
“Ryou? Ternyata kamu di sini. Aku mencarimu dari tadi”
“Kino!!”
Ryou bangun dan menghampiri sang kakak yang baru saja tiba.
“Kino! Maafkan aku, ini bukan kemauanku. Aku berani bersumpah” tidak lama setelah itu, Ryou berbisik di telinga sang kakak, “Aku diculik oleh kembar sial itu! Mana mereka hanya menyogokku dengan semangkuk Zuppa Soup dan Fish n Chips tadi. Mereka itu pelit, hati-hati ya”
“Ryou, tidak boleh bicara begitu”
Jessie dan Jene melihat secerca harapan di mata mereka.
‘Akhirnya ada malaikat yang bisa membantu kita!’
Dengan cepat, mereka berdua meminta Kino untuk bergabung. Tentu saja Ryou menolak dan menarik kakaknya pergi. Tapi, Kino terlalu lembut untuk menolak dan berakhir dengan duduk bersama keduanya.
“Apa kau sudah makan, Kino?”
“Aku tidak lapar. Terima kasih untuk tawarannya, Jene-san”
“Tidak apa-apa, aku akan ambilkan untukmu ya. Kau mau apa?”
“Aku benar-benar tidak lapar”
“Kalau begitu cemilan saja? Bagaimana? Aku berikan rekomendasi terbaik untukmu ya! Tunggu di sini!”
Jene benar-benar pergi untuk mengambilkan makanan ringan untuk Kino. Sepertinya Jene lebih senang pada Kino dibandingkan Ryou. Terlihat dari caranya bicara dan memperlakukan Kino.
Jessie sendiri juga menawarkan fish n chip padanya.
“Ini, silahkan dimakan”
“Terima kasih. Aku tidak apa-apa. Sebaiknya, Jessie-san yang memakannya”
Jessie terkesan dan bingung di saat yang sama. Di samping Kino, jelas terlihat wajah galak dan menyebalkan dari Ryou tapi di sisi lain ada wajah Kino yang bersahabat dengan sedikit efek sinar-sinar.
‘Mereka jelas bukan saudara kandung’ gumam Jessie dalam hati
Bukan kali pertama status keduanya diragukan. Tapi tidak masalah, selama Ryou tidak mendengar itu masih bisa dibilang aman.
Jene datang membawa beberapa makanan ringan dan Crepes n Shakes.
“Kino, aku membawakanmu ini. Ini crepes, lengkap dengan minuman shake-nya”
Jene memberikan makanan itu pada Kino. Tentu saja Kino tidak bisa menolaknya.
“Terima kasih”
“Tentu” Jene tersenyum
Ryou melihat Jene dengan mata sinis sekali sambil menyindirnya.
“Kino, mau tau sesuatu? Tadi ada dua orang yang menarik tanganku dan memaksaku ikut mereka. Sudah begitu, mengatakan aku kampungan padahal salah satu dari mereka saja pernah berkata tidak pernah makan masakan buatan orang biasa”
“Dan yang lebih menyebalkannya lagi, orang itu seenaknya saja bersikap ramah pada kakak korban yang dipaksanya. Sungguh etika yang bermartabat dari bangsawan, benar kan?”
-Jleeb
Ada sebuah panah bertuliskan ‘mental breakdown’ yang menusuk jantung Jene.
“Mulutmu itu butuh ditutup dengan sihir rupanya” ancam Jene
“Berani melakukannya di depan kakakku?” balas Ryou
“Ryou, tenanglah. Jangan bicara tidak sopan begitu” Kino mencoba menenangkan sang adik
“Hmmph!”
Tampaknya kali ini, si kembar berhasil kabur dari adu mulut. Jessie memulai pembicaraan untuk sekedar mencairkan suasana.
“Kino, bagaimana ujiannya?”
“Aku lulus. Ryou juga lulus, benar kan?” tanya Kino pada adiknya
“Lulus. Coba tebak siapa pengujinya?”
“Jessie-san? Atau Jene-san?”
“Bukan. Xenon”
“Eh?” Kino terkejut mendengar jawaban sang adik
Ryou masih belum selesai, “Sudah begitu, dua anak kembar yang menarikku ke sini adalah pengawas ujiannya. Sial sekali, kan?”
“Pengawas ujian? Jessie-san dan Jene-san dengan Xenon-san di ruang ujian Ryou?”
“Benar. Menyebalkan sekali. Untung saja lulus. Kalau aku sampai gagal, sudah tau pelaku utamanya” jawab Ryou sinis
Kino mencoba menenangkan sang adik kembali.
“Jangan bicara begitu. Yang penting Ryou lulus, kan?”
Tampaknya Kino sudah paham bahwa Ryou sedang kesal sekarang dan dia mencoba mengembalikan arah pembicaraan ini kembali.
“Um, apakah ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan kami berdua sekarang?”
“Ada. Kami…” Jene menengok ke arah Jessie
“Kami ingin bertanya mengenai Xenon”
Jessie langsung bertanya mengenai tunangannya tersebut. Tampaknya memang tidak ingin berlama-lama.
Terlihat, wajah Jessie penuh harapan pada Kino sekarang. Jene sendiri juga lebih fokus pada Kino dan mengabaikan Ryou.
