
Kaito menghampiri Ryou yang sedang melihat ke luar jendela.
“Sudah mati?” tanya Kaito
“Begitulah. Kita lihat setelah ini dia akan menjadi zombie seperti apa”
Beberapa dari mahasiswa yang membantu Ryou sebelumnya menghampirinya dengan air mata.
“Terima…terima kasih sudah menolong kami dari ancaman sunbae…hiks…terima kasih”
Ryou dan Kaito hanya melihat mereka. Tidak lama setelah itu, Ryou melihat sang kakak hanya tertunduk tak bergerak.
“…Ki…no…”
Bersama dengan gumaman pelan itu, Ryou berjalan menghampiri sang kakak. Awalnya, tidak ada yang membuka obrolan sama sekali. Sampai akhirnya Kino mengabaikan Ryou dan pergi untuk membantu Ha Jinan dan Kim Yuram memberikan makanan pada mahasiswa lain.
“……” Ryou hanya terdiam tanpa mengatakan apapun
Kang Ji Song yang baru saja melempar pisau ke arah salah satu teman Baek Hyeseon terlihat begitu kesal bersamaan dengan air matanya yang mengalir.
Seo Garam juga tidak bisa menahan emosinya.
“Sudah cukup dengan Park Cho Joon, sekarang Baek Hyeseon juga melakukan hal seperti ini…kenapa tidak ada satupun dari kedua orang bodoh itu yang berpikir untuk menghentikan event ini?”
Ha Jinan sedikit ragu-ragu tapi dia memberanikan diri untuk mendekati Seo Garam dan membawakan minuman untuknya.
“Seo Garam…kau tidak apa-apa?”
“Kau tidak perlu melakukannya, Jinan. Aku sedang tidak berminat untuk meminum apapun. Aku sudah muak dengan semua ini. Go Yu Bin mati…sebelum kita sampai”
“Itu bukan kesalahanmu, Garam. Kita sendiri juga tidak mungkin bisa menyelamatkan semua orang”
Ha Jinan benar. Memang pada kenyataannya, tidak ada dari mereka yang bisa menyelamatkan semua orang dalam kondisi seperti ini.
Kaito berjalan mendekati enam mahasiswa yang merupakan teman dari Baek Hyeseon. Dengan luka di tangan mereka yang terus mengeluarkan darah, Kaito tidak berpikir untuk menyelamatkannya juga.
“Jadi, mungkin ada dari kalian yang ingin menyusul teman kalian itu?” tanya Kaito dingin dengan menggenggam pedang di tangannya
“Kami…kami tidak ingin mati!”
“Ampuni kami!”
“Jangan bunuh kami! Kami…kami berjanji tidak akan melakukannya lagi!”
Kang Ji Song mencabut pisau yang ada di tubuh mayat dari teman Baek Hyeseon dan mengancam mereka semua.
“Aku tidak percaya setelah semua yang kalian lakukan…berani sekali kalian meminta pengampunan? Jangan mencoba melawak di tempat ini!!”
“……” Kaito yang ada di sampingnya memilih untuk tidak mengatakan apapun
“Berapa banyak orang yang kalian bunuh? Meskipun kalian tidak melakukannya sendiri tapi kalian membiarkan mereka mati begitu saja! Apa kalian paham dengan yang kalian lakukan?! Mereka adalah teman dan junior kalian!! Kalian tidak pantas dipanggil sunbae oleh kami semua!!”
Kang Ji Song benar-benar sudah sangat emosi. Dia nyaris membunuh salah satu dari mereka lagi namun dihentikan oleh Kaito.
“Jika kau punya waktu untuk melakukan hal itu, sebaiknya cari tali atau lainnya untuk mengikat tubuh mereka”
“…Kh…”
“Kau sudah membunuh salah satu dari mereka. Jika kau kembali melakukannya maka kau tidak ada bedanya dengan mereka”
“Kau mencoba membelanya, Kaito-nim?!”
“Aku melakukan ini untuk membuatmu tidak terbiasa membunuh seperti yang kulakukan”
“……” Kang Ji Song tertegun mendengar hal itu
“Kau masih harus lulus dari tempat ini dan berkarier begitu semuanya normal. Apa kau ingin mengorbankan masa depanmu sendiri? Jika kau terbiasa membunuh orang lain karena emosi, kau akan terus melakukannya dan itu akan menjadi boomerang dalam hidupmu”
“Tapi mereka tidak pantas untuk dilindungi!! Mereka…mereka…”
“Dalam situasi seperti ini, membunuh hanya diperbolehkan untuk melindungi diri seperti yang aku dan Ryou lakukan. Jika mereka mengancam nyawamu, maka kau boleh membunuhnya”
“……”
Dia mulai melemahkan genggamannya pada pisau yang dia pegang dan mulai melemparnya ke tumpukan kursi dan meja yang menahan pintu. Pisau tersebut masuk ke antara celah-celah bagian bawah kursi bagian dalam.
Dengan begitu, tidak ada yang akan bisa mengambilnya kecuali ketika penghalang pintu itu hendak dibuka.
Kang Ji Song menghapus air matanya dan berbalik mengambil bahan makanan yang sebelumnya disimpan Baek Hyeseon dan membagikannya pada yang lain.
Kino masih tidak ingin mengatakan apapun. Dia mencoba menerima hal yang dilakukan oleh Ryou meskipun tampaknya tidak bisa semudah itu.
‘Aku…apakah aku memang se-naif dan selemah itu? Tindakan Ryou itu…aku tidak ingin menerimanya. Tapi…’
Kino mengingat kembali apa yang dikatakan oleh sang adik.
