Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 142. Sebuah Usaha Terbaik dan Air Mata



Kaito terus menjawab pertanyaan Ryou dengan jawaban yang berputar-putar. Ryou bahkan merasa bahwa Kaito juga meragukan jawabannya sendiri. Hal itu membuat mulut Ryou kembali mengeluarkan kalimat yang mewakili emosinya sekarang.


“Aku tau kau bodoh, tapi tidak kusangka kau bisa sebodoh ini sampai-sampai terus mengeluarkan alasan yang berputar-putar”


“…Um…Aku tidak akan mengelak untuk yang satu itu”


“Jadi kau mengakui kalau kau itu bodoh dan tidak bisa mencari alasan bagus?”


“……” Kaito terdiam


“Bilang saja kau tidak memiliki rencana?!”


“Aku hanya sedang memikirkan cara terbaik. Bukan berarti tidak punya rencana. Ganti kata ‘tidak’ dengan kata ‘belum’. Itu lebih terkesan sedikit memberiku semangat”


“Kau tidak butuh semangat. Kau itu butuh keberanian ekstra untuk mengakui kalau kau bodoh dan tidak punya rencana”


“……” Kaito diam karena sudah yakin tidak bisa menang dalam debat tersebut


“Ryou, aku sudah katakan untuk tidak bicara kejam seperti itu kan? Kenapa tidak mau mendengarkanku?” Kino mulai menarik lengan pakaian sang adik


“Tapi itu benar! Dia tidak punya rencana tapi ingin diberi semangat. Dia ingin kita yakin padanya di saat dia sendiri saja meragukan dirinya! Orang aneh!”


Pedas sekali kalimat itu. Akan tetapi untuk beberapa poin, kalimat pedas Ryou itu menyadarkan Kaito pada kenyataan.


“Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?”


“Aku sudah katakan kalau kau harus mengambilnya dari anak itu! Cara apapun terserah saja padamu. Yang jelas kau harus mendapatkan permata itu! Apa gunanya semua usaha kerasmu?


“Ryou…” Kino mencoba menghentikan mulut adiknya itu


“Hmph!” Ryou memilih untuk memalingkan wajahnya dari Kino sebelum diceramahi


“Haah~” dan sang kakak hanya bisa menghela napas


Kaito diam sejenak. Dia mulai berpikir tentang apa yang membuatnya begitu ragu. Tentu saja dia tidak mau dipersulit dengan kalimat pedas menusuk hati dari Ryou. Tapi dalam beberapa hal, dia bisa percaya pada mulut pedasnya.


‘Ryou benar. Aku tidak bisa terus membuat alasan untuk itu. Aku pergi ke berbagai ‘dunia’ ini demi mendapatkan ingatanku kembali. Berhentilah menjadi pengecut, Kaito! Kau tidak seperti ini sebelumnya!’ Kaito seperti meyakinkan dirinya sendiri


Kino mulai mengeluarkan idenya setelah membuat banyak sekali penjelasan hebat yang terbukti sebelum ini.


“Kalian berdua, mau mendengarkanku sebentar?”


“Kino?” Kaito melihat Kino dan sepertinya dia siap mendengarkan


“Katakan saja, Kino. Kalau kau yang bilang, aku sudah yakin pasti berhasil” dan pendukung setia sang kakak hadir tanpa ragu


“Aku ingin mengatakan bahwa ini saatnya bagi kita bertiga untuk berkata jujur pada mereka bahwa kita bukanlah orang yang berasal dari tempat ini”


“……” keduanya diam


“Aku belum menceritakannya pada kalian sampai saat ini, tapi ada sedikit hal yang harus kalian ketahui”


“Mengenai apa itu?”


“Saat aku makan bersama dengan Stelani-chan dan Fabil-kun, aku sempat bertanya mengenai nama kota ini dan hal yang berhubungan dengan tempat kita sekarang. Namun, anehnya aku tidak mengerti nama kota ini. Apa yang terucap dari mulut Stelani-chan dan Fabil-kun menjadi bahasa yang tidak pernah aku dengar”


“Apa maksudmu?” Ryou melihat Kino dengan tatapan panik


“Tempat ini tidak bisa diketahui, atau lebih tepatnya tidak mungkin diketahui oleh kita yang berasal dari tempat atau dimensi berbeda. Aku tidak yakin bagaimana cara yang baik untuk menyebutnya. Hanya saja, aku merasa bahwa cepat atau lambat kita tidak bisa terus terpaku pada semua orang di tempat ini”


Sekarang Ryou dan Kaito saling melihat satu sama lain.


