Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 292. Ujian Masuk Akademi Sekolah Sihir: Area Level A bag. 3



Ryou terlihat senang saat masuk ke dalam arena.


"Mohon bantuannya, penguji"


"Tentu. Senang kalau kau mau menemaniku di sini. Mungkin dari kalian di belakang ada yang mau menemani peserta ini juga?"


Xenon melihat mereka yang ada di belakang Ryou. Seorang gadis bertelinga kucing yang sempat berdiri di samping Ryou maju.


Dengan gemetar dan malu-malu, gadis itu mengangkat tangannya.


"Aku mau ikut melawanmu, penguji"


Ryou memperhatikannya, 'Gadis ini yang tadi di sampingku, kan?'


Sekilas, Ryou memperhatikannya. Gadis bertelinga kucing itu memiliki semacam cambuk panjang dan juga tampak cukup terbiasa dengan pertarungan jarak jauh.


"Kau yang tadi kan? Yang bertanya padaku saat aku bicara sendiri" tanya Ryou


"Iya. Aku ingin coba melawan penguji itu. Dia terlihat begitu kuat jadi mungkin saja aku punya kesempatan untuk lulus"


"Hmm..." Ryou hanya bisa merespon dengan deheman dan wajah datar


Xenon tersenyum. Dia bertanya sekali lagi pada peserta yang tersisa.


"Baru dua orang. Jika ingin maju secara berkelompok, aku tidak keberatan jika harus melawan kalian sekaligus"


Peserta lain syok mendengar hal tersebut.


"Apa?! Sekaligus?!"


"Itu terlalu berlebihan! Biarpun penguji, kau terlalu meremehkan kami!"


"Kenapa? Bukankah kalian yang menganggap penguji meremehkan peserta itu justru yang paling berlebihan? Wajar jika penguji melakukan hal itu"


"Selain itu, semakin kalian menunda diri untuk maju melawanku, semakin lama pula kalian akan lulus. Jika sampai tidak selesai satu hari ini maka kalian semua aku nyatakan gugur"


Xenon seperti sudah sangat ahli dalam memainkan kata-kata.


Apa yang diucapkannya itu adalah kalimat untuk menguji mental apakah peserta mudah tersulut emosi lalu maju untuk menantangnya atau mau berpikir dua kali sebelum bertindak.


'Yang manapun pilihannya, kalian harus tetap melawanku. Jika kalimat provokasi yang aku lakukan bisa memancing mereka, hal ini akan lebih baik'


'Selain itu, tidak peduli seperti apa kekuatan mereka, aku akan langsung bisa menilainya. Lagipula, di antara mereka semua ada peserta yang harus diwaspadai'


Xenon menatap peserta dengan dua pedang di pinggangnya. Peserta itu melihat dari jauh dan tampak seperti mengamati.


'Dia berbahaya. Jika sampai aku melawannya bersama Ryou, mungkin aku harus sedikit serius' pikir Xenon dalam hati


Namun, pada akhirnya hanya Ryou dan gadis itu yang maju.


"Tampaknya kalian masih ingin menunggu ya. Baiklah, tidak masalah. Kita mulai ujiannya. Jadi, kalian berdua ingin memakai sihir atau senjata?" tanya Xenon


"Sihir. Karena aku tidak punya senjata di tanganku" jawab Ryou dengan percaya diri


"Bagaimana denganmu?"


"Aku menggunakan senjata. Karena sihirku hanya sihir pertahanan jadi aku akan melawan dengan cambuk ini"


"Begitu. Karena kalian memiliki pilihan berbeda jadi aku rasa aku akan menggunakan tangan kosong lagi. Kita mulai"


Begitu dimulai, gadis kucing itu langsung mengeluarkan campuknya.


"Hiyaaa!!"


Gadis itu mengarahkan cambuknya untuk menangkap tangan Xenon. Dengan cepat dia menarik tangannya dan menyerangnya dengan tendangan.


