
Lucas, Rexa dan Mark berjalan kembali menuju ruang rapat Dewan Sihir.
“Apa kamu sudah bertemu dengan Misha lagi?” tanya Mark
“Belum. Terakhir setelah aku sedikit berargumen dengannya, aku tidak bertemu lagi dengan anak itu”
“Tampaknya selama aku pergi, ada banyak hal yang terjadi”
“Tidak juga. Tapi, bicara soal banyak hal yang terjadi…ada informasi mengenai sesuatu yang mungkin ada kaitannya dengan kejadian ini” kata Rexa melanjutkan kalimatnya
“Apa itu?”
“Emily bertemu dengan penjelajah dimensi lain” ucap Lucas
“Remaja dimensi lain? Di saat seperti ini? Kenapa waktunya benar-benar tepat sekali?”
“Menarik, kan?”
“Cukup menarik. Lalu, dimana mereka?” tanya Mark dengan nada santai
“Entahlah. Sebelumnya dia bertemu di sekitar sekolah”
“Begitu. Apa menurut kalian mereka akan kembali ke tempat ini lagi?”
Lucas dan Rexa saling melihat satu sama lain.
“Kami tidak tau. Tapi jika ada di sekitar sekolah, mungkin saja mereka akan muncul lagi di sini” kata Rexa
Saat hampir sampai di depan ruang rapat, Mark berhenti.
“Kalau aku ingat, kalian tidak melaporkan hal ini kepada Dewan Sekolah. Kenapa?”
“Karena aku merasa tidak semua hal harus kita laporkan pada mereka. Kita bisa memanfaatkan hal ini untuk internal kita sendiri dan dengan otoritas yang kita miliki, pergerakan kita nantinya akan jadi lebih bebas” Lucas menjelaskannya kepada Mark
Mendengar penjelasan tersebut, Mark cukup paham dengan pemikiran ketuanya itu.
“Aku mengerti. Aku akan menyimpan ini sendiri tanpa memberitau siapapun”
Baru ingin membuka pintu, dari dalam ruang rapat terdengar teriakan.
“Apa?!”
Lucas dan dua orang lainnya cukup terkejut mendengarnya. Begitu pintu dibuka, ketiga orang itu melihat para anggota wanitanya sedang mengerumuni satu remaja laki-laki yang nyaris berteriak karena ulah mereka.
Ketiga remaja laki-laki itu berpikir kalau para wanita tersebut adalah pemakan laki-laki muda tampan polos yang tak bersalah.
Pandangan dan pemikiran itu jelas terlihat dari sorot mata mereka.
‘Mereka mengerumuni anak itu sampai tidak terlihat wajahnya!’ pikir ketiganya
Mark maju dua langkah dan mencoba memastikan keselamatan korbannya.
“Kalian semua, apa yang kalian lakukan dan siapa yang nyaris kalian makan hidup-hidup itu? Apa dia masih bernapas di sana?” tanya Mark dengan wajah santai
Para gadis-gadis itu menengok ke arah Mark dan akhirnya terlihat wajah menyedihkan Xenon yang nyaris menjadi ‘santapan’ di pagi itu.
“Xenon? Kamu masih bernapas, kan?” tanya Mark memandanginya
“Mark…-sama, tolong jauhkan mereka dariku. Aku mohon”
Rexa mendekati sang adik dengan wajah panik.
“Xenon?! Kemana semalam kamu pergi? Apa kamu baik-baik sa–”
Rexa melihat bros elang yang dipakai oleh Xenon. Dia melihat ada bagian yang hilang dari bros tersebut namun tidak begitu mempermasalahkannya. Dia tersenyum.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja, Rexa-sama” kemudian dia bergumam sendiri, “Tapi setelah ini, kejiwaanku mungkin mengalami sedikit gangguan”
Mereka semua akhirnya menjadi tenang karena sebelum para gadis-gadis itu berteriak dan memberitau Lucas, sang pemimpin sudah memberikan tatapan tajam mengintimidasi.
“Jangan berteriak ke arahku dan duduk di tempat kalian masing-masing sekarang”
“Ba–baik”
Setelah kedamaian Xenon kembali berkat kedatangan Lucas dan lainnya, akhirnya mereka bisa membicarakan topik serius kali ini.
“Jadi, apa yang kalian bicarakan tadi sampai hampir membuat anak orang lain mengalami gangguan mental begitu?” tanya Mark dengan tatapan mengintimidasi
Melihat itu, mereka semua cukup takut sampai memasang senyum kaku di wajahnya.
“Kami sedang membahas masalah tiga penjelajah dimensi yang ditemui oleh Emily” kata Algeria
“Penjelajah dimensi yang diceritakan Lucas dan Rexa ya. Ada apa dengan mereka?”
“Mereka menjadi peserta ujian masuk besok”
“…Apa?”
Lucas mendengar cerita dari Algeria dan Emily mengenai apa yang dikatakan oleh Xenon. Rexa melihat sang adik dengan wajah kaget dan tidak menyangka.
“Jadi, orang yang kamu katakan adalah saksi yang terlibat di taman dengan penjelajah waktu yang dikatakan Emily-sama adalah orang yang sama?”
