
Ryou dan Kaito sudah memberikan semua anak-anak itu perasaan tenang. Ryou melihat-lihat isi bar termasuk semua dekorasi aneh dan noda darah yang panjang pada lantai bar tersebut.
Perhatian Ryou tertuju pada karpet besar di dekat pojok belakang dan kertas dinding aneh.
“Bartender itu punya selera yang buruk dalam mendekor ulang”
“Itu karena karpet dan kertas dinding itu untuk menutupi sisa noda darah” jelas Kaito
“Menutupi noda darah ya. Apa yang kau maksud sebelumnya tentang itu, Theo?” Ryou menunjuk ke pojok ruangan dengan ibu jari sambil bertanya pada Theo
“Benar. Di situ tiga wanita itu–”
Sebelum ingin melanjutkan perkataannya, dia melirik Michaela dan yang lain. Dia sudah berjanji pada Stelani dan Fabil agar tidak membahas tentang hal ini di depan anak-anak kecil lain.
Walaupun sebenarnya hal itu tidak lagi berguna karena semua anak-anak itu sudah tau.
Ryou hanya mengangguk sebagai tanda bahwa dia mengerti. Dia akhirnya berjalan dan menarik semua kursi di dalam bar itu untuk mereka semua duduk termasuk dirinya dan Kaito.
Melihat posisi duduk mereka yang berdekatan satu sama lain, Ryou dan Kaito seperti guru taman kanak-kanak dengan wajah yang cukup tidak mencerminkan keceriaan taman kanak-kanak. Karena kalau dipikir baik-baik mana ada guru taman kanak-kanak yang mengajar dengan membawa pedang.
Ryou mulai tertarik dengan bagaimana mereka bisa bertemu dengan kakaknya ketika dia dan Kaito sudah mencoba sebaik mungkin untuk membuat sang kakak tidak terlibat sama sekali.
“Jadi, aku ingin tau bagaimana kalian bisa bertemu dengan kakakku?. Kalian berkata kalian bertemu dengan Kino ketika di altar kan?. Ceritakan padaku!”
Mendengar pertanyaan Ryou, Theo juga sedikit penasaran. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa anak-anak lain juga sudah bertemu dengan Kino saat dia tidak bersama mereka semua.
Semua anak-anak itu bercerita semua yang mereka ingat dengan sangat antusias. Mulai dari ketika Kino memberikan uang banyak kepada mereka, lalu tentang mereka yang makan di restoran makanan yang mahal dan lezat dan tentang mereka yang ingin bertemu lagi dengan Kino.
Cerita panjang dan terasa ceria ketika mengingat hal menyenangkan mereka bersama Kino membuat Ryou dan Kaito mengerti kenapa semua anak-anak itu begitu menyukai Kino.
Kaito berbisik pada Ryou.
“Kakakmu berbakat memenangkan hati anak-anak”
“Hmm, bukan cuma anak-anak. Kakakku itu yang terbaik dalam banyak hal kecuali membuat rencana aman untuk dirinya sendiri dan berhenti terlibat dalam masalah orang lain”
“Begitu” Kaito tersenyum mendengarnya
Cerita panjang itu belum berakhir karena anak-anak itu terus memuji Kino dengan banyak hal.
“Kue yang beli oleh Kino-niichan yang terbaik!”
“Rasanya enak sekali. Theo-niichan juga harus mencobanya”
“Ada strawberry di atasnya”
“……”
Theo mendengarkan sambil tersenyum dan memandangi uang koin 500 Franc yang masih digenggam erat di tangannya. Ekspresi wajahnya berubah menjadi sendu seketika.
‘Jadi, koin milik Stelani dan Fabil juga berasal dari Kino-niichan ya’ gumamnya dalam hati
Setelah itu, dia memasukkan uang koin tersebut ke dalam saku celananya. Dia tentu tidak lupa bahwa dia juga menerima koin 100 Franc dari Kino sebagai bayaran untuk mencari jam saku miliknya.
Theo baru menyadarinya dan menjadi panik.
“Ryou-nii!! Jam sakunya! Kalau gorilla itu sudah tidak ada lagi lalu bagaimana dengan jam saku milik Kino-nii? Aku…aku belum sempat mencarinya tadi dan–”
“Jangan cemas, jamnya sudah ada padaku” jawab Ryou sambil tersenyum
“Eh? Bagaimana bisa?!” Theo terkejut mendengarnya
“Kalau kau penasaran, tanya saja pada Kaito. Aku sendiri tidak bertanya bagaimana dia mendapatkannya sejak aku tidak peduli selama jam saku ini ada padaku”
Ryou menunjuk Kaito yang duduk di sampingnya dengan ibu jari dan meminta Theo bertanya sendiri. Namun, Kaito cukup peka sehingga dia menjawabnya dengan nada santai.
