
Mereka segera lari dari kantin menuju jalan yang dipimpin oleh Kaito. beberapa dari mereka masih membawa penggorengan dan centong sebagai alat pertahanan diri.
Ryou masih berlari tanpa melepas gandengan tangannya pada sang kakak.
‘Ryou…kenapa kamu bisa berubah sampai sejauh ini? Apa yang salah? Apa karena aku terlalu lemah untuk melindungi diriku sendiri? Atau karena kamu merasa aku tidak bisa menjadi kakak yang dapat melindungi adiknya?’
Berbagai prasangka muncul dalam pikiran Kino. Tapi, dia juga menyadari bahwa ini bukanlah saat untuk berpikir demikian.
Seo Garam dan mahasiswa lainnya berlari di belakang ketiga remaja itu sambil berkata dalam hatinya.
‘Sebenarnya siapa mereka? Apa benar mereka itu mahasiswa baru di kampus ini? Kemampuan serta cara mereka menangani masalah seakan-akan…mereka telah terbiasa menghadapi hal sepert ini’
Kaito berhenti diikuti oleh semua orang di belakangnya.
“Ssst! Jangan ada yang bersuara. Itu mereka! Sembunyi di sini!” Kaito masuk ke dalam ruang kelas yang terbuka
Semua orang mengikutinya. Suara langkah para zombie itu terdengar melewati lorong dan koridor. Dari suaranya, mereka cukup banyak sehingga para mahasiswa itu tampak begitu panik.
“Jangan ada yang bersuara atau mereka akan menemukan kita” ucap Ryou dengan suara pelan
Semua orang mengangguk. Kino melepaskan tangannya dan mulai memanggil sang adik.
“Ryou…kita…kita meninggalkan Park Cho Joon-san sendiri di kantin” bisik Kino dengan wajah panik
“Aku tidak peduli. Itu adalah resiko yang harus dia terima karena telah berkata kasar padamu. Selain itu, jika dia beruntung, mungkin saja dia masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengan kita. Itupun jika dia beruntung” Ryou menjawab dengan nada dingin
Setelah beberapa menit berlalu, Kaito mengitip di balik pintu untuk memastikan tidak ada zombie di sana.
“Sudah tidak ada. Kita pergi dari sini” seru Kaito
Ha Jinan terus menggandeng tangan Kim Yuram.
“Yuram, kau baik-baik saja?”
“Tidak masalah. Kita harus mencari lokasi baru untuk bersembunyi”
Kang Ji Song berhenti sejenak.
“Kaito-nim…”
Langkah Kaito terhenti. Hal itu diikuti oleh yang lain.
“Ada apa? Kita tidak memiliki waktu untuk berhenti”
“Sebelum ini, Kim Yuram membuka ponsel miliknya dan kami bertiga yang ada di dalam dapur kantin melihat bahwa Song Haneul-sunbae mengirimkan foto-foto tentang pintu masuk gedung kampus yang telah dipenuhi oleh para zombie dari luar”
“Apa?! Song Haneul katamu?” Ryou terkejut
Mendengar ucapan Ryou, akhirnya yang lain ikut melihat ponsel mereka juga dan membuka grup chat pada aplikasi [Event Horror Apps].
“Ini benar-benar Song Haneul-sunbae!”
“Foto-foto ini…foto pintu masuk gedung fakultas! Ini…tampaknya ini semua diambil dari luar”
“Tapi, bagaimana bisa Song Haneul-sunbae mengambilnya?”
Kino dan Ryou merasakan hal yang aneh dari pernyataan itu. Kino menghampiri Ha Jinan yang kebetulan sedang memegang ponsel miliknya.
“Jinan-san, boleh perlihatkan itu padaku?”
Ha Jinan memperlihatkannya dan tampaknya Kino mencoba mencari sesuatu.
“Maaf, aku pinjam sebentar ponselnya”
“Ba–baik” Ha Jinan memberikan ponselnya
Ketika tangannya tanpa sengaja menyentuh jari Kino, dia sempat berubah merah karena malu. Tapi, tampaknya Kino tidak menyadari hal itu. Dia berjalan dengan cepat ke arah Ryou dan Kaito.
