
Kino masih belum bisa mengabaikan perasaan itu. Perasaan yang membuatnya sangat yakin bahwa mereka berdua dan Kaito sudah terikat lebih dalam dari yang dipikirkan. Mungkin, perasaan seperti ini hanya Kino yang menyadarinya.
‘Kamu tidak mengerti, Ryou. Jika benar jam saku ini memiliki hubungan dengan Kaito-san, itu artinya kita berdua mungkin akan terlibat dengan Kaito-san lebih dalam lagi. Entah kenapa, aku merasa bahwa semua ini tidak semudah yang dipikirkan’ pikir Kino dalam hati
Ryou mulai mengabaikan raut wajah sang kakak yang terlihat cemas. Rasanya, sudah cukup baginya merasakan hal yang seperti itu dalam beberapa hari terakhir.
Keadaan tidak benar-benar baik sekarang. Setidaknya, hanya Kino yang merasakannya. Untuk mengubah semua perasaan itu, Kino mencoba mengalihkan pembicaraan kembali.
“Hmm? Ryou?”
“Apa? Kau mau membahas hal berat soal Kaito dan yang lainnya? Aku tidak mau dengar!”
“Pakaianmu…penuh dengan noda darah. Itu tidak akan hilang jika didiamkan terlalu lama”
“Pakaian?”
Ryou melihat pakaiannya sendiri. Pakaian itu adalah pakaian yang dia pakai sejak pulang sekolah sebelum terjebak di ‘dunia’ aneh tersebut. Dengan kata lain, itu adalah satu-satunya pakaian yang dipakainya sejah awal. Sedangkan Kino, saat ini mengenakan pakaian rumah sakit.
“Kenapa kamu tidak membeli pakaian baru dan mencucinya sebelum noda itu mengering?” tanya Kino dengan wajah cemas
“Kau masih mencemaskan hal kecil seperti itu? Ini tidak penting! Semua orang juga tau kalau aku membawamu ke tempat ini dalam keadaan terluka” Ryou mencoba membela dirinya
“Tapi bukan berarti kamu tidak mengganti pakaianmu. Ini bukan ‘dunia siang’ atau ‘dunia malam’ yang semua noda darah serta luka akan kembali mengalami perulangan”
“Aku tau itu! Tapi selama kau di rumah sakit dan tak sadarkan diri, aku terus menemanimu di sini! Mana mungkin aku pergi meninggalkanmu sendiri!”
“Meskipun begitu–”
“Kau mau melihat pakaianmu di laci bawah? Itu justru lebih parah karena sudah sobek dan penuh dengan lubang, seperti habis mendapatkan penyiksaan!” Ryou menunjukkan laci bawah tersebut pada sang kakak tanpa membukanya
Semua pakaian lamanya telah dilepas dan disimpan di dalam laci bawah oleh Ryou. Sungguh adik yang baik.
Kino hanya menengok sekilas dari kejauhan dan melihat ke arah sang adik kembali sambil menggelengkan
kepalanya.
“Nah, tidak mau melihatnya kan?”
“Tapi, setidaknya kamu harus ganti pakaian Ryou. Itu semua demi terlihat lebih…”
“Terlihat lebih…lebih apanya?”
“…Lebih normal dan Ryou tidak menunjukkan aura kriminal”
-Jleb
Sebuah kata yang membuat hati Ryou bagaikan tertusuk pisau tajam. Itu adalah kata yang sangat sering didengar, sangat sering diucapkan dan sangat sering dipakai olehnya dulu untuk menggambarkan sebuah citra sederhana dari seorang Kaito.
Dan sekarang, sang kakak yang sangat disayanginya justru menggunakan kata itu untuk dirinya. Sebuah karma yang datang dengan cara tidak terduga.
“Kino…kau…memanggilku apa…barusan?”
“Barusan? Aku tidak memanggil Ryou–”
“Kau bilang aku…aku…aku menunjukkan aura kriminal!” Ryou berteriak dengan nada histeris dan wajah aneh
“…Ah, aku tidak bermaksud…”
“Kau menghancurkan perasaanku yang rapuh, Nii-san. Kau jahat, kejam sekali. Teganya kau menghancurkan hatiku yang setipis kaca dan serapuh es serut. Hiks…hikss”
Kino hanya bisa tersenyum tipis dengan wajah anehnya. Melihat tingkah adiknya yang semakin tidak jelas membuatnya semakin lelah dan menghela napas berat sambil berkata dengan nada datar dan tatapan dingin.
“Ryou, hentikan. Itu terlalu dramatis dan tidak menyenangkan sama sekali”
“Biar saja aku jadi dramatis! Agar kau tau kalau kau mulai jahat padaku!” sekarang Ryou merajuk
“Ryou…” Kino hanya bisa memegang kepalanya karena sudah bingung dengan tingkah sang adik
Dalam sekejap, suasana kembali hidup dengan hal kecil yang konyol dari Ryou. Tidak lama setelah itu, Ryou tiba-tiba saja bersin.
