
Dengan hati-hati, Kaito mengeluarkan pedangnya kembali dan memimpin di depan.
“Kalian jangan sampai bersuara. Setelah menuruni tangga itu, kita tidak tau apakah jumlah zombie di lantai bawah banyak atau tidak”
“Kami mengerti”
Kino bersama kedua gadis dan Seo Garam berada di belakang Kaito. Kang Ji Song yang membawa penggorengan dan pisau yang diberikan oleh Seo Garam berjalan paling belakang bersama Ryou.
Ketika mereka menuruni tangga, terdengar suara yang tidak asing.
Tepatnya sebelum berbelok, Kaito melihat ada dua ekor zombie yang berjalan lambat di dekat tangga. Zombie itu berhenti tepat di bawah anak tangga tanpa berjalan kembali.
“Kenapa?” bisik Kino pada Kaito di depannya
“Ada dua tamu tak diundang di bawah”
“Lalu bagaimana?”
“Kau sedang memikirkan kemungkinan. Jika sampai ada lebih dari dua di belokan tangga ini, kemungkinan kita harus menerobos”
“Kaito, tidak masalah. Kalau memang harus diterobos, terobos saja! Ruangan yang kita tuju ada di lurusan setelah belokan di depan itu. Siapkan saja kaki kalian untuk berlari cepat” kata Ryou di belakang
Seo Garam membawa tas berisi makanan yang dibawa oleh kedua gadis itu.
“Garam-ssi, kau yakin membawa barang sebanyak ini?” tanya Ha Jinan
“Tidak masalah. Yang penting kalian bisa berlari dengan cepat tanpa perlu membawa banyak barang. Setelah itu, akan aku kembalikan ini pada kalian”
“Aku mengerti, Garam-ssi. Hati-hati membawanya”
Seo Garam mengangguk. Kino juga mengatakan bahwa dirinya tidak masalah jika mereka harus menerobos. Dengan tongkat pel yang diikat pisau membuat Kino cukup yakin untuk bertarung.
Kaito akhirnya mulai melompat dari tangga itu dan mendarat tepat di depan dua ekor zombie itu. Tidak membutuhkan waktu sampai para zombie itu menyambutnya, dia langsung memenggal kepala mereka.
“Sekarang, turun dan lari!” teriaknya
Mereka semua turun dan mulai berlari menyusuri lorong koridor.
Memang sudah diantisipasi sebelumnya, dari arah pintu ruangan yang terbuka di sepanjang lorong koridor tersebut, beberapa zombie mulai keluar.
“Kyaaa!” Ha Jinan mulai berteriak
“Jangan panik dan kita harus lagi, Jinan! Pegang tanganku dan jangan lepaskan atau kita akan tertinggal!”
Kim Yuram memegang tangan Ha Jinan dan menariknya agar dia tidak tertinggal. Di belakang mereka, Ryou dan Kang Ji Song sesekali membunuh zombie yang berada di dekat mereka.
“Kalau tidak sanggup untuk memotong mereka, kau lempar saja penggorengan itu ke tubuh mereka supaya menghambat gerakan mereka” Ryou memberikan saran pada Kang Ji Song
“Tidak perlu! Selama bisa menghindari cakaran dan gigitan mereka, kita bisa aman! Penggorengan ini masih memiliki peran penting!”
“Terserah padamu saja!”
Ryou dan Kang Ji Song mencoba sebisa mungkin untuk tidak menggunakan banyak energi dengan berlari sambil membunuh para zombie yang datang.
“Ryou, apa kamu baik-baik saja?” Kino menengok karena khawatir pada sang adik
“Jangan khawatirkan aku! Lari saja dengan cepat!”
Kaito yang berada di depan melihat urutan papan di atas setiap pintu ruangan yang terbuka.
“Kang Ji Song, dimana ruangan KA06? Di atas hanya ada tulisan kelas IA 1-14 di sepanjang papan pintu”
“Seperti yang aku infokan sebelumnya! Kita belok di depan, lalu akan terlihat ruang praktikum di atasnya. Ruangannya tepat di samping kanan kalau dari arah ini!” teriak Kang Ji Song
Kaito membunuh para zombie yang datang dari arah depan.
Setelah berbelok, dia melihat ada tulisan ruang praktikum di sebelah kanan.
“Ketemu”
Kaito meninggalkan semua orang di belakangnya untuk membersihkan zombie-zombie yang tangan, diikuti oleh Ryou yang meninggalkan Kang Ji Song sendirian.
“Aku akan menyusul Kaito. Kau urus bagian belakang sendiri setelah ini. Kita mulai jalankan sesuai rencana”
“Aku mengerti” jawab Kang Ji Song
Ryou berlari mendekati Kino dan mengatakan bahwa kita harus lebih dulu sampai ke ruang praktikum bersama Seo Garam. Kang Ji Song berlari tepat di samping kedua gadis itu untuk memastikan mereka aman.
Kaito mencoba membuka pintu ruang praktikum.
“Terkunci?! Pintunya dikunci”
“Apa! Kau bilang dikunci?! Jangan bercanda!” kata Ryou dengan penuh kekesalan
Kino dan Ryou sudah berhenti di depan ruang praktikmu dan beberapa kali mencoba membuka pintunya. Namun, ternyata pintu tersebut benar-benar terkunci.
