
Setelah berhasil kembali ke atas dan menemukan jalan, akhirnya mereka berhasil keluar dari ruang bawah tanah.
“Kita…berhasil. Akhirnya keluar”
“Dan aku rasa kita sudah ada di dalam salah satu gedung akademi” kata Kaito menambahkan
Kino memperhatikan setiap sisi tempat itu bahkan menengok ke luar jendela, “Ini di lantai dua. Kita harus keluar dari lantai ini. Kalau sampai ada yang lihat, nanti kita dianggap penyusup”
Api milik Ryou ternyata masih ada dan berputar-putar mengelilingi kepala Ryou.
“Jangan membuatku pusing ya. Tapi terima kasih sudah menolongku”
Api itu tampaknya masih ingin bermain dengan tuannya dan mengelus-elus pipi Ryou seperti mengajaknya bermain.
“Agnimal candle, jangan begi–...sebentar. Kau bisa menunjukkan jalan keluar dari tempat ini juga?”
“Ryou?”
“Kino, kita mungkin bisa memanfaatkan makhluk kecil ini. Karena dia juga tampaknya ingin bermain, siapa tau dia bisa membawa kita keluar dari sini” pikir Ryou
Api berbentuk kucing itu memang seperti hewan kucing sungguhan dengan sifat manja dan suka bermain yang sama.
Terkadang dia melihat Kino dan mengendus-endus hidungnya.
“Manisnya~” kata Kino memuji
Tampaknya makhluk itu tau bahwa dirinya dipuji dan jadi menyukai Kino.
“Oi! Jangan coba-coba merayu kakakku! Aa…terlambat”
Benar, sudah terlambat. Api sihir itu sudah terlanjur menyukai Kino.
“Makhluk manis, bisa bawa kami ke pintu keluar terdekat?” tanya Kino
Dengan cepat dia melayang ke arah koridor di depannya. Ketiga remaja dari dunia lain itu berlari mengikutinya.
Saat ada seseorang yang datang, hewan manis itu akan memberi tanda kemudian mereka berjalan lagi. Menuruni tangga dan akhirnya sampai di pintu keluar.
“Haa…haaa…haaa”
“Akhirnya…kita…berhasil…keluar…” kata Ryou sambil menarik napasnya
Api sihir milik Ryou mendekati Kino yang sedang mengatur napasnya dan berputar-putar di depan wajahnya.
“Ahaha, iya. Terima kasih banyak, makhluk manis” kata Kino sambil menyentuh wajah makhluk itu
Setelah itu, dia pergi ke tempat Ryou dan melakukan hal yang sama.
“Iya iya, terima kasih. Setelah ini, kembalilah ya”
Api sihir itu menghilang dengan sendirinya.
“Dia imut. Aku seperti sedang berjalan bersama anak kucing tadi” seru Kino memuji dengan senyum
“Imut tapi kita kesampingkan itu dulu. Ini ada di sisi lain dari gedung akademi. Kira-kira kita ada dimana?” tanya Ryou
Kaito memperhatikan area sekitar. Beberapa murid ada yang datang dan melihat mereka, namun tidak ada yang berani mendekat.
“Mungkin kita bisa bertanya pada mereka”
Kino berjalan dan bertanya. Setelah beberapa waktu, akhirnya dia berhasil menemukan jawabannya.
“Aku sudah tau. Kita ada di gedung kelas sihir utama. Ini adalah bagian sisi kanan gedung yang dekat dengan taman dan perpustakaan sihir”
“Jadi, menara tadi itu dimana?”
“Kata mereka menara perpustakaan itu ada di seberang tempat ini dan cukup jauh dari sini”
“Cukup…”
“Jauh…”
Ryou dan Kaito saling melihat satu sama lain.
“Berarti tadi kita memang berada di bawah tanah dan…”
“Ruangan tadi menyimpan rahasia”
Kino melihat sekeliling dan berbisik, “Kita pindah tempat sebelum dicurigai. Selain itu, masih ada waktu sampai ke lobi. Sebaiknya kita bicara setelah itu”
Ryou dan Kaito mengangguk setuju dan mereka pergi ke arah yang sudah ditanyakan oleh Kino sebelumnya. Mereka kembali menuju lobi.
**
Sementara itu, Xenon bersama kedua saudara kembar itu sedang berjalan di koridor setelah selesai mengerjakan pekerjaan dari Algeria.
“Pada akhirnya semua yang kulakukan sia-sia” gumam Xenon
“Kenapa Jene-sama berpikir begitu?”
