
Kata-kata Theo membuat ketiga remaja itu terdiam dengan ekspresi tidak percaya.
“Aku ingin semua keinginan itu terwujud. Aku ingin bisa makan bersama kalian semua di meja makan seperti keluarga”
“Theo…”
“Setidaknya…setidaknya sebelum Kaito-nii pergi dengan Kino-nii dan Ryou-nii…kami…kami bisa mewujudkan keinginan itu…hiks…”
“Kami masih ingin bersama kalian. Hiks…huwaaaa”
Stelani dan Fabil kembali menangis. Mereka memeluk Kino kembali. Kino hanya bisa melihat mereka dengan wajah sedih sambil mengelus-elus rambut keduanya.
Joel menatap semua anak-anaknya menangis dan hanya bisa menghela napas pelan.
******
Ini terjadi beberapa waktu lalu sebelum Joel memutuskan untuk pergi menemui ketiga remaja itu.
Di bar [Barre des Noirs], Joel melihat anak-anak itu sudah cukup tenang dengan es krim mereka.
‘Sekarang, aku harus berpikir bagaimana caranya bisa menciptakan momen tepat’ pikirnya
Arkan yang baru selesai membantu membawakan es krim dan kue mulai merapikan meja tersebut. Semua piring dan gelas kotor dibawanya ke dapur bersama Maggy.
“Maggy-sama, apakah ini akan baik-baik saja?” tanya Arkan ketika mereka di dapur
“Aku hanya bisa menyerahkan semuanya pada Jey. Aku masih tidak bisa percaya dengan apa yang terjadi. Siapa yang mengira akan jadi seperti ini”
“Tapi…sejujurnya, ketika aku bertemu dengan pemuda bernama Kaito yang kau lihat barusan…aku memang merasakan hal yang menakutkan”
“Hal menakutkan?”
“Apakah manager tidak menceritakan semuanya padamu tentang Justin yang mati?”
“Aku dengar darinya. Jey mengatakan kalau dia mati setelah bertarung di ruangan yang biasa dia tempati di bar ini, kan?”
“Benar, tapi sebelum dia mati…dia bertarung dengan pemuda bernama Kaito itu. Selain itu, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau tubuh besar Justin ditendang dengan kuat begitu saja olehnya. Pintu dan dinding ujung yang rusak itu adalah ulahnya”
“Benarkah itu?!” Maggy terkejut mendengar semua itu
Dia mendengar sekilas tentang hal itu dari suaminya di hari ketika dia pulang. Saat itu, Maggy setuju ikut ke bar karena mendengar cerita Joel yang mengatakan bahwa ada masalah di bar dengan anak-anak jalanan yang diculik dan kematian Justin. Tapi hanya secara garis besarnya karena saat itu Joel terburu-buru ingin mengunjungi rumah sakit bersama anak-anak itu.
Setelah Maggy mendengar semua itu dari Arkan, hanya wajah cemas dan syok yang ditunjukkannya.
“Maaf karena memberitaumu hal seperti ini, Maggy-sama. Tapi sejak semuanya berubah menjadi hal yang sulit diterima begini, aku mengerti kecemasanmu”
“Aku…aku jauh lebih mencemaskan anak-anak itu sekarang. Mereka terlihat begitu sedih mengetahui bahwa mereka dapat terpisah dari para remaja itu dengan mudah. Apalagi setelah mendengar cerita bahwa semua ada hubungannya dengan kalung milik Theo” kata Maggy dengan eskpresi cemas
“Aku tau. Akal sehatku juga masih mencoba untuk menyangkalnya. Tapi…bukti yang ada tadi sudah mematahkan semua penyangkalanku” Arkan berjalan keluar dapur
Maggy masih terdiam dan menangis. Meski setelahnya dia menghapus air matanya dan kembali terlihat biasa saja demi menutupi mata sembabnya.
Joel yang masih menemani anak-anak itu terus mengawasi mereka, terutama Theo. Dia memutuskan untuk duduk di samping anak itu. Theo tampak tidak bersemangat dan membiarkan es krimnya mencair dalam mangkuk.
