
Seo Garam dan Kang Ji Song yang mendengar itu dari jarak dekat tidak bisa berhenti menatap Ryou dengan ekspresi syok tidak percaya.
“Ryou…dan Kaito-nim…”
“Mustahil…”
Ryou kembali menatap dingin Baek Hyeseon.
“Jadi, kuucapkan selamat karena kau sedang bicara dengan pembunuh sesungguhnya yang sudah mengotori tangannya sendiri untuk melenyapkan pengecut menyebalkan sepertimu”
Kino ingin berteriak mendengar sang adik berkata seperti itu, namun dia tidak inginn membuat semua keadaan menjadi sulit. Dia menggigit bibirnya sendiri karena menahan kata-katanya.
Dengan Kaito yang telah melukai semua tangan teman-teman Baek Hyeseon, itu membuat keadaan sedikit lebih baik.
“Ha Jinan-san, Kim Yuram-san…”
“Ki–Kino-ssi…”
“Tolong bagikan semua makanan dan minuman yang ada kepada semua orang-orang itu”
Tidak ingin banyak bertanya, kedua gadis itu langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Kino. Makanan dan minuman yang jatuh ke lantai diambilnya satu per satu untuk dimasukkan kembali ke dalam tas lalu dengan panik, mereka membawanya ke belakang dan memberikannya pada para mahasiswa itu.
Wajah mereka ketakutan dan ada beberapa yang menangis.
Seo Garam langsung berdiri dan memaksa Baek Hyeseon untuk bangun.
“Kau pembunuh…”
Baek Hyeseon yang masih menahan rasa sakit mulai tersenyum. Senyuman yang sangat licik dan benar-benar tidak pantas untuk dimaafkan.
“Haha…ini…adalah waktunya untuk…menentukan hidup dan mati…”
“Sunbae…kau jahat sekali! Kau juga paham mengenai keadaan saat ini lalu kau mengabaikan hidup yang lain hanya demi–”
“Kau kira semua keanehan dan kekacauan ini disebabkan oleh siapa? Ini semua adalah kesalahan tiga programmer bodoh yang seenaknya saja melakukan permainan seperti ini…”
“……” Seo Garam masih menatap Baek Hyeseon dengan penuh kebencian
Tapi, Ryou bukan tipe orang yang suka menjaga momen tertentu. Tidak mau membuang waktu, dia langsung menarik kerah pakaian Baek Hyeseon. Hal itu membuat Seo Garam terpaksa melepaskannya.
“Ryou…”
“Sekarang, aku akan memberitaukan hal penting padamu. Kami datang karena ingin menghentikan perbuatanmu itu. Dia memperingatkan kami semua tentang semua yang kau lakukan dan itu membuat kami berpikir bahwa mungkin kami bisa melakukan sesuatu padamu”
“Lepaskan…aku! Jauhkan tangan kotormu itu dariku…sialan…”
Ryou sudah terlanjur kesal dengan semua yang dilakukan oleh Baek Hyeseon. Setelah itu, dia berdiri sambil menarik Baek Hyeseon.
Dia sempat berhenti sebentar dan melihat ke belakang.
“Kalian yang ada di belakang, siapapun juga…buka penghalang itu untukku sekarang”
Kino sempat terkejut mendengar itu. Dia langsung menghampiri Ryou dan menghentikan niat sang adik.
“Apa yang mau kamu lakukan padanya, Ryou?”
“Aku akan melakukan hal yang sama dengan apa yang sudah dia lakukan pada yang lain”
“Itu tidak boleh! Aku tidak mengizinkannya”
“Kino, aku dan kita semua tidak sedang dalam kondisi tepat untuk memilih. Dia yang bisa melempar lebih dari sepuluh orang sekaligus bukanlah manusia yang pantas untuk diselamatkan. Lagipula, luka yang kubuat di pinggangnya akan membuatnya mati perlahan”
“Tidak boleh! Aku tidak menerima apa yang kamu lakukan! Bukankah kamu sudah berjanji–”
“Aku berjanji untuk melindungimu. Dan aku rasa, semua cara harus dicoba. Termasuk menyingkirkan pengganggu sepertinya”
“Aku tidak ingin Ryou berubah menjadi orang yang kejam!”