Pertanyaan itu jelas merujuk pada apa yang disembunyikan dari mereka berdua. Kino mengingat kembali respon yang dilakukan Xenon kemarin malam, saat keduanya mengejarnya.
‘Xenon-san bersembunyi dari keduanya karena adanya masalah pribadi. Mungkinkah mereka ingin membahasnya?’
‘Tapi mengingat kami juga memiliki hal yang harus dirahasiakan, aku tidak bisa sembarangan bicara mengenai hal tersebut. Aku akan coba bertanya sebentar’
Kino bertanya pada Jessie.
“Apa yang ingin diketahui oleh Jessie-san mengenai Xenon-san?”
“Aku ingin tau apa yang disembunyikan oleh Xenon dan rahasia apa yang kalian tau mengenai hal itu”
“Rahasia?” Kino menengok ke arah sang adik. Terlihat wajah Ryou yang tampak begitu serius kali ini. Matanya seperti mengisyaratkan sesuatu dan itu bukanlah hal yang baik untuk mereka.
‘Jadi begitu. Pantas Ryou terlihat kesal. Maksudnya ini’ gumam Kino dalam hati
Kino menghela napasnya dan meletakkan kembali sendoknya ke piring.
“Aku minta maaf sebelumnya, namun rahasia apa yang dimaksud?”
“Aku tau Xenon sedang menyelidiki kasus akhir-akhir ini dan dia seperti melakukan hal itu secara diam-diam. Memang itu adalah tugasnya sebagai eksekutor, namun kami berdua juga ingin membantunya”
Jene ikut menimpali perkataan Jessie, “Aku yakin kau tau sesuatu, benar kan? Meski hanya sedikit, tolong beritau kami apapun itu!”
Ryou menyenggol kaki sang kakak sebagai tanda penolakkan dan Kino memahami hal itu.
Kino akhirnya mengakhiri pembicaraan ini dengan cepat. Lebih cepat dari gerutuan Ryou sebelumnya.
“Maafkan aku, seperti yang kalian katakan bahwa Xenon-san memiliki rahasia saat ini. Aku bisa mengatakan bahwa ini memang berhubungan dengan kasus yang sedang terjadi”
“Namun, yang namanya rahasia harus tetap menjadi rahasia sampai orang itu sendiri yang mengizinkan untuk memberitau pihak lain. Kalian bisa menunggu sampai Xenon-san yang mengatakannya”
“Atau setidaknya, mungkin kalian berdua akan mengetahui hal yang disembunyikan Xenon-san cepat atau lambat dari pihak lain”
“Karena rahasia Xenon-san ada hubungannya dengan kasus di wilayah timur dan barat, aku percaya kalian akan tau nanti”
“Selain itu, tidak baik jika terus memaksakan kehendak dengan ingin tau rahasia seseorang di belakang mereka, Jessie-san, Jene-san. Sekalipun Jessie-san adalah tunangannya”
“Jika kalian ingin membantunya, aku rasa menunggunya sampai mau membuka diri adalah pilihan terbaik”
“Bayangkan jika kami memberitau Xenon-san dan ternyata dia mengetahuinya. Bukan hanya kami yang akan kehilangan kepercayaan darinya, tetapi kalian dan hubungan yang telah dibangun oleh kalian selama ini akan langsung hilang”
“Aku harap jawabanku sudah jelas. Aku dan Ryou permisi dulu. Selamat siang”
Kino berdiri dan berjalan dengan Ryou meninggalkan keduanya. Mereka hanya terdiam mendengarkan Kino tanpa bisa menjawabnya.
Di lorong koridor, Ryou memuji sang kakak habis-habisan.
“Kino keren! Kau jenius, Nii-san! Terbaik, kakak satu-satunya yang aku cintai. I love you!”
“Terima kasih”
“Eh tunggu dulu. Jangan anggap kalimat I love you dariku itu sungguhan punya perasaan romantis ya”
“Aku mengerti. Tapi aku ingin tau, kenapa Ryou tidak bisa keluar dari situasi itu dengan mudah? Biasanya Ryou bisa melakukannya?”
“Tidak juga. Itu karena mereka membuatku kesal jadi aku membalasnya. Sudah begitu, aku disebut kampungan tadi. Menyebalkan!”
“Begitu. Syukurlah semua baik-baik saja”
Kino sempat terdiam dan melihat ekspresi terkejut sekaligus kecewa yang dimiliki oleh kedua kakak beradik itu.
“Apakah aku salah menjawab seperti itu pada mereka berdua?” tanya Kino dengan perasaan bersalah
“Tidak. Itu tidak benar. Kita memang tidak bisa memberitau mereka hal yang dirahasiakan Xenon. Terlebih, kita juga memiliki tujuan sendiri untuk masuk ke tempat ini”
“Ryou benar. Tapi aku masih merasa sedikit bersalah”
“Tidak masalah. Semua akan selesai tanpa kau sadari. Pada akhirnya, mereka akan tau sendiri, percayalah”
“Aku mengerti”
Kino dan Ryou hanya berjalan di lorong koridor menuju ruang ujian Kaito.
******