Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 227. Setelah Event Berakhir



Song Haneul keluar dari pos penjagaan dan melihat banyaknya orang-orang yang datang.


“Cepat selamatkan mereka semua! Cari korban selamat!”


“Bawa semua mayat-mayat ini dengan ambulans! Masih banyak korban di dalam!”


“Ya Tuhan, ini mengerikan! Kenapa bisa seperti ini?!”


“Hiks…Jong Nam anakku…kenapa kamu bisa berakhir seperti ini! Ini mimpi buruk! Ini kutukan!”


Setiap suara yang terdengar dan orang-orang yang datang benar-benar seperti pemandangan yang telah lama sekali diharapkan olehnya.


Seseorang dengan pakaian medis datang menghampiri Song Haneul.


“Kamu baik-baik saja? Ayo ikut kami! Akan kami obati lukamu”


“Ini…kenapa?” tanya Song Haneul bingung


“Apa maksudmu? Kejadian aneh yang mengerikan ini tersebar di seluruh penjuru negeri dan semua orang sejak pagi hari mencoba menerobos masuk namun tidak ada yang berhasil. Bahkan tim pertahanan Negara sampai dikerahkan untuk membobol pintu gerbang serta tembok kampus ini”


“Tapi…kami tidak bisa menghubungi keluar sejak pagi”


“Itulah yang masih aneh. Seluruh kejadian dan mayat hidup yang membunuh seluruh penghuni kampus ini disiarkan secara nasional namun baik pihak keluarga maupun pihak keamanan sama sekali tidak ada yang bisa berkomunikasi dengan kalian!”


“……” Song Haneul terdiam


“Saat ini, pemerintah tengah menjadikan hal ini sebagai kejadian luar biasa dan akan menjadi penyelidikan skala nasional”


“Apa…apa usaha pelarian yang kami lakukan juga dilihat semuanya?”


“Benar. Semua orang melihat apa yang kalian lakukan. Kalian mencoba menyelamatkan orang-orang yang hidup di gedung arsip dan membunuh mayat hidup demi bisa keluar dari tempat ini. Semua orang telah melihatnya”


Jawaban dari tim medis itu membuat Song Haneul syok. Dia yang mengira komunikasinya terputus sepenuhnya di luar ternyata tidak begitu. Seluruh kejadian dari awal hingga akhir event ini terekam dan disiarkan secara nasional.


‘Siapa yang melakukannya? Bagaimana hal itu bisa dilakukan? Apakah ini murni tindakan manusia atau ada hal di luar akal sehat yang terlibat?’ pikirnya


Saat dia berjalan keluar bersama tim medis, dia menyadari ketiga remaha itu tidak ada dimanapun.


“Sebentar! Dimana hoobae yang lain? Dimana remaja yang keluar dan membuka gerbang kampus itu?!”


“Dia sempat kami ajak pergi dengan dua temannya, namun katanya masih ada hal yang harus dilakukan di dalam”


“Apa?! Mereka ke dalam?! Aku juga–”


“Tidak boleh. Kamu harus mendapatkan perawatan medis. Kami akan membawa mereka keluar, kami janji. Tolong jangan memaksakan dirimu kembali”


Song Haneul ingin sekali melepaskan dirinya dari tim medis itu tapi dia tidak bisa. Seluruh energinya sudah terkuras dan dia tidak yakin apakah dia masih sanggup untuk berlari dari mereka.


**


Sementara tiga remaja dunia lain itu tengah berlari dengan sangat hati-hati di dalam gedung Fakultas Psikologi.


“Kaito, kau sudah mengambil isi di saku milik Jung Leon?”


“Sudah. Aku mendapatkannya. Benda itu ada di dalam kotak kecil berwarna hitam ini”


“Kita akan kemana, Kaito-san?”


“Ke tempat yang jauh dari keramaian. Kita sudah berjanji untuk merahasiakan ini semua dari orang-orang di ‘dunia’ ini, jadi biarkan mereka sibuk mengurus semuanya”


Kaito naik ke lantai dua dan masuk ke sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Mereka melihat banyak darah yang tidak lagi asing di mata.


“Haah…haah…haaa. Ini keajaiban. Kita masih hidup setelah melawan ribuan zombie itu dan kita hidup. Aku yakin di tempat ini, ada semacam plot armor untuk kita. Percayalah” kata Ryou yang duduk di lantai tanpa memedulikan darah di lantai


“Kita beruntung karena gerakan sebagian zombie memang lambat saat itu. Tapi, yang terpenting sekarang kita bisa mendapatkan permata milik Kaito-san. Kaito-san, bisa kamu buka kotak permatanya?”