“Bocah, kalau kau tidak memakannya nanti mencair”
“Sudah cair”
“……” Joel terdiam
Mendengar jawaban singkat dari Theo, Joel mencoba bicara lagi dengannya.
“Kalau begitu coba makan kue krimnya. Ini sama seperti yang kau beli untuk Kino”
“Hiks…” Theo mulai menangis lagi mendengar nama Kino
Bodohnya Joel sebagai orang tua. Dia tidak membantu sama sekali. Niat hati ingin menghibur hati yang sedih justru membuat suasana kembali memburuk. Ucapannya itu bukan hanya terdengar oleh Theo tapi ke semua anak-anak di sana.
Seketika semua anak-anak itu berhenti memakan es krim dan kue krimnya. Dilanjutkan dengan suara tangis yang sedikit demi sedikit terdengar.
“Hiks…Kino-niichan…hiks…”
“Huwaa….hiks…hiks…”
Arkan yang baru saja keluar dari dapur harus mendengarkan ‘konser’ kembali. Dia langsung menatap sinis sang manager dengan sebuah kalimat menyakitkan.
“Manager, kau tidak bisa jadi orang tua yang baik”
-Jleb
Seolah terkena pisau yang tajam, Joel terlihat begitu syok. Tapi Arkan tidak salah. Dia memang hanya bisa membuat mereka menangis. Harusnya dia bisa menyadari bahwa nama ketiga remaja itu adalah hal paling tabu untuk saat ini.
“Ma–maafkan aku! Ayolah…jangan menangis lagi ya” Joel terlihat panik
Maggy yang datang mendekati mereka semua. Dia tidak akan bertanya siapa yang membuat anak-anaknya menangis. Siapa lagi pelakunya kalau bukan suaminya sendiri.
“Jey…”
“Aku tidak sengaja, Maggy”
“Dasar ceroboh!”
Tiba-tiba, Theo menggenggam baju Joel.
“Joel-papa…”
“……”
Sempat terdiam karena mendengar anak itu memanggilnya papa, Joel tidak ingin bersikap terlalu senang dan bertanya padanya.
“Ada apa?”
“Aku ingin mengatakan kalau…kalungku ini…sepertinya memang benar menyimpan hal aneh”
“Iya aku mengerti. Kau sudah cerita semua itu, bocah kecil”
“Bukan itu! Aku belum cerita pada kalian kalau kalung ini memang benar-benar menyimpan sesuatu yang aneh. Benda ini…benda ini bisa bersinar sendiri…” ucap Theo
“Bersinar?”
“Benar. Aku juga tidak tau tapi dia memang bisa bersinar sendiri” lanjut Theo sambil melepaskan kalungnya
Michaela pergi mendekati Theo dan Joel lalu berkata “aku pernah melihatnya bersinar”
“Benarkah itu?” tanya Joel pada gadis kecil itu
“Theo-niichan bilang itu karena pantulan sinar matahari tapi itu memang bersinar. Dia bersinar dan sangat cantik” jelasnya
Theo tidak tau bagaimana membuktikannya tapi dia yakin dia tidak bermimpi. Dia juga tidak berbohong soal itu.
Semua anak-anak tidak mengatakan apapun dan mempercayai apa yang dikatakan Theo. Ucapan Michaela juga memperkuat pernyataan Theo dan akhirnya Joel hanya mengangguk.
“Aku percaya. Joel-papa percaya pada apa yang dikatakan oleh anak-anak papa. Sekarang apa yang ingin kalian lakukan?”
“Kami ingin bertemu dengan Kino-niichan!!” Michaela langsung berteriak
Mendengar itu, anak-anak lain juga berkata hal yang sama.
“Kami juga”
“Aku ingin makan dengan Kino-niichan di restoran lagi”
“Hiks…Joel-papa, lakukan sesuatu”
“Iya, Joel-papa akan lakukan sesuatu. Tapi bagaimana mencari tau tentang keberadaan mereka? Aku tidak yakin mereka akan datang lagi ke tempat ini beberapa waktu. Wajah Kino sebelum pergi seperti mengisyaratkan hal itu”
Stelani dan Fabil menghampiri Joel.
