Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 403. Hari Pertama Sebagai Murid Akademi bag. 1



“Sampai jumpa di medan pertempuran, Rebellenarmee. Dewan Sihir akan selalu menyambut kalian dengan darah dan pembantaian sepihak”


Sebuah kalimat yang membuat ketiganya syok. Sosok Mark seperti menghilang dalam bayangan.


Tidak ada siapapun di lorong gelap itu kecuali ketiganya. Mereka tidak menyangka bahwa musuh akan langsung menerobos ke dalam tempat itu langsung.


“Dia sudah tau siapa kita, Diaz-Gemini. Anak keparat itu benar-benar tidak bisa dibiarkan hidup!” teriak Evergreen


“Aku tau itu. Kita akan serius kali ini”


“Maksudmu…”


“Aku akan membebaskan batasan sihir kita dan setelah itu, seperti yang dia katakan…kita akan bertemu dengan mereka dalam medan pertempuran”


Barbarossa dan Evergreen terlihat begitu senang. Senyum sinis itu diperlihatkan oleh keduanya dan sorot mata Diaz-Gemini berubah.


“Aku akan mendapatkan Artifact dan kepala kalian semua, Dewan Sihir”


Sementara Mark yang sudah berada di salah satu bangunan di kota tampak melupakan sesuatu.


“Aa. Aku lupa menceritakan kisah pembantaianku kepada mereka. Padahal aku yakin mereka akan senang mendengar pasukan mereka menjadi peliharaanku. Ya sudah”


“Aku tidak yakin Lucas akan menyukai caraku atau tidak, tapi sejak mereka sendiri bisa melakukan hal ini ke akademi, aku juga harus menunjukkan rasa hormatku”


“Selain itu, Rebellenarmee masuk ke dalam Dewan Sihir…itu jelas akan membuat kami repot sejak mereka berempat memiliki otoritas yang sama seperti anggota yang lain”


“Tampaknya aku akan sedikit serius mulai sekarang. Monster tidak membutuhkan emosi berlebih untuk membunuh musuh”


Mark menggunakan sihirnya untuk terbang kembali menuju akademi setelahnya. Tugasnya malam itu telah selesai dan ada kenyataan lain yang masih menjadi misteri meskipun dia telah menyelesaikan tugasnya.


‘Pasukan beastman sebanyak itu…dimana markas mereka berada? Aku tidak bisa memikirkan dari mana mereka muncul dan dimana mereka bersembunyi’


‘Tapi yang jelas, mereka sedikit di luar prediksi dan sudah dapat dipastikan bahwa ini semua adalah ulah Diaz-Gemini beserta rekan kerja Earl’


‘Dua orang itu adalah sosok yang tidak bisa dilihat oleh Emily kemarin rupanya. Tidak peduli ras apa mereka, musuh harus dilenyapkan’


Di saat Mark kembali, akademi dan asrama sudah tenang dalam tidur. Mungkin di tiap ruangan di asrama, menyimpan masing-masing cerita yang tidak bisa diceritakan satu per satu.


Hari telah semakin larut dan yang tersisa adalah rasa lelah dari tiap orang.


Di malam itu, Vares dan ketiga temannya memutuskan untuk berada di asrama. Untuk malam ini, mereka berempat tidak melakukan apapun. Tapi bukan berarti mereka akan menjadi anak baik di malam pertama ini.


Mereka nyaris tidak tidur dan memikirkan rencana untuk menyusup mencari informasi tentang lokasi Artifact dan hal-hal yang berhubungan dengan perintah sang master. Kecuali Galaktika yang tidak peduli lagi pada perintah masternya.


**


Di kamar asrama, di tempat ketiga remaja dari dunia lain, Kaito dan kedua kakak beradik itu masih terjaga.


Itu jelas karena mereka tidak memiliki rasa kantuk. Hanya bisa tertidur dengan bantuan obat membuat mereka tidak bisa melihat mimpi tanpa obat tersebut.


Kaito yang berada di tempat tidur yang sejajar dengan Xenon melihat pemuda itu tidur dengan nyenyak.


“Psst, Kaito” panggil Ryou pelan, “Dia tidur, kan?”


“Tidur. Kelihatan kalau Xenon sangat lelah hari ini”


Kino yang berada satu tempat tidur dengan Xenon di bagian atas turun ke bawah dan melihat keadaannya.


Terlihat Xenon benar-benar tidak menyadari bahwa tiga orang yang bersamanya itu sedang melihatnya.


Mereka berbisik satu sama lain.


“Aku rasa Xenon syok sampai membuatnya lelah” kata Kaito pelan sambil berlutut melihat wajahnya


“Xenon-san terlalu memikirkan pembatalan pertunangan yang dilakukan oleh Rexa-san dengan gadis dari keluarga Midford itu”


Hanya saja, Ryou terlihat bingung. Dia bahkan merasa heran, “Tapi aku rasa dia hanya berlebihan. Kenapa dia harus merasa seolah semua itu adalah tanggung jawabnya?”


“Pandangan negatif yang diterima Xenon-san sejak kecil membuatnya menjadi pribadi yang menolak kebaikan Rexa-san, Ryou. Hanya itu yang terpikirkan olehku”


“Itu aneh, Kino. Rexa jelas menyayangi adiknya ini. Dia nya saja yang kelewatan negatif” celetuk Ryou


Kaito sedikit mengalihkan pembicaraan, “Besok, kita akan bertemu dengan Virgo dan yang lain. Menurut kalian, haruskah kita bersabar dan mengawasi pergerakan mereka?”