“Kalian, lihat ini. Ini semua foto-foto yang diambil oleh salah satu pembuat aplikasi itu”
“Song Haneul EHA? Ini nama pengirim foto di grup tersebut?” tanya Ryou
“Benar. EHA di sini sepertinya singkatan dari [Event Horror Apps]. Ini benar-benar foto yang dikirimkan dari luar. Tapi, sepertinya jarak waktunya sedikit membuatku penasaran” kata Kino sambil menunjukkan waktu foto dikirimkan
Ryou dan Kaito memperhatikannya baik-baik.
“Jaraknya hanya sekitar 10-15 menit? Kenapa bisa? Dengan semua makhluk itu di luar dan jumlah yang banyak seperti itu, apa ada penjelasan masuk akal mengenai hal ini?”
“Tidak. Ini mungkin saja bisa dilakukan kalau dia mengetahui jalan rahasia atau semacamnya” pikir Kaito
“Tolonglah, Kaito. Jalan rahasia itu sangat tidak normal di sini. Ini bukan ‘dunia malam’ yang bisa tiba-tiba muncul pohon besar entah dari mana. Ini dunia dengan setting normal”
“Oh…haaah”
Kaito hanya memberikan respon sederhana dan mendengarkan Ryou bicara.
“Kalaupun ada, plot armor itu hanya berlaku untuk tokoh utama dalam cerita. Sedangkan kita bertiga ini bukan tokoh utama di dalam manga atau anime, kita manusia normal yang sekarang nyaris menjadi mayat hidup” lanjut Ryou
Tampaknya, Ryou mulai memberikan sebuah pencerahan pada Kaito yang buta akan kehidupan modern. Tapi, ini bukan saatnya memberikan ceramah seperti itu.
“Ryou, lupakan soal plot armor yang kamu katakan. Kaito-san tidak mengerti hal seperti itu. Intinya, kita harus segera keluar dari sini dan setelah berhasil…hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari lokasi keberadaan Song Haneul-san. Hanya itu cara yang mungkin membuat kita bisa selamat dari situasi ini” ujar Kino
Ryou hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Kino memberikan ponselnya kembali kepada Ha Jinan.
“Su–sudah selesai?” tanya Ha Jinan sambil menatap Kino malu
“……” Ha Jinan hanya mengangguk pelan dengan pipi merah
Kaito mulai terlihat serius. Dari arah belakangnya, terdengar suara yang sangat tidak asing untuk mereka. Seorang mahasiswa berteriak melihat sebuah tangan yang mulai terlihat.
“Itu…itu…”
Terima kasih kepada mahasiswa itu, tamu tak diundang kembali datang dengan jumlah yang cukup banyak Sekarang, mereka harus berjuang untuk bisa selamat dari para zombie tersebut.
“Aku yang urus” Kaito dengan cepat segera menyerang mereka
Kino dan Ryou berlari mengikuti Kaito dari belakang.
“Kaito-san, tidak perlu membunuh semuanya! Cukup buka jalan untuk kami agar bisa lari dan segera sembunyi di ruangan yang sepi dan terbuka!” teriak Kino dari belakang
“Aku mengerti! Tapi akan aku usahakan untuk mengalahkan mereka semua sekaligus agar kita lebih aman!”
Kino bersama dengan yang lainnya berlari. Tapi, ketika mereka melewati sebuah ruangan dengan pintu terbuka, tiba-tiba ada lebih dari tujuh ekor zombie yang keluar lalu menangkap mangsa terdekat.
“Arrrgh!!”
Seo Garam dan Kang Ji Song menengok ke belakang.
“Tidak mungkin…”
“Kyaaa!!”
Tiga mahasiswa lain yang berada di belakang mereka terkena gigitan dan cakaran para zombie. Mereka tidak sempat menyelamatkan diri mereka meskipun memiliki penggorengan sebagai senjata.
“Kh…ini benar-benar tidak bisa dipercaya” gerutu Ryou
Wajah kedua gadis itu sangat pucat melihat ketiga teman yang sebelumnya pergi bersama mereka sekarang menjadi santapan zombie.