“Joel-papa, kami tau dimana Kino-niisan tinggal!”
“Benar! Joel-papa kita ke sana sekarang ya! Kita ke sana sekarang dan bertemu Kino-niisan”
Anak-anak lain menghampirinya juga dan ikut merengek hal yang sama. Mendengar itu, Maggy dan Arkan langsung mencoba menenangkan mereka.
“Baiklah baiklah kita coba ke sana dan membuktikan apakah benar atau tidak. Tapi…hanya dua atau tiga orang saja yang ikut. Yang lain tunggu kami semua kembali ya”
“Tapi aku ingin ikut juga” rengek Michaela
“Aku juga” anak-anak lain juga merengek hal yang sama
Arkan mencoba memberikan saran terbaik.
“Bagaimana kalau yang pergi adalah Joel-papa kalian dan tiga kakak kalian? Nanti jika mereka bisa pulang, giliran kalian yang berkunjung ke sana. Penginapan itu tidak bisa dimasuki oleh banyak orang. Jika kakak-kakak kalian yang pergi, mereka bisa menghafal jalannya dan kalian bisa mengunjungi mereka lagi besok. Tidak buruk kan?”
Joel tersenyum senang.
“Karyawan durhaka! Kau lebih jenius dari kelihatannya! Aku suka ide itu. Biar Joel-papa dan kakak kalian yang pergi ya. Nanti kita pergi bersama lagi. Akan papa pastikan mereka tidak boleh pergi sebelum makan bersama kalian”
Dengan janji yang diucapkan oleh Joel, anak-anak setuju dengan itu dan memutuskan untuk menunggu di bar. Joel pergi bersama ketiganya menuju kawasan tempat tinggal penduduk.
Membutuhkan banyak waktu saat mereka sampai di sana karena mereka harus mencari penginapan yang disebutkan oleh Fabil sebelumnya.
“Fabil, apa benar penginapannya ada di sekitar kawasan penduduk ini?” tanya Joel yang masih mencari penginapannya
“Benar, Joel-papa! Kami tidak berbohong”
“Kino-niisan juga tidak akan berbohong. Joel-papa! Kami yakin sekali”
“Iya iya, papa percaya”
Joel mengatakan hal itu, tapi dia sendiri masih belum menemukan dimana alamatnya. Hanya selang sekitar lima menit, dia bertanya pada seseorang dan berhasil menemukan letak penginapan itu.
“Di sini rupanya. [Hébergement Clarks] ya…ayo masuk. Ingat ya…nanti biar Joel-papa yang mengatur. Kalian bertiga jangan menangis dulu. Harus tahan air mata, janji?”
“Janji” jawab ketiganya
Mereka masuk dan langsung disambut oleh seorang pelayan wanita di meja resepsionis yang baru saja selesai melayani tamu.
“Selamat datang, ada yang bisa dibantu?”
“Kami ingin bertemu dengan Kino. Apakah dia ada di sini?”
“Kino?”
“Benar. Apa kami bisa bertemu dengannya?” tanya Joel
Pelayan wanita tersebut memeriksa daftar orang yang menyewa tempat tersebut.
“Maaf, di sini tidak ada pelanggan atas nama Kino”
“Mustahil! Kino-nii pasti di sini!” Theo langsung membentak pelayan wanita tersebut
“Maaf, tapi di dalam daftar ini memang tidak ada pelanggan bernama Kino” jelasnya
“Kalau begitu, apa ada penyewa bernama Kaito?” tanya Joel
“Kaito?”
“Benar. Remaja yang membawa pedang tanpa sarung pedang di pinggangnya. Seharusnya dia menginap di sini. Apakah bisa kami bertemu dengannya?”
“Kaito? Remaja yang membawa pedang tanpa sarung? Kalau penyewa dengan ciri-ciri tersebut, beberapa waktu lalu baru saja kembali dari luar bersama dengan dua orang temannya yang lain. Mereka menyewa tempat ini sejak seminggu lalu” jelas pelayan wanita tersebut
“Itu! Bisa tolong panggilkan dia?” Joel terlihat bersemangat
“Ba–baiklah. Mohon tunggu di sini sebentar. Kami coba panggilkan dulu”
Seorang pelayan lain ke lantai atas untuk memanggil penyewa yang dimaksud.