Kaito menjelaskan apa yang terbesit dalam benaknya.


“Besok kita akan pergi ke tempat dimana ruang rahasia itu berada, namun aku yakin mereka sendiri akan melakukan hal yang sama demi mencari keberadaan Artifact”


“Jelas dikatakan oleh Mark Vermillion padaku bahwa Rebellenarmee mengincar Lucas Xelhanien dan Artifact demi dendam mereka di masa lalu pada Lucario, Raja dari Negara ini”


“Selain itu, ada hal lain yang diincar oleh Virgo dan teman-temannya itu. Mengingat mereka tidak bisa dideteksi dengan mudah seperti penjelasan Mark padaku saat itu membuatku yakin bahwa sihir mereka itu memiliki rahasia lain”


“Aku takut kita justru mengantarkan mereka ke tempat yang ingin kita selidiki tanpa disadari”


Ryou menebak, “Maksudmu kau takut kita akan diikuti besok?”


“Begitulah”


“Itu konyol. Sihir Xenon pasti bisa mengatasinya. Jangan berlebihan, Kaito”


Kaito sempat terdiam. Ryou tidak salah karena Xenon memiliki satu atau dua sihir yang bisa berguna untuk membantu mereka. Namun kadang, scenario takdir bisa mempermainkan ketiganya seperti yang sudah-sudah dan itu yang menjadi kekhawatiran utama Kaito.


“Aku hanya ingin mengatakan bahwa kita tidak bisa lengah. Kalian tidak lupa bahwa keberuntungan kita tidak selalu berpihak pada kita, kan?” kata Kaito serius


Tapi di saat Kaito serius, Ryou masih bisa memberikan komentar ‘yang sangat membangun mental’ Kaito.


“Umm, mohon maaf ini Kaito. Tolong kau ralat. Bukan keberuntungan kita yang tidak selalu memihak. Hanya keberuntunganmu saja yang bukan merupakan teman kita. Ingat itu”


“......”


“Aku tidak salah, kan? Ada bukti tidak kalau ‘your lucky is our ally’? Tidak ada. Aku tau kau juga sadar akan hal itu” Ryou dengan percaya diri berkata hal yang ‘baik’ pada Kaito. Sungguh teman yang bisa menjaga perasaan orang lain.


“Terima kasih sudah mengingatkanku, Ryou”


“Sama-sama”


Kaito kalah. Satu lagi kenyataan pahit namun benar dari Ryou. Sungguh malam yang sangat tenang dan bersahabat untuk ketiganya.


Pagi itu, sebelum matahari terbit, semua siswa dan pengurus sudah bangun termasuk Xenon. Dia sudah bangun pagi-pagi untuk mandi dan berganti pakaian.


“Kalian bertiga, ayo bangun”


Ketiga remaja dari dunia lain berakting. Mereka sepakat untuk berpura-pura bangun tidur. Rencana ini disusun saat waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi.


Xenon melihat Kino yang baru saja bangun mengusap-usap matanya sambil mengucapkan selamat pagi.


“Selamat pagi, Xenon-san. Apa tidurmu nyenyak?”


“Pagi, Kino. Aku bisa tidur. Cukup mengejutkan bahwa aku bisa tidur sangat tenang seakan terkena obat bius”


“Itu artinya kau lelah, Xenon” kata Ryou yang turun dari tempat tidurnya


“Pagi” sapa Kaito


“Selamat pagi. Sebaiknya kalian juga mandi dan ganti pakaian. Kita akan sarapan setelah ini”


Xenon keluar membawa pakaian gantinya untuk pergi ke kamar mandi.


Di asrama, terdapat sekitar sepuluh kamar mandi dengan satu kamar mandi terdiri dari 15-20 shower dan bath. Hal itu karena semua murid tinggal di asrama sehingga pihak asrama menyiapkan banyak hal untuk murid-muridnya.


Tentu saja gedung asrama laki-laki dan perempuan tidak hanya satu. Ada beberapa gedung di tempat itu.


Akademi Sekolah Sihir adalah nomor satu di semua sekolah di Negara tersebut sehingga fasilitas sederhana dari pihak sekolah tetap dibuat begitu mewah demi kemudahan mereka yang tinggal di tempat yang jauh.


Di ruang shower, Kino sempat berpikir, ‘Kami tidak perlu mandi karena tidak memiliki aroma dan bau. Tapi rasanya tetap menyenangkan bisa mandi seperti ini’


‘Aku rindu onsen (pemandian air panas) di Jepang’


Selesai mandi, keempatnya pergi untuk sarapan. Di kafetaria asrama, menunya cukup menggugah meskipun tidak berpengaruh apapun pada ketiga remaja dari dunia lain tersebut.


Awal pagi mereka cukup bagus. Setelah selesai dengan sarapan, Jene yang menghampiri Xenon mengajak mereka untuk pergi bersama dan berkumpul di aula kembali untuk mengikuti training seperti penjelasan kemarin.


Ketiga remaja dari dunia lain mulai terlihat serius. Kini, hari-hari sebagai murid akademi siap dimulai.


******