
Ketiga remaja itu semakin menjadi tertekan setiap mengingat apa saja yang mereka baca. Tampaknya isi dari buku tersebut cukup untuk menurunkan energi mereka.
“Aku pusing. Aku merasa otak di kepalaku ingin keluar dari tempatnya dan berlari sambil berteriak” gumam Ryou dengan kalimatnya yang tidak masuk akal
Tapi tampaknya kali ini bukan hanya Ryou yang berpikir demikian. Kaito juga tampaknya setuju dengan perkataan Ryou barusan.
“Aku mengerti perasaan itu. Aku juga merasakannya. Ini tidak bisa diterima dengan baik. Aku merasa perutku mual”
“Kuatkan dirimu, Kaito. Aku dan kau mual karena buku itu, Kino bisa kesulitan mengurus kita berdua. Setidaknya biar aku saja yang pusing di sini. Kau jangan ikut-ikutan”
Pembicaraan ini semakin berbelok jauh. Kino mencoba menarik napas dan menghembuskannya.
“Aku tidak tau harus dari mana menyimpulkan ini tapi biar aku coba menyimpulkannya sedikit. Intinya kita harus memiliki alat agar bisa menggunakan sihir. Kalau tidak, hampir semua akses di sini akan sangat sulit didapatkan”
“Itu dia! Itu dia yang membuat otakku hampir keluar dari tempatnya! Mana bisa orang dari ‘dunia lain’ seperti kita memiliki sihir! Ini terlalu gila untuk disebut gila juga!” Ryou berdiri sambil berteriak
Teriakan Ryou cukup menyita perhatian semua orang yang ada di sana. Berkat itu, mereka bertiga sukses menjadi orang-orang dengan sorotan mata terbanyak di pagi itu.
Kino menarik tangan sang adik agar duduk kembali dan menutup mulutnya.
“Jangan berteriak seperti itu! Ini fasilitas dan tempat umum, Ryou. Kalau kita sampai diusir keluar bagaimana?!”
“Hmmph…mmmph…mmmph” Ryou hanya mengangguk beberapa kali
Setelah merasa sang adik sudah bisa tenang, Kino melepaskan tangannya.
“Kumohon, jangan berteriak lagi ya”
“Aku…mengerti”
Ryou menarik napas perlahan dan menghembuskannya. Selang beberapa detik kemudian, dia berdiri kembali dan berteriak dengan keras.
“Dunia ini mencoba mempermainkan kita! Ini semua karena permata bodoh itu! Kalau aku yang menemukan kepingan ingatan itu pertama kali setelah ini, akan kulemparkan ke sungai, aku pukul pemiliknya dan aku doakan semoga dia mendapatkan kesialan! Lihat saja nanti!!”
“……” Kaito diam sambil menatap wajah Ryou dengan ekspresi datar
Ryou mengatakan hal itu tepat di samping sang pemilik permata kepingan ingatan itu tapi dia seolah-olah tidak melihatnya. Sedangkan sang kakak berubah pucat karena mendengar sang adik kembali berteriak.
“Ryou!”
Setelah itu, sekitar 30-40 menit berlalu…
Ketiganya keluar dengan wajah sangat pucat dan penuh dengan rasa penyesalan.
“Ini semua karena Ryou berteriak. Kita jadi dipanggil ke kantor mereka dan diberikan banyak pertanyaan layaknya seorang penjahat”
“Maafkan aku, Kino”
“Mumpung ada di sini, bagaimana kalau kita mencari lem sihir untuk merekatkan kedua bibirmu itu agar tidak cerewet” Kaito memberikan sebuah saran yang bagus berbau sindiran tajam
“Kau jangan mencari masalah denganku, Kaito. Aku tidak mau menambah daftar panjang adu mulut yang kita lakukan sejak pertama kali bertemu sampai sekarang”
“Bukankah semua itu hampir seluruhnya kau duluan yang mulai?”
“Kaito, kau menantangku?!”
“Kau ingin mulai lebih dulu?!”
Seperti ada kilatan cahaya pertarungan sengit antara kucing oren dengan kucing hitam, tampak mereka terlihat akan melakukan pertarungan adu mulut sebanyak 3-5 ronde. Tapi semua itu mustahil dilakukan.
“Kalian berdua, kalau kita sampai terkena masalah lagi di sini…aku akan pergi sendiri meninggalkan kalian berdua dan jika kalian mencoba mendekatiku, aku akan mengatakan pada penjaga keamanan bahwa aku tidak mengenal kalian. Bagaimana? Itu lebih memudahkan kita mendapatkan informasi, bukan?”
-Jleb
Sebuah kalimat yang begitu dingin dari Kino. Wajahnya saat mengatakan hal itu begitu ramah dengan senyum yang baik, namun kalimat itu tidak mewakili ekspresinya itu.
“Nii-san, Nii-san, kau tidak membenci adikmu yang imut dan manis ini kan? Ayolah, aku adikmu satu-satunya di dunia yang lahir untuk melengkapi sifat pemalu dan nekat yang kau miliki. Jangan mengabaikan aku yang polos dan lugu ini, ya”
Ryou mencoba merayu sang kakak dengan mata yang terlihat seperti anak kucing, sedangkan Kaito yang mendengar ucapan Ryou merasa mual.
