Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 242. Sebuah Awal dari Permulaan Lain



Ketiga remaja dari dunia lain itu akhirnya memutuskan untuk membeli satu buah batu elemen sihir untuk Ryou.


Setelah mengurus semuanya, ketiganya pergi dan mencari tempat aman untuk berdiskusi.


Di sebuah tempat teduh di taman, mereka bertiga duduk sambil melihat batu elemen sihirnya.


“Aku tidak percaya aku bisa membelinya sendiri. Ini kemajuan. Aku tau aku jenius” Ryou mulai memuji dirinya sendiri


“Aku senang kita sudah memiliki satu. Tapi sekarang kita masih memiliki masalah serius lainnya”


“Apa itu?”


“Dengan uang yang kita miliki sekarang, kita harus bisa menyimpannya dan juga masih harus menemukan cara agar bisa mendapatkan batu elemen sihir lainnya. Dua hari lagi adalah ujian masuk dan besok sore adalah pendaftaran terakhir” kata Kino dengan wajah serius


“Kino benar, sekarang bagaimana caranya kita bisa mendapatkan uang agar bisa membeli batu sihir lainnya. Siapa yang menyangka harganya bisa semahal itu”


Ketiganya mulai berpikir. Rasanya di dunia yang penuh dengan sihir seperti ini, mustahil untuk menemukan pekerjaan yang bisa dilakukan. Terutama di saat semua orang sudah memiliki sihir mereka sendiri tanpa memerlukan bantuan batu sihir.


“Rata-rata penduduk Negara ini adalah ras monster yang sudah bisa dipastikan mereka pasti memiliki satu atau dua sihir. Sekalipun mereka tidak memilikinya, mereka yang tidak begitu memedulikan elemen sihir cukup memiliki batu sihir penguat saja” ujar Ryou


“Selain itu, kau sendiri harus belajar mengendalikan batu sihir itu, Ryou. Tidak akan semudah itu meski sudah dijelaskan oleh pelayan tadi”


Kalimat Kaito akhirnya menambah daftar masalah mereka. Masih kurang dua batu lainnya, belum lagi belajar mengendalikannya dan waktu yang mereka miliki kurang dari 48 jam sekarang.


“Demi semua game yang ada di rumahku, aku tidak suka kita terjebak di ‘dunia’ menyebalkan begini. Tidak bisakah kita terjebak di tempat yang keren seperti kasino atau kapal pesiar?”


“Ryou, tenangkan dirimu” sang kakak mencoba menenangkan adiknya


Kaito masih memikirkan banyak hal.


“Kita harus bisa masuk ke sekolah sihir itu apapun yang terjadi. Jika sampai kita tidak bisa masuk ke sana, kesempatan untuk mencari tau keberadaan permata ingatanku mungkin akan menipis. Selain itu, kejadian pagi ini mungkin ada kaitannya dengan sesuatu”


“Kejadian?”


“Kejadian yang melibatkan penduduk kota di taman. Pemuda bernama Xenon mengatakan bahwa itu adalah permintaan yang dikirimkan untuk Akademi Sekolah Sihir dan berhubungan dengan sebuah kasus. Bisa saja, untuk hal itulah kita terlibat” ucap Kaito


Kino berpikir sejenak.


‘Selama ini, semua hal yang berhubungan dengan permata Kaito-san pasti akan langsung melibatkan mereka secara langsung maupun tidak langsung’


‘Jam saku kami yang hilang saat itu langsung memberikan kami petunjuk untuk bertemu dengan Theo-kun. Saat pohon besar di hutan asing muncul di ‘dunia malam’ juga, permata itu muncul dari pohon besar tersebut’


‘Ketika kami terlibat dalam event yang diadakan dari aplikasi [Event Horror Apps] juga, kami langsung memiliki tebakan bahwa semua itu pasti ada hubungannya dengan permata Kaito-san dan semua itu benar’


‘Mungkin, kejadian yang tidak sengaja melibatkan kami pagi ini juga begitu. Kaito-san benar. Kami harus serius kali ini atau semua kesempatan akan lenyap begitu saja’


Isi pikiran Kino yang banyak itulah yang menjadi keyakinan baru untuknya agar lebih seriusn


“Aku paham, Kaito-san. Aku mengerti. Sepertinya dengan waktu terbatas inilah yang harus dimanfaatkan”


“Jadi, apa rencana selanjutnya? Kalau mau mencari uang dengan cara tidak biasa, sepertinya tidak mungkin. 8.000 lebih Penny Libra adalah uang kita sekarang. Mumpung malam baru akan tiba, sebaiknya kita coba cari tempat dan informasi yang tersisa”


“Rasanya, di antara semua hari yang dilalui di ‘dunia’ lain, ini yang paling panjang” gumam Kaito pelan


Kino dan Ryou tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulut orang yang paling dewasa di antara mereka.


“Ternyata Kaito-san juga berpikir begitu ya?”


“Aku terkejut kau bisa berpikir begitu, Kaito. Aku kira kau yang biasa membuat masalah sudah terbiasa dengan semua masalah”


“……”


Kaito tidak mau mengeluarkan komentar lain


******


Di lorong koridor yang begitu luas, terlihat beberapa orang yang berjalan.


“Setelah rapat yang panjang seperti itu, akhirnya kita hanya membahas dua pokok pembicaraan. Rasanya seperti membuang-buang waktu saja sampai sore begini” kata seorang gadis


Itu adalah gadis bernama Alicia. Dia berjalan bersama Emilia, Emily dan dua orang laki-laki, Lucas dan Rexa.