“Jadi maksudmu, kita mengaku pada mereka bahwa kita memang bukan berasal dari tempat ini untuk mendapatkan permata itu?” Ryou bertanya pada kakaknya


“Apa menurutmu cara itu akan berhasil, Kino? Selama ini, aku tidak pernah berhubungan dengan orang lain saat mencari kepingan ingatanku. Polanya selalu sama seperti saat mendapatkannya di ‘dunia malam’ waktu itu”


“Dengan bertarung melawan banyak makhluk aneh?” tanya Ryou pada Kaito


“Benar”


“Karena itu, tidak ada cara yang lebih baik selain berkata jujur. Aku tidak setuju jika ada salah satu dari kalian berpikir untuk mencurinya dari Theo-kun” Kino mulai menatap keduanya dengan tatapan serius


“……” keduanya mulai melihat satu sama lain


“Jika salah satu dari kalian berdua ada yang keberatan–”


“Tidak, kami tidak keberatan. Itu cukup bagus untuk diperhitungkan sebagai rencana” Kaito memotong kalimat Kino


“Aku hanya bisa mengatakan itu bukan ide yang buruk. Cepat atau lambat kita pasti harus melakukannya. Bagaimanapun juga, dimana ada pertemuan di sana pasti ada perpisahan menunggu. Aku sudah muak berada di tempat ini juga, jadi aku rasa kita harus cepat-cepat berpisah dari ‘dunia’ ini” jawab Ryou dengan rincian alasan miliknya


“Sebenarnya, aku masih merasa tidak enak pada Theo-kun dan yang lain. Akan tetapi, ucapan Ryou itu ada benarnya” gumam Kino pelan


Kino juga bergumam dalam hatinya.


‘Selain itu, aku merasa bahwa kami bertiga tidak akan mudah melepas ikatan dan hubungan satu sama lain setelah ini’


Apa yang dipikirkan oleh Kino memang tidak diketahui oleh Kaito, namun semua itu telah terlihat jelas oleh mata Ryou. Sejak keduanya telah terlibat perdebatan selama Kaito pergi beberapa waktu lalu.


Setelah berpikir sejenak, Kaito mengangguk dan menyetujui rencana itu.


Kejujuran memang faktor yang dibutuhkan dalam hidup. Tidak semua hal akan berjalan lancar, tapi setidaknya dengan jujur kita bisa menghindari penyesalan.


“Benar juga! Kaito sudah membeli obatnya selagi kau tidur tadi” Ryou langsung berdiri dan mengambil obat di laci bawah


Setelah kantong itu dibuka, Kino menerima botol obat itu dan segera membukanya.


“Aromanya tidak berbeda dari yang sebelumya. Apa ini akan berhasil?” Kino terlihat tidak yakin


“Dicoba saja dulu. Coba kau minum sekarang, Kino. Dokter masih belum datang jadi seharusnya masih aman” Ryou meminta sang kakak untuk meminumnya


Dengan hati-hati, Kino mencoba meminumnya. Baru dua tegukkan dan Kino tiba-tiba berhenti.


“Sebentar. Obat ini diminum atau dioles?”


“Hah?” Ryou terlihat bingung


“Obat ini sekilas memang mirip, tapi kita tidak berada di ‘dunia siang’ atau ‘dunia malam’ jadi…mungkin saja aku akan…”


“Jangan coba-coba membayangkan hal aneh, Kino! Kau tidak akan keracunan! Lagipula kalau keracunan sekalipun, kita masih ada di rumah sakit jadi masih aman”


Sebuah kalimat yang ‘sangat masuk akal’ terdengar dari mulut Ryou. Kaito hanya bisa terdiam mendengar ucapan santai Ryou, sedangkan Kino mulai melihat sang adik dengan wajah anehnya.


“Ryou, kenapa ucapanmu itu terasa begitu kejam?”


“Itu tidak kejam! Sekarang, lupakan soal keracunan dan habiskan semua obat yang ada di dalam botol! Masih ada empat botol lain yang menanti untuk diminum” Ryou menunjukkan semua obat dalam botol kecil itu pada Kino


Kino masih melihat Ryou dengan tatapan aneh tapi dia mencoba untuk bersikap tenang. Tanpa banyak bicara, dia mulai meminumnya. Satu demi satu dihabiskan olehnya.


“Apa ini sudah cukup?” tanya Kino sambil memberikan botolnya pada Ryou


“Harusnya sudah cukup. Kalau di ‘dunia malam’ waktu itu, membutuhkan waktu sampai obatnya bekerja. Mungkin saja kali ini juga”


“Tapi aku masih meragukannya” Kino sedikit pesimis


“Jangan berkata seperti itu. Ini adalah bagian dari usaha. Benar kan, Kaito?”