“Tuan bartender itu yang memberikannya karena dia mengatakan akan membantuku menemukan bendaku yang hilang. Itu terjadi saat dia meminta tolong padaku untuk menyelamatkan kalian dari wanita dan pria besar itu”
Theo yang mendengarnya terkejut.
‘Arkan-nii bahkan meminta bantuan orang lain untuk menolong hewan peliharaan Justin seperti kami. Dia bahkan tidak pernah terlihat peduli pada kami selama ini’ itulah yang ada dalam pikiran Theo sekarang
Kaito melihat jam saku miliknya dan waktu menunjukkan pukul 12.15.
“……!!!” Kaito tiba-tiba terkejut
Ada suara yang datang dan sesuatu itu benar-benar tidak diduga olehnya. Dia berbisik pada Ryou.
“Dengar suara itu?”
“Suara?!”
“Seperti ada yang menuju ke tempat ini. Aku akan memeriksanya, kau jaga mereka semua”
Kaito langsung memasukkan jam saku miliknya dan berdiri dengan kuda-kuda bersiap mengambil pedangnya. Bersamaan dengan itu, suara yang datang sepertinya berhenti. Namun, itu tidak merubah keputusan Kaito untuk melihatnya.
Ryou memperhatikan Kaito yang sudah berada di depan pintu masuk yang rusak. Anak-anak itu menjadi heran dan bertanya.
“Apa yang dilakukan kakak itu?” tanya seorang anak kecil pada Ryou
“Sedang mencoba melihat sesuatu yang datang. Kalian semua jangan ada yang bergerak dan tetap diam di sini” kata Ryou sambil berdiri dari kursinya
Kaito merasakan sesuatu dan ketika pedangnya mulai ditarik, dia menghunuskannya ke arah depan bersamaan dengan seseorang yang datang.
“Aaaah!!! Jangan bunuh aku!!”
“……!!!” Kaito terkejut
“Aku mohon aku tidak bersalah! Aku hanya ingin melihatnya langsung!! Hiks…huwaaa”
Tampak seseorang berdiri dengan tangan ke atas dan dia juga terlihat menangis.
“Kau–”
******
Arkan yang berlari secepat yang dia bisa untuk sampai ke tempat Riz.
Tidak mau melanjutkan kalimatnya, Arkan memfokuskan dirinya untuk berlari. Dia tidak tau sudah berapa lama telah berlari. Sesekali, dia berhenti untuk mengambil napas lalu melanjutkannya. Itu terjadi beberapa kali sampai akhirnya dia tiba di [Riz Mortem].
Arkan harus melihat dua ornament tengkorak itu lagi dan bukan saatnya untuk takjub.
-Tok Tok
Dua kali dia mengetuk pintunya dan tidak ada yang menjawab. Karena sudah tidak mau membuang waktu dengan etika dan yang lain, dia langsung masuk tanpa permisi dan melihat peti mati tempat biasa dia tidur terbuka.
“Riz, apa kau ada di dalam? Jawab aku!!”
Kosong. Tidak ada suara apapun bahkan serangga saja tidak terlihat di sana.
“Dasar sial! Padahal ini bukan saatnya untuk menunggu tapi dia malah tidak ada dimanapun?!”
Arkan tidak menyerah dan keluar dari tempat itu menuju pintu belakang toko itu. Sekarang, dia melihat gerobak yang tadi pagi dipakainya untuk membawa kelima mayat dari barnya.
-DUK…DUK…
Ada suara keras di dalam, seperti suara benda yang terkena kayu atau sesuatu lainnya yang seperti terpotong. Arkan tidak mau pikirannya pergi terlalu jauh dan berhenti membayangkan sesuatu yang tidak menyenangkan.
“Jangan berpikir hal yang tidak-tidak, Arkan! Kau bisa muntah habis-habisan sebelum bisa bertemu dengan Riz. Ayo kuatkan dirimu dan kita masuk sekarang!”
Dari pintu belakang, dia langsung membuka pintunya dan akhirnya dia melihat pemandangan tidak menyenangkan sama seperti bayangannya.
“Uwaaa!!”
“Uwaaa!!! Siapa di sana!!”
Bukan hanya Arkan yang berteriak namun seseorang di dalam ruangan itu juga ikut berteriak. Itu adalah Riz dengan pisau daging di tangannya.
Ruangan itu hanya memiliki satu cahaya lampu yang berada tepat di atas Riz. Di dekatnya terdapat meja kayu besar dengan sesuatu yang tidak perlu dideskripsikan oleh Arkan.
Riz langsung mendekati Arkan sambil mengarahkan pisau daging penuh darah miliknya.
“Kenapa kau menganggetkanku seperti itu, Arkan!! Kau tidak lihat aku sedang bekerja dengan cantik untuk nanti malam!!”
