Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 304. Ujian Masuk Akademi Sekolah Sihir: Area Level A bag. 6



Suara seseorang yang terkena tendangan terdengar. Itu adalah peserta yang awalnya melompat untuk menyerang Xenon.


-BUAAAAK


"Kaaagh?!"


Peserta itu jatuh dengan sebuah pedangnya yang lepas dari tangannya.


"......!!!" semua orang terkejut


"Xe–Xenon?" Ryou begitu syok sampai matanya tidak berkedip


Xenon berdiri dengan menatap tajam sang peserta.


"Jangan mencoba terbawa suasana. Aku tau, kau mencoba melakukan sesuatu padaku. Aku juga bermaksud untuk serius kali ini"


Mencoba untuk bangun, peserta itu baru saja bersiap untuk berdiri. Namun, dia harus melihat bahwa Xenon sudah ada di depan matanya sekarang.


"Ap–"


-BUUAAAK


Sebuah tendangan memutar dilakukan sang penguji. Sang peserta menahannya dengan satu tangan miliknya dan berakhir merasakan sakit yang luar biasa.


"Aakh!"


Dia melihat pergelangannya. 'Tulangnya bergeser?!'


Tidak memberikan kesempatan, kali ini Xenon yang mulai melakukan serangan balik.


Dengan cepat dia terus menyerangnya. Peserta itu hanya bisa menghindar dan bertahan.


Pedangnya yang terjatuh tidak bisa diraihnya karena serangan cepat Xenon membuatnya menjauhi posisi dimana pedang itu terjatuh.


'Sial, aku tidak pernah mendengar informasi mengenai kekuatannya! Tapi, hanya tulang bergeser bukan hal besar'


'Aku tidak suka terlalu bersungguh-sungguh seperti ini, tapi apa boleh buat'


Peserta itu mulai melompat membelakangi penguji.


Dia langsung memposisikan kembali tulangnya yang bergeser.


-Kreek


"......!" beberapa orang terkejut


Tapi hal tersebut tidak membuat Xenon kaget.


"Sudah selesai? Masih mau dilanjutkan sampai diketahui pemenangnya atau mau langsung aku umumkan kau lulus atau tidak?" tanya Xenon santai


"Aku masih mau mengetahui sekuat apa kemampuan penguji"


"Begitu. Tapi aku benar-benar terkejut. Kau sungguh kuat. Meskipun belum mencapai levelku" sorot mata Xenon mulai tajam sekarang


Bukan hanya peserta yang mengeluarkan aura berbahaya, namun Xenon kali ini mengeluarkan aura membunuhnya.


Merasa begitu kental dengan hawa berbahaya, peserta itu tersenyum dan mulai terlihat semakin serius.


Sinisnya senyum dan dinginnya tatapan mata itu langsung menusuk ke arah Xenon.


'Ah, aku benar. Dia rupanya memang penyusup dan dia serius ingin membunuhku'


Merasa ini sudah berlebihan, Jessie langsung naik ke arena dan menghentikan mereka begitu mereka berdua bersiap untuk berlari.


"Berhenti sampai di situ!"


Keduanya berhenti. Jessie melihat ke arah peserta.


"Nomor 112, benar kan?"


"Iya"


"Kamu lulus. Masukkan senjatamu kembali dan berhenti mengeluarkan aura berbahaya itu sekarang!" Jessie melihat sinis peserta itu


Seluruh peserta yang berada di luar arena, termasuk Ryou terkejut dengan ucapan itu.


"Aura?" Piero heran


"Apa dia memang mengeluarkan hal seperti ini?" tanya Luna


Ryou melihat mereka semua dalam keadaan bingung.


'Mereka tidak menyadari hawa kematian itu? Kenapa? Padahal itu sudah sangat jelas'


Rasa heran Ryou belum terjawab, namun dia melihat Xenon kembali.


Di arena, Xenon yang masih belum melepaskan tatapan sinis miliknya menatap peserta tersebut.


'Aku kehilangan kendali' gumamnya dalam hati


Jessie mengatakan kembali kalimatnya.


"Atas nama pengawas ujian ini, peserta nomor 112 dinyatakan lulus. Apakah masih ada yang ingin kamu lakukan lagi?"


Peserta tersebut mulai tersenyum merendahkan.


"Apakah tidak salah? Kenapa justru pengawas ujian yang menentukan aku lulus atau tidak?"


"Kalian tidak memiliki hak untuk memberitahu aku lulus atau tidak. Selain itu, penguji belum mengatakan aku lulus atau tidak"


"Itu tidak sah sama sekali. Kalian harus lebih profesional dalam–"


Belum selesai dengan kalimatnya, belakang lehernya telah digenggam oleh tangan Jene.


'Sejak kapan dia ada di belakangku?!'


Peserta itu menjadi tidak bisa bergerak sekarang.


"Maaf saja, jangan membuat kami mengeluarkanmu. Meskipun yang lain tidak mengetahuinya, tapi kami tidak bisa dibohongi"


"Aura berbahaya darimu tadi sudah dianggap pelanggaran, kau tau. Normalnya, aku akan melemparmu keluar sekarang"


"......" peserta itu terdiam


Jessie melihat Xenon dan bertanya, "Bagaimana? Mau meluluskannya?"