“Tapi, pembahasan ini cukup menarik. Selain itu, remaja yang dikatakan oleh Emily tadi…aku ingin sekali bertemu dengannya” kata Rexa


“Hoo…Rexa-sama ingin bertemu dengan mereka ya? Emily sudah merekomendasikan mereka masuk Divisi Emily jadi maaf ya” gadis bernama Emily itu terlihat begitu percaya diri


“Aku mengerti” Rexa tersenyum


Saat berjalan, kelima orang tersebut bertemu dengan seorang gadis.


“Alicia?! Ah, Lucas-sama, Rexa-sama, selamat sore. Emilia dan Emily juga, selamat sore”


“Selamat sore. Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Rexa pada gadis itu


“Aku…aku mencari Xenon dan Jene karena belum kembali setelah mereka mengatakan akan pergi ke ruang praktek”


“Xenon…keluar lagi rupanya” gumam Rexa dengan wajah sedih


Lucas mendekati Rexa dan berbisik.


“Kamu tidak mau sesekali menegurnya, Rexa? Dia adikmu sekaligus anggota divismu, kan? Sebaiknya tegurlah dia sesekali agar hubungan kalian tidak begitu buruk”


“Aku hanya berharap dia tidak memikirkan soal asal usulnya selama di sini. Tapi, aku ingat dia bertemu dengan Misha dan kata-kata gadis itu sudah menyakiti hatinya. Aku bermaksud untuk membatalkan pertunanganku dengan keluarganya”


“Misha dari keluarga Earl Midford ya. Aku rasa itu keputusan tepat. Kalau mau, aku mungkin akan setuju jika kamu menikahi Emilia atau Alicia agar hubungan keluarga kita semakin erat nantinya” Lucas terlihat menggoda Rexa sekarang


“Jangan bicara begitu, Lucas. Meskipun kita teman sejak kecil, aku tidak mungkin melakukannya”


“Kamu bisa melakukannya setelah resmi menjadi Marquis setelah ulang tahunmu yang ke-18 nanti. Aku yakin adikku juga akan menyukaimu”


Kedua orang itu sepertinya asyik berbisik sendiri sampai tidak memperhatikan yang lainnya.


“Lucas, Rexa-sama…sebaiknya jangan berbisik-bisik seperti itu di depan kami semua. Kami ini perempuan yang penuh dengan imajinasi liar” goda Alicia


Semua orang tertawa mendengarnya, kecuali Jessie. Dia masih terlihat mengkhawatirkan tunangannya.


“Rexa-sama, apakah Xenon begitu membenci pertunangan kami sampai dia terus memanggilku dengan sebutan gelar?”


Rexa menghampiri gadis itu.


“Jessie, Xenon bukan orang yang seperti itu. Aku berharap kamu tidak berpikiran buruk. Sifat dinginnya tidak ada hubungannya dengan pertunangan kalian”


Mendengar itu, Jessie kembali bersemangat dan permisi dari hadapan mereka. Kelima orang itu mulai membicarakan topik yang baru terjadi.


“Rexa-sama, tadi aku sempat mendengar mengenai putri Earl Midford. Apakah gadis itu berulah lagi?”


“Berulah? Apa maksudnya itu?”


“Beberapa waktu lalu, aku sempat melihatnya di kelas bertengkar dengan Xenon. Xenon memang tidak membalasnya, namun sifat Misha padanya menunjukkan bahwa dia begitu membencinya. Dia juga sempat mengatakan bahwa Xenon hanyalah anak haram yang merusak reputasimu ketika menjadi Marquis nanti”


Rexa begitu terkejut mendengar keterangan Emilia. Bukan hanya Rexa, semua yang mendengar juga begitu terkejut.


“Aku tau ada yang tidak benar dari Misha. Aku memang harus membatalkan pertunanganku dengannya”


Baru mereka bicara begitu, tiba-tiba datang seseorang yang tidak diduga sebelumnya oleh semuanya.


******


Di kota, Kaito dan kedua kakak beradik itu berjalan di kota untuk mencari petunjuk lain yang mungkin bisa didapatkan.


“Kita mau kemana?” tanya Kino


“Kau tau kita tidak memiliki nafsu makan juga di tempat ini, tapi aku rasa kita harus mencicipi hidangan di tempat ini sebelum serius dalam berfikir” ucap Ryou dengan percaya diri


“Makan? Memang mau kemana?”


“Ke tempat yang ramai dan jelas enak”


“Iya, tapi dimana?”


Ryou berhenti di sebuah toko yang cukup ramai dan terlihat mewah sekali. Dengan penuh percaya diri, dia menunjuk toko tersebut.


“Di sini! Aku yakin kita bisa makan enak di sini!”


Kino dan Kaito jelas melihat tempat itu mewah.


“Kino, aku bersumpah sebodoh apapun diriku…tempat ini akan menguras dompet kita. Percayalah padaku” bisik Kaito


“Kaito-san benar. Aku setuju denganmu”


Baru ingin menghentikan sang adik, Ryou dengan semangat mencoba membuka pintunya. Begitu ingin dibuka, ada tangan lainnya yang memegang gagang pintu.


“Huh?!” ucap Ryou dan orang itu bersamaan


Siapa yang menyangka bahwa takdir mempertemukan remaja dunia asing itu dengan sosok yang tidak asing untuk mereka.


******