Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 160. Sebuah Hari yang Tenang di Pagi Hari



Kaito melihat jam sakunya. Waktu menunjukkan pukul 09.00. Sudah jam sembilan malam saat ini dan sepertinya mereka sudah cukup bercerita.


“Apa obatnya sudah bekerja, Kaito-san?” tanya Kino


“Sepertinya belum. Tapi, mungkin jika dipaksakan untuk tidur akan berhasil. Bagaimanapun juga, aku ingin sekali bisa tidur seperti Ryou waktu itu”


“Oi! Jangan menjadikan hal itu sebagai patokan ya!” Ryou terlihat cemberut


“Tapi, dengan tidur aku mungkin tidak akan lupa kalau aku adalah manusia. Paling tidak, tidur seperti saat di ‘dunia malam’ waktu itu saja tidak masalah. Meski hanya sebentar”


Sejak awal, itu adalah tujuan Kaito membeli obat tidur. Tapi ada satu benda lagi yang masuk dalam daftar mereka.


Ryou berdiri dan mengambil isi kantong belanja yang tersimpan di lemari dan laci. Seperti mencari sesuatu, dia langsung mengambilnya ketika menemukannya.


“Kau bilang ingin mencuci pakaianmu? Mau dilakukan kapan?”


“Ryou, ini sudah malam. Tidak mungkin Kaito-san mencuci pakaian sekarang” Kino mencoba menghentikan sang adik


“Aku hanya mengingatkan dia agar tidak lupa”


Kaito sempat melihat sabun cuci pakaian di tangan Ryou dari jauh.


“Akan kulakukan besok sebelum kita pergi ke tempat anak-anak itu”


“Bagus. Sebaiknya lakukan niatmu itu agar tidak membuang uang dengan percuma”


Sungguh kehidupan tiga remaja yang sangat unik di ‘dunia lain’. Karena sepertinya kedua kakak beradik itu juga sudah tidak memiliki hal yang ingin ditanyakan, mereka segera meminum obat tidur yang dibelinya.


Ryou membantu Kino mengganti perbannya di atas tempat tidur mereka, sedangkan Kaito membereskan cangkir minum teh.


Dengan meletakkan jam sakunya di samping kasurnya dan melepas sepatunya, Kaito mencoba merebahkan dirinya di atas tempat tidur kecil.


“Sudah mau tidur, Kaito-san?” tanya Kino yang baru selesai ganti perbannya oleh sang adik


“Aku tidak tau apakah obat tidurnya akan berpengaruh atau tidak. Tapi, aku ingin mencobanya dulu”


“Memang berapa yang kau minum, Kaito?” tanya Ryou yang duduk di samping sang kakak


“Tiga butir”


“……” kedua kakak beradik itu terdiam


“Mungkin akan segera bereaksi” lanjut Kaito


“Kau mau mati ya?”


“Kaito-san…itu terlalu banyak!”


Kaito tidak mengatakan apapun dan mulai memejamkan matanya.


‘Aku tidak ingin melihat mimpi apapun. Jika aku bisa tidur tanpa bermimpi, mungkin itu jauh lebih baik’ gumam Kaito dalam hati


Setelah diam beberapa saat, Kino dan Ryou saling melihat satu sama lain dan berbisik.


“Bagaimana pendapatmu tentang cerita Kaito, Kino?”


“Aku masih belum bisa menyimpulkan apapun. Tapi setidaknya, kita sudah mengetahui bahwa mungkin saja Kaito-san berasal dari Jepang”


“Tapi di Jepang yang asli tidak ada sihir! Sekalipun masih ada keturunan asli shinobi atau onmyouji, mereka tidak akan benar-benar memiliki kemampuan seperti itu!”


“Hmm…bagaimana menjelaskan ini ya…” Kino jadi bingung sendiri


“Haa~ya sudah kita hentikan saja ini semua. Setidaknya, Kaito sudah mau terbuka. Aku cukup puas meskipun aku masih memiliki ratusan pertanyaan untuknya”


“Ryou…jangan sudak menekan Kaito-san seperti tadi lagi, mengerti?”


“Aku tau. Sekarang kau minum obat. Aku juga sepertinya ingin coba untuk tidur”


“Ryou ingin minum obat tidurnya juga?”


“Kenapa tidak? Kalau di ‘dunia malam’ mungkin tidak masalah kita tidak tidur karena harus bermain kejar-kejaran dengan makhluk menyebalkan di sana. Tapi di sini benar-benar normal seperti saat kita di rumah. Kalau tidak ada manga atau game, aku akan mati kebosanan” Ryou menggerutu


Sang kakak hanya bisa menghela napas mendengar gerutuan sang adik dan menanggapinya dengan senyuman. Ryou berdiri untuk mengambil obat tidur dan memberikannya pada sang kakak.


Setelah mereka selesai meminum obatnya, Ryou mematikan lampu ruangan tersebut. Keduanya mulai melepas sepatu masing-masing dan merebahkan dirinya di atas kasur.


