Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 10. Dunia Siang dan Malam bag. 7



Keadaan Kaito setelah bayangan kedua kakak beradik itu menghilang di belakangnya tidak mengalami perubahan sejauh ini. Sambil sesekali berlari dan berhenti untuk menembakan anak panahnya, dia berhasil menjaga jaraknya cukup jauh. Sekitar enam belas anak panah yang dia miliki telah ditembakkan.


Tentu saja sekarang ini, dia tidak memiliki pikiran untuk mengambil kembali anak panah itu. Dia hanya berlari meninggalkan mayat goblin dengan anak panah yang masih menancap di tubuh mereka.


“Lupakan soal anak panahnya. Aku bisa mengambilnya kembali saat ‘dunia siang’ datang. Seharusnya aku sudah berhasil mengurangi jumlah mereka sedikit dan menjaga jarak dari mereka”


Baru berpikir bahwa dia sudah merubah keadaan dan terbebas dari kawanan goblin itu, ternyata sesuatu berlari mengejarnya. Kecepatannya memang tidak bisa mengimbangi Kaito saat itu tapi yang jadi masalah adalah sosoknya.


-BAAANG…BAAANG


‘Suara besar itu…Jangan katakan mereka bisa mengejarku lagi…”


Saat berbalik untuk melihat, sebuah tongkat panjang dan besar tiba-tiba datang dari belakang dan menghancurkan jalanan di sekitar tempat itu. Kaito berhasil melompat menghindarinya tetapi lubang besar tercipta dan jalanan itu rusak akibat lemparan tersebut. bisa dikatakan ada ‘sesuatu yang besar’ yang sengaja melemparkan senjata itu untuk membunuh Kaito.


“Senjata ini…tombak?! Tapi kalau dilihat dari panjangnya, mustahil bagi goblin sependek itu mampu melemparnya sejauh ini. Aku punya firasat buruk soal ini”


Panjang tombak yang hampir membunuhnya sekitar tiga atau empat meter, jelas bukan ukuran normal sebuah tombak pada umumnya. Jika tombaknya bisa sepanjang dan sebesar itu sudah bisa dipastikan sosok pelemparnya memiliki tinggi dua kali lipat atau lebih dari itu.


Kaito menjadi semakin waspada dan mencoba menembakkan anak panahnya kembali dari jarak itu ke arah goblin yang mendekat. Setelah melepaskan tiga tembakan, dia menyimpan busur panah miliknya dan mulai bersiap dengan pedangnya.


Suara langkah kaki yang besar itu semakin mendekat dan sesosok bertubuh besar bersama kelompok goblin lain yang mengikutinya mulai terlihat.


“Giant Orc!! Kenapa bisa sekawanan goblin dipimpin oleh giant orc?”


Ekspresinya sekarang menunjukkan raut wajah serius dan sorot matanya menjadi lebih tajam dari beberapa saat lalu. Bisa dikatakan keadaan ini bukanlah hal biasa untuknya. Itu bisa dilihat dari kuda-kuda yang dia pasang.


Seekor giant orc setinggi kurang lebih empat atau lima meter sekarang tepat di depannya dan bersiap untuk mengambil kembali tombak yang dilemparkannya tadi.


Akhirnya, keadaan Kaito mengalami perubahan dari yang sebelumnya cukup baik sekarang menjadi status darurat tingkat satu.


“Benar-benar sulit dipercaya. Padahal aku baru saja ingin memuji ‘dunia malam’ hari  ini tidak begitu buruk. Sekarang kutarik kembali pikiranku itu dan tetap pada pendirian awal. ‘Dunia malam’ ini benar-benar mimpi buruk”


Bibirnya memang tersenyum saat mengatakan semua itu, tapi nada yang digunakan saat mengeluarkan kalimat itu tidak mewakili senyumannya sama sekali.


-GROOOOORR


-KAAAAAKH… KAAAAKH…


-KIIIIK…KIIIIIK…KIIIIK


Giant orc itu mengeluarkan suara disusul dengan berbagai suara dari kelompok goblin yang mengikutinya. Sambil berlari, kelompok goblin itu bermaksud menyerang Kaito.


