Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 100. Penyelamatan bag. 2



Arkan nyaris berteriak ketika pundaknya ditepuk dari belakang oleh seseorang.


“Waa–amph!”


Dengan cepat seseorang menutup mulutnya agar tidak berteriak. Arkan merasa tangan yang menutup mulutnya itu adalah tangan seorang perempuan.


“Jangan berteriak siang hari begini, Arkan. Kau hanya akan menyakiti telingaku” kata wanita di belakangnya itu sambil melepaskan tangannya


Arkan melirik ke belakang dan dilihatnya Seren yang berdiri dengan wajah datar.


“Se–Seren-sama? Apa yang–“


“Ini…kau lupa menghabiskannya jadi aku membawakan ini untukmu”


Seren memberikan sebuah kantong bekal kepada Arkan yang masih menatapnya dengan tatapan bingung.


“Ambil” perintah Seren


Arkan hanya bisa menerima kantong bekal itu dan melihat isinya. Ada sebuah kotak bekal dan botol minum kecil.


“Benda…apa ini?” tanya Arkan dengan nada curiga


“Potongan kue dan teh yang belum kau makan”


“Poto–? Hah?”


“Aku sudah katakan padamu untuk menghabiskan semuanya, kan? Aku tidak akan membiarkanmu pulang begitu saja tanpa menghabiskan suguhan di meja”


Arkan hanya menatap aneh wanita di depannya.


‘Jangan bercanda!’ teriak Arkan dalam hati


“Ta–tapi, seharusnya Seren-sama tidak perlu susah payah melakukan ini” Arkan kembali menjawab perkataan Seren dengan eskpresi aneh di wajahnya


“Aku sudah membuatnya kemarin malam setelah penutupan pasar dan kue ini bernama red…bullet? Aku lupa namanya dan ini enak. Kau harus menghabiskan semuanya atau aku akan menangis dan tidak sengaja memotong kepalamu nanti”


Arkan semakin terlihat takut dan mundur dua langkah dari wanita itu. Dia bahkan berkomentar dalam hati.


‘Dia mengagetkanku hanya demi kue dan teh buatan…tunggu sebentar! Aku…aku tidak mendengar ada langkah kaki yang mendekatiku dari belakang. Bagaimana–‘


Arkan mulai terlihat takut. Dia memberanikan diri untuk bertanya pada Seren.


“Se–Seren-sama, bagaimana caranya…Seren-sama bisa mengejarku?”


“Aku hanya berlari. Lagipula, setelah mendengar anak-anak itu kabur…kemana lagi tempat yang akan kau tuju selain pintu gerbang”


Arkan terkejut mendengarnya.


‘Berlari? Dia bilang dia hanya berlari? Itu saja? Jangan bercanda! Dia bahkan tidak terlihat berkeringat! Aku tau dia itu pembunuh profesional seperti yang diceritakan Riz tapi aku tidak menyangka dia–‘


Belum selesai dengan pikirannya, Arkan dikagetkan dengan panggilan dari Seren.


“Arkan”


“Ah!” Arkan kaget dan berubah panik saat dipanggil oleh Seren


“Kenapa bengong seperti itu? Will akan mematahkan kaki mereka kalau kita tidak cepat menyusulnya. Aku tidak mau disalahkan oleh suamiku jika sampai kalian pulang dengan wajah kecewa”


“……” Arkan mendengarkan wanita itu bicara tanpa merubah ekspresinya yang panik


“Bagaimanapun juga, selama kalian masih berada di tempat ini kalian adalah pelanggan kami dan suamiku yang manis itu sudah berpesan untuk memperlakukan kalian dengan baik” lanjut Seren


Tidak mau mendengar banyak omong kosong itu lagi, Arkan langsung dengan cepat meminta Seren menemaninya untuk pergi ke gerbang pasar gelap jika seandainya kedua anak itu memang benar sudah menuju ke sana.


Seren yang hanya merespon dengan cara menganggukkan kepalanya langsung berlari sedikit di depan Arkan. Dengan memperhatikan cara berlari Seren, Arkan terlihat begitu waspada.


‘Dia benar-benar tidak mengeluarkan suara saat berlari. Bagaimana bisa suara yang dihasilkannya nyaris tidak terdengar meskipun dia memakai sepatu dengan hak tinggi begitu?! Inikah yang disebut kemampuan pembunuh profesional?’


Seperti yang sudah diketahui oleh Arkan dari Riz bahwa kedua pasangan suami-istri tersebut adalah pembunuh yang beralih profesi sebagai pemilik dan pengelola pasar gelap. Mengenai kemampuan bertarung dan membunuh, jelas mereka lebih unggul terutama sang suami yaitu Jack.


‘Fakta bahwa si bodoh Riz sampai menjadikan Jack-sama sebagai panutannya bukanlah main-main. Aku bisa menebak sekuat apapun Kaito ketika melawan Justin, dia tidak akan sebanding dengan kedua orang ini’ pikirnya dalam hati


Sepanjang jalan, pikiran Arkan mulai dipenuhi hal berat. Di satu sisi, dia mengkhawatirkan anak-anak itu dan di sisi lain…


“Se–Seren-sama, apakah aku…boleh bertanya sesuatu?” tanya Arkan sambil berlari


“Apa?”


