Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 37. Tempat Asing di Kota Baru bag. 2



Theo membuat wajah mereka berubah pucat seketika saat mulutnya mengeluarkan kalimat yang tidak diduga.


“Mem–membunuh katamu!!” Stelani menjadi syok


“Oi!!! Kau sadar apa yang kau katakan itu, Theo?! Akan sangat berbahaya jika kau mengatakan hal seperti itu di sini! Mereka akan mendengarmu”


“Aku tidak berbohong” Theo menatap kedua orang itu dengan wajah serius


Mereka semua menengok ke sekeliling tempat itu karena khawatir ada yang mendengar pembicaraan mereka. Tentu saja mereka semua panik.


“Sebaiknya kita pergi dari sini sekarang. Kita akan ke kota untuk membeli roti. Aku akan menceritakan semuanya di jalan”


“……”


Stelani dan Fabil saling melihat satu sama lain dan terdiam. Di wajah itu terlihat mereka ingin sekali bertanya banyak hal, tapi wilayah mereka memang sangat berbahaya. Akhirnya mereka berdua lari mengikuti Theo.


Melewati jalan yang lurus dan gelap, mereka masih beruntung karena waktu belum terlalu malam di kota itu. Cahaya bulan purnama juga masih memberikan dukungan yang cukup baik. Mereka berlari dengan sisa tenaga yang dimilikinya dan setelah cukup menghabiskan waktu akhirnya mereka sampai di belakang altar.


Dengan napas terengah-engah, Fabil bertanya pada Theo.


“Haa..Haa…Ja…di…kenapa kita lewat belakang?”


“Ini…jalan teraman yang bisa kita lalui. Jangan sampai kita lewat jalan panjang dari arah depan itu atau kita akan kena masalah. Sekarang ayo ke toko roti”


Theo yang sudah berhasil mengatur napasnya berjalan di depan mereka berdua. Kedua orang di belakang menyusulnya meskipun masih belum selesai mengatur napas mereka dengan baik. Di sepanjang jalan, mereka ingin bertanya pada Theo tentang uang yang dia miliki dan  apa yang dikatakannya barusan. Tapi tidak butuh waktu lama, Theo membuka mulutnya sendiri.


“Aku mendapatkan uang ini dengan bekerja membantu penduduk kota. Aku tidak mencuri sama sekali. Aku hanya berusaha untuk bekerja melakukan apa saja demi mendapatkan semua ini”


“Begitu. Syukurlah” Stelani tersenyum


“……Lalu, aku pergi ke bar untuk memberikan ini pada gorilla itu. Aku bermaksud menukarnya dengan roti agar kalian tidak dihukum dan bisa mendapatkan makan malam hari ini. Tapi–”


Theo berhenti di tempat. Kedua orang di belakangnya juga berhenti dan menjadi sedikit tegang. Theo melanjutkan kalimatnya dengan wajah yang berubah pucat.


“Aku mendengar suara tembakan dari ruangannya. Ketika pintu terbuka, para wanita yang tadi pagi kita lihat berlarian ke bar dan menangis. Saat aku melihat apa yang ada di balik pintu itu, gorilla itu baru saja membunuh dua orang anak buahnya sendiri. Dan saat dia keluar, dia juga membunuh semua wanita yang bersamanya dengan menembak leher mereka berkali-kali” Theo bicara dengan tangan dan mulut yang gemetar


“Eh?!”


“Mereka…dibunuh...”


Sekarang Stelani dan Fabil tidak kalah pucat dan takut. Mereka bahkan berkeringat dan telapak tangannya menjadi dingin.


“Aku langsung berlari saat gorilla itu menatapku dengan tatapan yang lebih dingin dari biasanya. Tubuhnya masih bermandikan darah mereka semua dan….aku lari seperti seorang pengecut” Theo mengeluarkan nada kecewa


Kekecewaan Theo pada dirinya sendiri sangat dalam mengingat dia begitu membenci Justin namun dia tidak bisa melawannya. Theo bahkan merasa bahwa kebenciannya pada Justin masih kalah dengan rasa takutnya. Tapi, itu hal yang wajar karena dia masih terlalu kecil dan lemah untuk melawannya.


“Theo…”


Stelani yang mendengar itu menjadi ikut sedih.


“Kau bukan pengecut!. Kau sudah menolongku saat Justin-sama mendorongku pagi ini. Itu hal yang wajar kalau kau lari darinya. Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama jika nyawanya terancam. Stelani, katakan sesuatu padanya juga” Fabil mencoba menghibur Theo


“Theo, Fabil benar. Kau sudah melakukan keputusan yang tepat. Kita semua tau Justin-sama orang yang sangat kejam. Jika kau masih nekad di sana, kau pasti akan mati juga. Menyelamatkan diri dari hal berbahaya itu membutuhkan keberanian dan apa yang kau lakukan adalah tindakan yang berani”


“……” Theo hanya diam


Stelani dan Fabil menggenggam tangan Theo untuk memberinya semangat dan sepertinya itu cukup berhasil. Wajah Theo memerah dan senyuman menghiasi bibirnya. Mereka mulai berjalan lagi menuju toko roti.