“Huh, suara jelek kalian membuat tempat mengerikan ini semakin mengerikan. Sebaiknya berpikir dulu sebelum memulai paduan suara!!”


Semakin kesal dengan suara mereka yang masih bisa didengar oleh telinganya, dengan cepat Kaito berlari dan menebas para goblin-goblin kecil itu.


-CRAAAT… CRAAAT


-SPLAAASH


Cairan ungu kental menghujani tempat itu dan warna jubah Kaito yang sejak awal gelap menjadi sedikit berwarna tapi itu bukan warna yang bagus.


‘Sungguh menjijikan’ kata-kata pahit yang mewakili tatapan Kaito saat melihat jubah yang dipakainya sendiri.


Giant orc itu mencabut kembali tombak yang menancap di jalan dan tidak lama setelah berhasil menariknya, dia langsung menyerang tanpa aba-aba. Gerakan berputar yang mendadak itu membuat Kaito dengan panik melompat ke samping dan berlari membelakangi monster itu.


Sekarang, setelah bersusah payah menghindar dengan terus lari ke depan, kini dia harus kembali lagi ke jalan yang dia lalui tadi untuk menghindari serangan tombak itu. Bagaikan mendatangi masalah, di depannya sudah berkumpul lagi kelompok goblin-goblin yang menghadang.


“Apa gunanya aku berlari dari tadi kalau harus kembali ke jalan ini dan sengaja menerobos para goblin itu?! Membuat kerjaan saja!! Minggir kalian dari jalanku sekarang!”


-CRAAAAT...


Tebasan cepat dilakukan. Dalam sekejap satu demi satu para goblin itu mulai berjatuhan dan mati. Jumlah goblin yang banyak itu mulai berkurang lebih dari setengah pasukan dan semua itu dilakukan sendiri olehnya. Karena kembali ke tempat dimana dia membunuh goblin sebelumnya dengan anak panah, sesekali saat lewat dia menyempatkan diri mengambil kembali beberapa anak panahnya dari mayat mereka.


'Ada bagusnya aku kembali. Tapi membuat energiku terbuang percuma. Selain itu, kakak adik itu pasti menungguku. Itu pun jika mereka sudah menemukan jawaban dari kata-kataku'


Dalam hati, Kaito mulai khawatir pada kedua kakak beradik yang berlari di depannya.


Para goblin dan giant orc itu mungkin sedang mengejar dirinya sekarang. Tapi tidak ada jaminan kalau kedua kakak beradik itu bisa lolos dengan selamat. Dia ingin cepat pergi menyusul mereka dan tidak ingin bertarung lebih lama dari ini. Sambil membunuh setengah pasukan goblin lain, Kaito melihat jam saku miliknya.


“Baru 07.15 ya? Waktu masih sangat panjang. Jika tidak cepat ke tempat aman itu, hanya tinggal masalah waktu sampai tenagaku benar-benar habis”


Kaito memasukkan jam sakunya kembali dan mengeluarkan pecahan cermin yang dibawa dalam saku. Pecahan tersebut memang hanya sepanjang pensil dan jumlahnya pun hanya lima di tangannya. Hanya saja, ada kegunaan tersembunyi jika benda kecil tajam itu berada di tangannya.


“Sebagai hadiah perpisahan dariku untuk sementara, aku akan memberikan ini pada kalian”


Pecahan cermin itu dilemparkan dengan cepat dan tepat mengenai mata para goblin, lalu dia maju kembali menebas mereka dan berputar untuk berlari lagi ke arah depan. Akhirnya berhadapan lagi dengan giant orc yang sudah siap melempar tombaknya lagi.


“Sepertinya daripada memegang tombak untuk menyerang, makhluk itu lebih senang melemparnya. Jika saja ukurannya sedikit lebih pendek dan lebih kecil, aku pasti akan mematahkan benda menyusahkan itu”


Bersiap untuk menghindari serangan yang akan datang dari arah depan, pikiran lucu terlintas dipikirannya.