“Jadi ingat saat menyewa tempat ini pertama kali” Kino mengingat hal yang lalu


“Ketika kami memutuskan untuk pergi belanja keluar dan meninggalkanmu sendiri tidur di sini”


“Benar”


“Umm, maaf karena waktu itu aku merahasiakan banyak hal padamu sampai seperti ini”  Ryou lagi-lagi meminta maaf pada sang kakak dengan wajah sedih


“Ryou, itu bukan salahmu. Aku tidak apa-apa. Jangan pernah mengatakan sesuatu tentang hal itu lagi. Semua akan baik-baik saja. Aku masih hidup dan semuanya berkat Ryou dan Kaito-san”


Ryou tersenyum dan melihat ke arah Kaito.


“Kaito sudah tidur?”


Mendengar hal itu, Kino menengoknya juga.


“Kaito-san?”


Tidak ada suara dan reaksi.


“Sepertinya sudah tidur. Ternyata obatnya cukup bekerja dengan baik. Syukurlah” Kino tersenyum


Ryou mulai menguap dan merasa kantuk.


“Huaaaamph~sepertinya aku juga sudah mulai mengantuk. Dosis obat ini mungkin lumayan tinggi. Obat dari ‘dunia’ ini memang aneh”


“Bagaimana kalau kita coba memejamkan mata seperti Kaito-san? Mungkin saja kita akan tertidur juga”


“Kau benar, Kino. Selamat malam”


“Selamat malam, Ryou”


Malam itu, ketiganya memejamkan mata dan mencoba untuk tidur. Tidak ada dari mereka yang akan menyangka bahwa mereka akan merindukan saat dimana mereka tidur di malam hari.


Pada pagi hari yang cerah, tidak ada yang menyangka bahwa ketiganya benar-benar tidur. Sepertinya obat tidur itu benar-benar memberikan efek yang cukup baik untuk mereka.


“Mmm…” Kino membuka matanya terlebih dahulu


Sambil mencoba untuk bangun, dia melihat jam saku yang ada di dekatnya.


“07.30? Sudah sesiang ini?”


Kino cukup bingung dengan hal tersebut. Hal itu karena dia tidak pernah bangun terlalu siang seperti ini. Sambil memasukkan jam saku miliknya ke dalam saku celananya, Kino berjalan ke arah meja dan melihat obat tidur yang semalam diminumnya.


“Ini mengerikan. Aku rasa aku harus berjaga-jaga untuk tidak meminumnya. Aku khawatir akan bangun siang seperti hari ini” ucapnya sambil tersenyum


Awalnya, dia ingin membangunkan adik dan temannya itu. Namun, melihat mereka tidur dengan nyenyak seakan tidak tidur selama seminggu membuatnya mengurungkan niatnya.


“Sepertinya aku harus menunggu mereka bangun” gumamnya pelan


Setelah mencuci muka, Kino memutuskan untuk duduk di kursi sambil terus melihat jarum jam pada jam sakunya berputar. Dengan kata lain, dia tidak punya kerjaan.


Hal itu berlangsung beberapa menit sampai akhirnya terdengar suara ketukan pintu.


“Hmm?”


Ketika membuka pintunya, dia melihat pelayan wanita yang kemarin sore datang ke ruangan ini.


“Selamat pagi, tuan”


“Selamat pagi. Apakah ada yang bisa dibantu?”


“Ada tamu untuk tuan Kaito. Mereka tamu yang kemarin datang” kata pelayan itu sambil tersenyum


“Tamu yang kemarin? Apa itu anak-anak dengan orang tua mereka?”


“Benar, tapi sedikit lebih banyak”


“Begitu. Kalau begitu aku yang akan turun”


Dengan menutup pintunya, Kino turun bersama pelayan wanita itu. Sesampainya di lobi, sebuah pelukan hangat diterima olehnya.


“Kino-niichan~”


“Michaela-chan?!” Kino terkejut


Bukan hanya Michaela yang memeluknya tetapi semua anak-anak kecil yang belum bertemu dengannya kemarin. Terlihat Joel datang bersama tiga anak lainnya juga.


“Maaf mengganggu pagi-pagi, Kino” kata Joel menghampiri


“Tidak apa-apa. Aku minta maaf. Sebenarnya aku baru saja bangun tidur” ucap Kino sedikit malu


“Tidur? Bukankah kau bilang kalian tidak memiliki rasa kantuk?” Joel menjadi heran


“Semalam, Kaito-san ingin sekali merasakan rasanya tidur di malam hari dan akhirnya kami memutuskan untuk membeli obat tidur. Setelah meminumnya semalam, aku jadi bangun kesiangan. Ryou dan Kaito-san masih tidur di atas”


“Ahahaha, begitu rupanya. Kalian sampai-sampai membeli obat tidur segala” Joel tertawa mendengar penjelasan Kino


Beberapa anak-anak penasaran dengan apa yang dikatakan Kino sehingga mereka bertanya


“Kino-niichan baru bangun?”


“Apa Kaito-niichan akan bangun juga?”