“Haa…chuuuh!”
******
Hal ini terjadi di saat yang sama saat Arkan dan Riz dengan membicarakannya.
“Akhirnya kita bisa mengetahui cara paling ampuh untuk membuat anak galak itu diam seperti marmut. Ahahaha” Arkan mulai tersenyum dan tertawa
“Akhirnya, kemenangan di tangan kita. Ahahaha. Kau jenius bisa melaporkan ini pada kita, Arkan”
******
Kembali ke tempat Kino dan Ryou sekarang.
“Ryou! Kamu kenapa?” Kino menjadi panik
“Seperti ada yang sedang membicarakan aku sekarang. Mungkinkah ayah dan ibu di Jepang? Atau mungkin Kaito?” Ryou berpikir sambil menggaruk-garung hidungnya dengan satu jari
Kino mencoba mengambil air yang ada di meja namun dihentikan oleh sang adik.
“Mau melakukan apa?”
“Mengambilkan Ryou air untuk minum”
“Jangan coba-coba melakukan hal yang aneh! Aku tidak haus dan aku tidak apa-apa. Jangan banyak bergerak atau lukanya akan lama sembuh”
“Tapi Ryou bersin”
“Memangnya bersin bisa membuat orang mati secara instan?”
“Umm…ti–tidak juga, tapi–”
“Sudahlah. Abaikan hal tidak penting dan kita tunggu sampai Kaito kembali. Kita sudah membahas banyak hal dari yang menyebalkan sampai yang tidak penting. Sudah waktunya kau istirahat. Tidurlah dulu”
Ryou yang sejak awal duduk di samping sang kakak yang berada di atas tempat tidur pasien mulai berdiri dan meminta Kino merebahkan tubuhnya kembali.
“Aku tidak apa-apa” kata Kino dengan nada tenang
“Tapi…”
Ryou mengambil jam saku yang sejak awal tidak dilepaskan oleh Kino dari tangannya dan melihat jam tersebut. Saat ini, waktu pada jam saku mereka sudah menunjukkan pukul 01.32.
“Jarum panjangnya menunjukkan pukul 01.32 ya. Sudah jam 13.32 siang dan sebentar lagi waktu menjenguk berikutnya. Kalau kau tidak tidur sekarang, para setan-setan kecil itu akan segera datang dan menjajah tempat ini. Percayalah”
Ryou menggenggam jam saku itu di tangannya dan terus mendesak Kino untuk memejamkan matanya. Meski begitu, Kino masih mencoba untuk mencari alasan agar tidak perlu tidur.
“Tapi kalau aku tidur, bukankah mereka akan kecewa? Aku juga sangat menantikan kue yang Michaela-chan katakan padaku sebelum pulang”
“Tidak! Kalau kau tidur, mereka akan pulang dan ketenangan akan kembali. Dunia kecil kita akan damai dan setelah kau sehat, kita akan mencari permata Kaito tanpa harus memikirkan mereka! Ahahaha!”
Ryou tertawa senang sekali. Dan suara tawanya itu mirip dengan tokoh antagonis dalam drama televisi.
“Ryou, kamu tidak boleh jahat seperti itu. Mereka anak-anak yang manis, kamu tau. Apalagi Theo-kun, dia mengingatkanku pada Ryou saat masih kecil dulu” kata Kino sambil tersenyum
“Apanya yang manis! Mereka itu penjajah kecil! Tukang membuat masalah! Setan-setan kecil yang senang sekali berkumpul di sekitar kakakku! Dan mereka menyebalkan!”
“Ryou…”
“Pokoknya mereka tidak manis sama sekali!” ucap Ryou dengan wajah cemberut
“Tapi Ryou tidak membenci mereka, kan?”
“Aku hanya kesal dengan tingkah mereka. Tapi…aku tidak membenci mereka sama sekali. Sejak mereka menyukaimu juga, itu artinya mereka punya penilaian yang bagus”
Kino hanya bisa tertawa kecil mendengar gumaman adiknya. Rasanya semua pokok pembahasan sederhana itu membuatnya melupakan topik yang tegang beberapa waktu lalu.
“Ryou, dengarkan aku…”
“Apa? Kau belum mau tidur? Obatnya belum menunjukkan reaksi ya?”
“Sudah lama sekali kita tidak bicara seperti ini ya”
“Hah?”
“Lima hari di tempat asing yang tidak kita kenal…rasanya seperti sudah sangat lama”
“Kau sudah mengatakan itu beberapa kali. Aku sudah bosan mendengarnya” kata Ryou yang duduk di kursi
“Tapi, terakhir kali kita menghabiskan waktu berdua dan mengobrol layaknya kakak adik seperti ini saat berada di ‘dunia siang’ waktu itu. Ketika menunggu Kaito-san menjual penawar obat kita, ingat kan?”