Kedua tangan Xenon menahan tendangan itu, namun cambuk gadis itu tidak dilepaskan begitu saja.


Gadis kucing itu menyerangnya dengan cepat. Dia melompat lalu menendang, melompat dan menendang, terus seperti itu.


'Dia seperti kucing yang memburu mangsanya' kata Xenon dalam hati sambil menerima serangannya


"Aku akan mengalahkanmu, penguji!!"


Tangannya mengeluarkan cakar dan saat hendak mencakar bagian depan Xenon, Xenon langsung menghindar.


Penguji itu menjatuhkan dirinya sendiri kemudian dengan cepat bangkit kembali dan menarik cambuk yang mengikat tangannya.


"Eh?! Ditarik...huwaaa!!"


Gadis itu ikut ditarik bersama cambuknya oleh Xenon.


Dengan tangan kosongnya dia nyaris meninju gadis itu. Tapi, hanya selang beberapa detik ada sebuah serangan api dari belakang.


[Fire Javelin]


Sebuah tombak api menyerang Xenon. Xenon terpaksa menghindar ke sisi samping dan melihat lawan lainnya.


"Sudah selesai melihatnya dari tadi?"


Xenon bertanya pada Ryou yang sudah siap dengan lemparan sihir apinya yang kedua.


[Fire Javelin]


Lembing api kembali ditembakan. Kali ini Xenon benar-benar hanya menghindari serangan tersebut.


"Katanya ingin melawan!" teriak Ryou kesal


"Aku akan melawan jika aku sudah ingin melakukannya"


Kalimat Xenon seperti sebuah ledekan untuk Ryou, tapi dia paling tau kemampuan Xenon sejak mereka telah berlatih bersama sebelumnya.


Ryou berkata dalam hatinya.


'Dia menyebalkan tapi dia kuat. Kalau sampai terpancing, aku hanya akan jadi bulan-bulanan seperti pria besar itu'


'Selain itu, pria besar itu juga bodoh. Dia punya perisai tapi tidak digunakan. Kalau dia tidak menggebu-gebu menyerang, dia mungkin bisa menahan tendangan itu'


Kali ini, Ryou memilih melawan dari jarak dekat. Serangan kombinasi dadakan dari gadis kucing dan Ryou cukup bagus.


Setiap kali Xenon hendak menjauh, gadis itu langsung menarik kembali cambuk yang mengikat tangan Xenon dan menariknya agar mendekat.


Di saat itu, Ryou langsung menggunakan kesempatan untuk menembakan lembing apinya.


Xenon cukup mudah menghindari serangan itu. Tapi belum selesai berdiri, gadis kucing itu kembali menarik Xenon sehingga dirinya terjauh dan harus siap menerima cakaran gadis kucing.


"Rasakan ini!"


-Slaaash


"Mengejutkan. Aku rasa aku sudah cukup melihat itu"


-Kreek...Kreek....


"Kali ini giliranku" dengan membunyikan jarinya, Xenon bersiap membalas serangannya kali ini


Dia berlari ke arah Ryou terlebih dahulu. Dengan kemampuan beladiri, dia mengarahkan tendangan dan pukulan pada Ryou.


Ryou menghindari semua itu dengan mudah.


"Kau terbiasa bertarung rupanya"


"Ini disebut pertahanan diri. Kalau permainan fisik, aku juga bisa"


Ryou membalas dengan tendangan ke arah perut Xenon. Sebelum mengenai perutnya, Xenon menangkap kakinya.


"Kau itu melanggar peraturan. Tangan kosong itu dianggap senjata di sini" kata Xenon santai


"Tadi kan aku bilang ini pertahan diri"


Ryou memutar tubuhnya dan mencoba melepaskan kakinya dari tangan Xenon. Di saat itu, gerakan Ryou dikunci oleh Xenon dengan mudah.


"Cih!" umpat Ryou


[Fire Blast]


Tembakan bola api langsung dikeluarkan oleh Ryou dari jarak dekat.


