Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 412. Kisah dari Cinta Tanpa Batas bag. 3



Di ruang makan, hanya terdengar isak tangis seorang wanita yang baru saja membela harga diri putranya.


“Hiks…Xenon kecilku bukan darah kotor. Hiks…Xenonku adalah anak yang baik. Aku mohon jangan membencinya seperti itu. Hiks…”


“Jangan benci Xenon kecilku, hiks…hiks…”


Marie, sang pelayan yang mencoba menenangkan sang majikan jadi ikut menangis.


“Axelia-sama…”


Mendengar suara tangis itu, Revon meminta semua orang keluar termasuk Marie. Awalnya Marie tidak ingin meninggalkan sang majikan sendiri, namun siapa yang bisa menentang perintah kepala keluarga. Akhirnya dia harus mengikuti perintah tersebut.


Di dalam ruangan itu, hanya ada Revon dan sang istri kedua.


Dia berjalan dan menghampiri sang istri. Dengan lembut dia membangunkan wanita itu untuk kembali duduk di kursi dan berlutut untuk menghapus air matanya.


“Sudah, jangan menangis”


“Hiks…Aku minta maaf sudah membentak Vexia-sama, Revon-sama. Tapi, aku…aku tidak ingin malaikatku terus mendapat sebutan seperti itu”


“Aku mengerti. Aku juga minta maaf padamu” dengan lembut, Revon mengelus pipi milik Axelia. “Apa wajahmu baik-baik saja?”


“......!!” Axelia terkejut. Dia menatap wajah sang suami dan tangis itu akhirnya berhenti. Bukan berhenti karena dia merasa tersentuh dengan pertanyaan itu, namun tangisan itu berhenti karena Axelia syok dengan pertanyaannya.


Revon mengusap-usap lembut wajah wanita cantik itu dan berkata, “Sepertinya sudah tidak apa-apa”


“Revon-sama?”


Mungkin ini bukanlah hal yang begitu penting, tapi momen indah ini adalh bukti dari ucapan Revon sebelumnya.


Dengan lembut, sang kepala keluarga itu mengecup pipi dan pelipis mata sang istri beberapa kali, menunjukkan bahwa dia begitu mencintainya.


Ekspresi dingin dan wajah datar tidak terlihat. Beginilah cara dia memperlakukan Axelia saat tidak ada siapapun di dekatnya.


Romantis, itulah gambaran kata yang cocok untuknya.


“Aku sudah berjanji untuk melindungimu. Aku sudah berjanji pada Rexa sebelum dia pergi ke akademi. Maafkan aku karena sudah membuatmu menangis setiap waktu, Axelia” bisiknya


Dalam pelukan Revon, Axelia tidak bisa berkata apapun karena terlalu terkejut. Siapa yang menyangka bahwa sang suami akan mengatakan hal seperti itu.


Ada sedikit kisah masa lalu di dalam benak Revon van Houdsen saat memeluk lembut wanita itu.


***


Terjadi saat usia Revon muda berusia 15 tahun, dia yang menghabiskan waktu liburannya untuk pulang ke rumah melepas lelahnya pendidikan di Akademi Sekolah Sihir bertemu dengan pelayan baru.


Pertemuan itu tidak disengaja karena dia melihat pelayan baru itu baru saja menyapu halaman.


“Kamu pelayan baru ya?” tanya Revon muda pada pelayan itu


Pelayan baru itu adalah seorang gadis cantik yang sangat tenang namun juga sangat pemalu.


“Maafkan aku, tuan!” ujarnya panik


“Kenapa minta maaf?”


“Umm…tuan harus…melihatku sedang bekerja”


“Tapi sepertinya kamu mengenalku. Apa kamu sudah mendengar tentang kepulanganku?”


“Iya”


“Siapa namamu?”


“Axelia Anastasia”


“Axelia ya…”


Mendengar namanya dipanggil oleh sang majikan saat itu merupakan sebuah kehormatan terbesar untuk pelayan baru itu sehingga senyum manis merona terlihat di wajahnya.


-Deg


Sebuah senyum indah yang langsung menancap di jantung sang calon pewaris muda.


Semua itu terjadi selama Revon muda menghabiskan masa liburannya selama dua bulan.


Kedekatan mereka menumbuhkan perasaan yang seharusnya tidak dirasakan oleh seorang majikan terhadap pelayannya. Cinta, itulah nama perasaannya.


Revon jatuh cinta pada pelayan cantik itu karena sifatnya yang lembut, jujur dan sangat polos. Axelia juga sangat peduli dan begitu anggun meskipun dia hanya seorang pelayan biasa.


Gadis muda itu begitu patuh dan mau mendengarkan semua keluh kesah Revon, menantikan semua ceritanya dan senyuman itu mencairkan seluruh beban di punggungnya.


Di zaman saat Revon muda, ada sebuah peraturan yang mengharuskan keluarga bangsawan menikah dengan keluarga bangsawan lain yang diumumkan saat ulang tahun yang ke-16.