“Jangan mengingatkan aku kembali dengan itu!” wajah Ryou tiba-tiba tersipu malu
“Ahahaha, Ryou ingat saat aku cerita bahwa Kaito-san menceritakan hal besar yang dilakukan olehmu ya. Aku masih ingat ceritanya”
“Sudah kubilang jangan mengatakan hal yang tidak-tidak! Sudah cepat istirahat sana! Paling tidak, pejamkan mata saja dulu seperti orang tidur. Nanti juga kau akan tidur sendiri!” Ryou terlihat cemberut dan meminta kakaknya untuk tidur
Dia bangun lagi dari kursinya dan memasang selimut untuk sang kakak agar dia mau memejamkan matanya. Setelah itu, Ryou kembali duduk.
Keadaan akhirnya menjadi hening. Kino akhirnya mendengarkan Ryou dan memejamkan matanya. Meskipun tidak merasa mengantuk, tapi karena efek obat sebelumnya membuatnya tidak begitu sulit untuk tidur.
Ryou melihat jam saku di tangannya kembali. Waktu sudah berlalu sekitar sepuluh menit sejak dia meminta kakaknya untuk tidur. Dan sekarang, Ryou mencoba memastikan sesuatu. Dia berdiri lagi dan berbisik ke telinga sang kakak.
“Kino? Kau tidur, kan?”
“……” Kino terdiam
Ryou menyentuh pipi sang kakak dengan satu jari.
“Kino? Jawab aku kalau kau sudah tidur” sebuah candaan kecil dari Ryou
“……”
“Baiklah, aku anggap itu sebagai jawaban kalau kau sudah tidur”
Akhirnya dia kembali duduk dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya. Dengan menarik napas dan menghembuskannya perlahan, Ryou mulai terlihat serius. Seperti, dia mulai memikirkan hal lain.
Dia mengingat semua yang dikatakan oleh sang kakak beberapa menit lalu.
[Jika…jika kali ini ingatan Kaito-san ditemukan…apa kita akan siap berpisah dengannya?]
[Mungkin saja kali ini kita akan benar-benar berpisah dengannya]
[Aku…mengerti. Tapi, Kaito-san telah banyak menolong kita. Aku…aku merasa bahwa kita tidak akan mudah terpisah olehnya mulai sekarang]
Ryou tidak bisa menghilangkan semua kalimat itu dengan mudah.
‘Padahal aku memintanya untuk tidak memikirkan hal itu, kenapa justru aku yang tidak bisa melupakan semua kata-kata Kino barusan?’ gumamnya dalam hati
Sempat melirik ke arah tempat tidur sang kakak, Ryou kembali bergumam dalam hatinya.
‘Maaf karena sudah membentakmu tadi, Kino. Aku mengerti perasaanmu yang memikirkan Kaito. Sejujurnya, aku juga merasa bahwa berpisah dengan Kaito yang sudah banyak menolong kita itu adalah hal yang menyedihkan. Tapi, aku tidak bisa membuatmu memikirkan hal itu. Jam saku kita benar-benar terhubung olehnya’
‘Aku tidak tau apakah kau berpikir hal yang sama denganku atau tidak, tapi…tapi mungkin akan sangat lama bagi kita berdua untuk kembali ke Jepang setelah ini’
Ryou menyadarinya. Dia hanya mencoba untuk menyangkalnya ketika bicara dengan sang kakak. Tapi, dia tau
bahwa mereka tidak akan bisa terpisah dari Kaito dengan mudah setelah semua hal yang terjadi.
‘Kita sudah terhubung terlalu jauh dengan masalah Kaito sekarang. Aku juga tidak tau kenapa bisa jadi seperti ini. Hanya karena jam saku tua yang ada di perpustakaan ayah…’
Ryou terdiam. Dia langsung duduk tegap dengan wajah panik dan syok. Setelah itu, dia mulai berpikir hal yang sampai sekarang tidak pernah terlintas dalam benaknya.
‘Jam saku tua…kalau dipikirkan kembali, kenapa di perpustakaan rumah ada buku aneh itu? Sejak kapan buku itu ada di rumah? Aku…aku tidak pernah melihat itu sebelumnya. Jadi bagaimana bisa benda itu ada di sana?!’
Hal yang tidak pernah terpikirkan akhirnya mulai menjadi sebuah bagian penting.
“Kenapa aku tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya? Kenapa aku tidak menyadarinya lebih cepat? Padahal aku dan Kino sudah sampai seperti ini, kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Buku apa itu sebenarnya? Bagaimana jam saku yang mirip dengan Kaito punya ada di dalamnya. Siapa yang meletakkannya dan kenapa harus kami berdua?”
Belum selesai dengan gumaman kecil yang keluar dari mulutnya, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan memecah semua perasaan aneh dan panik milik Ryou.
******