“Lebih baik aku menjadi kejam demi melindungimu dan Kaito daripada harus mempertaruhkan nyawa untuk melindungi orang seperti ini!”
Semua orang melihat itu. Kaito hanya bisa terdiam.
Di saat fokus Kaito tertuju pada pertengkaran kakak adik itu, salah seorang teman Baek Hyeseon mencoba mengambil pisau dapur yang ada di dekatnya dan melemparkannya ke arah Kaito.
Kaito menghindar dan terpaksa memotong lengannya dan menusuk dadanya dengan pedang. Itu benar, di tempat itu akhirnya Kaito membunuh seseorang.
Kino yang melihat itu begitu syok. Bukan hanya Kino, Ha Jinan dan Kim Yuram, Seo Garam dan Kang Ji Song juga ikut terdiam.
Darah mengalir dari tubuh mahasiswa yang baru saja terbunuh akibat kecerobohannya sendiri.
Kaito menatap Kino dengan ekspresi wajah serius.
“Kino, ini bukan soal mempertahankan kemanusiaan. Dalam kondisi seperti ini, jika kita mempertahankan satu parasit maka dampaknya akan sangat fatal. Dia bisa saja membunuh kita semua. Ditambah lagi, teman-temannya cukup setia padanya”
“Kaito…-san…” Kino menjadi syok melihat hal itu
“Membunuh mereka bisa menyelamatkan semua. Opsi mempertahankan mereka yang mencoba mengancam nyawa itu bukan pilihan terbaik. Lagipula, kita tidak akan dituntut dalam situasi seperti ini”
“……” Kino terdiam tanpa berkata apapun
Ryou melihat sang kakak begitu syok. Namun, dia tidak ingin mengambil resiko. Tujuan utama mereka adalah menjadikan tempat itu sebagai tempat yang aman bagi semua mahasiswa. Jika sampai pengganggu utama tidak disingkirkan maka hanya akan menjadi masalah baru.
“Ibarat penyakit, harus dituntaskan sampai ke akar. Dan Baek Hyeseon pantas menerimanya” ucap Ryou
Baek Hyeseon mencoba melepaskan diri dari Ryou dengan menahan rasa sakitnya, namun semakin dia bergerak maka semakin banyak darahnya yang keluar.
Beberapa mahasiswa mulai memberanikan diri untuk membantu Ryou dan membuka penghalang pintu.
Seo Garam awalnya ingin menghentikan Ryou, tapi tampaknya air mata keluar karena tidak bisa menahan kemarahannya.
Ha Jinan dan Kim Yuram ikut menangis. Kang Ji Song hanya bisa menendang buku yang berserakan di sana sambil mengumpat dengan banyak kata-kata kasar lalu berteriak.
Kaito menatap ketujuh teman-teman Baek Hyeseon dengan tatapan dingin.
“Mungkin ada di antara kalian yang ingin menemani Baek Hyeseon? Atau ada di antara kalian yang ingin menyusul teman kalian itu?”
Mereka mencoba membela diri mereka.
“Kami…kami tidak akan melakukannya”
“Bi–biarkan kami hidup! Kami janji…kami tidak akan melakukan hal macam-macam!”
“Kami hanya disuruh! Semua itu tidak murni dari keinginan kami! Setidaknya aku berani bersumpah!”
“Itu benar! Hyeseon yang salah! Semua itu adalah salahnya!”
“Bukankah…bukankah di saat seperti ini…akan lebih baik jika kita bekerja sama?”
“Benar. Bu–bukankah akan lebih baik jika kita saling…membantu?”
Kaito merasa jijik mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Dia mengarahkan pedang miliknya ke arah salah satu dari mereka dengan tatapan dingin.
“Hee~lucu. Bukankah kau dan temanmu itu baru saja melempar beberapa orang sebelum ini? Katakan, kenapa aku harus mempertahankan sampah seperti kalian? Kenapa aku harus membiarkan kalian aman sementara kalian bisa melempar teman kalian sendiri?”
Kalimat pembelaan yang dikatakan oleh teman-teman Baek Hyeseon membuat Kang Ji Song marah dan melempar pisau yang ada di lantai ke arah salah satu dari mereka.