Xenon berubah menjadi sangat senang. Dia bahkan tersenyum dan berkata, "Tentu dsja dia lulus. Terlepas dari apa yang dia lakukan, dia punya potensi"


Jene langsung berbisik pada peserta itu, "Jangan mencoba untuk mengatur apa yang harus kami lakukan. Di sini, kami yang mengaturmu"


"Bersyukurlah kau masih diluluskan"


"Apa pengawas ujian berhak mengancam pesertanya?" tanya peserta itu dengan nada sinis


"Heh, kau tidak tau saja. Kami sudah diberi izin khusus untuk mengusir kalian, para peserta yang tidak tau aturan dan seenaknya saja mengeluarkan aura membunuh"


"......" peserta itu menatap Jene sinis


"Pemimpin Dewan Sihir sudah menandai tiap peserta begitu kalian masuk ke tempat ini dan seluruh hal yang kau lakukan telah dilihat langsung olehnya. Ingat itu"


Dia terkejut mendengar ucapan Jene.


'Apa?! Jadi...semuanya dilihat langsung?!'


Peserta itu menatap ke atas. Dia tidak merasakan sihir apapun. Namun saat dia melihat Jene kembali, dia tau bahwa pengawas itu tidak berbohong.


'Aku gegabah. Ini wilayah musuh. Meskipun target telah di depan mata, aku harus ingat tugasku'


'Mengeluarkan seluruh kartu as akan membuat kami dirugikan. Selain itu, Xenon van Houdsen juga belum mengeluarkan seluruh kemampuannya'


'Baik sihir maupun sampai dimana kekuatan fisiknya, masih belun sepenuhnya terbongkar. Sabarlah, Vares. Galaktika dan yang lain juga pasti akan lebih tenang'


Peserta itu akhirnya menghela napas. Jene melepaskan tangannya dan menyuruh peserta itu untuk turun.


"Siapapun yang melanggar aturan akan kami keluarkan. Peserta nomor 112 akan dijadikan sebagai contoh."


"Hanya karena kau kuat, bukan berarti kau bisa seenaknya. Kali ini akan kami maafkan, tapi tidak untuk kedua kali"


Jene melihat seluruh peserta dengan tatapan sinisnya.


Jessie menghampiri Xenon, Kamu baik-baik saja?"


"Baik. Ini bukan apa-apa. Kita lanjutkan lagi"


Xenon melirik Ryou yang masih terlihat cemas. Dia tersenyum padanya.


[Telepathic Power]


Xenon mengaktifkan kembali sihir telepatinya. Mereka bicara melalui pikiran satu sama lain.


"Aku baik. Jangan cemas"


"Kau nyaris jadi mayat tadi! Kenapa tidak mendengarkanku?!" Ryou terlihat emosi


"Karena aku tidak mungkin menunjukkan kemampuan asliku di saat banyak kemungkinan yang terjadi"


"Dia mengeluarkan aura membunuh yang mirip dengan yang kami ceritakan padamu, Xenon"


"Apa?!" wajah Xenon berubah. Dia melihat peserta yang berjalan menuju pojok ruangan.


"Ryou, kau yakin?"


"Yakin. Aku tidak tau kenapa yang lain tidak merasakannya. Tapi, aku tidak berbohong. Karena itu aku bilang padamu gunakan sihirmu tadi!"


"Berarti keputusanku tepat"


"Apa?!"


"Dia serius mengincarku. Dia ingin membunuhku sungguhan. Itu bukan sekedar memamerkan kemampuan bertarungnya"


"Hah?! Jangan bercanda?! Jangan menakutiku! Kenapa dia mengincarmu?! Dari mana kau tau?" Ryou semakin terlihat panik


Xenon memberikan penjelasannya melalui pikiran.


"Ryou, kau mungkin tidak melihat detailnya. Peserta itu mengincar jantung dan kepalaku terus menerus"


"Aku beruntung karena dia belum mengetahui sihir milikku"


"Dia mencoba melakukan percobaan pembunuhan padaku dengan namun seperti sebuah kecelakaan saat ujian"


"Aku yakin dia profesional. Dia jauh lebih kuat dari itu"


Ryou kesal dengan semu penjelasan Xenon.


"Kh! Kalau saja Kaito di sini. Tapi kenapa kau meluluskannya meskipun dia berbahaya?!"


"Sejak dia adalah terduga penyusup yang harus dicurigai, aku bermaksud mencari tau seluruh datanya" jawab Xenon


"Aku mengerti. Kita akan bicarakan ini saat di tempatmu"


"Ya. Aku akan melanjutkan ujiannya. Hanya kau dan aku yang tau"


"Baiklah"


[Nox]


Ujian kembali dimulai.


Beberapa peserta akhirnya mulai mencoba untuk melawan penguji yang dianggapnya kelelahan.


Selama kurang lebih satu setengah jam sejak pertarungan antara Xenon dengan peserta nomor 112 selesai, ada lebih dari setengahnya yang telah gagal.


Akan tetapi, jumlah peserta yang lulus juga setidaknya bertambah.


Pos 2, ruang ujian [Area Level A] telah meluluskan 15 orang dan menggagalkan 32 orang dari total 60 peserta. Sisa peserta 13 orang yang harus diuji.


******