“Me–mengenai hasil pertukaran tadi….”


“Bukankah suamiku sudah melepaskan anak-anak itu dan semua sisa transaksi yang ada telah dibatalkan. Lalu apa ada masalah?”


“A–aku mengajukan pertukaran tersebut untuk membawa pulang tiga orang yang dibawa oleh Seren-sama ke pasar gelap ini tapi kenapa…Seren-sama?“


Belum selesai bicara, dia melihat Seren yang berada di depannya tiba-tiba berhenti. Hal itu mengundang pertanyaan Arkan. Dia memberanikan diri berjalan dan melihat apa yang membuat wanita itu berhenti dan seketika Arkan menjadi syok melihatnya.


“Seren-sama…ada a…waaa!!!”


Arkan berteriak karena tidak percaya dengan pemandangan apa yang dilihatnya.


Tubuh besar bermandikan darah segar dan kepala yang berada di tanah itu tidak asing untuknya.


“Pe–penjaga gerbang?! Kenapa bisa? Siapa yang melakukannya!!”


Mayat dengan tubuh dan kepala yang sudah terpisah dengan beberapa luka dan lubang ada di sekitar area tersebut. Ditambah lagi, ada bekas peluru di jalan.


“Urgh” Arkan menahan dirinya untuk tidak muntah


Bukan kali pertama dia melihat hal seperti ini tapi ini sudah kedua kalinya dan dia sepertinya memiliki trauma khusus setelah ini.


Wajah Seren masih tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dengan santainya, dia berjalan mendekati tubuh mayat tersebut lalu berlutut. Dia menyentuh bekas tusukkan pada tubuh Will dan melihat lubang hasil tembakan pada leher dan betis pria besar tersebut.


Dia tampak mengusap bekas tusukkan dan sayatan panjang di tubuh mayat itu lalu memperhatikan bekas potongan di tangan kanannya.


“Bekas potongan ini berbeda dengan sayatan di tubuh Will tadi. Ini lebih rapi dan cantik tapi…kenapa tidak asing untukku ya? Dimana aku pernah melihatnya?” gumam Seren dengan suara pelan


Seren meraba sisi samping celana Will dan merasakan sesuatu di dalam sakunya.


“Hmm? Benda ini…”


Setelah merogoh saku celana Will, Seren tampak mengantongi sesuatu ke dalam saku baju miliknya.


Sambil menengok ke sisi lain, Seren berdiri dan berjalan lagi untuk mengambil kepala penjaga gerbang itu. Darah masih mengalir dari bekas tebasan pada bagian bawah yang tentu saja mengotori kedua tangan Seren.


“Will, kau mati sekarang? Sayang sekali. Padahal gajimu telah dinaikkan oleh suamiku bulan ini. Apa kau tidak masalah berakhir seperti ini? Aku turut menyesal karena kau masih belum cukup kuat. Tapi jangan cemas, gajimu jadi naik 100% seperti kata suamiku karena kepalamu akan menjadi pajangan. Selamat ya”


Wajah Seren yang bicara dengan kepala Will terlihat sangat senang dengan senyum yang manis sekali. Benar-benar ciri-ciri orang ‘sehat dan normal’ yang sesungguhnya.


Arkan yang masih menutupi mulutnya untuk menahan rasa mualnya hanya bisa ‘memuji’ wanita itu dalam hati.


‘Apa dia sudah kehilangan akal sehatnya?! Itu kepala manusia!! Dia berbicara dengan kepala manusia seakan-akan mereka hanyalah sebuah mainan?! Tempat ini bukan untuk manusia, ini benar-benar tempat iblis berkumpul! Aku harus secepatnya keluar dari tempat ini sebelum menjadi gila di usia muda!!’


Arkan memperhatikan keadaan area tersebut dengan teliti. Dia ingat jelas bekas tusukkan di tubuh besar itu adalah tusukkan senjata berupa pedang. Selain itu, ada bekas tembakan peluru pada bagian kaki dan tubuh lain.


Sekarang, rasa mual Arkan berganti menjadi rasa takut dan panik. Seperti yang dikatakan sebelumnya, bukan pertama kali baginya melihat hal ini. Pedang dan bekas tembakan itu tentu tidak asing.


Seketika, dia menyadari siapa pelakunya.


‘Ja–jangan katakan padaku kalau ini semua adalah ulah–’


“Arkan…”


Belum sempat menyelesaikan pemikirannya itu, Arkan dikejutkan dengan Seren yang berdiri tepat di depan wajahnya. Wanita itu menatap matanya sambil membawa kepala penjaga gerbang tersebut layaknya membawa boneka beruang.


“Waa!! To–tolong jauhkan kepala itu dariku, Seren-sama!!” Arkan berteriak sambil mundur beberapa langkah dengan wajah panik


Seren hanya mengelus-elus kepala Will yang dipegangnya seperti boneka beruang sambil tersenyum.


“Dia sudah mati, apa yang mau kau takutkan, Arkan?”