[Aku berjanji untuk melindungimu. Dan aku rasa, semua cara harus dicoba. Termasuk menyingkirkan pengganggu sepertinya]
[Lebih baik aku menjadi kejam demi melindungimu dan Kaito daripada harus mempertaruhkan nyawa untuk melindungi orang seperti ini!]
[Membunuh mereka bisa menyelamatkan semua. Opsi mempertahankan mereka yang mencoba mengancam nyawa itu bukan pilihan terbaik]
[Ibarat penyakit, harus dituntaskan sampai ke akar. Dan Baek Hyeseon pantas menerimanya]
Semua itu adalah hal yang sebagian orang pikir benar. Baek Hyeseon pantas menerimanya. Namun, Kino masih terlalu lembut untuk menerimanya.
Di saat seperti itu, dia memilih untuk tidak bicara pada siapapun dan mulai menenangkan dirinya dengan menyendiri. Dia berjalan ke bagian pojok ruangan bagian dalam seorang diri.
Kim Yuram melihat itu dan segera menghampiri Ha Jinan.
“Jinan, Jinan”
“Yuram…”
“Cepat temani Kino di sana. Ini mungkin kesempatanmu” bisik Kim Yuram
Ha Jinan melihat Kino yang duduk sendiri di sebuah kursi dengan kepala tertunduk. Awalnya dia ingin menghampirinya, namun melihat bahwa ini bukanlah waktu yang tepat membuat Ha Jinan terlihat sedih dan menjawab Kim Yuram.
“Tidak apa-apa, Yuram. Biarkan Kino-ssi sendiri. Aku…aku tidak ingin mengganggunya”
“Tapi ini bisa saja kesempatan untukmu bisa mendekatinya”
“Aku tidak bisa. Di saat semuanya sedang dalam kondisi berduka dan bingung, aku tidak ingin terlihat seperti orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mendekati Kino-ssi hanya demi mendapatkan perhatiannya itu…sama saja memanfaatkan situasi tanpa berpikir”
Kim Yuram tidak menyangka bahwa temannya yang selalu dia anggap sebagai anak yang pemalu rupanya bisa berpikir dewasa seperti ini.
“Begitu. Maaf karena telah memintamu melakukan hal itu, Jinan. Aku tidak menyangka kau begitu perhatian pada situasi kita sekarang”
“Aku…aku tidak ingin bertindak ceroboh dan membuat orang lain di sekitarku menjadi korban lagi. Aku…aku tidak ingin menjadi egois seperti sebelumnya”
Kim Yuram memeluk temannya yang pemalu itu dan mengusap-usap rambutnya.
“Kau gadis yang baik, Jinan. Kita akan keluar dari sini dengan selamat dan saat itu tiba, aku akan mendukungmu untuk mendekati Kino”
“Yu–Yuram!!” Ha Jinan tersipu malu mendengar kalimat dari Kim Yuram
Setelah melepaskan pelukannya itu, Kim Yuram melihat Ryou dari kejauhan. Dia melihat Ryou sedang berjalan menuju jendela di dekat pintu masuk yang tertahan banyak benda.
Ha Jinan memperhatikan arah mata Kim Yuram dan dia menyadari bahwa temannya itu mulai memperhatikan Ryou.
“Yuram menyukai Ryou-ssi?” bisik Ha Jinan
“Hah?!”
“Aku tau. Yuram tidak perlu menyembunyikannya dariku”
“Ti–tidak! Itu tidak–”
“Itu tidak salah lagi, iya kan?” Ha Jinan tidak membiarkan Kim Yuram menyangkalnya
“……” Kim Yuram hanya terdiam dengan wajah merah merona
Sementara itu, Ryou yang melihat ke luar jendela dikejutkan oleh perilaku para zombie yang aneh.
‘Para zombie yang memakan Baek Hyeseon berjalan ke suatu tempat. Mungkinkah mereka menuju sesuatu?’
Tidak lama kemudian, dia melihat banyak sekali zombie yang datang.
“Itu kan?!”
Dia langsung berteriak kepada semua orang.
“Semuanya cepat mundur ke belakang sekarang! Ada banyak zombie yang berjalan di luar!!”
Semuanya menjadi panik dan mulai terlihat ingin berteriak.
“Jangan berteriak atau kalian akan memancing mereka ke sini! Tenang dan cepat bersembunyi saja!” Kaito memberikan arahan
Kino dan Kaito yang mendengar itu langsung berdiri dan menghampiri Ryou ke jendela.
“Apa yang terjadi, Ryou?” tanya Kino
“Aku tidak tau. Mereka….hmm? Itu?”
Ketiganya cukup terkejut dengan salah satu zombie di antara kerumunan yang berjalan di luar.
“Park Cho Joon? Dia mati juga rupanya?” ucap Ryou pelan
“Dia pasti mati setelah ditinggalkan seperti itu. Apalagi kita sendiri tau bahwa waktu itu ada banyak zombie di lantai tiga sebelum kita keluar” Kaito menambahkan
“Nee, bukankah mereka aneh sekali? Kemana tujuan mereka semua pergi?”
Ryou dan Kaito melihat seluruh zombie di luar memang berjalan menuju arah yang sama.
“Mungkinkah…mereka ditarik oleh sesuatu? Atau…ada hal lain yang membuat mereka seperti itu?”
“Sejak awal tempat ini memiliki hubungan dengan permata ingatanku dan satu-satunya penjelasan yang paling masuk akal adalah…”
“Permata ingatanmu muncul. Begitu maksudmu, Kaito?”
“Tepat”
“Selain itu, Song Haneul-san juga masih belum diketahui keberadaannya. Bagaimana sekarang?”
Kaito mulai melihat kedua kakak beradik itu dengan ekspresi serius.
“Kurasa ini saatnya kita pergi dari sini”
******