“Aku sarankan hal ini hanya kita bertiga yang tau. Sejak kejadian ini hanya Theo yang melihatnya, aku takut jika kita mengatakan pada yang lain mereka akan takut”


“Stelani benar. Theo, kusarankan kau juga tidak bertindak gegabah lagi di depan Justin-sama. Semua tau kau membencinya, tapi kau melihat bagaimana dia membunuh anak buahnya sendiri kan?. Kita hanya perlu melindungi anak-anak lain agar tidak disakiti oleh Justin-sama dan anak buahnya. Mengerti maksudku kan? Fabil memberi tekanan pada nada bicaranya


“Aku tau, tapi aku tetap akan mencari cara lain untuk membuatnya menyesal”


Theo memegang sesuatu yang tertutup kerah bajunya dengan sorot mata yang tajam. Kedua orang lainnya hanya bisa melihatnya dengan cemas dan menghela napas. Mereka akhirnya membagi tugas untuk membeli roti, air dan kebutuhan lainnya untuk dibawa pulang.


******


Setelah pembicaraan panjang, Kino mengeluarkan semua roti yang mereka punya dan membagikannya sebagai makan malam hari ini.


“Entah kenapa aku merasa seperti sudah lama sekali tidak pernah makan malam sebelumnya” Kino tersenyum bahagia sekali sambil memegang roti yang dimilikinya


“Kau benar. Aku ingat menu yang kau masak sepulang sekolah dua hari lalu sebelum kita ke sini, Kino. Aku rindu sup miso buatanmu”


“Mungkin aku akan memasak besok. Kaito-san, boleh aku pakai uangnya beberapa untuk membeli bahan makanan?”


“Tentu. Aku lupa bilang, aku sudah membayar kamar ini untuk satu minggu”


“Uhuk…Apa?! Satu minggu?! Kau sendiri yang bilang tempat ini mahal, kan?” Ryou tersedak dan langsung berdiri dari tempatnya


Kino juga sempat terdiam mendengar ucapan Kaito. Melihat reaksi mereka, Kaito sempat membuat wajah bingung dan kaku tapi dia berusaha bersikap biasa dan menjelaskannya pada mereka.


“Dengan uang yang kita miliki, jika tidak dihitung uang makan sebenarnya bisa menyewa tempat ini selama dua minggu atau sekitar dua puluh hari. Tapi itu bisa disebut pemborosan dan bunuh diri secara instan bagi keuangan kita sekarang”


‘Mantan kriminal ‘dunia siang’ yang pernah mencuri uang jamaah di altar masih bisa membahas soal keuangan. Huwaa, hebat juga dia. Kurasa kemampuan mengelola keuangan milik Kaito tidak kalah dari ibu. Otak remaja berusia 21 tahun bisa setua ini ternyata’


Itu bukan pujian sama sekali. Yang jelas sekarang mereka punya masalah baru dan cukup serius setelah kehidupan di kota normal didapatkan. Dan masalah itu bernama uang.


“Pada akhirnya kita harus memikirkan cara untuk mendapatkan uang sambil mencari informasi tentang kepingan ingatan Kaito-san dan jam saku milik kami”


“Ini tidak akan semudah mengalahkan makhluk mengerikan di ‘dunia malam’. Kalian harus ingat itu” Kaito menambahkan penjelasan dari Kino barusan


“Ish…kenapa masalahnya jadi banyak? Merepotkan saja!”


“Ryou, tenanglah. Ini, makan rotinya lagi”


Kino mencoba menenangkan sang adik dengan memberinya roti lagi. Ryou hanya terdiam tanpa ekspresi. Dia benar-benar diperlakukan seperti anak kecil oleh sang kakak, sedangkan Kaito yang tau arti ekspresi itu berusaha menahan tawa keras yang ingin dia keluarkan.


Setelah mereka makan, Kino diam sejenak. Dia memikirkan sesuatu yang sebelumnya pernah dia pikirkan saat berada di kamar ini.


‘Aku tidak yakin apakah benar atau tidak. Kurasa aku harus membuktikannya sekarang. Aku merasa tempat ini tidak bisa sepenuhnya disebut normal seperti yang kami pikirkan di awal’


Pikiran Kino penuh hal rumit. Dia ingin membuktikan sesuatu. Akhirnya dia mencoba mencium pakaiannya sendiri. Ryou yang melihat hal itu langsung memegang tangan sang kakak dan berkata padanya dengan ekspresi tidak mengenakan.


“Jangan melakukan hal menjijikan itu setelah makan!”


“Ryou, apakah kamu tidak merasa aneh?”


“Melihatmu mencoba mencium pakaian seperti itu tentu saja aneh!. Itu menjijikan, hentikan itu kakakku!”


“Bukan itu maksudku. Kaito-san, aku yakin kita sudah berlarian seharian ini dan normalnya kita akan berkeringat. Tapi, pakaianku sama sekali tidak beraroma keringat atau apapun. Aroma matahari dan lainnya hilang. Bukankah itu aneh?”