“Te–te–tetap saja kepala itu…”


“Dia tidak akan menggigitmu, lihat ini”


Dengan santainya Seren menunjukkan kepala Will ke wajah Arkan dan seketika Arkan menjatuhkan kantong bekal yang dipegangnya.


“Seren-sama!!” Arkan berteriak dengan wajah pucat dan takut


Melihat kantong bekal yang diberikan pada Arkan jatuh dan membayangkan kue buatannya berantakan di dalam kotak bekalnya itu, membuat senyum Seren langsung menghilang lalu berganti menjadi ekspresi sedih.


“Kuenya…jadi berantakan di dalam sana, Arkan. Kau membuat hatiku hancur”


“Dan benda di tanganmu itu membuat jantungku nyaris berhenti, Seren-sama! Kalau aku mati karena serangan jantung bagaimana?!”


“Hmm? Tentu saja kau akan menjadi dagangan dan dijual di pasar gelap ini. Kenapa kau bertanya hal yang sudah jelas jawabannya begitu? Joel juga tidak akan merasa kehilangan jika kubayar mayatmu dengan harga tinggi. Percayalah” jawab Seren dengan santai


“……” Arkan sudah terlalu syok sampai tidak bisa mengatakan apapun lagi


Dengan menarik napas panjang dan menghembuskannya. Arkan kembali melihat sekeliling tempat itu dan masih berpikir segala macam kemungkinan.


‘Jika benar ini semua adalah ulah satu diantara kedua remaja nekat yang emosian itu, kemana mereka pergi? Aku dan Seren-sama melewati jalan lurus ini dan tidak bertemu dengan siapapun. Apakah mereka melewati jalan lain atau kejadian ini terjadi tidak lama setelah kami tiba di kantor Jack-sama? Tapi kemana tujuan mereka?’


Dengan sedikit menengok ke kiri dan kanannya, dia melihat banyak gang dan belokan di sekitar tempat itu. Seperti kawasan pertokoan normal, tentu saja terdapat belokan di setiap sisi area tersebut.


‘Aku hanya bisa membayangkan mereka berusaha masuk ke tempat ini dan menyusup untuk menemukan keberadaan kami. Tapi bagaimana bisa mereka bertarung sampai ke dalam area pasar gelap ini? Apa mungkin mereka menerobos masuk secara paksa sehingga terjadi pertarungan dengan pria besar itu?’


Terlalu banyak spekulasi yang tercipta membuat Arkan menjadi semakin takut. Bukan hanya pertukaran ini tidak sesuai dengan harapannya, namun dia juga menghadapi masalah serius.


Ada beberapa kemungkinan besar di dalam daftar masalah yang akan dihadapi oleh Arkan, salah satunya yaitu perubahan hasil yang tidak diinginkan akibat terbunuhnya penjaga gerbang pasar gelap tersebut.


Transaksi barter yang dilakukan Arkan dengan Jack tidak memiliki dasar serius dan hanya bertumpu pada perkataan pengelola pasar gelap tanpa hitam di atas putih.


Hal ini tentu menjadi sebuah kesalahan fatal dalam segala jenis transaksi manapun di tempat itu, jadi wajar saja bila Arkan menjadi takut dengan keadaan yang memicu pengelola pasar gelap berubah pikiran. Meskipun dia telah mendengar bahwa transaksi selesai, namun Jack masih belum mengetahui tentang terbunuhnya penjaga gerbang ini.


‘Bagaimana ini? Ini tidak pernah ada dalam rencanaku! Bukan hanya tidak berjalan lancar, tapi ini juga bisa disebut deklarasi perang terhadap pengelola pasar gelap! Siapapun diantara kedua orang bodoh berpedang itu yang melakukannya, aku akan meminta mereka bertanggung jawab jika kami semua bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup!!’ cela Arkan dalam hati


Arkan melihat ke arah Seren yang tampak masih menatap kepala penjaga gerbang dan melihat bekas sayatannya baik-baik.


“Nee, ini adalah tebasan dengan benda yang memotong kedua lengan Justin. Ini dilakukan oleh orang yang sama”


-Deg


Saat Seren mengatakan sesuatu, jantung Arkan mulai berdetak lebih cepat seakan-akan bisa berhenti kapan saja.


‘Orang yang sama katanya! Itu artinya Kaito yang membunuhnya?! Serius?!' tebak Arkan dalam hati


Arkan tidak lepas dari wajah syok. Dengan cepat dia langsung mencoba merubah arah pembicaraan tersebut.


“A–anak-anak itu! Bagaimana dengan anak-anak yang kabur itu, Seren-sama?!”


“Entahlah, aku juga tidak tau. Tapi kurasa mereka masih belum keluar dari tempat ini”


“Belum keluar?”


“Aku hanya menebak tapi kemungkinan Will tidak bertemu dengan kedua anak-anak itu. Aku juga sudah melihat mayat Will dan menemukan kunci gerbang di dalam saku celananya yang artinya anak-anak itu tidak ada saat dia terbunuh”


“Kalau begitu–“


“Mereka masih ada di suatu tempat di dalam pasar ini dan kurasa mereka bisa saja sudah bersama dengan pelaku yang membunuh Will”


******