Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 189. Awal dari Rencana



Tatapan dingin Kaito benar-benar membuat Kim Yuram kehabisan kata-kata. Dia begitu takut untuk menatap matanya.


Hanya beberapa saat kemudian, Ryou berdiri di depan gadis yang mematung itu dan berhadapan dengan Kaito sekarang.


“Kaito, cukup. Jangan bicara apapun lagi. Aku paham kalimatmu itu, tapi kita dan mereka memiliki situasi yang sama”


“……”


Kim Yuram melihat punggung Ryou yang berada di depannya dengan mata memerah seakan menahan tangis.


“Aku hanya mengatakan apa yang terjadi saat ini. Itu semua benar, kan?”


“Aku tau. Tapi, mengatakan hal dingin dengan sorot mata yang menakutkan seperti itu pada perempuan…itu bukan hal yang pantas dilakukan oleh laki-laki. Itu yang ingin aku katakan padamu”


-Deg


Seperti ada yang menyentuh jantungnya, kalimat Ryou begitu lembut masuk ke dalam telinganya. Meskipun mulutnya pedas, tapi sikapnya yang beberapa kali menolongnya membuat Kim Yuram merasa bahwa dia mungkin memahami apa yang dirasakan Ha Jinan pada Kino sebelum ini.


Lagi-lagi, musim semi bermekaran di situasi seperti ini.


Kino mencoba menenangkan mereka juga.


“Kaito-san, aku mohon tenanglah. Jangan marah lagi, ya. Tahan emosimu untuk sekarang, aku mohon”


“Aku mencoba untuk tetap mempertahankan akal sehatku, Kino. Jangan khawatir”


“Tidak tidak tidak, kau tidak sedang mempertahankan akal sehat. Kau tersinggung. Aku yakin itu” jawab Ryou dengan yakin


“Tersinggung?” gumam Kim Yuram pelan


Ryou melirik ke belakangnya dan bicara pada Kim Yuram.


“Ingat tadi kau panggil dia apa? Kau memanggilnya jahat. Ucapanmu itu cukup membuat siapapun kesal. Jujur saja, kalau aku dibilang begitu oleh orang yang kutolong, aku mungkin tidak akan peduli lagi pada nasib orang itu”


“……” Kim Yuram melihat Kaito


Kaito tidak memedulikan hal itu dan meninggalkan mereka. Dia mengeluarkan pedangnya kemudian membuka pintu dan keluar dari ruangan itu sendiri.


Semua orang melihatnya. Ryou bicara pada Kim Yuram.


“Aku tidak tau kenapa kau bisa mengatakan kalimat sederhana yang menyebalkan itu, tapi aku setuju dengan pendapat Kaito. berhati-hati itu penting”


“Aku…aku hanya mengatakan apa yang kuanggap benar”


“Dan dia juga mengatakan apa yang dia anggap benar” ucap Ryou tegas


“……”


“Haa~sudahlah. Kaito itu memang sedikit sulit dipahami, tapi dia tidak akan bersikap dingin tanpa alasan. Anggap saja dia benar-benar sedang tidak enak hati. Selain itu, alasan aku setuju dengan pendapatnya karena makanan-makanan yang sudah susah payah kita dapatkan tidak mungkin kita berikan dengan cuma-cuma”


Kino mencoba mengalihkan arah pembicaraan ini.


“Ryou, sebaiknya jangan bicarakan hal seperti itu dulu dan kita fokus pada rencana kita”


“Be–benar. bukankah kita berniat untuk pergi dari sini dan menuju ruang praktikum. Sekarang, bagaimana?” Seo Garam menambahkan


“Kita putuskan bahwa mungkin sebaiknya kita pergi bersama. Tidak mungkin juga kalau satu atau dua orang dari kita pergi ke ruang praktikum lalu kembali lagi ke atas. Lagipula, kita harus segera keluar dari tempat ini untuk menyelesaikan event”


Kang Ji Song mengutarakan idenya dan tampaknya Seo Garam menyetujuinya.


“Aku rasa itu tidak buruk. Bagaimana?”


“Yang jadi masalah, bagaimana dengan mereka yang dikatakan ada di ruang kelas KA06? Kaito dan gadis ini berdebat karena itu. Aku tidak mau kita sampai mengalami kesulitan karena mereka. Sudah cukup dengan Park Cho Joon sebelumnya” gerutu Ryou


Ryou menambahkan sebuah kalimat pelan yang tidak bisa didengar oleh yang lain.


“Aku ragu si pengecut itu masih hidup”


Kino merasa bahwa dia sependapat dengan Kim Yuram. Setidaknya, semakin banyak yang hidup maka semakin bagus.


“Aku akan coba bicara dulu dengan Kaito-san. Tolong tunggu sebentar di sini ya”


“Kino-ssi, apa aku boleh ikut juga?”


“Ha Jinan-san sebaiknya di sini”


Kino berjalan ke arah pintu dan keluar untuk bicara dengan Kaito. Ha Jinan mendekati Kim Yuram dan memintanya tenang. Sedangkan Ryou sibuk dengan ponsel Seo Garam yang dipinjamnya.


