Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 55. Terhubung oleh Takdir bag. 1



Ryou dan Kaito berjalan menuju pusat kota setelah mereka tidak menemukan anak berbaju orange bertopi coklat yang dicari. Kaito melihat jam saku miliknya dan waktu sudah menunjukkan pukul 08.35 yang artinya sudah delapan menit berlalu sejak mereka berjalan meninggalkan kawasan pertokoan sebelumnya.


Sekarang ini, keadaan di sekitar mereka berdua tampak aneh.


“Ryou, apa sekarang giliran kau yang marah padaku karena aku memujimu barusan?”


“Kau benar-benar mencari masalah ya?! Hari ini kau sepertinya sudah bisa menyerang balik kata-kataku dengan sangat baik ya, Kaito?” protes Ryou dengan nada kesal


Setelah pujian berupa keraguan Kaito mengenai status Ryou sebagai adik kandung Kino, sekarang mereka sudah seperti kucing orange dan kucing hitam yang saling mendesis. Bahkan Kaito mulai membayangkan seekor kucing mendesis dengan bulu naik ke atas dan wajah galaknya di belakang Ryou.


“Aku hanya mencoba meniru mulut pedasmu itu. Terkadang kemampuan melontarkan makian dari mulut pedasmu itu benar-benar kubutuhkan. Aku bilang padamu saat kita di kolam air mancur bahwa mental emosianmu itu sangat kuperlukan, ingat?”


“Kau mengejekku ya?” sambil mengepalkan tangannya, Ryou bertanya kepada Kaito


Ryou sepertinya ingin sekali memukul wajah datar tanpa rasa bersalah milik Kaito.


“Lihat wajah cemberutmu itu. Untuk inilah mental emosianmu itu digunakan, fungsinya agar aku tidak stress menghadapi tekanan seperti tadi”


Sambil memasukkan kembali jam saku tersebut, Kaito benar-benar mengatakan semua kalimat itu dari lubuk hati yang paling dalam.


“Iya benar, tapi setelahnya aku yang jadi stress karena kau! Sepertinya kau benar-benar punya dendam pribadi padaku ya, Kaito!” satu lagi protes dari Ryou


“Tidak, kumohon jangan berpikiran jahat padaku”


“Tapi kau memang penjahat, kan? Dasar kriminal!”


“……”


Pada akhirnya Kaito hanya bisa diam mendengarkan Ryou mengajukan protes sambil memanggilnya dengan julukan yang bagus, kriminal katanya. Demi kesehatan mental yang lebih baik, Kaito memilih untuk mengalah.


Setelah berjalan, mereka akhirnya sampai di pusat kota. Seperti sebelumnya, pusat kota itu tetaplah tempat yang ramai. Meskipun Kaito sendiri merasa ada sesuatu yang kurang sejak kolam air mancur yang biasa dia lihat di ‘dunia siang’ dulu sekarang sudah pindah di samping altar.


“Kemarin aku baru ke tempat ini bersama Kino. Sudah kuduga kalau pagi menjelang siang seperti ini banyak sekali kios jajanan dan pedagang lain yang buka” Ryou melihat semua area di pusat kota


“Pusat kota akan semakin ramai lagi setelah ini, apalagi dengan banyaknya pedagang dan kios yang telah buka” kata Kaito sambil melihat sekeliling


Tempat mereka berdiri sekarang berada di dekat kios makanan dan tentu saja sangat ramai. Ada banyak hal seperti pertunjukan jalanan dan pesulap keliling juga di sana. Benar-benar menunjukkan betapa pusat kota adalah pilihan terbaik untuk dikunjungi selain kolam air mancur dan bangunan altar di sisi berbeda.


Akan tetapi, tempat tersebut merupakan area paling sulit bagi Ryou dan Kaito yang terlihat seperti mencari orang hilang. Sambil terus berjalan, mereka berdua berusaha untuk tidak melewatkan apapun dan siapapun di sana. Walaupun pada akhirnya hal yang mereka lakukan seperti sedang berputar-putar di tempat itu tanpa tujuan.


“Merepotkan! Semakin ramai tempat ini, semakin sulit menemukan bocah menyebalkan itu. Mau berpencar sekarang?”


Ryou mengusulkan untuk berpencar kali ini dan itu tidak mendapatkan respon positif dari Kaito.


“Ryou, aku khawatir ada orang lain selain kelima orang tadi yang mengejar kita. Selain itu sebelum kita tau motifnya, kita sudah terlanjur menghajar mereka sampai pingsan”


“Lalu, apa yang mau kau katakan?”