Kaito membuka kotak tersebut dan terlihat sebuah permata ungu berbentuk bulat yang cantik bersinar.


“Ini…ingatanku. Ini benar-benar milikku. Aku merasakannya”


Begitu ingin disentuh oleh Kaito, Kino sempat menghentikannya sejenak.


“Kaito-san, tunggu dulu”


“Kenapa?”


“Ada apa, Kino? Aku sudah muak berada di sini. Kita harus pergi sekarang!” Ryou berdiri sambil mengeluh


“Kita…kita belum berpamitan pada Seo Garam dan yang lainnya”


“Tidak! Aku tidak mau berpamitan dengan mereka. Akan jauh lebih baik jika kita pergi mumpung tidak ketahuan! Selain itu, akan jadi drama panjang jika sampai mengatakan kalimat perpisahan. Ingat yang terjadi di ‘dunia’ sebelumnya?” Ryou masih bersikeras dengan argumennya


“Aku mengerti itu, Ryou. Tapi, ada kemungkinan permata ini bukan satu-satunya di tempat ini”


“Aku tidak mau. Sekalipun nantinya mungkin permata ini masih ada di sini, kalau bisa kita menghindari mereka. Aku akan memiliki phobia pada mayat kalau seperti ini terus”


“Ryou…”


“Kino, aku mengerti maksudmu tapi aku sependapat dengan Ryou”


“Kaito-san…”


“Jangan memikirkan hal itu, Kino. Tanpa kita, mereka akan baik-baik saja setelah ini. Masalah ini ditimbulkan oleh kekuatan permata milik Kaito. Begitu permata ini kembali kepada pemiliknya, tempat ini akan kembali normal” lanjut sang adik


“Aku hanya merasa kita memiliki hutang budi yang besar. Setidaknya, hanya sebuah ucapan terima kasih…” Kino masih belum menyerah dengan keinginannya


Ryou dan Kaito hanya bisa menghela napas. Mereka mencoba menyakinkan Kino kembali.


“Kino, ingat tujuan kita. Kita harus pulang ke Jepang dan Kaito harus menemukan semua pecahan ingatannya. Kita ke dunia lain yang menyebalkan bukan untuk menambah koneksi. Setelah ini, kita tidak akan bertemu dengan mereka lagi dan mereka akan melupakan kita. Itu lebih baik”


“Ryou benar, Kino. Kita hanya sementara di sini. Aku minta maaf padamu, tapi hanya untuk sekarang aku mohon tolong pengertiannya. Aku juga salah karena egois”


“Aku mengerti. Maafkan aku karena memaksakan kehendakku sendiri”


“Tidak tidak tidak, kau tidak salah. Kau sama sekali tidak salah, kakakku! Ini semua salah remaja amnesia yang telah dicampakkan oleh keberuntungannya sendiri. Kau polos. Kita hanya korban yang terseret tanpa alasan jelas! Salahkan Kaito tapi jangan salahkan dirimu sendiri!”


“……” Kaito terdiam dengan wajah aneh


Rasanya baru sekian detik dia dan Ryou memiliki pikiran yang sama, namun sekian detik kemudian dia jadi korban sindiran Ryou. Dunia cepat sekali berpaling darinya.


Ryou yang menghibur hati sang kakak bicara pada Kaito dengan nada memerintah.


“Kaito, cepat sentuh permata itu sekarang!”


“Kau memerintahku?”


“Kau ingin mendengar makian dariku?! Sudah cepat lakukan sekarang! Kita lihat apakah permata ini membawa kita pergi dari sini atau tidak! Cepat!”


Kaito sudah tidak mau menghabiskan tenaganya dan akhirnya dia menyentuh permatanya.


***


Ada sebuah bayangan di hutan saat itu. Kaito membuka matanya.


“Ini…ingatanku?”


Terlihat sosok dua orang anak laki-laki. Mereka terlihat begitu akrab. Saat itu, usianya mungkin sekitar 10-11 tahun. Salah satu anak itu adalah dirinya di masa lalu.


“$&^&, kita akan mau kemana?”