“Jinan, apa menurutmu aku salah berpikir begitu?” tanya Kim Yuram dengan raut wajah sedih


“Aku…aku mengerti kalau Yuram ingin menyelamatkan semuanya. Aku juga measa mungkin kita bisa menyelamatkan yang lainnya. Hanya saja, Yuram dan aku tidak bisa melawan mereka dan…Kaito-ssi sudah banyak menyelamatkan kita berkali-kali”


“Aku rasa aku akan minta maaf padanya”


“Kurasa itu hal yang bagus. Nanti, aku akan menemanimu” Ha Jinan tersenyum


Ryou masih memantau isi chat yang ada dalam grup komunitas, dengan harapan akun bernama [Go Yu Bin 2] mengirimkan sesuatu kembali.


Lalu, setelah itu Ryou membuka dan melihat tiap balasan dari aplikasi [Event Horror Apps].


“Berbeda dengan grup komunitas, grup di aplikasi terkutuk ini justru semakin ramai dengan permintaan tolong. Sudah begitu, semua itu ditujukan untuk Baek Hyeseon sialan itu rupanya’


Ryou terus melihat banyak chat yang masuk dan tentu saja dia semakin kesal dengan semua balasan dari Baek Hyeseon yang seakan-akan dia telah berhasil menyelamatkan orang lain juga.


“Dia ini tidak tau malu ya? Aku yakin semua balasan ini adalah kebohongan. Dia menggambarkan seolah-olah berhasil menyelamatkan beberapa orang yang datang padanya, padahal dia baru melempar temannya sendiri sebagai makanan”


“Apa isinya?” Seo Garam melihat isi balasan chat


“Dia berkata bahwa ada beberapa orang yang memutuskan pergi ke tempatnya dan sempat mengalami pengepungan saat menuju gedung arsip. Namun, mereka berhasil menyelamatkannya dan mengurangi jumlah zombie di luar tempat itu. Kisah yang heroik sekali, bukan?” kata Ryou kesal


“Ini dibuat untuk lebih meyakinkan semuanya kalau tempat itu aman, begitu ya”


“Benar. Ada jebakan bergerak di sana”


“Jebakan?”


“ Benar. Pikirkan kemungkinan ini. Kemungkinan besar kelompok mereka memang mempunyai senjata bersama mereka dan beberapa orang yang memutuskan untuk pergi ke tempat itu membawa makanan serta keperluan lain. Otomatis, mereka akan pergi ke sana demi mencari pertolongan”


“……” Seo Garam mendengarkan penjelasan Ryou


“Mereka akan mulai berpikir bahwa jumlah zombie benar-benar telah dikurangi. Lalu, ketika mereka menuju ke sana, kemungkinan mereka akan diserang dan semua persediaan makanan itu terbuang saat itu terjadi”


“Lalu…”


“Lalu mereka mengambilnya selagi orang-orang yang masih hidup menjadi umpan mayat hidup itu”


“……!!!” Seo Garam terkejut


Kang Ji Song yang mendengarkan itu juga ikut berubah pucat.


“Jadi itu maksudnya…jebakan bergerak”


“Benar. Jebakannya merujuk pada mayat hidup itu dengan mahasiswa yang termakan informasi ini sebagai umpan hidupnya. Tapi, jika kita membocorkan itu bisa membuat semua orang yang ada di gedung arsip dalam bahaya. Di sini, kita tersudut. Selain itu, semua dugaan itu hanyalah teori sederhana yang mungkin saja sulit dilakukan” mata Ryou terlihat serius


‘Meskipun benar mereka mengunakan umpan hidup dan cara itu berhasil, menyelamatkan mereka adalah opsi lain. Tujuan utama tetaplah Song Haneul dan permata milik Kaito!’ pikir Ryou dalam hati


Di luar ruangan, Kino bicara pada Kaito.


“Kaito-san…”


“Kenapa keluar. Aku hanya ingin berjaga takut ada yang datang”


“Apa kamu marah karena perkataan Yuram-san?”


“Aku tidak marah. Aku hanya merasa dia begitu naïf. Atau…mungkin benar ucapannya. Akulah yang jahat di sini”


Kaito terlihat sendu. Sebuah ekspresi yang belum pernah diperlihatkannya sejauh ini.


“Kaito-san tidak jahat. Aku yakin, Yuram-san mengatakan hal itu karena dia khawatir pada keselamatan semua orang. Kalau boleh jujur, aku juga berharap untuk menyelamatkan mereka bertiga yang ada di ruang lantai satu itu”


“Kino…”


“Mungkin karena aku juga naïf seperti yang kamu katakan”


“Semakin banyak orang, akan semakin sulit melindungi mereka. Kecuali kita bisa melakukan sesuatu pada…” Kaito sempat diam sesaat


“Kaito-san…”


“Mungkin saja bisa. Kita mungkin bisa melakukan sesuatu”


“Maksudnya?”


“Kita bisa melindungi mereka semua dan mencari informasi mengenai keberadaan Song Haneul beserta item spesial yang disebut oleh Jung Leon”


“Apa Kaito-san sudah memikirkan sebuah ide?” Kino bertanya dengan rasa semangat


“Ada satu. Dan ini harus dibicarakan bersama”


“Kalau begitu, kita coba bicarakan”


Kaito memasukkan kembali pedangnya dan masuk ke dalam ruangan kembali bersama Kino. Begitu masuk, Kim Yuram langsung menghampirinya dengan wajah penuh penyesalan.


“Kai–Kaito-nim…aku…”


Kaito memotong ucapan gadis itu lalu minta maaf padanya


“Aku minta maaf karena sudah mengatakan hal yang jahat padamu”


“Eh?”


“Kau benar. Mungkin kita bisa menyelamatkan mereka. Aku memiliki sebuah rencana dan sepertinya itu berhubungan dengan gedung arsip”


******