“Aku berpikir sebaiknya kita tidak berpencar kali ini” Kaito menatap Ryou dengan serius


“Tinggal bilang kalau kita harus tetap bersama apa susahnya? Kau benar-benar senang basa-basi ya”


Kata-kata ‘harus tetap bersama’ dari Ryou diartikan sebagai kalimat ambigu yang mengundang wajah aneh serta tatapan jijik dari Kaito.


“Ryou, bukannya aku tidak menghargai perasaanmu itu tapi perlu kuingatkan bahwa aku masih suka perempuan meskipun aku kehilangan ingatan. Ingat itu”


Tentu saja mendengar ucapan Kaito, Ryou menjadi merah seperti cumi rebus berasap dan siap dengan mulut pedasnya.


“Dasar sial!!! Apa maksud ucapanmu itu?! Jangan melihatku dengan tatapan jijik seperti itu ya, dasar tidak waras!!. Akh, bicara denganmu bisa membuat umurku semakin pendek sepuluh tahun lagi!! Sudah cukup, berhenti bicara yang tidak-tidak dan kita harus mencari bocah menyebalkan itu!” Ryou benar-benar kesal sampai berteriak


Sudah tidak mau memperburuk situasi dengan omong kosong itu, mereka memutuskan untuk fokus kembali.


“Berani bicara hal yang tidak-tidak lagi akan kupotong lehermu itu, mengerti!! Jangan membuatku seperti orang gila karena meladeni pikiran gilamu itu, Kaito! Sebelum aku pulang ke Jepang, bisa-bisa aku mati duluan karena darah tinggi di tempat ini!!”


Ryou masih mengeluarkan makian dengan mulut pedas itu dan Kaito mencoba menahan tawanya dengan usaha ekstra.


Setelah berjalan mengelilingi tempat itu sambil melakukan percakapan tidak penting, langkah Ryou kali ini terhenti dan melihat ke arah pohon rindang di kejauhan. Wajahnya begitu terkejut namun sorot matanya tiba-tiba berubah menjadi tajam seakan sudah mengunci target yang terlihat.


“……”


“Ada apa?” Kaito bertanya kepada Ryou


Kaito yang melihat Ryou diam mulai memperhatikan kemana arah mata itu. Lalu Ryou berkata sambil menyipitkan matanya dengan nada serius.


“Sepertinya kali ini aku tidak salah lihat. Kita beruntung karena memutuskan untuk ke sini”


“Itu…kenapa bisa ada di sini?!”


Kaito terkejut dengan apa yang dilihatnya. Di dekat kursi yang berada di bawah pohon rindang itu, dia melihat Kino dari kejauhan. Kino yang baru saja berdiri dari kursi taman di sana sedang bersama seseorang. Tentu saja karena jarak yang jauh, Kino tidak menyadari kalau ada yang memperhatikannya.


“Kenapa Kino ada di sana? Hmm…?”


Kaito memperhatikan seseorang di samping Kino. Awalnya tidak begitu terlihat karena tertutup oleh tubuh Kino. Namun saat mereka hendak berjalan, dia melihat sosok anak kecil dengan ciri-ciri yang persis seperti yang mereka cari.


Dengan wajah terkejut, Kaito melihat ke arah Ryou


“Ryou…jangan bilang kalau itu–”


“Itu dia, Kaito. Itu anak yang kita cari. Dia yang kemarin tidak sengaja menabrak kami saat di altar, dia juga bersama anak-anak yang meminta sumbangan di depan pintu masuk altar. Aku tidak tau kenapa Kino bisa bersama anak itu sekarang, tapi yang jelas kali ini aku tidak salah lihat”


Mereka berdua melihat Kino dari kejauhan yang pergi meninggalkan kursi tersebut.


“Dari arahnya, aku bisa tau kemungkinan mereka akan pergi kembali ke altar” kata Kaito dengan tidak melepaskan pandangannya dari mereka


“Kita harus mengikutinya sekarang, Kaito!”


Kaito mengangguk tanda setuju. Ryou dan Kaito mengikuti Kino bersama anak berbaju orange bertopi coklat itu dari belakang. Dengan mempertahankan jarak antara mereka, Ryou dan Kaito tidak melepaskan pandangan mereka dari orang yang berjalan di depannya.


Ryou berpikir sebentar lalu bertanya kepada Kaito.


“Oi, Kaito aku ingin dengar pendapatmu”


“Apa yang mau kau dengar dariku?”


“Melihat kondisi Kino yang justru bisa bersama dengan bocah yang kita cari sekarang ini…apa menurutmu dia benar-benar sudah menyadari hubungan anak-anak di altar dengan kasus kehilangan di sana?”


Kaito diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu. Dia masih ingat beberapa jam lalu, dia dan Ryou baru saja berdebat tentang masalah ini. Akan tetapi, hal itu dilakukan karena sebelumnya mereka sudah berencana mengikuti anak-anak itu ketika mereka hendak pulang ke tempat asing.