‘Aku tidak habis pikir dengan sifatnya itu. Jika aku kembali dan menceritakan pertemuanku dengan mereka pada ‘orang itu’, dia pasti akan mentertawakan aku 7 hari 7 malam’ pikir Kaito
Sepertinya sedikit ancaman Kino cukup bekerja dengan baik dan membuat mereka kembali ke jalan yang benar.
Kaito melihat jam saku miliknya dan waktu telah menunjukkan pukul 10.43 pagi.
“Sudah hampir sebelas pagi. Kita akan pergi kemana?” tanya Kaito sambil memasukkan jam sakunya kembali
Kino mengeluarkan sebuah kertas dari saku celananya.
“Pendaftaran sekolah sihir berakhir sampai besok sore. Aku rasa kita bisa cari tau mengenai tempat itu. Siapa atau permata milik Kaito ada di sana”
“Kalau begitu, ayo!”
Ketiganya pergi menuju sekolah sihir mengikuti peta yang diberikan.
******
Tiga jam sebelumnya, di sebuah gedung megah dan besar dengan tampilan yang luas bertuliskan [Gedung Akademi Sekolah Sihir], di dalam sebuah koridor megah yang luas.
“Xenon, kamu sudah kembali”
Seseorang terlihat bicara dengannya. Wajahnya cukup mirip dengan wajah pemuda bernama Xenon namun memiliki warna mata yang berbeda. Satu matanya berwarna biru sama seperti milik Xenon dan satunya lagi berwarna kuning. Dia seorang heterochromia.
“Aku kembali, Rexa-sama”
“Jangan begitu. Aku masih belum menjadi kepala keluarga selanjutnya dan aku tetaplah kakakmu”
“Tapi, di sini Rexa-sama adalah pemimpin Divisi Eksekutor Dewan Shir, jadi wajar saja jika aku membatasi kehidupan pribadi dan pekerjaan”
“Xenon…” pemuda bernama Rexa itu hanya tersenyum tipis
“Apa ada hal lain? Bukankah aku sudah memberikan semua laporanku tiga puluh menit lalu?”
“Aku hanya ingin bicara sebentar denganmu. Memang aku tidak boleh bicara dengan adikku sendiri?”
“Aku tidak keberatan. Tapi–”
“Rexa-sama!” dari kejauhan ada seorang gadis yang memanggil
Ketika keduanya menengok, gadis itu langsung menarik tangan Rexa.
“Rexa-sama, akhirnya ketemu! Aku sudah mencarimu kemana-aman. Kita harus segera pergi ke rapat para kapten untuk membicarakan organisasi sihir hitam”
Gadis itu mengatakan bahwa dia mencari Rexa. Namun dari caranya bicara dan mendekap lengannya, tampaknya dia lebih tertarik mencari Rexa secara pribadi.
“Maafkan aku, Misha. Aku akan ke sana setelah aku bicara dengan Xenon”
“Dengan Xenon? Oh, kau ada di sini rupanya” nada bicara gadis itu mulai berubah sinis
Xenon hanya memberi hormat tanpa mengatakan apapun lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
“Xenon!” Rexa memanggilnya
Gadis bernama Misha itu tampak begitu membenci Xenon dan berkata dengan nada sinis.
“Kenapa masih mencari anak pelayan itu? Aku tidak mengerti kenapa Rexa-sama mau menerimaya sebagai adikmu? Jelas-jelas dia hanya adik tirimu dan anak dari seorang pela–”
“Misha, tutup mulutmu!!”
“……!!”
Rexa membentak Misha dan menatapnya dengan tatapan dingin.
“Jaga ucapanmu itu dan jangan pernah bicara hal buruk mengenai adikku. Mulai sekarang, jangan pernah mendekatiku lagi. Meski kita adalah sepupu dan tunangan, aku tidak mau menikah dengan orang yang membenci adikku”
“Apa?! Kenapa Rexa-sama bicara begitu! Aku hanya bicara kenyataan dan–”
“Aku akan menemui ayahmu, Earl Midford malam ini untuk membatalkan pertunangan kita selama ini. Aku tidak akan membiarkan orang yang mengatakan hal buruk tentang adikku menjadi bagian dari keluarga van Houdsen, ingat itu”
Tatapan sinis Rexa begitu membuat Misha terpukul. Dia bahkan berteriak memanggil nama Rexa beberapa kali namun pemuda itu mengabaikannya.
‘Aku tidak terima dengan semua ini! Ini semua karena anak haram itu! Ini semua karena anak pelayan kotor rendahan itu!! Kenapa Rexa-sama lebih memilih anak itu dibandingkan tunangannya sendiri?! Akan kubalas dia, akan kubalas penghinaan ini! Ini semua karena Xenon!!’
Dalam hatinya, Misha telah menetapkan bahwa kemalangan yang terjadi padanya adalah ulah Xenon.
Sementara itu, Xenon berjalan tanpa melihat ke belakang. Beberapa pembicaraan dan teriakan itu terdengar sampai ke telinganya karena koridor luas itu sepi.
“Kenapa kau masih mau menganggapku sebagai adikmu, Rexa-sama? Aku hanya anak dari pernikahan yang ditentang keluarga kalian. Nama di belakangku ini juga…hanya sebuah formalitas. Kenapa kau masih mau melihatku sebagai keluargamu?”
Mata sendu dan bibir yang digigit olehnya sendiri menandakan bahwa Xenon merasa sangat kecewa pada dirinya. Atau mungkin, dia kecewa pada hal lain.
Ada hubungan rumit yang terjadi di sini dan bersamaan dengan itu, sebuah misteri akan mulai terlihat.
******