“Kakak galaknya masih tidur, kan? Kino-niichan main dengan kami saja ya”


Mendengar anak-anak itu bertanya dengan polos, beberapa pengunjung tertawa melihatnya. Pelayan wanita di lobi juga ikut tersenyum. Karena malu, Kino terpaksa mengajak mereka semua keluar. Meskipun sepertinya, anak-anak itu tertarik dengan orang-orang yang katanya masih tidur.


“Kita mengobrol di luar saja ya. Bagaimana?” tanya Kino mengusulkan


“Eh~kami ingin masuk ke dalam dan melihat kakak galak tidur” seru anak kecil lain


“Benar. Kaito-niichan agar kita makan bersama pagi ini”


Sekarang, Kino tidak punya pilihan selain menurutinya. Joel hanya tertawa mendengar anak-anaknya merengek seperti itu. Tidak bisa dibayangkan ruangan mereka akan menjadi seramai apa dengan kedatangan sepuluh orang di pagi hari.


Setelah Kino meminta izin terlebih dahulu pada resepsionis untuk membawa semua tamu-tamunya itu, mereka naik ke atas.


“Dengar, ketika di dalam aku mohon tolong jangan bicara terlalu keras ya” kata Kino sambil membuat gesture tubuh untuk bersikap tenang


“Kami mengerti, Kino-niisan. Kami akan tenang. Mengerti kan, anak-anak?”


“Mengerti, Stelani-neechan~” jawab anak-anak serentak


Mendengar itu, Kino tersenyum dan membuka pintu. Ketika pintu dibuka, tampak dua orang itu masih tertidur lelap. Pemandangan yang membuat semuanya terkejut termasuk Joel. Dia bahkan melihat ke arah meja saat masuk.


“Ini obat yang kau katakan itu?”


“Benar. Kami meminumnya setelah minum teh herbal. Katanya itu bagus untuk membuat tubuh rileks dan dapat tidur dengan nyenyak”


“Kalian cukup…mengesankan” kata Joel dengan senyumannya


Kino melihat anak-anak itu mendekati tempat tidur. Di sini, wajah Kino mulai terlihat sedikit cemas.


Sepertinya, apa yang diperingatkan Kino tidak sepenuhnya dijalankan oleh anak-anak itu. Mereka begitu penasaran sekali dengan kedua orang yang tertidur itu sampai melihatnya dari dekat.


Theo, Stelani dan Fabil sepertinya tidak ingin ketinggalan momen itu juga sehingga mereka mengikuti anak-anak lain.


“Huwaaa~kakak galak masih tidur. Lihat wajahnya, seperti sudah mati” ledek Theo


“Sstt! Theo, jangan bicara begitu! Nanti Ryou-niisan bangun dan memukulmu!” ujar Stelani pada Theo


“Hah! Dia saja masih tidak ada tanda-tanda bangun”


Fabil dan Michaela tidak mau kalah. Mereka memilih mendekati Kaito yang sedang tidur.


“Kaito-niichan masih tidur juga. Dia benar-benar tidak bergerak, Fabil-niichan”


“Begitulah. Karena itu, kita jangan mengganggunya ya” ucap Fabil pada Michaela


Melihat anak-anak itu mengelilingi kedua orang yang tidur, Kino hanya bisa berdoa dalam hati.


‘Aku mohon tolong jangan bangunkan mereka berdua. Tolong jangan mendekati wajah mereka seperti itu’


Baru dibilang seperti itu, tiba-tiba mata Kaito terbuka sehingga membuat Michaela kaget dan berteriak.


“Uwaaa!!”


“Aaaaa!!!”


“Gyaaa!!! Ada apa?!”


Semuanya berteriak. Kino dan Joel yang melihat langsung menatap satu sama lain dengan wajah panik.


“Joel-san…”


“Ma–maafkan anak-anakku, Kino”


Kaito terkejut dan langsung terbangun dari tempat tidurnya. Bukan hanya Kaito. Sebelum ada pertanyaan keluar dari mulutnya, Ryou sudah berteriak lebih dulu.


“Kenapa bisa ada penampakan setan-setan kecil di sini!! Siapa yang menyuruh mereka masuk mengganggu pagiku!!”


“Gyaaa! Kakak galak bangun! Menjauh atau nanti akan dimakan. Ahahaha” tawa anak-anak itu mulai terdengar


Mereka segera menjauhi Ryou dan memeluk Kino serta Joel yang berdiri.


“Kino…apa kau yang membawa mereka ke sini?” tanya Kaito dengan wajah yang masih sangat syok


“Maafkan aku. Aku sudah mengatakan untuk tidak berisik tadi dan mengajak mereka pergi keluar saja tapi…”


Anak-anak itu langsung berlarian lagi mengerumuni Ryou dan Kaito.


“Nee, ayo bangun! Kami ingin mengajak Ryou-niichan dan Kaito-niichan untuk makan bersama lagi!”


“Benar. Joel-papa yang akan traktir! Ayo bangun, ayo bangun”


Rencana awalnya, ketiga remaja itu yang ingin pergi ke bar. Tapi sepertinya mereka harus terima kenyataan setelah disergap oleh para anak-anak itu.


“Dasar penjahat kecil!” gumam Ryou


******