“Mohon tunggu sebentar, tuan. Silahkan bisa menunggu di sebelah sana” kata pelayan sambil menunjuk tempat di dekat tangga
Selagi menunggu, ketiga anak itu terus terlihat gelisah.
“Kaito-nii ada di sini kan, Joel-papa?” Theo bertanya pada Joel dengan wajah cemas
“Dia pasti ada di sini. Tenang saja” jawab Joel sambil tersenyum
Sempat bicara dalam hati sambil menatap Theo dengan perasaan haru.
‘Akhirnya aku lulus dari sebutan mesum sungguhan! Inikah yang disebut kemenangan mutlak? Akhirnya aku menjadi orang tua yang diakui. Selamat untuk diriku sendiri!’
Baru terlihat senang seperti itu, mereka terkejut saat melihat pelayan wanita itu turun dengan seseorang yang tidak asing untuk keempatnya. Itu adalah Kaito, benar-benar Kaito. pakaiannya sudah berganti dan dia tampak terkejut dengan kehadiran mereka.
“Kalian, kenapa…”
Sebelum selesai bicara, ketiga anak itu langsung memeluknya sambil menangis.
“Kaito-nii!”
“Kaito-niisan…hiks…”
“Kaito-niichan, benar-benar Kaito-niichan…”
“……!!!” Kaito terkejut dan tidak bisa melakukan apapun
Dia mulai menatap Joel yang sekarang berdiri di depannya.
“Kaito…mereka ingin bertemu dengan kalian”
Dengan bingung, Kaito segera melepaskan pelukan ketiganya.
“Kita bicara di dalam. Jangan menangis di sini”
Lalu, Kaito menghampiri pelayan wanita di meja resepsionis. Setelah mendapat ijin untuk membawa masuk tamunya, mereka naik ke atas. Anak-anak itu langsung berlari untuk jalan di dekatnya. Meskipun Kaito tidak memiliki banyak kesiapan untuk menyambut mereka setelah keributan di bar, tapi dia tidak menolak mereka yang mendekatinya.
Setelah sampai di ruangan, hal selanjutnya yang terjadi adalah yang seperti diketahui.
******
Di waktu sekarang, di ruangan yang disewa oleh ketiganya.
Joel masih memperhatikan semua anak-anaknya menangis sambil memeluk kakak-kakak yang mereka sukai itu.
“Jangan menangis ya. Sudah-sudah, jangan menangis lagi” Kino mencoba menghibur mereka
Meskipun tidak begitu berhasil, tapi setidaknya kedua anak yang memeluknya mau menghapus air matanya lagi.
Kino melihat ke arah Ryou dan Kaito yang menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tak tau apa yang harus dilakukan. Respon itu dijawab dengan senyuman manis oleh Kino dan melihat Stelani dan Fabil.
“Dengar kalian semua, Joel-san juga. Kami memang ingin pergi dari sini secepatnya. Tapi lihat ini? Aku masih terluka sekarang…”
“Kino…” Ryou mencoba memanggil sang kakak namun dihentikan oleh Kaito
“Biarkan dia yang menyelesaikannya, Ryou. Kita percayakan semua pada kakakmu” bisik Kaito
“……” Ryou hanya bisa diam sambil menatap sang kakak dari jauh
“Aku masih terluka sekarang dan sekalipun kami pergi setelah mendapatkan kepingan ingatan Kaito-san, luka milikku ini mungkin saja akan semakin parah. Jadi…”
“Jadi?” Stelani terlihat penasaran
“Jadi kami memutuskan untuk tinggal sebentar lagi di sini sampai lukaku sedikit membaik. Selama itu, kami akan pergi dari ‘dunia’ ini. Kami juga masih memiliki satu hari lagi untuk tinggal di penginapan ini. Mungkin kami akan mencari tempat tinggal lain untuk menginap atau…”
“Atau aku akan memperpanjang sewa tempat ini sampai Kino benar-benar sembuh”
******