‘Aku senang sekali Ryou tidak ada disini. Kalau dia disini, mulut cerewetnya itu pasti akan mengatakan kata-kata pedas tidak bermoral pada makhluk jelek itu. Dan hanya Kino yang bisa membuatnya diam seperti anak kucing’


Pikiran menggelitik itu membuatnya tertawa mengingat dia baru saja mengenal mereka beberapa jam dan pertemuan yang terjadi diantara mereka bertiga juga sangat tidak mengharukan. Setelah puas berpikir hal menggelikan itu, dia kembali ke arah kenyataan dan melihat lawan besar di hadapannya.


-GRAAAAAAAARRR


Tombak besar itu dilemparkannya dan Kaito melompat ke depan untuk menghindarinya.


“Kurasa hanya makhluk ini yang tidak boleh dibiarkan hidup. Aku akan mengabaikan goblin yang tersisa dan fokus pada giant orc”


Tombak yang menancap dan menciptakan lubang besar lain di jalan itu berhasil dihindari dan tanpa basa-basi, Kaito memutuskan untuk menyerang dengan menusukkan pedangnya ke kaki makhluk itu,disusul dengan tusukan di tangan dan lengannya,.


Semua gerakan cepat dan hati-hati itu dilakukannya beberapa kali tanpa henti. Giant orc itu tentu saja tidak langsung mati karena serangannya itu. Sempat terjatuh karena mencoba menahan serangan, peluang itu digunakan Kaito untuk melompat ke tubuhnya dan menusukkan pedangnya ke lehernya.


-GAAAAAAAARRRR


Giant orc itu berteriak dan memberontak. Dengan sekuat tenaganya, pedang yang menancap di lehernya itu ditarik kemudian digunakan untuk menebas leher makhluk itu. Kepala makhluk itu jatuh ke tanah disusul dengan tubuh besarnya. Perjuangan panjang bagi Kaito untuk bisa menaklukan seekor Giant orc.


Kaito membersihkan darah ungu kehitaman milik giant orc dari pedangnya dan menyimpan pedangnya kembali, mengatur napasnya sebentar dan melirik ke belakangnya. Tampak kelompok goblin yang tersisa berusaha mengejarnya, tapi dia tidak mau meladeni mereka. Dia berlari lagi dan meninggalkan sisa pasukan goblin itu meskipun hanya sekitar lima belas ekor goblin yang tersisa.


Rasa cemas tiba-tiba menghantui. Sekali lagi dia melihat jam sakunya sambil berlari.


“07.35 ya? Kuharap mereka berdua baik-baik saja”


Dia mengingat ucapannya kembali,


[Kalian berdua larilah lebih cepat. Kembali ke tempat yang aman untuk kita bersembunyi!!]


“Kuharap kau benar-benar bisa sampai ke tempat itu Kino. Aku sangat percaya pada pemikiranmu. Kumohon, jangan membuatku putus asa karena harus melibatkan kalian dalam situasi ini”


Kali ini tanpa memperhatikan ke belakang, akhirnya dia bisa berlari tanpa khawatir ada yang mengejarnya dan bisa bernapas lega. Walaupun pikirannya sekarang penuh dengan rasa khawatir dan cemas tentang keselamatan kedua kakak beradik itu, tapi dia tidak memiliki pilihan apapun selain percaya pada mereka.


Ini tidak seperti dia menggantungkan harapan hidupnya pada mereka, hanya saja perasaan itu murni ketidakinginannya melibatkan mereka dalam masalah.


Dilihat dari sudut pandang situasi tadi, niat Kaito untuk menghindari mereka terlibat pertarungan berbahaya sudah berhasil dilakukannya. Mereka berdua tidak melawan kawanan goblin itu secara langsung. Tapi, jika mereka tidak bisa menemukan tempat aman untuk bersembunyi, maka hanya tinggal masalah waktu sampai makhluk lain muncul dan membuat masalah baru.


Dan pemikiran itulah yang sekarang mempengaruhi perasaan di hatinya.