Salah satu hal yang dikatakan oleh Kaito sendiri kemarin sore kepada Ryou adalah dengan merahasiakan semuanya dari Kino. Mereka berdua tidak merubah kesepakatan itu dan tetap mencoba melakukan semua yang mereka bisa di belakang Kino.


Tetapi Kaito tidak lupa seberapa jenius seorang Kino yang baru dia kenal selama nyaris tiga hari itu. Tentu saja dia sudah menduga bahwa Kino pasti akan mengetahui hal itu cepat atau lambat, bahkan Kaito sendiri masih belum bisa melepaskan pikiran tentang betapa berbahayanya kepekaan yang dimiliki remaja itu.


Kaito mencoba tenang dan menjawab pertanyaan Ryou dengan hati-hati agar tidak menciptakan drama perdebatan bagian dua.


“……”  Ryou terdiam dan tidak mau membalasnya


Pengintaian yang dilakukan mereka berdua terhadap Kino dan anak itu sebenarnya tidak sulit, yang sulit adalah harus mencari ruang agar tidak diketahui oleh mereka karena Kino dengan senyumannya itu selalu mengajak anak yang bersamanya berhenti untuk melihat-lihat toko di sekitar tempat itu.


Melihat kelakuan sang kakak yang benar-benar seperti sedang mengasuh anak sendiri, Ryou tidak bisa menahan mulutnya untuk berkomentar.


“Wahai kakakku yang paling manis di dunia, apa yang kau pikirkan sebenarnya?! Apa kau pikir kau sedang mengasuh anakmu sendiri atau anak tetangga?! Bahkan, nenek Yamato saja tidak selalu meminta kita mengajak jalan-jalan Chihuahua miliknya!”


Komentar aneh dari mulut Ryou mengundang pertanyaan Kaito.


“Kenapa kau tidak mencaci maki Kino seperti yang selalu kau lakukan padaku?”


“Kenapa aku harus memaki kakakku sendiri?!”


Jawaban cepat dari Ryou  langsung membuat Kaito diam. Kaito kembali membuka mulutnya setelah selesai perbaikan mental.


“Siapa itu nenek Yamato  dan Chihuahua yang kau katakan barusan?”


“Tetangga sebelah rumahku yang selalu meminta Kino menjaga anjing peliharaan kesukaannya. Meskipun hanya di hari sabtu dan minggu, tapi dia selalu meminta kami memberi makan anjing jenis Chihuahua miliknya itu lima kali sehari”


“Lalu apa hubungan antara komentar anehmu itu dengan situasi Kino sekarang?”


“Aku merasa dia sedang mengasuh bocah itu seperti sedang mengajak Chihuahua milik tetanggaku jalan-jalan. Aku tidak tahan melihatnya!”


“……”


Kaito hanya bisa diam dan bergumam dalam hati.


‘Sepertinya aku akan mulai berhenti bertanya setiap komentar yang dikeluarkan anak ini. Semuanya seperti suatu kesia-siaan, tidak ada yang penting dan hanya menghabiskan tenagaku’


Sepertinya Kaito sudah mendapatkan satu lagi pencerahan yaitu berhenti bertanya jika Ryou mengeluarkan komentar anehnya.


Kino dan anak itu berjalan kembali, tentu saja mereka berdua yang berada di belakangnya mengikuti. Kaito melihat jam saku miliknya dan waktu sudah menunjukkan pukul 09.00.


“Kita tidak bisa begini terus, Kaito! Kita harus memisahkan anak itu dari Kino dan mengintrogasinya seperti rencana awal. Tapi bagaimana caranya?” Ryou melihat Kaito dengan tatapan bingung


“Aku tau. Kita akan mulai mempercepat gerakan kita dan mendekati mereka perlahan”


Kaito mulai menyadari semakin dekat mereka menuju bangunan altar, semakin banyak orang yang datang. Dia mulai berpikir hal itu mungkin bisa menjadi peluang untuknya walau sedikit. Dengan mengamati orang-orang yang lewat, dia mulai terpikirkan sebuah rencana.


“Aku rasa kita bisa melakukan sesuatu untuk pengalihan. Akan kuberitau rencananya padamu”


Kaito memberitaukan apa yang dia rencanakan kepada Ryou. Mendengar itu, Ryou terlihat serius dan menyanggupinya.


“Kali ini aku tidak akan membiarkannya lolos!”


Setelah mereka sampai di depan kolam air mancur, Ryou dan Kaito berpisah sementara. Kaito mulai berkeliling di sekitar kolam air mancur dengan hati-hati agar tidak diketahui Kino sambil terus melihat kedua orang tersebut dari kejauhan.