“Kenapa kau mengarahkan pisaumu itu kepadaku, dasar bodoh! Kau mau membunuhku setelah ini ya!!”
“……” Riz terdiam
Dengan sedikit helaan napas dia akhirnya bisa menemukan ketenangan dirinya dan menurunkan pisaunya kembali. Sambil berjalan mencari kain untuk membersihkan semua noda darah di wajah dan tangannya, dia mempersilahkan Arkan untuk masuk.
“Masuklah dulu. Oh, hati-hati karena ada beberapa barang penting di bawah. Jangan sampai kakimu kotor terkena darah di lantai ya”
“……” Arkan melihat ke bawah lantai tempat itu
Seketika dia langsung merasa seperti bermimpi buruk.
‘Sebenarnya kesialan macam apa yang kumiliki sampai harus terus berhubungan dengan darah dan mayat sejak kemarin malam?. Mereka yang membunuh satu sama lain, aku yang gila sekarang. Sudah kuputuskan aku akan pensiun dari pekerjaanku dan pindah profesi menjadi orang suci setelah ini. Lihat saja nanti!’
Selesai bergumam dalam hati, Arkan akhirnya ingat tujuan awalnya ke tempat Riz.
“Riz, tidak ada waktu! Ikut aku sekarang dan bawa gerobak itu bersamamu!”
“Hah? Kenapa? Bukankah aku sudah membawa semua mayat yang ada di tempatmu?”
“Tidak ada waktu!! Aku ingin kau membantuku membawa Justin untuk kujual ke pasar gelap sekarang!!”
“……” Riz terdiam dan mematung
Dengan hanya mengedipkan matanya, dia mendekati Arkan tanpa ekspresi dan bertanya dengan serius.
“Kau tadi bilang apa?”
“Aku ingin kau membantuku membawa Justin untuk kujual ke pasar gelap sekarang!”
“Justin siapa?” Riz bertanya seakan mencoba lari dari kenyataan
“Justin mana lagi yang kau tau! Tentu saja yang tadi pagi kau temui! Dia sekarat sekarang. Em…atau mungkin sudah mati” kata Arkan sambil menggigit ibu jarinya sebagai tanda dia cemas
Bukan seperti hal yang mungkin terjadi, Riz terlihat seperti akan tertawa.
“Pfft…Ahahahaha, lelucon yang lucu Arkan. Kau berbakat menjadi pelawak. Justin-sama baru memberiku bayaran yang banyak untuk mengangkut mayat-mayat ini tadi pagi, mana mungkin dia mati!. Ahahaha, lucu sekali”
“Terserah kau mau percaya padaku atau tidak, yang jelas tubuhnya sekarang sudah ada di bar dan aku mau kau mengambilnya. Aku akan pergi denganmu ke pasar gelap untuk bertemu Seren-sama. Ini darurat!!”
“……”
Dengan wajah yang masih tertawa, Riz yang mendengar itu langsung seakan tersambar petir. Dia langsung berteriak sekeras-kerasnya.
“Tidaaak!!! Ladang uangku!! Uhuhuhuhuhu…huwaaaa!!”
Merengek sekali dua kali mungkin masih wajar. Masalahnya, Riz merengek cukup lama sampai-sampai pisau di dekatnya bisa melayang nyaris ke arah Arkan. Melenceng beberapa senti dari tempatnya berdiri.
“Oi, hati-hati kalau mengamuk!!” Arkan menghindari pisau yang mengarah padanya
Pisau itu sekarang ada di bawah kakinya dan dengan wajah kesal, Arkan mengambilnya sambil bergumam dalam hati.
‘Orang gila ini benar-benar ingin membunuhku ya!!’
Dengan cepat dia menghampiri Riz dan memegang kerah bajunya sambil mengancamnya dengan pisau yang dia pegang.
“Hentikan drama tidak menyenangkan ini dan ikut aku sekarang! Aku sekarang sedang tidak mau main-main dan kalau kau berani membantahku, aku akan memotongmu seperti yang kau lakukan barusan pada mayat di meja itu”
Sisi lain Arkan yang tidak pernah terlihat akhirnya muncul. Siapa sangka dibalik wajah tampan dan pendiam itu ternyata memiliki jiwa tukang tindas.
Riz yang masih menangis sesegukkan akhirnya hanya mengangguk patuh tanpa melakukan perlawanan. Setelah melewati drama dan berakhir tamat, mereka berdua pergi. Riz mengambil gerobaknya dan Arkan hanya mengawasinya sambil membawa pisau di tangannya.
“Kalau kau mencoba menangis dan berteriak yang tidak-tidak, akan kutusuk kau, mengerti!”
“Hiks…ladang uangku yang manis. Hiks…hiks…”
Arkan tidak mau berdebat dan hanya bisa memasang wajah aneh sambil menghela napas
******