Mata Kaito melebar. Dia juga baru menyadarinya. Dia ikut mencium pakaian ketat yang dipakainya dan itu benar. Tidak ada aroma apapun yang tersisa pada pakaiannya. Ryou yang penasaran akhirnya melepas tangan sang kakak dan membuktikannya sendiri.


“Serius?! Aku tidak mengatakan tubuh kita bau karena tidak mandi selama dua hari, tapi tubuh kita sama sekali tidak memiliki aroma apapun. Setelah berkeringat normalnya badanku akan terasa lengket dan tidak nyaman sama sekali tapi–”


“Ini tidak seperti itu, iya kan?” Kino menambahkan


Kedua orang lainnya mengangguk. Kino berpikir apa yang penah dipikirkan olehnya sebelum ini bisa dijadikan sebagai bahan diskusi lain.


“Sebelumnya aku pernah berpikir saat masih berada di ‘dunia siang’. Aku sama sekali tidak pernah ingin pergi ke toilet atau merasa benar-benar lapar dan haus, tapi kita semua tetap merasa lelah dan mengantuk. Saat berada di kedai makan waktu itu, aku mungkin mengeluarkan suara lapar dari perutku tapi aku tidak merasa terlalu lapar untuk makan. Apakah itu karena pengaruh ‘dunia’ aneh ini?”


“Kalau dipikir-pikir benar juga. Kino dan aku tidak pernah ingin ke toilet. Jelas itu tidak normal. Aku baru menyadarinya. Kaito, apa mungkin kau tau sesuatu?”


Kaito mengingat kembali semuanya. Ketika pertama kali datang, dia melakukan semua cara untuk bertahan hidup sampai akhirnya dia mengetahui rahasia dan peraturan di ‘kedua dunia’. Dia mengatakan pada mereka berdua bahwa dia memang tidak pernah merasa terlalu lapar dan haus sejak sampai ke tempat ini, tidak pernah sekalipun pergi ke toilet. Kaito mengakui hal itu.


“Bisa jadi karena kekuatan magis dari jam saku ini dan pengaruh ‘dunia’ aneh ini”


“Kekuatan magis ya. Ternyata benar, tempat ini sepertinya masih di ‘dunia’ yang didatangi Kaito-san. Hanya saja sudah tidak terbagi menjadi dua jenis melainkan menyerupai dunia normal”


Satu lagi pemikiran jenius dari si jenius kita semua, Kino. Dia benar-benar menyadari hal itu walaupun penjelasannya mungkin sedikit rumit untuk dipahami.


“Kino benar. Aku salut kau bisa berpikir sejauh ini. Aku tidak pernah meragukan kemampuan otakmu itu, Kino” Kaito tersenyum memujinya


Kino tersenyum dan Ryou terlihat seperti adik yang sangat bangga pada kakaknya itu.


“Sudah kubilang kakakku jenius. Sebentar Kaito, kau bilang pengaruh jam saku ya. Berarti jam saku kami juga ada kemungkinan memiliki kekuatan magis?”


“Memang kau baru menyadarinya?”


“Hanya memperjelas. Aku sudah bisa menerima kehidupan di dunia fantasi, jadi kau santai saja”


Sepertinya pembicaraan ini sudah cukup membuat misteri lain mendapat titik terangnya. Anggapan mereka tentang berada di kota yang normal itu hancur berkeping-keping. Akhirnya, mereka kembali lagi ke pemikiran awal, tempat itu masih seperti mimpi buruk.


“Oke, jadi kusimpulkan kembali berdasarkan penjelasan Kino. Kita masih di dunia yang aneh tapi bukan diantara ‘kedua dunia’. Tetapi, kehidupan normal seperti orang biasa itu benar”


“Tepat sekali. Jangan lupakan tentang masalah utama kita semua” Kaito menambahkan penjelasan Ryou


“Masalah utama kita tetaplah uang. Sial, uang lagi uang lagi!!”


Ryou menggerutu kesal tapi itu benar. Uang adalah sumber kebahagiaan orang normal dan sumber masalah bagi orang normal maupun yang tidak normal.


“Bisa kita abaikan dulu masalah uangnya dulu? Jam saku kami saja belum ketemu, kau tau. Selain itu, ingatanmu juga salah satu dari daftar masalah kita” Ryou melanjutkan gerutuan pentingnya itu sambil menunjuk wajah Kaito


“Ryou, aku sudah mengatakannya berkali-kali berhenti bersikap tidak sopan pada Kaito-san. Jangan seperti itu. Kumohon dengarkan aku” Kino mencoba menghentikan adiknya untuk ke sekian kalinya


“……”


Kaito diam karena sudah lelah berkomentar. Dia memilih berkomentar dalam hatinya.


‘Demi apapun yang kupunya, aku ingin sekali membuat kucing liar di depanku ini diam sebentar saja. Aku turut berbela sungkawa pada kesabaran Kino. Mereka pahlawan sesungguhnya untukku’


******