Kaito menyadari adanya perubahan sikap keduanya. Dia melihat anak kecil itu seperti bersikeras akan sesuatu. Dia juga seperti mengatakan hal yang membuat wajah Kino tampak aneh, seperti sedang khawatir atau cemas.


“Kurasa ini mungkin celah yang kubutuhkan. Sedikit lagi–” sambil terus memperhatikan dari jauh


Kaito mulai berpikir untuk mengambil sisi kiri dan berputar agar bisa membelakangi Kino dari jarak jauh. Dengan berjalan di belakang penduduk, Kaito sesekali melihat apa yang di depannya. Kesempatan datang saat Kaito melihat anak kecil itu berlari.


“Sekarang saatnya!!”


Dengan cepat, Kaito berlari. Meskipun di sana banyak sekali orang yang lewat namun karena kemampuan bertarung dan kelincahannya membuat kerumunan orang-orang itu bukanlah masalah serius. Melihat Kino tidak menyadari apapun, Kaito dengan cepat mendorong sseeorang yang ada di sampingnya ke arah Kino. Pemandangan itu terlihat seolah-olah ada seseorang yang menyenggolnya Kino.


Perhatian Kino teralihkan karena mendengar orang yang bersenggolan dengannya minta maaf terus menerus. Kaito berhasil menghindari pandangan Kino dengan cepat.


“Aku akan benar-benar minta maaf padamu, Kino” gumam Kaito sambil berlari kencang


Kaito berlari menuju jalan di belakang altar. Di depannya dia bisa melihat Ryou yang berlari mengikuti anak kecil itu dari belakang.


“Kali ini kau harus berhasil, Ryou. Jam saku itu adalah kunci agar kalian bisa kembali ke tempat asal kalian. Kalian harus menemukannya kembali!”


**


Anak kecil itu terus berlari sekuat tenaga. Setelah jalan lurus itu, jumlah penduduk yang melewati jalan tersebut semakin berkurang dan mulai terlihat jalan yang tidak begitu lebar dengan bangunan sepi serta kurangnya pencahayaan di sana.


Anak itu berlari masuk lebih dalam.


Saat jalan sudah benar-benar sepi dan hanya terlihat anak itu saja yang berlari, dari arah belakang tangan anak itu ditangkap oleh seseorang. Benar, itu adalah Ryou dan dia berhasil menangkap tangan anak itu. Seketika anak itu langsung menengok ke belakang.


Betapa terkejutnya anak itu begitu melihat siapa yang menangkapnya.


“Yo, akhirnya kita bertemu lagi”


Anak itu terpaku tanpa bisa berkata apapun. Setelah tersadar, dia mencoba melepaskan diri dari genggaman orang yang menangkapnya sambil merintih.


“Ukh…sakit! Lepaskan aku!!” anak itu merintih kesakitan


Ryou menggenggam tangan anak itu dengan sangat kuat sampai anak itu hampir menangis. Seakan tidak memiliki rasa kasihan sedikitpun, Ryou tidak memberikannya kesempatan untuk melawan sama sekali dengan menarik tangannya dan mendorongnya ke dinding salah satu bangunan di sampingnya.


-BUUK…


Tubuh anak itu didorong dengan kuat hingga terdengar suara. Ryou melihat anak itu dengan tatapan dingin.


“Aku senang kita bertemu lagi, bocah. Aku harus katakan bahwa kau cukup beruntung karena aku masih mengingat wajahmu dengan baik sejak kau menabrak aku dan kakakku di altar kemarin”


“Aa…”


Anak itu benar-benar mengeluarkan air mata dan merasakan ketakutan melihat wajah Ryou yang begitu dingin.


Dari arah belakang, seseorang menepuk pundak Ryou dan hal itu berhasil membuat Ryou terkejut.


“Jangan membuatnya syok sampai tidak bisa bicara, Ryou. Kau harus kendalikan dirimu”


Ryou menengok sambil menyebut nama “Kaito” dengan tatapan wajah serius.


Kaito berhasil menyusul Ryou dan anak itu. Ketika anak itu melihat wajah Kaito dari dekat, wajah anak itu langsung pucat. Seperti perasaan yang dia rasakan ketika melihatnya bersama dengan Kino dan orang yang menggenggam erat tangannya kemarin sore, perasaan ini justru lebih kuat dari sebelumnya.


-Deg


“……!!!”


Kaito seperti terkena sengatan. Jantungnya berdetak cepat bukan karena kelelahan setelah berlari, melainkan ada hal yang tidak biasa yang dia rasakan. Ada sesuatu yang aneh saat dia melihat anak kecil itu. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan namun begitu familiar.


‘Perasaan apa ini? Kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh dengan anak ini?’


******