Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 408. Hari Pertama Sebagai Murid Akademi bag. 5



Mari kembali ke perjalanan utama dari tiga remaja dari dunia lain.


Setelah Ryou selesai dan berjalan kembali ke tempatnya, jelas semua mata tertuju padanya. Semuanya termasuk mata para anggota Dewan Sihir, staff pengajar, siswa baru dan para senior serta Rebellenarmee yang berbaris cukup jauh dari barisan Ryou berada.


Vares yang melihat itu bicara dengan nada pelan pada teman-temannya.


“Dia berani.”


“Lebih berani dari yang aku kira” jawab Rayel


Virgo juga berpikiran hal yang sama dengan kedua temannya itu, “Aku tidak menyangka dia bisa senekat itu. Kaito berteman dengan orang yang merepotkan”


“......” Galaktika hanya diam memperhatikan


Dua sosok di barisan lain, Luna dan Piero yang melihat itu juga tampak sangat heran, tapi ada rasa bangga dalam diri mereka.


“Lihat itu, Piero! Ryou berani sekali ya!”


“Aku tau dia nekat sejak ujian bersamanya, tapi sampai menantang pengajar akademi ini…hal ini pasti baru pertama kalinya terjadi”


“Aku suka Ryou yang seperti itu, Piero! Dia baik, kan? Dia melakukannya demi kita semua!” ucap gadis kucing itu dengan antusias


Tampaknya Piero juga setuju dengan pendapat Luna. Dia tersenyum lebar dan memuji Ryou.


“Aku tidak percaya aku melihat sejarah saat ini. Ryou menakjubkan”


Ada lagi yang lainnya yaitu gadis ras naga, Ignis Levia yang baru bertemu dengan Ryou kemarin.


“Aku tidak percaya dia bisa seperti itu pada pengajar. Kaito memiliki teman yang unik. Aku akan menulis surat pada ayah agar ayah mendengar cerita hari pertamaku di sekolah”


Mari kita pergi ke dekat wajah sang pemenang, Yuki Ryou.


Dengan begitu percaya diri, dia berjalan mendekati sang kakak dan Kaito. Begitu sampai, dia mengatakan apa yang dikatakan olehnya sebelum maju ke depan.


“Kino, lihat itu. Aku menang. Kita pergi dari sini dan makan di kantin. Pokoknya kita sudah tidak perlu mendengarkan omong kosong”


Kemudian, Ryou memegang tangan kedua orang itu dan menariknya.


“Kino, Kaito, kita keluar. Abaikan yang lain”


Keduanya tidak ada yang bisa mengatakan apapun, terutama sang kakak yang merasa keringat dinginnya sudah mulai membasahi keningnya.


Dari depan, para kapten dan anggota inti Dewan Sihir lain terlihat begitu terkesan atau bisa dibilang terlalu senang dengan kejutan dan kekacauan itu.


Mark bahkan masih mengulangi kalimatnya lagi sebelum mereka keluar dari ruang aula.


“Rexa, aku ingin ketiga penjelajah itu. Rayu mereka untuk pindah ke divisi milikku ya”


“Aku tidak bisa melakukannya”


“Kamu bisa, Lucas akan memberimu izin. Benar kan, Lucas?”


Lucas hanya tersenyum mendengarkan Mark.


“Lihat, Lucas setuju” celetuk Mark dengan mata yang begitu meyakinkan


“Mark, Lucas hanya tersenyum. Mereka belum resmi bertugas tapi…”


“Pokoknya rayu mereka. Lagipula, baik adikmu yang tersayang dan ketiganya ada di bawah nama dan jabatanku. Tidak masalah, kan?”


Mark terlihat masih bersikeras dengan niat dan keinginannya itu. Rexa hanya bisa diam dan mendengarkan keinginan Mark.


Di sisi lain, para Dewan Sekolah mulai sedikit memperhatikan kejadian barusan.


“Anak tadi…siapa namanya?”


“Aku sudah menerima daftar anggota baru Divisi Dewan Sihir. Namanya Yuki Ryou. Dia adik dari salah satu peserta bernama Yuki Kino” jawab salah seorang anggota Dewan Sekolah bernama Arcana Faustus


Dia adalah salah satu dari anggota Dewan Sekolah yang berada di sana menyaksikan semua itu.


“Anak itu sangat menarik perhatian” puji Master Dresden, “Tampaknya akan ada angin segar setelah ini”


“Apanya yang angin segar, Master!”


Itu adalah Barbara Lindsey, orang yang baru saja adu mulut dengan anak itu. “Dia begitu tidak sopan”


“Itu bukan sepenuhnya salah murid, Barbara-sensei. Karena Anda juga terlalu berlebihan”


“Master, itu tidak benar”


“Sudah, kita sebaiknya beristirahat dulu sejenak sebelum melanjutkan kegiatan kita kembali”


Begitu Master Dresden dan para anggota Dewan Sekolah lain pergi, Barbara Lindsey tampak masih kesal.


“Aku akan mengingat wajah anak nakal itu!”


**


Beralih ke tempat lain yaitu koridor sekolah, Ryou yang telah berjalan cukup jauh akhirnya melepaskan tangan kedua orang tersebut.


“Akhirnya aku bebas. Kita bisa bernapas lega dan aku bisa mencuci otakku”


“Ryou…”


Sang kakak memanggilnya dengan wajah pucat. Melihat sang kakak terlihat khawatir membuat Ryou sedikit merasa bersalah dan memegang kedua tangannya.


“Kino, aku minta maaf”


“Aku hanya tidak ingin kamu mengalami hal yang buruk nantinya”


“Aku tau itu tapi…”


Kino menghela napas dan tersenyum, “Aku berdoa pada Kami-sama agar Ryou yang menang. Syukurlah kamu menang. Kami-sama mengabulkan doaku untuk Ryou”


Ryou tersenyum dan memeluk sang kakak dengan senang.


“Aku tau kau yang terbaik, Nii-san!”


Setelah melepaskan pelukannya, dia melihat ke arah Kaito.


“Aku tidak mau memelukmu ya. Kau bukan kakakku”


“Terima kasih, aku juga tidak butuh pelukan itu. Kau bukan adikku”


“Cih!”


Saat ingin berjalan menuju kantin, ada sosok yang berlari cepat dan langsung menangkap Ryou.


“Dasar murid gila!” teriak sosok itu. Dia masih memegang leher Ryou dan terlihat ingin mencekiknya.


“Orang gila! Kau mau mempermalukan Rexa-sama dan divisimu sekarang ya!”


“Xenon-san!”


“Xenon?! Kenapa kau ada di sini?!”


Xenon terlihat seperti sosok setan yang akan memakan anak di tangannya.


“Aku datang untuk mencekik leher murid bodohku ini”


Seketika, akan ada drama komedi menanti.


******