"......" Xenon menghindar dengan diam


Karena tembakan api tersebut, Xenon terpaksa melepaskan tangannya dari kaki Ryou


Baru menghindari serangan Ryou, Xenon mendapat tendangan kejutan dari gadis kucing.


Xenon terpaksa menerima serangan tersebut dengan kedua tangan mengilang. Biarpun tidak bisa membuatnya mundur, tapi gadis itu senang bisa memberikan serangan pada penguji.


"Berhasil! Aku berhasil melukai penguji"


Xenon tersenyum melihat usaha gadis kucing itu. Ryou mengeluarkan bola sihirnya selagi Xenon masih belum dirasa fokus padanya.


"Hadiah kecil untuk penguji"


[Fire Blast]


"Selamat menerima hadiah dariku, sensei!"


-BOOOOM


Serangan itu langsung mengarah dan diterima Xenon dengan baik.


Tapi tampaknya masih belum cukup membuat Xenon kalah. Dia hanya perlu bergerak dengan kecepatan untuk menghindari bola api tersebut.


"Hah?!" Ryou terkejut


Lebih mengejutkan lagi, yang nyaris terpanggang adalah gadis kucing yang sebelumnya menyerang Xenon.


"Kenapa kau yang ada di situ?!" tanya Ryou panik


"Harusnya aku yang bertanya! Kenapa kau jadi mau membunuhku?!"


"Kemana penguji menyebalkan itu?!"


Ryou yang masih mencari sosok Xenon tidak tau bahwa dia sudah ada di belakangnya.


"Apa?! Waaakh!!"


-Bruuuuk


Xenon langsung menjatuhkan Ryou dan menahan tangannya ke belakang. Dia mengunci Ryou sehingga tidak bisa bergerak.


"Ternyata kalau tidak satu lawan satu, kau lemah ya"


"Cih! Bangun dari tubuhku sekarang!"


"Ahahaha, iya. Kau lulus, selamat. Tapi aku ingin tau pendapat pengawas ujian"


"Kenapa?" tanya Ryou heran


"Aku sudah bilang, serangan fisik di sini akan dianggap sebagai penggunaan senjata. Kau menendangku tadi di saat kau memilih sihir di ujian [Area Level A]"


Xenon melihat Jessie dan Jene.


"Pengawas, apakah ini anggap sebagai pelanggaran? Aku menyatakan dia lulus, bagaimana pertarungan tadi?"


Jessie mengangguk, "Dia lulus. Yang tadi hanya akan dianggap sebagai pertahanan diri"


"Tidak masalah" Jene menjawab singkat


"Baiklah. Selamat, peserta nomor 87 lulus"


Xenon bangun dari atas tubuh Ryou. Dengan gerutuan khasnya, dia mulai marah-marah pada sang penguji.


"Kau itu bagaimana?! Kalau mau menjelaskan peraturannya itu jangan setengah-setengah! Bilang dari awal kalau serangan fisik dianggap sebagai pilihan senjata! Dasar penguji gadungan!"


"Aku belum menjelaskan itu ya?"


"Belum!!" teriak Ryou. Dia kembali menunjuk-nunjuk wajah Xenon "Kau itu niat jadi penguji atau tidak?!"


"Oh aku lupa. Ehem, jadi anak-anak...jika kalian memilih sihir, kalian dilarang menggunakan serangan fisik ya. Mengerti?"


Jessie dan Jene menggelengkan kepala mereka.


"Xenon..."


"Dasar ipar bodoh. Dia benar-benar lupa rupanya. Haduh"


Gadis kucing yang hampir terpanggang itu berjalan mendekati Xenon.


"Penguji..."


"Ah, maaf. Peserta nomor 99 dinyatakan lulus. Selamat ya"


"Nyaaa!!" gadis kucing itu langsung melompat karena senang


Pos 2, ruang ujian [Area Level A] telah meluluskan 2 orang dan menggagalkan 4 orang dari total 60 peserta. Sisa peserta 54 orang yang harus diuji.


******