian semua juga!” teriak Adler
“Kami akan membantumu, Adler!”
“Tidak! Ini adalah alasanku menetap di sini. Jika mereka sudah keluar dari hutan itu, itu artinya tidak lama lagi targetku akan muncul ke permukaan. Biar aku yang urus. Aku akan kembali”
Blauer terlihat enggan untuk meninggalkan Adler sendirian, namun akhirnya dia menepuk pundak pemuda itu.
“Kembalilah dengan selamat. Makan malam tidak akan lengkap tanpamu”
Adler tersenyum, “Asal tuan kecil itu tidak menagih hutang lagi”
Blauer tersenyum dan berlari ke tempat anak dan istrinya.
“Bagaimana dengan Adler?” tanya sang istri
“Rosa, dia akan kembali ke rumah kita. Kita harus memadamkan api dan kepanikkan ini. Ayo!”
Kaito kecil tidak bisa berteriak dan melihat punggung Adler Klaue yang bertarung dengan indah.
“Kerennya~” gumaman itu kembali dilontarkan mulut kecil anak itu
Hingga akhirnya semua kenangan itu langsung berubah kembali menjadi suasana keheningan. Pertarungan itu telah selesai dan matahari pagi mulai terbit. Beberapa bangunan terbakar dan hancur namun tidak ada korban jiwa.
Kaito kecil berlari ke tempat pertarungan Adler di malam itu.
“Adler?! Adler, dimana kau?!”
Kaito dewasa mengikuti anak itu mencari sosok Adler yang belum terlihat.
“Adler?!”
Tidak lama setelah itu, terlihat sosok Adler yang berjalan dengan darah di seluruh tubuhnya. Anak itu langsung berubah pucat dan berteriak, “Adler!!”
Teriakan itu terdengar sampai ke sekitar area itu. Beberapa orang dewasa ikut berlari menghampirinya.
“Adler! Kau terluka?! Darahnya…kenapa darahnya banyak sekali…”
Anak itu gemetar memegangi tangan Adler. Dengan senyuman, Adler berlutut.
“Ini adalah darah mereka, aku tidak apa-apa. Jangan membuat gambaran aku ini lemah seperti itu ya, tuan tagih hutang”
“Tapi, hiks…tapi…”
Adler tersenyum dan mengusap-usap kepala anak itu, “Mereka sudah mati. Aku akan tidur sebentar. Tolong bangunkan aku…nan…ti”
-Bruuuk
“Adleeer!!!”
Kaito melihat kegelapan dan saat matanya dibuka, dia melihat sosok yang tidak asing untuknya.
******