Saat dia melewati jalan dan tiba di suatu lokasi, dia melihat mayat seekor goblin yang mati. Luka tusukan di dadanya itu sepertinya sudah sekitar satu jam atau lebih. Melihat itu, Kaito tersenyum sangat senang. Bisa dikatakan itu adalah senyuman terbaik yang pernah dibuatnya selama ini.


‘Mereka berhasil!! Tenyata benar aku bisa mempercayai firasat baik ini. Aku bisa mempercayai kalian berdua. Aku bisa mempercayai pemikiran cepatmu, Kino’


Kaito mulai melewati gang yang tidak begitu sempit dan akhirnya sampai di sebuah jalan yang dibagi dua oleh saluran air yang memisahkannya. Dia berlari melewati sebuah jembatan penghubung dan sampailah di sebuah bangunan dengan tiga lantai.


Kaito membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Setelah menutup pintu, dia menemukan beberapa benda di lantai. Dia juga melihat dua meja dengan tiga kursi di sana.


Kaito menaikki tangga dan sampai di depan ruangan dengan pintu tertutup. Ruangan itu adalah satu-satunya ruangan yang memiliki pintu disana. Dia memegang gagang pintu itu dan membukanya. Saat pintu dibuka, sebuah sambutan hangat dan menyentuh menyambutnya seperti ucapan ‘selamat datang’.


Sungguh sebuah sambutan yang ‘hangat’ dari sebuah serangan tiba-tiba tepat disaat dia membuka pintu. Kejutan ‘membahagiakan’ dari sepasang pedang dan pisau dagger yang dengan cepat dihindari olehnya. Lalu, dia memegang tangan ‘si pembuat kejutan’, memutar kedua tangan itu ke belakang dan mengunci pergerakannya. Kedua senjata itu jatuh ke bawah diikuti suara minta ampun.


“Sakit sakit sakit sakit!!! Aku menyerah… menyerah...menyerah!! Lepaskan tanganku sekarang!! Kau dengar aku tidak, Kaito!!”


“Aku minta maaf, aku minta minta maaf!! Kumohon tolong lepaskan tangan kami, Kaito-san!! Ini sakit sekali!! Tolong lepaskan tangannya!!”


“……” Kaito melepaskan kedua tangan mereka dengan wajah datar tanpa ekspresi, “Terima kasih atas sambutan hangatnya, Kino, Ryou. Aku nyaris membuat masing-masing dari satu tangan kalian terlepas dari engselnya”


“Iikh…. Kau sendiri yang bilang pada kami untuk melindungi diri kami sendiri!! Bukan salah kami kalau kami bersikap waspada di tempat mengerikan ini!” Ryou mendekati wajah Kaito dengan  muka kesal sambil menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk untuk mengajukan protes


“Maafkan aku, Kaito-san. Aku yang merencanakan ini. Karena tidak tau bagaimana keadaanmu setelah meminta kami berlari, jadi aku mengatakan pada Ryou untuk bersiap menyerang jika ada yang mencoba membuka pintu itu”


“Oh ho… pemikiran bagus. Tidak buruk untuk pemula. Aku suka itu”


Sambil menyingkirkan jari Ryou dan mengambil senjata mereka yang jatuh, Kaito memuji mereka dengan kalimat “kerja yang bagus”


Kaito masuk dan menutup pintu. Di dalam ruangan itu terdapat beberapa benda. Tiga buah tempat tidur yang utuh, sebuah lemari kayu tua, sepasang meja dan kursi kayu juga jendela dengan kaca dan tirai.


Mereka meletakkan senjata mereka di samping meja kayu. Tetapi, pedang milik Kaito tetap berada disabuk pengikatnya. Kaito duduk  di tempat tidur paling kiri, berhadapan dengan kedua kakak beradik yang duduk di tempat tidur bagian tengah. Dari sini, mereka mulai bicara serius.