“Aa….aa…” Ha Jinan mundur sambil menangis
“Ini berbahaya. Siapa yang menyangka kita akan melihat sendiri hal seperti ini…” Kang Ji Song tidak kalah pucatnya
Dengan Kaito yang masih menghadapi zombie dari arah depan dan sekarang zombie muncul dari arah belakang mereka.
‘Sekarang aku benar-benar berharap Kino dan Ryou memiliki pedang atau senjata tajam untuk membantuku. Kemampuan bertarung mereka bisa berguna di sini. Selain itu…’
Belum selesai dengan pikirkannya, ketika Kaito mencoba untuk menyerang zombie yang ada di depannya, tiba-tiba zombie itu bisa dengan cepat mencoba menangkapnya.
Kaito menghindari tangan zombie itu dan memotong kepalanya. Tapi bukan hanya satu zombie yang bisa bergerak dan mencoba menangkapnya. Rupanya, zombie yang terus berdatangan itu terlihat lebih agresif dari yang sebelum ini.
‘Kenapa aku merasa gerakan para zombie ini…sedikit lebih cepat dari sebelumnya’ gumam Kaito dalam hati
Ryou yang melihat pemandangan di depannya langsung berlari sebelum para zombie itu selesai memakan tiga mahasiswa itu.
“Kino, kau tetap di sini”
“Ryou!” Kino mencegah sang adik untuk maju ke depan
Meskipun telah diperingati oleh Ryou, Kino tampaknya cukup senang berbuat nekad. Sungguhs kakak adik yang sangat mirip.
“Kino-ssi! Ryou-ssi!” Ha Jinan berteriak memanggil mereka
Mereka terkepung. Ryou segera mengambil penggorengan yang ada di lantai dan memukul tubuh para zombie yang sedang memakan tiga mahasiswa itu.
Sebelum mayat mahasiswa itu berhasil bangkit, Ryou langsung menginjak wajah salah satu dari mereka dan memukulnya dengan sangat keras berkali-kali. Namun, di dekatnya ada zombie lain yang siap menangkapnya.
Kino dengan cepat menendang tubuh mereka semua agar menjauh.
“Apa yang kamu lakukan? Jangan berbuat nekad seperti itu, Ryou!”
“Aku memiliki sifat seperti ini karena kau juga!” balas Ryou sambil memukul zombie lainnya
Seo Garam mencoba membantu namun dihalangi oleh Kang Ji Song.
“Ji Song! Kita harus membantu mereka!” seru Seo Garam
“Tanpa apapun di tangan, kita tidak akan bisa melawan mereka. Kita terjebak sekarang. Paling tidak, kita harus melindungi Kim Yuram dan Ha Jinan”
“Tapi…”
Kaito yang kelihatannya masih sangat sibuk mulai melihat celah. Ada sebuah ruangan bertuliskan perpustakaan di ujung lorong panjang dari arah kiri.
“Kalian berdua, abaikan makhluk di belakang! Kita lari ke arah sini! Pastikan kalian berlari dengan cepat karena aku hanya akan membukakan jalannya!”
Suara teriakan Kaito terdengar oleh mereka semua. Kino dan Ryou terpaksa meninggalkan semua para zombie itu lalu berlari mendekati Kaito.
‘Membuka jalan untuk menghindari para zombie yang mulai bisa melakukan perlawanan mungkin akan sulit. Tapi, aku tidak punya pilihan. Pertama-tama, harus memotong tangan mereka jika mereka mendekat!’ pikir Kaito
Kedua kakak beradik itu mulai meminta keempat mahasiswa yang tersisa untuk berlari. Penggorengan besar yang sempat diambil Ryou kembali dibawa olehnya sebagai senjata.
Kaito mulai meningkatkan kecepatan serangannya. Tapi, para zombie itu memang terlihat lebih agresif. Beberapa kali, orang-orang di belakang nyaris terkena sentuhan dan cakaran dari zombie-zombie itu.
Ryou selalu menjadi orang kedua selain Kaito yang menyingkirkan mereka berkat penggorengan yang dia bawa.
Setelah berhasil melewati para zombie di belakang mereka, mereka akhirnya hampir sampai di depan pintu perpustakaan. Pada saat Kaito membuka pintunya, tiba-tiba sesuatu mengejutkan Kaito.
******