“Hmm…” Kaito terlihat sedang berpikir serius


“Kenapa kau jadi menunjukkan wajah aneh itu, Kaito?”


“Tidak. Sepertinya sekarang aku juga jadi meragukan khasiat obat itu. Aku pikir obat itu memiliki fungsi yang sangat berbeda dengan yang pernah kita beli di ‘dunia siang’ waktu itu”


“Kenapa tidak ada yang bisa menjadi optimis sepertiku?” gumam Ryou dalam hati


Karena kesal, dia mengeluarkan jam sakunya. Jarum jam menunjukkan pukul 04.00 sekarang.


“Dengar, aku tidak mau berdebat dengan kakakku yang sedang sakit dan remaja amnesia yang masih belum memiliki pendirian! Sekarang sudah jam 16.00 sore. Jadi, mari kita tunggu selama lima sampai sepuluh menit. Kalau memang tidak memiliki reaksi apapun, berarti semuanya memang tidak sama seperti di ‘kedua dunia’ sebelumnya” jelas Ryou dengan nada tegas


‘Ryou, mulutmu pedas sekali’ gumam Kino dalam hati


‘Remaja amnesia yang belum memiliki pendirian katanya. Dia tidak pernah kehabisan kata-kata untuk memaki diriku ya’ sebuah gumaman kecil lain dari Kaito


Tidak mau mengatakan apapun, keduanya hanya dia seperti yang Ryou katakan. Selama menunggu, Kino hanya bersandar pada bantal sedangkan Kaito memejamkan matanya sebentar untuk mendapatkan ketenangan meski tidak tidur.


Ryou dengan seksama terus melihat jam sakunya. Dia sedikit menyadari sebuah perubahan.


“Aku tidak tau kalau jarum detik jam ini akhirnya bisa berputar kembali. Apa ada sesuatu yang terjadi pada benda ini selama hilang ya?” Ryou memecah keheningan


“Tuan bartender mengatakan padaku kalau dia menemukannya di dekat tempat sampah di belakang bar lalu membersihkan dan membawanya. Mungkin saat itu dia membawanya ke toko jam atau benda itu kembali normal karena tidak sengaja jatuh ke tanah” ucap Kaito tanpa merubah posisinya sekarang


Mendengar hal itu, Ryou kembali diam. Keheningan terjadi lagi. Waktu sepuluh menit terasa sangat lama sekali karena Ryou selalu melihat ke arah jam saku di tangannya.


“Ini seperti menanti selama beberapa tahun” gumamnya kesal


“Kalau begitu abaikan jam itu sebentar, Ryou” Kino memberinya saran


Meskipun sang kakak sudah memberinya sedikit saran, tapi tampaknya Ryou masih belum ingin mendengarkan saran tersebut.


Setelah sepuluh menit datang, Ryou langsung melihat sang kakak dengan wajah berbinar.


“Kino! Sudah sepuluh menit! Coba gerakan tangan kirimu dan kita lihat apakah sudah baik-baik saja?!”


Kino melihat tangan kirinya sendiri, tapi dia tidak merasakan perubahan berarti. Mungkin benar apa yang dipikirkannya bahwa obat itu memiliki fungsi yang berbeda dengan saat mereka berada di ‘kedua dunia’ tersebut.


“Maafkan aku, sepertinya aku tidak merasakan perubahan khusus. Sepertinya obat tersebut memang memiliki fungsi yang berbeda dengan sebelumnya. Ini tidak sama. Kita memang sudah tidak berada di ‘kedua dunia’ jadi apapun yang berhubungan dengan tempat itu…sudah tidak berlaku lagi di sini”


Mendengar hal itu, Ryou dan Kaito tidak mengatakan apapun. Mereka terlihat lebih tenang dari yang diduga. Meskipun dalam hati, Ryou memiliki rasa kecewa yang lebih tinggi dari kedua orang lainnya.


Kino menyadari hal itu meskipun wajah Ryou tampak tenang. Dia memeluk sang adik dan mengusap pundaknya.


“Maafkan aku. Terima kasih karena sudah mencoba semua cara yang kamu bisa untuk kesembuhanku, Ryou” bisik Kino dengan lembut


“……” Ryou hanya diam dan memeluk sang kakak dengan erat


Mungkin saat itu, hanya kedua bersaudara itu yang mengetahui bahwa air mata Ryou mulai menetes sedikit demi sedikit dan Kaito hanya berpura-pura tidak menyadarinya dengan menyandarkan tubuhnya pada kursi.


Sedikit demi sedikit dia memejamkan matanya kembali dan di ruangan yang semula sangat hening, mulai terdengar suara tangisan pelan dari seorang adik yang memeluk kakaknya dengan erat.


******