“Pertama aku ingin mengatakan bahkan kalian diluar dugaanku. Aku merasa kalian menakjubkan bisa mengetahui tempat yang kumaksud” Kaito memuji mereka dengan senyuman


“Ternyata, benar dugaanku bahwa Kaito-san masih menyimpan sesuatu yang tidak dikatakan kepada kami”


“……”


Senyum di wajah Kaito langsung menghilang mendengar Kino mengatakan kalimat itu.


“Jadi, jika kalian bisa sampai ke tempat ini artinya kalian tau sesuatu yang belum kukatakan pada kalian, iya kan?”


“Kami sudah tau. Aku tidak yakin semuanya benar tapi jika aku salah, kumohon Kaito-san harus mengoreksinya dan mengatakan yang sebenarnya pada kami. Apakah bisa Kaito-san berjanji padaku dan Ryou?”


“Aku sudah tidak ingin meladeni omong kosongmu, Kaito. Aku sudah cukup dengan semua ini. Pilihanmu pada kami hanya satu dan aku yakin kau tau itu”


“Baiklah. Kali ini aku benar-benar tidak akan menyembunyikan apapun pada kalian”


Kino mulai memberitau teorinya, alasan kenapa mereka bisa sampai ke tempat ini dan kenapa dia bisa menyadari semua kata-kata Kaito.


******


Sedikit mundur ke belakang, saat kedua kakak beradik itu baru saja selesai membunuh seekor goblin yang menyerang mereka, Kino berteriak bahwa dia mengetahui kemana tempat yang harus mereka tuju. Mereka berlari secepat mungkin dan menelusuri jalan besar di sana.


Ryou yang berlari sedikit di depan kakaknya mulai memperlambat kecepatannya dan membiarkan sang kakak memimpin jalan di depannya.


“Kau majulah lebih cepat Kino. Aku akan di belakangmu untuk memastikan bahwa kita masih aman”


“Terima kasih”


Kino berlari di depan Ryou dan mulai berbelok ke sebuah gang. Dari sini mereka berjalan setelah memastikan wilayah itu tidak ada siapapun kecuali mereka.


“Oi, Kino. Jalan ini tidak asing untukku”


“Arah kita sudah benar Ryou. Tidak salah lagi tempat ini yang dimaksud Kaito-san”


“Kau yakin?”


“Ingat saat aku mengatakan bahwa Kaito-san seperti menyembunyikan sesuatu dari kita? Inilah salah satunya. Aku tidak tau kenapa tapi aku sangat yakin akan hal ini”


“Aku tidak paham, jelaskan padaku apa jawaban teka-teki bodoh miliknya”


Sambil berjalan, Kino memberi tau Ryou bahwa ini semua adalah rencana Kaito. Senjata dan obat-obatan yang dimiliki mereka adalah bagian dari persiapan yang dimaksud Kaito. Kenapa di ‘dunia malam’ yang tidak memiliki apapun saat mereka memasukkinya, mereka justru memiliki senjata lengkap yang dipesan Kaito di pagi hari?


“Itu karena kita bertiga ‘menyentuh’ mereka semua saat di’ dunia siang’ tadi” Kino menegaskan jawabannya


“Menyentuh?”


“Apa Ryou ingat apa yang dikatakan Kaito-san saat menjemputmu tadi? Kaito-san dengan jelas bertanya apakah kamu menyentuh sabuk pengikat ini saat kami meninggalkanmu di toko senjata itu. Kaito-san tidak pernah memesan sabuk pengikat ini sebelumnya, Ryou. Aku yakin Ryou masih ingat semua senjata yang dipesan oleh Kaito-san saat kita kesana sore ini”


Mendengar perkataan Kino, Ryou mulai berpikir apa yang dikatakan kakaknya itu benar. Dia ingat semua senjata itu karena saat sampai, dia memegang dan mencoba senjata itu satu per satu. Dan untuk sabuknya, saat dia ditinggalkan sendiri, sang pemilik toko menawarkan benda-benda itu padanya dan menginjinkan dia mencobanya. Ryou kaget dengan semua pemikiran masuk akal itu.