“Karena…lihat kau sekarang”
Xenon baru menyadari sesuatu. Ketika mereka bertiga keluar dari ruang kerja Algeria, Jessie langsung memeluk dan menggandeng tangan Xenon dengan erat.
Sedikit perbaikan hubungan yang terjadi sebelumnya membuat mereka lebih baik. Wajah Jessie tidak lagi sedih dan Jene sendiri senang melihat sang adik tersenyum.
Xenon hanya bisa diam dan tersenyum tipis. Bukan karena dia menerima sepenuhnya perasaan itu, namun dia hanya mencoba menghargai apa yang telah dilakukan kedua orang itu untuknya.
“Ah!” Xenon tersentak mengingat sesuatu
“Ada apa, Xenon?” tanya Jessie
Xenon melihat jam tangannya dan berkata, “Waktunya berkumpul di lobi untuk penerimaan. Aku harus cepat”
“Kalau begitu kita berlari sampai sana”
Jessie menggandeng tangan Xenon dan menariknya, “Ayo”
Dalam hati, Xenon ingat hal yang terjadi sebelum dirinya berpisah dengan ketiga remaja dari dunia lain itu.
‘Aku harap Kino dan yang lain menemukan hal berguna dari penyelidikan mereka menengai Rebellenarmee’
‘Aku yakin tidak adanya Vares saat itu bukan berarti dia tidak menyelidiki sesuatu. Selain itu, aku ragu mereka masih bersama selama aku pergi’
‘Jika aku bertemu dengan ketiganya saat bersama dengan para Rebellenarmee, apakah aku bisa bersikap biasa? Mereka jelas mengincarku seperti cerita Kaito’
‘Meskipun Mark-sama menjaminku, aku sendiri harus bisa menemukan rencana terselubung dari pengkhianat dan Rebellenarmee!’
**
Di ruang rapat, Rexa keluar seorang diri. Di dalam ruangan tersebut akhirnya hanya ada Lucas bersama dua adiknya, Emilia dan Emily.
Emily mendekati Emilia, “Emilia, pipimu merah. Kamu baik-baik saja?”
“Tidak apa-apa. Ini hanya–”
“Tidak perlu menyembunyikan apapun. Emily tau perbuatan gadis itu sebelum Rexa-sama mengatakannya
“Emily tau?”
Emily bicara dengan nada tegas, “Dia memang pantas diusir dari Akademi!”
“Emily melihat semuanya. Misha memang harus keluar dari tempat ini”
“Emily ingin sekali menghukumnya. Tapi karena Rexa-sama ternyata sudah bertindak lebih cepat dari dugaan Emily maka Emily akan menyerahkan semuanya pada Rexa-sama”
Emilia terdiam. Dia memang tidak pernah memikirkan kata-kata menyakitkan dari Misha. Namun melihat hal hebat yang dilakukan oleh sang adik membuatnya sadar bahwa dia memang hanya seorang gadis biasa tanpa bakat.
Lucas mendekati Emilia dan memeluknya.
“Lucas?”
“Tidak ada seorangpun yang boleh menghina adikku dan aku berhutang pada Rexa karena membelamu”
Mata Emilia melebar karena terkejut mendengarnya dan dia memeluk sang kakak.
‘Aku rasa Misha-sama benar. Aku mungkin hanya aib dari keluargaku dan beban untuk kakak dan juga adikku yang paling kecil’
‘Tapi bahkan…beban sepertiku ini masih diberikan kesempatan untuk bangga pada mereka berdua’
‘Aku cinta kakak dan adikku’
Ketika Lucas melepaskan pelukan itu, Emily langsung berkata dengan bangga.
“Lucas, Emily akan bilang pada ayah dan ibu untuk menjodohkan Rexa-sama pada Emilia!”
“Eh?”
**
Kembali ke tempat dimana tiga remaja dari dunia lain berada. Mereka akhirnya tiba di lobi.
“Masih sempat. Syukurlah”
Kaito melihat jam saku miliknya, “Kurang dua puluh menit. Sepertinya yang lain juga mulai berkumpul”
“Setidaknya kita aman. Kita bisa duduk di pojok ruangan dan membahas soal yang tadi”
Kino terdiam dan melihat ke arah kedua orang di sampingnya.
“Aku yakin tempat itu adalah ruang rahasia di akademi ini. Dan sepertinya aku bisa menebak tempat apa itu”
******