-Jleeb
“Aaakh!!”
Pisau itu mengenai bagian perut salah satu dari mereka. Luka yang dihasilkan membuat orang itu langsung terjatuh. Tampaknya dia tidak selamat.
Ryou yang sudah berada di depan pintu sempat melihat pemandangan tersebut sambil melirik Baek Hyeseon.
“Bagaimana rasanya dikhianati teman sendiri? Mereka bahwa mengatakan kalau semua itu salahmu”
“K–k–kau…” Baek Hyeseon melemah
Luka di pinggang Baek Hyeseon terus meneteskan darah, membuktikan bahwa dia mungkin saja tidak akan selamat sebentar lagi.
Lagipula, siapa yang mau menyelamatkan dirinya. Yang jelas, sudah dipastikan dia tidak tertolong.
“Buka pintunya sekarang” pinta Ryou pada beberapa mahasiswa yang sudah bersiap
Mata mereka merah dan mengeluarkan air mata. Ada sorot kebencian dari dalam hati mereka pada Baek Hyeseon.
“Pergilah kau, iblis!”
“Matilah! Itu hukuman karena sudah membunuh Han Wonjae-sunbae!”
“Kau pantas mati!”
Beberapa umpatan dan cacian dikeluarkan oleh para mahasiswa itu. Sebelum Ryou melemparnya ke luar, dia tidak lupa mencabut kedua pisau yang menancam di tubuh Baek Hyeseon.
“Aaakh!!” teriakan Baek Hyeseon terdengar begitu keras
“Aku ucapkan selamat karena kau akan lulus sebagai manusia. Selamat menikmati hidupmu sebagai mayat hidup”
“Kau! Akan kukutuk kau! Lepaskan aku!!”
“Sedikit informasi, jika nanti aku bertemu denganmu di luar setelah ini…aku yang akan memenggal kepalamu”
Ryou langsung mendorong Baek Hyeseon. Pria licik yang sudah tidak berdaya itu terjatuh di genangan darah yang dikatakan oleh Kino dan lainnya. Tubuhnya terbaring tak bisa berdiri akibat menahan luka dan sakit yang luar biasa.
“Semoga beruntung” Ryou memberikan salam terakhirnya dan menutup pintunya
Di luar, Baek Hyeseon mencoba berdiri dan melihat apa yang ada di sekelilingnya,
‘Tidak ada. Mereka tidak ada. Hahaha…ini bagus. Aku…aku masih bisa selamat’ pikirnya
Baru dia berpikir begitu, tapi takdir berkata lain. Ada sekitar lima zombie yang berjalan pelan mendekatinya dari kejauhan.
Baek Hyeseon melihat kelima zombie itu mulai mendekatinya. Dia mulai terlihat pucat dan mulai meronta. Dengan semua kekuatan yang dimilikinya untuk menahan rasa sakit, dia mencoba merangkak.
“Tidak! Jangan mendekat! Tidak!”
Kelima zombie itu semakin dekat dan begitu berbalik, ada sebuah hal yang ‘lucu’.
“Menjauh kalian dariku! Kenapa…kenapa kau kembali! Han Wonjae!”
-GRAAA
Zombie-zombie itu adalah Han Wonjae dan dua orang yang dilempar bersama dengannya pertama kali, Go Yu Bin dan Choi Hanwoo. Kelima zombie itu berjalan lambat namun terus mengarah ke tempat Baek Hyeseon.
“Tidak…kalian sudah mati! Aku adalah orang yang harus tetap hidup…Ukh”
Tubuhnya tidak bisa lagi bergerak. Darah dan rasa sakit yang dirasakannya membuat sekujur tubuhnya mulai mati rasa. Hingga akhirnya, kelima zombie itu telah berada dalam jangkauannya dan mulai mengelilingi pria licik itu.
“Tidak!!!”
Sungguh sangat ‘mengharukan’. Dia yang telah ‘mengusir’ teman dan juniornya, pada akhirnya bisa melakukan ‘reuni penuh rasa haru’ yang membuat Baek Hyeseon berteriak dengan tangisan.
Baek Hyeseon telah mati di tangan mayat teman dan juniornya.
******