“Kau… benar. Meja tempat kita bersembunyi juga masih ada di sana karena aku sempat memegangnya. Dan pintu di toko itu juga karena Kaito membuka pintu itu saat kita berkunjung”


“Selain itu, kantong kain berisi obat-obatan ini juga karena Kaito-san memintaku memeriksa semuanya tadi. Jika kamu ingin tau, meja dan pintu di toko obat yang kami kunjungi itu masih ada saat ‘dunia malam’ datang. Mengerti artinya, kan?”


“Kau dan Kaito menyentuh kedua benda itu saat datang sore ini”


“Benar. Jadi, seharusnya Ryou juga tau tempat aman yang dimaksud Kaito-san. Tempat yang menjadi peluang pertama kita agar bisa melewati ‘dunia malam’ ini dengan aman”


Mereka melihat jembatan penghubung dan menyeberanginya. Setelah berjalan beberapa menit, sekarang mereka berdiri tepat di depan bangunan berlantai tiga. Mata Ryou menunjukkan ekspresi terkejut. Tidak disangka bahwa mereka kembali ke tempat ini dalam ‘dunia’ berbeda.


“Tempat ini yang dimaksud oleh Kaito?”


“Itu benar Ryou. Di ‘dunia siang’, ini adalah [Ciel’s café]. Tapi tidak ada lambang di kedai ini atauapun semua bangunan di kota ini karena tidak satupun dari kita termasuk Kaito-san yang menyentuhnya. Jika kamu masih kurang yakin, kita bisa masuk sekarang. Ayo”


Ryou tidak meragukan kata-kata Kino. Dia jelas melihat ada pintu pada bangunan itu namun tidak ada kaca jendela di sana. Lalu saat membuka pintu dan masuk, wajah Ryou kaget melihat bagian dalam bangunan. Dia menutup kembali pintunya dan melihat ada dua meja dan tiga kursi di dalam.


Yang lebih membuatnya terkejut, semua itu berada di posisi yang sama saat mereka makan di kedai itu.


“Kino, jangan katakan itu meja tempat kita makan di pagi dan sore hari tadi. Sulit dipercaya”


“Benar. Semua itu masih berada di tempatnya. Sekarang mengerti maksudku, Ryou?”


“……”


Mereka berkeliling dan menemukan beberapa piring, gelas dan alat makan juga di lantai. Jumlahnya sama seperti yang digunakan mereka untuk makan hari ini. Wajah Ryou berkeringat menahan syok. Mulai menaiki tangga, mereka sampai di depan ruangan tempat mereka menginap.


“Aku ingat Kaito tidak mengunci ruangan ini setelah dia memecahkan cermin di dalam dan menyuruh kita berdua ikut dengannya untuk makan. Jangan katakan itu juga sengaja dia lakukan?”


“Kemungkinan besar itu benar. Dari teori yang kusampaikan padamu ini akan jadi masuk akal kenapa Kaito-san tidak melakukannya. Karena jika pintu ini dikunci sebelum turun olehnya, kemungkinan besar saat memasuki ‘dunia malam’ pintu ini akan tetap dalam keadaan terkunci”


Kino menjadi semakin yakin bahwa teorinya benar. Semua pemikiran panjangnya kini mulai membuahkan hasil dengan semua kecocokan yang ada di tempat itu. Setelah mereka selesai dengan pikiran rumit mereka, Kino membuka pintunya.


“Ternyata, benar tidak terkunci”


Saat masuk, mereka hanya bisa mematung. Mereka tidak tau harus berkata apa. Di dalam ruangan itu benar-benar terlihat semua benda yang memang ada di sana pagi ini.


“Bohong kan? Sampai kaca jendela dan tirainya juga ada. Yang benar saja!. Hal seperti ini…” Ryou memegang kaca dan tirai pada jendela itu dan itu sungguhan


“Saat pertama kali datang, Kaito-san menutupnya ingat jadi itu benar-benar ada di sana”


Kaki Ryou menjadi lemas sekarang dan terjatuh. Kino menjadi sangat panik dan langsung menghampirinya.