Tentu saja tradisi itu menghilang saat generasinya lahir. Tapi beberapa ada yang masih menggunakan hal itu, contohnya Vexia yang mengatur pertunangan Rexa dengan Misha dalam acara sebuah pesta.


Di saat Revon berulang tahun yang tepatnya terjadi di satu minggu sebelum dirinya menghabiskan seluruh liburan sekolahnya, dia harus mengikuti permainan orang dewasa yang menjodohkannya dengan keluarga bangsawan lain.


Vexia Theresia Caracasa, putri dari Earl Caracasa adalah gadis yang dijodohkan untuknya. Saat hal itu diumumkan, sebenarnya Revon sudah menjalin kasih asmaranya dengan Axelia secara diam-diam.


Begitu pengumuman itu tersebar luas, hubungan keduanya langsung memburuk dengan Axelia yang mencoba jauh dari Revon.


Sebuah hari dimana terjadi sedikit kesenjangan hubungan antara dia dan pujaan hatinya harus dihadapi.


“Aku…tidak seharusnya lancang jatuh cinta pada Revon-sama. Revon-sama harus bahagia dengan Vexia-sama!” katanya sambil menangis


“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu! Aku hanya mencintai Axelia!”


“Tapi aku hanya pelayan dan…hiks…dan Revon-sama harus bahagia dengan wanita yang kamu cintai”


Mendengar itu, Revon memeluk gadis cantik di hadapannya dengan lembut.


“Aku hanya mencintaimu. Sampai kapanpun aku akan mencintaimu”


“Akan aku buktikan bahwa apapun yang terjadi, aku akan membawamu menjadi bagian dariku dan van Houdsen”


Revon yang kembali ke akademi setelah pertunangan sepihaknya itu berusaha dengan keras demi mendapatkan pengakuan banyak orang dan dari pihak keluarga besarnya itu.


Di usia yang menginjak 23 tahun, Revon terpaksa menikah dengan Vexia karena sang ayah yang meninggal akibat serangan jantung.


Revon mengambil alih keluarga van Houdsen di usia 23 tahun dan setelah resmi menjadi suami dari Vexia dan kepala keluarga yang baru, dia tidak melupakan tujuannya.


Membawa Axelia menjadi bagian dari van Houdsen seutuhnya.


Revon mengenalkan gadis itu kepada sang ibu juga Vexia dengan berani saat ulang tahun sang ibu.


Hal itu jelas mengundang banyak cibiran dan hinaan untuk keluarga pahlawan yang satu itu. Bahkan keluarga Caracasa yang merupakan keluarga besar sang istri menuntut banyak kompensasi dan wilayah kekuasaan van Houdsen karena hal memalukan ini.


Vexia yang saat itu sedang mengandung sampai tidak bisa berpikir bagaimana bisa suaminya begitu bodoh meskipun dia tidak tau bahwa cinta pertama sang suami adalah pelayan yang diperkenalkan padanya setelah mereka menikah.


Karena banyaknya pertengkaran dan Revon sendiri menolak untuk memutuskan hubungan cintanya dengan Axelia, semua menghadapi hal buruk. Itu bisa disebut awal kemerosotan van Houdsen.


Mereka bahkan berhasil mencuri perhatian sang raja, Lucario.


Yang lebih menghebohkan lagi adalah demi bisa menikahi Axelia, Revon mengatakan bahwa dia telah menghamili gadis itu tidak lama setelah pernikahannya dengan Vexia.


Tentu saja itu bohong, Revon tidak pernah menyentuh Axelia karena dia begitu mencintainya. Menyentuhnya sebelum menikah adalah perbuatan paling hina untuk bangsawan berdedikasi sepertinya.


Tapi kebohongan itu mencuat bagai kembang api dan menyebabkan isu retaknya semua aspek. Pernikahannya, bisnis keluarga dan bahkan kepercayaan raja ikut dipertaruhkan sampai ke ujung.


Pada akhirnya, membutuhkan waktu cukup lama sampai akhirnya Revon bisa menikahi Axelia secara sah. Itu terjadi saat Rexa lahir ke dunia.


Isu buruk tetap menerpa, namun ada sebuah perjanjian dalam pernikahan kedua Revon yaitu membiarkan Vexia melakukan ‘semua hal’.


Makna ‘semua hal’ itu termasuk memimpin bisnis van Houdsen, meminta bayaran kompensasi harta untuk keluarganya yaitu Caracasa demi ditukar dengan izin melaksanakan pernikahan dengan Axelia.


Karena itulah, setelah pernikahan mereka pun, gambaran buruk Revon melekat sampai saat ini dan karena hal itu pula Axelia harus merasakan rasa sakit yang sama.


“Bangsawan yang menghamili pelayan” dan “Pelayan genit perusak rumah tangga Marquis van Houdsen” adalah julukan untuk masing-masing mereka.


Axelia mungkin menganggap itu sebagai hukuman untuknya tapi berbeda dengan Revon. Dia menganggap itu adalah bayaran yang pantas karena dia bisa bersama dengan orang yang dicintainya.


******