“Benar” jawab Xenon pelan
“Dan lebih hebatnya lagi, berkat Xenon-sama, ketiganya mampu menguasai sihir!” Tatiana terlihat begitu senang ketika mengatakannya
“Benarkah? Bagaimana bisa?” Lucas cukup terkejut mendengar yang satu itu
Xenon hanya diam saja, namun yang lainnya tampak begitu antusias menceritakannya kepada Lucas dan dua orang lainnya yang tidak mendengar langsung.
Sebelumnya, Xenon masih berpikir untuk mengarang indah agar rencana kerjasama diam-diamnya itu tidak perlu dibongkar sepenuhnya kepada mereka semua.
Karena pemikiran itulah yang menjadi awal dari cerita Xenon.
‘Maafkan aku yang harus menceritakan ini kepada yang lain. Tapi, untuk sisanya aku tidak akan banyak bicara!’ ucapnya dalam hati dengan penuh keseriusan
Mark bertanya kepada Xenon.
“Jadi mereka memiliki sihir dari batu yang kamu pinjamkan dan sekarang mereka memiliki sihir untuk mengikuti ujian masuk besok?”
“Benar”
“Apa hubunganmu dengan mereka hanya sebatas itu?”
“Aku mengajari mereka mengendalikan sihir mereka dan…”
“Dan?”
“Meminjamkan pakaianku untuk mereka bertiga”
“Hmm, hubunganmu cukup bagus sampai mau meminjamkan pakaianmu pada mereka. Apa lagi? Mandi dan tidur bersama juga?”
“Hah?! Tidak mungkin! Kenapa aku harus melakukannya?! Mark-sama lucu sekali, hahaha” Xenon terlihat semakin kaku mendengar ucapan itu
“Aku hanya bertanya”
“Itu lelucon kan?” Xenon serius bertanya sekarang
“Kamu bisa menganggapnya serius kalau mau” jawab Mark datar
“……” sekarang Xenon menatap Mark dengan wajah aneh
“Mark, hentikan itu. Jangan menggodanya setelah kamu kembali dari tugasmu” kata Lucas
“Benar, Mark-sama. Hentikan itu. Kami para gadis mungkin akan berimajinasi nanti” ucap Tatiana dengan wajah aneh
Mark hanya diam tanpa rasa bersalah. Lucas mencoba meluruskan kembali pembicaran tersebut.
“Kita kembali ke topik pembicaraan. Apa mereka atau dirimu membahas soal kejadian ini? mengenai sihir hitam dan lainnya?”
“Karena mereka ada di tempat kejadian, aku menceritakannya sedikit”
Di mulut, Xenon bicara demikian. Tapi kenyataannya lain.
“Begitu. Meskipun kamu sudah memiliki hubungan pertemanan yang cukup dekat, sebaiknya tetap waspada. Kita masih belum tau tujuan mereka datang ke akademi ini”
“Baik”
Setelah selesai, Xenon diizinkan keluar dari ruang rapat. Tampaknya Rexa ikut untuk membicarakan urusan pribadinya.
“Kita tidak memberitau mengenai pengkhianat dan terduga pelaku padanya?” tanya Alicia pada Lucas
“Tidak. Mungkin tanpa kita katakan, Rexa akan mengatakannya kepada Xenon. Bagaimanapun juga, dia menganggap hubungan persaudaraan di antara mereka sangat berharga”
**
“Xenon!” Rexa memanggil dari belakang
“Rexa-sama? Kenapa mengikutiku? Bukankah Anda masih memiliki hal penting yang harus dilakukan?”
Xenon menjadi sedikit dingin kembali. Berbeda dengan sikapnya di depan anggota Dewan Sihir lain, saat dia hanya berhadapan dengan Rexa sendiri, dia akan terlihat begitu segan.
Rexa menyadari hal itu, tapi dia masih memasang senyum kepadanya.
“Aku hanya ingin bertanya. Bros itu…”
Xenon melihat bros yang dipakainya.
“Apa ada sesuatu?”
Rexa membuka jubahnya dan terlihat di dalam sana dia memakai bros itu pada pakaian seragamnya juga.
Xenon cukup terkejut melihat itu.
‘Dia masih menggunakannya?!’ seperti tidak percaya, Xenon sempat bertanya dalam hati
“Bros itu adalah pasangan dari bros ini kan?”
“……” Xenon terdiam
“Xenon, apakah kita tidak bisa seperti dulu lagi? Aku tidak pernah menganggapmu sebagai adik tiriku. Kamu tetaplah adikku. Di dalam darahmu, ada darah van Houdsen dan–”
“Rexa-sama!” Xenon berteriak
“Xenon…”
Teriakan itu cukup membuat Rexa terkejut.
“Rexa-sama, tolong jangan seperti ini. Aku hanyalah anak yang lahir dari hubungan terlarang antara pelayan dan tuan besar. Tolong, jangan menganggapku terlalu tinggi”
“Xenon!”
“Aku harap Rexa-sama menyadari betapa pentingnya posisimu dan betapa rendahnya aku dalam keluargamu. Masa-masa menjadi adikmu sudah berakhir”
“Aku tidak ingin memberikan rasa malu yang lebih di wajahmu. Aku mohon, jangan libatkan hubungan kakak adik semu seperti ini. Benalu dan aib sepertiku tidak pantas disebut sebagai adikmu sampai kapanpun”
Xenon meninggalkan Rexa dan berjalan semakin jauh.
“Kenapa? Kenapa semua tidak bisa seperti dulu lagi? Xenon…”
******