“Haaaaah……”


“Ryou!! Kau tidak apa-apa?”


Ketika dihampiri oleh Kino, wajah Ryou terlihat lega. Ryou memeluk kakaknya sambil tersenyum.


“Peluang pertama kita agar bisa aman. Kaito berkata begitu sebelumnya, iya kan?”


“……”


Kino hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah melepaskan pelukannya dari sang kakak, raut wajah Ryou menjadi sedikit merah dan mengangkat pisau dagger yang ada di tangannya.


“Jika dia sampai di sini, apapun yang terjadi, biarkan aku memberikan satu serangan atau setidaknya satu tamparan padanya!!”


“Eh?”


“Dia sampai membuatmu memikirkan semua ini sendirian…aku tidak akan memaafkannya!!! Ini sama saja dengan masih belum mempercayai kita. Aku tidak terima!!. Padahal kita sudah memberitau kondisi kita saat datang. Bahkan tentang buku tua dan jam saku kita padanya. Aku yakin dia masih menyimpan banyak informasi lain pada kita”


“Ryou, tahan emosimu sebentar…”


“Tidak bisa!! Sudah kuputuskan. Satu serangan dan satu tamparan di wajahnya adalah bayaran setimpal. Jangan mencoba menghentikanku”


“Ryou, dengarkan aku. Aku juga ingin Kaito-san tidak menyembunyikan apapun lagi sejak kita sudah mengatakannya dengan jelas bahwa kita akan percaya pada semua kata-katanya. Tapi, kamu ingat situasi rumit miliknya, kan? Kurasa Kaito-san hanya tidak tau cara menyampaikannya pada kita”


“Atau dia memang tidak mau menyampaikannya pada kita jadi dia memintamu untuk memecahkan omong kosongnya itu sambil berteriak aku yakin pada kemampuan analisamu. Apa bedanya dengan perkataanku barusan? Tidak ada bedanya, kan?”


“Kumohon tenanglah, Ryou…”


“Aku masih tidak terima alasan apapun sampai dia sendiri yang mengatakannya”


Ryou masih belum bisa mereda emosinya. Dengan tatapan sedih, Kino mencoba cara terakhir untuk meyakinkannya.


“Kaito-san melakukan ini untuk kita berdua. Semua senjata ini adalah permintaan egois yang kukatakan padanya. Jika Ryou marah, kamu bisa marah padaku terlebih dahulu”


“…….”


Ryou hanya bisa mengepalkan tangannya dan menahan rasa kesalnya. Setelah tenang beberapa saat, dia mengambil napas panjang dan menghembuskannya.


“Baiklah. Aku minta maaf. Aku tidak akan pernah memarahimu hanya demi orang sok misterius itu”


“Ryou… terima kasih karena mau mengerti. Aku sangat senang mendengarnya” Kino tersenyum senang mendengarnya walaupun dia melihat wajah adiknya cemberut karena kesal


“Aku akan mengatakannya padamu saja. Sejujurnya aku merasa marah padanya karena tidak mengatakan semua situasi dan kondisi di tempat mengerikan ini pada kita. Tapi, mengingat dia begitu murah hati sampai memberikan informasi penting pada kita dan bahkan mau melindungi kita dan menyiapkan persiapan seperti ini membuatku sedikit terharu”


“Aku tau itu”


“Jangan salah paham ya. Aku hanya sedikit terharu!. Cuma sedikit, tidak banyak. Benar-benar sedikit sekali. Pokoknya cuma sedikit !! Jadi, lupakan beberapa hal yang kukatakan tadi”


“Tentu sa… tunggu sebentar, beberapa hal katamu?”


“Aku akan tetap menampar wajahnya saat dia datang”


Kino tidak bisa mengatakan apapun. Sepertinya, hal yang ingin dilakukan Ryou itu berasal dari kekesalan pribadi dirinya terhadap Kaito. Kino sudah membulatkan hatinya.


‘Aku benar-benar akan menghentikan anak ini kalau sampai dia mencoba menampar wajah Kaito-san sungguhan’


******