“Kita akan mencari beri kesukaan ibuku. Aku yakin ibuku akan menyukainya”


“Tapi, hutan sangat berbahaya”


“Aku tau, *%&^&. Tapi beri kesukaan ibuku ada di sekitar sini”


Setelah memasuki hutan, mereka melihat beri yang dimaksud. Namun sebelum mendekatinya semak beri tersebut, kedua anak itu mendengar suara aneh. Suara seperti orang yang bertarung dan semacamnya.


“Ada suara. $&^&, kita pergi saja ya” kata anak laki-laki lainnya


“Aku ingin melihatnya dulu. Kau kembalilah dan jangan kemari”


“Jangan pergi! Aku ikut denganmu!”


Mereka berdua mengendap-endap dan melihat sumber suara itu.


Kaito yang melihat rekam ingatannya menjadi sedikit penasaran dengan ingatan tersebut.


‘Ingatan apa ini? Anak laki-laki yang bersamanya itu siapa? Aku juga tidak bisa mendengar namanya dengan jelas. Apakah aku mengenalnya di masa lalu? Apakah itu adikku? Kakakku? Atau hanya temanku?’ dia bertanya-tanya dalam hati


Kedua anak itu berhasil melihat sumber suaranya dan ternyata itu adalah sosok seorang remaja yang usianya lebih tua dari keduannya. Remaja itu sedang melawan seekor ular besar.


Kaito terkejut dengan makhluk yang dilawannya.


“Giant Serpent! Kenapa bisa ada monster itu di sini?”


Baik Kaito yang melihat ingatan itu dengan anak dalam ingatannya mengamati gerakan hebat dan kecepatan dari remaja itu.


Remaja itu dengan cepat melompat ke sisi samping dan menusuk pedang di tangannya ke arah matanya.


“Hebatnya!” seru anak-anak itu


Mereka terlalu fokus pada pemandangan itu hingga dalam sekejap remaja itu akhirnya berhasil mengalahkan monster tersebut.


Tidak terdengar apa yang dikatakan olehnya, tapi remaja itu tampak mengambil sesuatu dari bagian tubuhnya.


‘Gerakannya sangat hebat. Tapi, aku merasa gerakan itu begitu familiar. Itu mirip dengan gerakanku jika dilihat kembali. Apakah aku melakukannya karena aku pernah melihatnya di masa lalu?’


Kaito mengamati ingatannya kembali.


Kedua anak itu tampak melupakan tujuan awal mereka untuk ke hutan dan beralih fokus pada remaja itu.


“$&^&, dia berhasil mengalahkannya! Ini hebat! Ular besar itu dikalahkan dengan cepat!”


“Kau benar, *%&^&. Ayah dan ibu akan terkejut kalau tau. Paman dan bibi juga akan terkejut. Mau menghampirinya?”


“Eh? Itu berbahaya!” bisiknya


“Tapi kalau bisa, aku ingin sekali belajar gerakan itu! Siapa tau aku bisa melakukannya suatu hari nanti!”


Kaito melihat sosok dirinya begitu percaya diri di masa lalu. Dia yang hanya sebagai ‘penonton’ dari rekam ingatan pada permatanya itu tampak begitu asing dengan semuanya.


“Aku yang dulu ternyata nakal rupanya. Aku harap aku tidak perlu menceritakan hal ini pada kedua kakak beradik itu atau aku akan ditertawakan oleh Ryou nanti”


Dari arah remaja itu, dia tampaknya menyadari ada yang mengawasinya lalu berteriak.


“Kalian yang ada di sana! Kalau terus ada di sana untuk mengawasi, sebaiknya kembali atau kalian akan membuat orang tua kalian cemas!!”


-Deg


Kaito merasa begitu kenal dengan suara itu. Sosok remaja di depannya itu benar-benar sangat tidak asing.


‘Apa ini? Aku merasa aku sangat…mengenal dia’


Kaito mencoba mendekati bayangan remaja dalam ingatannya itu. Namun saat dia mencoba mendekatinya, sebuah cahaya muncul dan memaksanya untuk pergi dari rekam ingatan itu.


“Tunggu dulu! Aku ingin melihatnya! Aku ingin melihat dan mendengar suara itu! Aku mengenal dia. Aku mohon tolong bertahan sedikit lagi!”


Semua berubah menjadi putih lalu perlahan menghitam. Inilah akhir dari rekam ingatan Kaito. Dalam ingatan barunya ini, dia mulai mengingat sosok yang dia kenal.


******