Beberapa kali, Ryou menendang pintunya namun tidak juga terbuka. Sampai akhirnya dia dan Kaito mendobraknya bersama.
“Terbuka! Cepat kalian bertiga masuk!” seru Kaito
Seo Garam memberikan tas penuh makanan yang dia bawa kepada kedua gadis itu kembali dan masuk bersama Kino dan Ryou ke dalam ruang praktikum dan menutupnya.
Setelah itu, Kaito menuju ruangan yang ada di sampingnya. Cukup mengejutkan untuk keempat orang itu karena pintu ruangan tersebut terbuka lebar.
“Ini bahaya” gumam Kaito
Kim Yuram dan Ha Jinan sempat mundur beberapa langkah diikuti oleh Kang Ji Song. Wajah ketiganya pucat dan sepertinya sudah bisa menebak bagaimana nasib ketiga orang yang ada di ruang kelas KA06 itu.
“Kalian bertiga tetap dibelakangku” ucap Kaito
“……” ketiganya hanya diam dan mengangguk pelan
Begitu Kaito melihat ke dalam, ada lima zombie yang sedang memakan seseorang di lantai, dua lainnya yang baru saja bangun sebagai zombie mulai berjalan perlahan ke arah Kaito.
Namun, anehnya gerakan zombie itu sangat lambat seperti zombie Kim Eunji.
‘Gerakannya lambat? Kenapa?’ Kaito sempat bertanya-tanya dalam hati
Tidak butuh waktu lama, dia membunuhnya. Lalu, seekor lainnya yang mendekati Kaito juga ikut terpenggal oleh pedang miliknya.
Lima ekor zombie yang baru saja selesai memakan seseorang di lantai mulai berjalan mendekati Kaito. Tapi, gerakannya jelas berbeda dari sebelumnya.
‘Begitu rupanya. Sekarang aku tau’ ujar Kaito dalam hati
Kelima zombie yang mencoba menangkapnya dengan cukup agresif mulai terpotong satu per satu.
Kaito memotong kedua tangan mereka yang hendak menyentuhnya terlebih dahulu, setelah itu memenggal kepala mereka.
Kim Yuram, Ha Jinan dan Kang Ji Song yang masih ada di luar menyaksikan itu dan nyaris muntah.
“Yuram…mereka…mereka sudah berubah menjadi zombie…mereka sudah mati” ucap Ha Jinan dengan tubuh gemetar
“Kita terlambat menyelamatkan mereka”
Selesai membunuh yang terakhir, Kaito meminta mereka untuk masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya. Lagi-lagi, lampu di ruangan tersebut dibiarkan mati.
-Bluuurgh
Kang Ji Song akhirnya muntah di pojok ruangan. Bagaimana tidak, kali ini mereka harus bersembunyi bersama dengan delapan mayat yang telah terpenggal dan terpotong.
“Aku…mual…” ucap Kang Ji Song
“Kau lemah sekali” Kaito mulai bicara dengan nada dingin
“Wajar saja kan? Meskipun aku laki-laki tapi kalau harus berada di dekat mayat seperti ini, wajar jika aku mual. Aku harus mengeluarkan semua makanan yang sudah kumakan” gerutu Kang Ji Song
“Kalau begitu, ambil air atau teh dalam tas itu dan minumlah. Jangan lupa untuk makan. Makan saja selagi kalian bisa. Siapa yang tau kalau mungkin kalian akan bernasib sama seperti mereka”
“……” ketiga mahasiswa itu terdiam
Ini mengingatkan kejadian dimana Kaito yang saat itu baru pertama kali bertemu dengan Yuki bersaudara dan mengajak mereka makan. Dia juga mengatakan hal yang sama pada kedua kakak beradik itu.
[Makanlah sepuasnya. Anggaplah ini adalah hari terakhir yang bisa kalian hidup]
[Aku selalu mengatakan hal itu pada diriku sendiri sejak tau apa yang kuhadapi di tempat ini. Karena tidak pernah ada jaminan untukku bisa hidup sampai menemukan kepingan ingatanku. Jadi, aku berusaha menikmati apa yang ada dan apa yang kudapatkan di tempat ini]
Kaito sempat mengingat kejadian di kedai makanan waktu itu dan sempat bergumam dalam hati.
‘Sepertinya, kalimat itu mirip dengan yang kukatakan kepada Kino dan Ryou saat kami bertemu. Aku tidak menyangka bahwa aku akan mengatakannya lagi kepada orang lain. Mungkin, aku akan lebih sering mengatakannya setelah ini. Sejak ‘dunia’ tempat permata ingatanku berada tidak pernah ada yang aman’
Kaito melihat ketiga mahasiswa yang menatap dirinya dengan wajah aneh.
“Kenapa?”
“Kaito-nim, tampaknya kau bukan tipe orang yang bisa menghibur orang lain” celetuk Kang Ji Song
“Memang kenapa?”
“Tidak ada orang normal yang mau makan dan minum di dekat mayat serta genangan darah seperti ini. Kecuali kalau kau psikopat atau kriminal”
“……” Kaito terdiam dengan wajah datar
Setelah berpindah dunia, untuk kesekian kalinya Kaito muak mendengar kata itu.
“Aku harap aku bisa menghapus kata kriminal dari tata bahasa manusia di semua dunia yang ada”
******